[BALI Day 1] Kereta Sri Tanjung yang Tak Kunjung Sampai

7:47:00 AM

KA Sri Tanjung
(Lempuyangan – Banyuwangi)
Minggu, 8 SEPTEMBER 2013
K3AC-3/4D-4E

-----------------------------------------------------------

Susah payah menabung untuk bisa backpackeran di Bali menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Tantangan karena harus menabung dengan menyisihkan uang jajan dari orangtua saat itu karena saya masih berkuliah. Pada hari H saat keberangkatan pun itu menjadi hari yang luar biasa bagi saya, mengapa? Ya, karena beberapa hari sebelumnya saya baru saja mendapatkan tanda tangan pengesahan dari dosen penguji yang terkenal killer untuk skripsi S1 saya. Apa spesialnya? Karena dosen itu saya batal wisuda bulan 8 dan akhirnya saya harus di wisuda pada bulan 11. Liburan kali ini bakal nge-refresh pikiran saya banget setelah kurang lebih selama 7 bulan berjibaku dengan, materi, buku teori, dan sidang skirpsi.

Suka Cita Berangkat ke Bali
Jam 6 pagi saya berjalan kaki menuju kosan temen yang jaraknya lumayan jauh, tapi hal tersebut tidak terasa melelahkan karena saya melewati SunMor (Sunday Morning) UGM. Apa itu SunMor? Ya disini seperti pasar tumpah kalo bisa dibilang, namun yang berjualan rata-rata dari mereka para mahasiswa yang kreatif dan mencari uang jajan tambahan.

Kaki-kaki menapaki jalan dengan indahnya dengan tas carrier yang super besar. Pada awalnya, setelah sampai di kosan temen, saya masih harus melanjutkan jalan kaki menuju Stasiun Lempuyangan. Niatnya memang untuk mereduksi pengeluaran, daripada saya harus menitipkan motor atau menggunakan angkutan umum. Tetapi alam berkata lain, saya melupakan sesuatu hal di kamar kosan, yaitu face wash dan earphone. Mau nggak mau saya harus balik lagi ke kosan untuk mengambilnya, ya, dengan berjalan kaki lagi. Haha.

Suasana Stasiun Lempuyangan di pagi hari
Kereta ekonomi yang murah meriah
Saya sampai Stasiun Lempuyangan pada pukul 07:30 dan kereta akan berangkat pada pukul 07:45. Saya yang sebelumnya kembali ke kosan karena ada barang tertinggal, akhirnya memutuskan untuk menggunakan motor dan menitipkannya di stasiun. Oh ya, saya mendapatkan kursi 4D-4E yang sebelumnya kami berdua sudah ribut duluan siapa yang duduk di samping jendela dan siapa yang duduk di dekat lorong. Beruntungnya, kursi kami menghadap ke arah yang sama dengan kereta melaju. 

Kemerlap Bintang dari Sang Penjual Pecel Madiun
Kereta berangkat tepat pada pukul 07:45 dan cuaca juga cerah dan sangat mendukung perjalanan saya menuju Banyuwangi. Selepas meninggalkan Jogja, pemandangan hamparan sawah hijau mulai hadir dan angin AC pun berhembus dengan dinginnya di dalam kereta ekonomi ini.

Lalu, sampai Stasiun Solo Jebres, 2 kursi di depan saya yang tadinya kosong mulai terisi oleh seorang Ibu dan bapak-bapak yang ramah menyapa kami berdua. Kereta kemudian berhenti lagi di Stasiun Madiun, nah disini godaan luar biasa terjadi karena banyak penjual pecel yang berlalu lalang menawarkan dagangannya. Pada awalnya saya berniat ingin membelinya, namun saya kembali berpikir kalau saya tidak terlalu lapar dan di sisi lain juga harus menghemat pengeluaran.


Selepas Madiun, saya mulai ngantuk karena memang bosan dan cuaca di luar kereta sangatlah panas. Kemudian, kereta kembali berhenti cukup lama di Stasiun Surabaya Gubeng dan pertama kalinya saya berada di Kota Surabaya. Walaupun hanya melihat dari dalam kereta, setidaknya saya sudah tahu Surabaya itu seperti apa. Melihat kota Surabaya sampai ke Sidoarjo menjadi pemandangan lain dari dalam kereta, karena memang jalur rel-nya berada persis di samping jalan raya. 


Oh iya, apesnya di Surabaya Gubeng ini kepala kereta pindah. Alhasil membuat kami yang tadinya duduk searah dengan laju kereta, kini kami duduk seperti berjalan mundur dan itu rasanya tidak enak.


Ompol Berkah dari Anak Kecil

Seorang Ibu yang duduk di depan kami dan membawa anaknya mengajak ngobrol kami berdua cukup lama, ya lumayan lah sebagai penghilang penat kami di kereta saat itu. Anaknya pun bermain-main dengan kami berdua, sampai pada akhir si kecil pun mengompol dan terkena celana kami berdua karena menempel-nempel terus dengan kami. Haha..

Kemudian, kereta berjalan dengan kecepatan yang lebih pelan saat melewati bendungan lumpur lapindo. Dimana menurut saya tinggi dari bendungannya saat itu sudah seperti rumah bertingkat 2 atau bahkan 3. Hati merasa terenyuh dengan para korban yang rumahnya tenggelam oleh lumpur dan tidak mendapatkan ganti rugi setimpal. Selepas Sidoarjo, hari sudah beranjak gelap dan matahari pun siap meninggalkan kami dari ufuk barat. Rasa lelah dan bosan semakin menyeruak kala itu dan kami berdua sudah bercanda nggak karuan tentang kapan ini kereta sampai, yang ternyata kami sadari masih 4 - 5 jam lagi lamanya.

Sampai di Stasiun Jember, para penumpang mulai turun dan kereta pun semakin sepi. Si Ibu yang membawa anaknya pun juga akan turun sebelum stasiun terakhir Banyuwangi Baru. Pada pukul 21:30 kami tiba di tujuan akhir kereta Sri Tanjung dan hanya ada beberapa penumpang saja yang turun. Mereka pun rata-rata membawa carrier-carrier besar seperti kami, entah mungkin mereka akan ke Ijen atau juga akan menyebrang ke Bali.

Kereta sudah mulai sepiiii..... (Eh si Ibunya kena candid) :D
PENGELUARAN HARI 1:
Tiket Sri Tanjung : Rp. 50.000
Beli Jajanan + Aqua : Rp. 20.000
Beli Pop Mie : Rp. 10.000
TOTAL PERORANG : Rp. 80.000


(Ketapang – Gilimanuk – Denpasar - Kuta)
Senin, 9 SEPTEMBER 2013

Setelah itu, kami berjalan kaki dari Stasiun Banyuwangi Baru menuju ke Pelabuhan Ketapang. Jaraknya tidak jauh, hanya perlu sekitar 5 menitan untuk bisa ke pelabuhan. Niatnya memang kami akan mencari penginapan terlebih dahulu dan baru menyebrang di keesokan paginya. Alasannya karena saya ingin menikmati pemandangan di pagi hari dari atas kapal ferry. Namun berhubung badan sudah terasa lelah saat itu, jadi kami memutuskan untuk langsung nyebrang. 


Memang yang menjadi masalah adalah ketika kamu tiba di Terminal Ubung tengah malem atau masih terlalu pagi, disana belum ada transportasi umum yang tersedia. Tetapi kami nekat dan membeli tiket kapal seharga 8.000 rupiah dan si petugas memperingatkan kami agar segera menuju kapal, karena kapal sebentar lagi mau berangkat. 


Goyangan Maut Kapal Ferry

Kami pun berlarian dengan membawa carrier besar menuju kapal. Kami kemudian naik ke geladak depan dan ngobrol dengan seseorang yang sebelumnya bertemu di depan pelabuhan. Arus air laut saat itu sedang tidak bersahabat, membuat kapal yang kami naiki bergoyang cukup kencang. Dimana hal itu membuat saya untuk masuk ke dalam dan selonjoran sambil mendengarkan lagu dangdut yang berdendang.

Tidur belum terlelap, saya dibangunkan oleh teman karena kapal sudah hampir merapat ke Pelabuhan Gilimanuk. Nah mas-mas tadi menawarkan saya untuk ikut dengannya karena dia juga akan pergi ke arah Kuta. Okelah, beruntungnya kami ada yang bisa diandalkan disana, karena si masnya bilang kalau dia sudah sering pergi ke Bali dengan kapal.


Perjalanan Ekstrim ke Denpasar

Setibanya di pelabuhan, sudah banyak banget yang nawarin berbagai macam transportasi menuju Denpasar dan kota-kota lain di Bali. Sampai pada akhirnya kami bertiga deal2an dengan seorang bapak yang menawarkan bis ke Denpasar. Kami pun setuju dan keluar pelabuhan dengan melewati pengecekan KTP.

Saya berpikir kalau bis yang akan kami naiki adalah bis besar, kalau pun itu tidak ber-AC setidaknya adalah bus besar. Eh lah dalaaaah, ternyata bis yang kami akan naiki menuju Denpasar adalah bis kecil dan saat itu sudah penuh dengan penumpang. Namun, si bapak menyakinkan kami kalau bisnya masih bisa muat. What! Saya pun bilang ke si bapak kalau kami tidak masalah menunggu bis selanjutnya daripada kami harus berdesak-desakan di bis kecil ini dan duduk atau berdiri tidak nyaman selama 3 - 4 jam menuju Denpasar. Namun, si bapak memberi tahu kalau bis selanjutnya datang masih lama. Entah benar atau tidak, akhirnya kami pun terpaksa naik ke bis itu dan saya duduk jongkok di depan samping supir. Teman saya mendapatkan kursi yang lumayan nyaman, sedangkan saya duduk di atas kap mesin yang terasa panas di pantat, jadi membuat saya berulang kali harus mengangkat pantat. Waaaaa...!!! Perasaan campur aduk banget saat itu, karena memang sudah lelah perjalanan kereta sebelumnya dan terlebih lagi tas kami ditaruh di atap bis yang saya nggak lihat apakah itu diikat atau tidak. Parahnya lagi bis kecil ini udah beneran bobrok dan jelek banget, terlebih si supir ngebut dan ugal-ugalan bawa bisnya. Satu lagi hal yang bikin saya beneran nggak karuan, knalpot kan seharusnya berada di belakang, tapi entah kenapa asep bis itu beneran masuk ke dalem kabin dengan bau yang bikin pusing kepala. Oh god!


Supir Angkutan Nan Baik Hati?

Sekitar jam 3 pagi kami tiba di Terminal Ubung, Denpasar. Ya benar saja, saat itu sama sekali tidak ada angkutan umum. Alhasil membuat kami bertiga (masih dengan mas-mas yang kami temui di pelabuhan), menunggu di depan Indomaret yang berada di seberang terminal. Tiba-tiba, banyak orang-orang yang silih berganti menawari kami transportasi menuju Kuta, mulai dari ojek, taksi, sampai angkutan umum dengan sistem charter.

Ketika itu saya berpikir kalau lebih baik menunggu sebentar hingga matahari terbit, karena memang alasan terbesarnya adalah kami bisa mengurangi biaya pengeluaran. Namun, kami bertiga berembuk dan berencana untuk patungan biaya transportasi ke Kuta saat itu. Si mas-nya pun menawar seorang bapak yang memberikan harga 40.000 rupiah per orang. Saya pikir 40.000 per orang itu untuk taksi, ternyata adalah angkot charter. Si mas itu yang terus ngotot menawar sampai harga terendahnya yaitu 20.000 per orang. Namun, si bapak yang sudah menurunkan harganya sampai 25.000 itu tetap ditolak oleh si mas tadi. Sebenernya kami berdua untuk 25.000 rupiah per orang tidak masalah, tidak dengan mas tadi. Mas yang saya lupa namanya itu, kemudian menawar ojek dengan harga terendah yang sama. (*dalem hati* lah mendingan naik angkutan charter daripada harga segitu naik ojek, terlebih kita bawa carrier besar). Saya dan teman tidak mau naik ojek dan kami tidak masalah kalau si mas-nya mau duluan naik ojek. Akhirnya, karena mungkin tidak enak dengan kami, si mas-nya ikut kami naik angkot charter dengan harga deal 25.000 per orang. (*kami benar nggak masalah dengan harga segini, lagipula ini masih jam 3 pagi dan masih untung ada yang mau nganter kita saat itu yang jaraknya lumayan jauh).


Ada kejadian lucu disini, saya sama teman duduk di belakang dan si mas tadi duduk di samping supirnya. Doi mau turun sebelum Kuta (lupa nama daerahnya), nah sepanjang perjalanan doi ngajak ngoceh terus sama si supir. Mungkin dia mau lebih akrab kali ya, namun hal berbeda ditunjukkan oleh si supir yang lebih diam dan jutek. Sepertinya si supir males menggubris obrolan-obrolan dari si mas itu dan kami berdua di belakang pun hanya bisa mendengarkan saja karena emang mikir ke badan yang capek banget. Kemudian, setelah mas itu turun dan kami berterimakasih kepadanya karena udah bantuin nyari bis saat di pelabuhan. Nah, tiba-tiba kok si supir mendadak berubah 180 derajat yang tadinya jutek, merengut tapi jadi ramah dan ngajak ngobrol kami berdua (tinggal dimana, kuliah dimana, liburan berapa hari, dll). Hahahahaha... (*saya rasa sih ini supir nggak suka sama si mas tadi karena emang dia yang nawar kelewatan). Haha. Dasar..


Nah kami diturunkan di perempatan Legian, dimana kami harus berjalan kaki lagi menuju Jalan Poppies Lane 2. Sesampainya disana kami sempat bingung apakah kami bisa langsung masuk atau tidak. Kami pun bertanya dan bisa check-in sepagi itu dan kami ambil 1 kamar untuk 3 hari (9-11 September) dengan harga 100.000 per malamnya. Murah bukan?


PENGELUARAN:

Ferry ke Gilimanuk : Rp. 8.000/orang
Bis ke Denpasar : Rp. 30.000/orang
Angkutan ke Kuta : Rp. 25.000/orang
Losmen Arthawan 3 hari : Rp. 150.000 (*100.000/orang x 3 hari : 2 orang)
TOTAL PERORANG : Rp. 213.000 

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+