[BALI Day 3] Monyet-Monyet Nakal Alas Kedaton

Desember 04, 2014

Selasa, 10 SEPTEMBER 2013Day 3: Taman Ayun, Alas Kedaton, Bedugul

Banana Pancake yang euwwh...

Sarapan di Losmen Arthawan dimulai pada pukul 08:00 - 11:00, dimana menurut gue itu jam yang terlalu siang untuk memberikan sarapan ke para tamunya. Jadinya wasting time banget karena udah bangun jam 6 pagi dan harus menunggu hingga pukul 8 hanya untuk mendapatkan sarapan. Hal itu membuat gue memutuskan untuk jalan pagi ke Pantai Kuta daripada harus menunggu di kamar aja. Ternyata pemandangan pagi hari di Pantai Kuta ini nggak kalah cantiknya, dari kejauhan Gunung Agung terlihat dengan jelas. Pantai pun masih terbilang sepi, sehingga masih cukup nyaman untuk menikmati suasananya.

Pantai Kuta di pagi hari
masih sepiiiii dan banyak yang jogging

Pada pukul 08:00 kami kembali ke losmen dan langsung menuju bagian belakang losmen untuk mendapatkan sarapan. Pilihan sarapan di Losmen Arthawan ada dua, pertama adalah roti tawar isi telur ceplok, kedua adalah pancake pisang. Kedua pilihan sarapan itu juga didampingi oleh sepiring buah-buahan. Di hari pertama, gue memilih banana pancake yang rasanya nggak karuan. Itu beneran seperti tepung yang digoreng gitu aja dan diisi dengan potongan pisang. Gue pun nggak habis memakannya dan hanya menghabiskan potongan buah pisang serta nanas yang ada di piring lainnya, nggak enaaaak!!

Duh banana pancake-nya :(
Perut sudah terisi dan kami siap melakukan perjalanan kembali. Gps pun diarahkan menuju ke Taman Ayun Temple dan selama perjalanan menuju Taman Ayun ini lo akan disuguhkan dengan pemandangan khas Desa Adat Bali yang asri banget (sayang gue nggak memotretnya). Ketika mau ke Pura Taman Ayun jangan sampai kebingungan seperti kami berdua, kami nyasar untuk menuju Taman Ayun ini. Hal itu membuat kami pusing tujuh keliling sampai pada akhirnya bertanya dengan seorang Ibu yang berada di pinggir jalan. 

“Permisi bu, mau tanya. Taman Ayun sebelah mana ya?”
“Itu mas, mas udah ngelewatin tadi yang jalannya di conblock
“Oh di sana bu? Makasih ya bu”


Ternyata oh ternyata kami sudah melewati Taman Ayun tersebut berulang kali dan tidak menyadarinya, lelah. Akhirnya dengan petunjuk dari Ibu tadi, kami pun balik arah dan kembali ke arah dimana kami datang tadi. Gue memarkirkan motor di bawah pohon, tepat di samping motor-motor polisi yang saat itu sedang bertugas. 
Setelah membayar tiket masuk dan masuk ke area Pura, saya benar-benar terkagum-kagum dengan desain atap bertingkatnya yang indah. Area jalannya memutar dan mengelilingi Pura yang dibatasi dengan air. 

pintu masuk Taman Ayun
Pura Taman Ayun

maaf ya numpang mejeng

Setelah dari Pura Taman Ayun, gue melanjutkan perjalanan menuju Sangeh Monkey Forest, dimana nama lain dari objek wisata ini adalah Alas Kedaton. Lucunya dan lagi-lagi kami nyasar, padahal gps juga sudah menyala, hahaha.. Kami nyasar sampai ke Tabanan yang luar biasa jauhnya, kami pun kembali bertanya kepada warga di sekitar tentang keberadaan lokasi Alas Kedaton ini. Ternyata setelah kami tahu, Alas Kedaton dengan Pura Taman Ayun jaraknya tidak terlalu jauh dari Pura Taman Ayun tadi, elah!

Jok Motor dan Monyet-Monyet Nakal
Sesampainya di lokasi, gue langsung disambut dengan banyaknya monyet-monyet yang berkeliaran di sini. Hal aneh lagi, ketika tiba di parkiran motor, dimana jok-jok motor di sana diberi batu di atasnya. Gue pun berpikir keras untuk apa batu-batu tersebut? Nah, kebetulan ada seorang Ibu yang baru datang dan memarkirkan motornya serta menaruh batu di sana. Gue kemudian bertanya kepada si Ibu dan ternyata batu-batu tersebut bertujuan untuk menghindari monyet-monyet mencakar-cakar jok motor yang terparkir. Alhasil membuat gue ketakutan karena sedang menggunakan motor milik rental dan gue pun nggak tanggung-tangguh menaruh banyak batu di atas jok motor yang gue pakai saat itu. Gue beneran takut, soalnya ada motor yang di parkir di sebelah gue bolong joknya udah besar banget. Kan nggak lucu harus ganti jok motor punya rental dengan alasan di garuk monyet, ngahahaha…

Monyet di sini benar-benar banyak dan galak-galak. Ada kejadian lucu lagi ketika akan masuk ke loket, ada mbak-mbak naik motor dan membawa sekantong plastik gorengan. Seketika langsung di rebut monyet dan di bawa ke atas pohon. Mbak-mbaknya pun sontak teriak kenceng banget sampai semua pengunjung di sana menengok ke arah yang sama. Ada Ibu yang bilang saat itu "makannya jangan bawa makanan di kantong plastik! monyet di sini sensitif sama suara kantong kresek", haha.. Okelah gue baru tahu tentang hal ini atau memang itu monyet memang kelaperan.

buseeet ngeri amat itu taring
ketemu temennya ki? 
Ikut Membaur Dengan Rombongan Wisatawan
Kemudian, masuklah gue ke dalam area Alas Kedaton dan disambut dengan berbagai deretan kios yang tutup, hanya ada beberapa kios yang buka saat itu. Alas Kedaton ini menurut gue cukup luas dan ketika masuk ke dalam lo akan disambut lebih banyak lagi monyet-monyet yang berkeliaran.

Di area Alas Kedaton ini juga ada Pura yang hanya dibuka saat ada ibadah saja. Nah namun kita berdua agak sedikit ragu ketika akan mengitari Pura itu, karena kondisinya sepi dan banyak monyet di sana. Namun memang kami penasaran untuk bisa ke sana dan sampai pada akhirnya ada serombongan orang tua bersama anak-anaknya yang sepertinya sedang karyawisata. Tiba-tiba ide bagus pun terpikirkan, yaitu dengan menyamar dan pura-pura bergabung dengan rombongan karyawisata itu, hehe... Kami pun mengikuti dan mencoba berbaur dengan mereka, sampai benar-benar keliling memutari Pura yang ada di sana dan we did it! Oh iya, di bagian lain dari Alas Kedaton ini ada area untuk bisa berfoto dengan kelelawar yang gede banget, kalau nggak salah bayar 20.000 untuk sekali foto.
Pura ini yang kita puterin
Gue kemudian keluar dan berlanjut untuk pergi ke destinasi selanjutnya yaitu Danau Bedugul. Sebelum tiba dan sampai di sana, kami menyempatkan mampir ke warung makan yang kami temui di perjalanan menuju Bedugul. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menanjak dan suhu yang terus semakin dingin. Dari Alas Kedaton sampai ke Danau Bedugul ditempuh selama kurang lebih 1 jam perjalanan.

Stroberi Paling Murah Yang Pernah Gue Makan
Gue menyambangi spot pertama di Danau Bedugul yang dominan dengan area restoran dan wahana air. Di sini lebih cocok bagi mereka yang memang ingin bersantai atau menyeberang ke Trunyan. Nggak lama berada di spot pertama, kami pindah ke spot kedua dari Danau Bedugul. Spot pertama menuju spot kedua ini membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit dengan menggunakan kendaraan. Di spot kedua ini jauh lebih rame dan lebih banyak kehidupan, karena memang spot kedua ini menjadi yang paling favorit. Keberadaan Candi Kuning tidak lepas dari ramainya Danau Bedugul oleh wisatawan. Oh iya sebelumnya di spot pertama kami sempat membeli stoberi yang benar-benar murah harganya. Bayangkan 3 bungkus stoberi hanya ditebus 10,000 Rupiah doang, whaaaat!! Sampai sekarang pun masih nggak percaya dengan harga stoberi di sana yang beneran super murah dan stroberinya pun manis besar-besar.

stroberi murah tapi seger
kalau mau naik jetski darisini naiknya (spot pertama)
Candi Kuning yang Luar Biasa Indah
Di spot kedua gue berkeliling seperti wisatawan lainnya untuk mengambil gambar Candi Kuning dengan latar Danau Bedugul yang indah. Gue berkunjung ketika low season dan suasananya terbilang masih ramai, saya tidak bisa membayangkan jika ke sini saat high season.

Kemudian gue mencari tempat duduk untuk sekedar menikmati pemandangan sambil makan stoberi yang sudah kami beli tadi. Di sini gue lumayan lama, sampai-sampai angin dingin pun seakan mengusir kami untuk segera pergi dan meninggalkan tempat ini. Benar-benar dingin karena hari pun juga sudah semakin sore dan kami pun menyegerakan untuk pulang. Jalur pulang di area Candi Kuning ini kita akan melewati sebuah kebun bunga yang sangatlah indah untuk bisa dinikmati. Bunga-bunga di sana sangat bervariasi dan semuanya bermekaran dengan cantiknya.

panas kelihatannya? padahal dingin banget itu
Sebenernya, ada objek wisata di dekat Candi Kuning yang tidak jauh jaraknya yaitu Kebun Raya Bali. Arah turun dari Candi Kuning, kita hanya perlu belok ke kanan saja di sebuah pertigaan dengan tulisan papan petunjuk menuju Kebun Raya Bali. Namun, sayangnya hari sudah mulai gelap dan sepertinya akan turun hujan. Gue memutuskan untuk lanjut dan tidak mampir ke Kebun Raya Bali.

Nah malemnya gue makan di warung nasi campur murah yang sebelumnya pernah gue datangi. Setelah makan malem kelar, kami berpikir kalau besok akan seharian penuh mengunjungi pantai yang ada di Bali, jadi mau nggak mau harus membeli sunblock. Kami memutuskan untuk mampir ke Giant di daerah Kuta, dengan percaya diri membeli 2 botol lotion bertuliskan SPF 30++. Sampai di penginapan kami kira itu adalah sunblock, namun ternyata itu hanyalah sebuah lotion yang dilengkapi dengan kandungan SPF, lelah! (*maaf nggak pernah pakai begituan). 

Night Life in Legian-Kuta

The Nightlife of Kuta
Monumen Bom Bali
Setelah kembali ke Arthawan, kami mandi dan beristirahat senejak. Gue keluar sendiri untuk sekedar menikmati kehidupan malam di sepanjang jalan Legian dan Kuta ini. Gue juga menyempatkan melihat Monumen Bom Bali yang letaknya memang nggak jauh dari Jalan Poppies Lane 2, dimana Losmen Arthawan berada. Ketika sedang berjalan-jalan santai di sepanjang jalan Legian - Kuta, nggak sedikit yang menawari saya mushroom dan perempuan. Haha.. Luar biasa! 

Oh iya, di forum yang gue baca sebelumnya banyak yang mengatakan bahwa menginap di daerah Poppies ini jangan harap sepi. Gue pikir luar biasa berisik sampai membuat orang tidak bisa tidur, tapi itu semua gue rasakan biasa aja. Ya memang sedikit terdengar suara bass dari pub yang ada di sana, namun semuanya masih dalam cakupan yang wajar. Jadi jangan takut buat lo yang mau nginep di kawasan Jalan Poppies Lane di Kuta.

PENGELUARAN:
Taman Ayun : Rp 10.000/orang (*parkir gratis)
Alas Kedaton : Rp 15.000/orang + Rp. 1000 parkir motor
Soto Ayam + Fruit Tea : Rp 14.000
Danau Bedugul (Resto) : Rp 10.000/orang
Stroberi : Rp 5.000 (10.000 : 2 orang)
Candi Kuning : Rp 15.000/orang + Rp. 2000 parkir motor
Mie Goreng + Nasi + Lauk : Rp 9.000
TOTAL PERORANG : Rp 86.000

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK