[BALI Day 5] Nggak Cukup Sehari Dua Hari di Ubud!

December 08, 2014

Kamis, 12 SEPTEMBER 2013Day 5: Ubud Monkey Forest, Tirta Empul

Hari yang dinantikan datang, dimana gue membutuhkan ketenangan dari hingar bingar kehidupan kota besar. I'm coming Ubud!

Diiringi Hujan Menuju Ubud
Sambil mengisi waktu menunggu sarapan pada pukul 8 pagi, gue packing beres-beres karena hari itu akan pindah penginapan di Ubud. Cuaca pagi itu sedang tidak bersahabat dan memang benar, ketika perjalanan baru sampai daerah bypass Sanur, hujan deras pun datang tiba-tiba. Motor sewaan yang kami pinjam pun tidak mendapatkan jas hujan untuk 2 orang, yang membuat kami memutuskan untuk meneduh sampai hujan benar-benar reda.

Setelah hujan reda, sepanjang perjalanan menuju Ubud diiringi dengan gerimis kecil. Suasana setelah hujan pun membuat perjalanan semakin sangat menyenangkan, pemandangan berbagai rumah adat desa khas Bali dan sawah-sawah nan hijau membuat hati nyaman dan tenteram. Perjalanan dari Kuta sampai ke Ubud ditempuh selama 1 jam. Gue pun tiba di Ubud sekitar pukul 9 pagi dan masih harus kebingungan mencari dimana lokasi penginapannya. Namanya adalah Arjuna House 2 yang terletak di Jalan Monkey Forest, yang menjadi jalan utama di daerah Ubud ini. Sebenarnya kami sudah menemukan jalan besarnya, namun harus masih mencari dimana letak gang lokasi homestay ini berada.

Gue mengetahui penginapan ini dari situs booking.com dengan harga 110.000 Rupiah per malamnya. Setelah hampir 10 menitan mencari-cari menggunakan gps, akhirnya kami sampai di TKP dan sudah ada whiteboard yang bertuliskan 3 nama tamu dengan daerah asalnya, Swiss, England, dan nama gue dari Indonesia. Gue langsung disambut dengan seorang Ibu yang sangatlah ramah, Ibu Ketut namanya. Kemudian kami diantar langsung ke kamar dengan seorang anak yang menawarkan kami teh hangat atau kopi saat itu (ah ini luar biasa banget pelayanannya). Gue meminta secangkir teh hangat yang sangat pas diminum setelah hujan di daerah Ubud ini.

setiap pagi bunga-bunga kamboja yang berjatuhan di tata rapi oleh anak sang pemilik homestay
plang di depan Arjuna House 
Arjuna House 1 dan 2 ternyata masih dalam satu area
pura pribadi milik Arjuna House
Nggak Segalak di Uluwatu/Alas Kedaton
Nggak berlama-lama di homestay, kami langsung keluar pergi dengan berjalan kaki menuju Ubud Monkey Forest. Jaraknya dari penginapan tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan lo akan menemui banyak penginapan, restoran, kafe, dan toko-toko yang menjual berbagai buah tangan unik. Berjalan kaki di trotoar Ubud ini sungguh nyaman karena nggak ada yang menghalangi.

Sesampainya di lokasi, kami membayar biaya tiket masuk sebesar 20.000 Rupiah per orang. Kesan pertama masuk ke dalam wisata ini adalah adem dan rindang. Pohon-pohon besar menutupi sinar matahari yang masuk, sehingga lebih terasa seperti hutan hujan tropis. Oh iya, menurut gue monyet-monyet di sini lebih jinak sama pengunjung yang datang, nggak segalak dan senakal monyet di Alas Kedaton atau Uluwatu.

trotoar yang nyaman untuk berjalan kaki
di ujung sana adalah Ubud Monkey Forest

adem dan rindang
mbaknya yang di belakang kok rambutnya serem sih
patung komodo di Ubud Monkey Forest
monkey monkey!

Di dalam area Ubud Monkey Forest ini juga terdapat Pura yang masih digunakan untuk beribadah oleh Umat Hindu. Pura ini benar-benar indah dan terawat, kita hanya perlu membayar sukarela untuk bisa masuk ke bagian dalamnya. Setelah itu kita akan diberikan sarung kain sebagai tanda kesopanan saat kita masuk ke Pura ini. 

pura di dalam Ubud Monkey Forest
abaikan saya...
Pura Dalem Agung

kuburan monyet
Babi Atau Nggak?
Gue kembali ke homestay untuk mengambil motor sekitar pukul 11 siang. Rencananya adalah mencari makan siang dan lanjut menuju Tirta Empul. Mencari makan siang halal di Ubud tidaklah mudah, yang emang nggak makan babi lo harus selektif. Ubud berbeda dengan Kuta, jika di Kuta kita masih dimudahkan untuk mencari makanan halal dari penjual muslim atau rata-rata adalah orang Jawa, sedangkan di Ubud masih jarang. Tipsnya adalah lo harus berhenti dan bertanya kepada si penjual apakah menjual babi atau tidak. Satu warung gue sambangi dan si Ibu memberikan pilihan mau ayam atau babi. Walaupun sepertinya dimasak dalam satu wajan, tapi yasudah tidak apa-apa bagi gue. Seporsi nasi campur enak yang gue bayar hanya 13.000 Rupiah aja.

Kolam Suci? It's Amazing!
Gue melanjutkan perjalanan semakin ke atas menuju ke arah Pura Tirta Empul. Perjalanan dari Ubud menuju Pura Tirta Empul ini kita akan melewati salah satu objek wisata yang juga paling diminati oleh turis asing yaitu Tegalalang Rice Terrace. Kenapa gue bilang buat turis asing? Ya, karena ini hanya berupa pemandangan sawah dengan sistem pengairan model Subak khas Bali. Orang Indonesia mah nggak akan terlalu takjub melihat pemandangan sawah-sawah seperti ini lah ya? Hehe... Hal itu juga yang membuat gue mengurungkan niat untuk mampir dan berhenti.

Sesampainya di Tirta Empul, membayar tiket dan kemudian diberikan kain seperti banyak tempat wisata yang ada di Bali ini. Jadi, Tirta Empul ini adalah kolam pemandian dengan air yang jernih dan bening. Kolam ini juga digunakan mereka para Umat Hindu untuk memanjatkan doa. Gue sebenernya pengen turun nyebur ke bawah, namun lagi-lagi nggak prepare karena nggak membawa baju ganti, oalah le!

airnya seger kayaknya buat mandi
buat beribadah juga

Gue pun berkeliling komplek dari Tirta Empul ini dan di sini juga terdapat sebuah kolam yang menurut gue unik. Kolam itu dibatasi oleh tembok tebal yang tidak terlalu tinggi, airnya sangatlah jernih dan bening. Ikan-ikan kecil berenang di dalamnya seperti melihat aquascape dari atas. Nah yang membuatnya berbeda lagi, di bagian tengahnya muncul sebuah gelembung udara dari dasar kolam berpasir ini. Hal tersebut membuat sebuah efek yang sangat keren dan menarik.

Ketika menuju ke arah pintu keluar, lo akan bertemu lagi dengan kolam yang berisi ratusan ikan mas. Ukuran dari ikan-ikan di sana sangatlah besar dan ada satu ikan yang menarik perhatian saya saat itu, yaitu ikan berwarna kuning putih dengan sirip dan ekor yang super panjang. 

aquascape raksasa!

Ikannya banyak dan berukuran besar
ikan paling cantik dari yang lainnya
Tampak Siring Untuk Umum atau Tidak?
Kami ingin lanjut menuju ke Istana Tampak Siring, namun setelah sampai di depan lokasinya tempat ini ternyata bukan untuk pengunjung umum. Istana Tampak Siring ini benar-benar dijaga oleh pasukan TNI yang berdiri tegak di depan gerbangnya. Yasudah apa daya, gue hanya bisa melihat keindahannya dari kejauhan saja.

Kafe-Kafe Asik di Ubud
Setelah kembali ke homestay, perut mendadak kelaperan dan memutuskan membeli pop mie di warung yang tidak jauh dari penginapan. Gue meminta air panas kepada Ibu Ketut dan memberikannya dengan baik hati. Makan kelar, kami pun kembali keluar untuk berjalan santai di malam hari. Rutenya adalah Jalan Monkey Forest menuju ke Jalan Hanoman dan kembali lagi. Berjalan kaki di Ubud ini memang tidak terasa melelahkan karena kita benar-benar disuguhi oleh banyaknya keunikan di sepanjang jalannya. Pastinya banyak banget kafe-kafe dan restoran keren di Ubud ini, namun apa daya kami tidak mungkin mampir kesana karena uang yang kami bawa sudah benar-benar pas, haha, sedih.

PENGELUARAN:
Ubud Monkey Forest : Rp 20.000/orang
Nasi Campur + Es Jeruk : Rp 13.000
Bensin : Rp 7.500 (15.000 : 2 orang)
Tirta Empul : Rp 15.000/orang (*sayang gan kalo gak mandi)
4 Pop Mie : Rp 14.000
TOTAL PERORANG : Rp 69.500 

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK