[BALI Day 1] Kereta Sri Tanjung yang Tak Kunjung Sampai

December 03, 2014

KA Sri Tanjung
(Lempuyangan – Banyuwangi)
Minggu, 8 SEPTEMBER 2013
K3AC-3/4D-4E

-----------------------------------------------------------

Susah payah menabung untuk bisa backpackeran di Bali menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi gue pribadi. Tantangan karena harus menabung dengan menyisihkan uang jajan dari orang tua karena saat itu gue masih berkuliah. Pada hari H keberangkatan pun menjadi hari yang luar biasa bagi gue, kenapa? Ya, karena beberapa hari sebelumnya gue baru saja mendapatkan tanda tangan pengesahan dari dosen penguji yang terkenal killer untuk skripsi S1 gue. Apa spesialnya? Gara-gara dosen itu gue batal wisuda do bulan 8 dan akhirnya harus di wisuda pada bulan 11. Liburan kali ini bakal nge-refresh pikiran banget setelah kurang lebih selama 7 bulan berjibaku dengan, materi, buku teori, dan sidang skirpsi, yeaaaaa!

Suka Cita Berangkat ke Bali

Jam 6 pagi jalan kaki menuju kosan temen yang jaraknya lumayan jauh, tapi hal tersebut nggak terasa melelahkan karena melewati SunMor (Sunday Morning) UGM. Apa itu SunMor? Ya di sini seperti pasar tumpah kalo bisa dibilang, namun yang berjualan rata-rata dari mereka para mahasiswa yang kreatif dan mencari uang jajan tambahan. Kaki-kaki menapaki jalan dengan indahnya dengan tas carrier yang super besar. Pada awalnya, setelah sampai di kosan temen, gue masih harus melanjutkan jalan kaki menuju Stasiun Lempuyangan. Niatnya memang untuk mereduksi pengeluaran, daripada harus menitipkan motor atau menggunakan angkutan umum. Tetapi alam berkata lain, gue melupakan sesuatu hal di kamar kosan, yaitu face wash dan earphone. Mau nggak mau harus balik lagi ke kosan untuk mengambilnya, ya, dengan berjalan kaki lagi, haha. Akhirnya membuat gue memutuskan untuk mengambil motor aja dan menitipkannya di stasiun, wkwkwk.

Suasana Stasiun Lempuyangan di pagi hari
Kereta ekonomi yang murah meriah

Gue sampai di Stasiun Lempuyangan pada pukul 07:30 dan kereta akan berangkat pada pukul 07:45. Oh ya, gue mendapatkan kursi 4D-4E yang sebelumnya kami berdua sudah ribut duluan siapa yang duduk di samping jendela dan siapa yang duduk di dekat lorong. Beruntungnya, kursi kami menghadap ke arah yang sama dengan kereta melaju. Berangkaaaat!

Kemerlap Bintang dari Sang Penjual Pecel Madiun
Kereta berangkat tepat pada pukul 07:45 dengan cuaca yang cerah dan sangat mendukung perjalanan menuju Banyuwangi saat itu. Selepas meninggalkan Jogja, pemandangan hamparan sawah hijau mulai hadir dan angin AC pun berhembus dengan dinginnya di dalam kereta ekonomi ini. Sampai Stasiun Solo Jebres, 2 kursi di depan gue yang tadinya kosong mulai terisi oleh seorang Ibu dan bapak-bapak yang ramah menyapa kami berdua. Kereta kemudian berhenti lagi di Stasiun Madiun, nah di sini godaan luar biasa terjadi karena banyak penjual pecel yang berlalu lalang menawarkan dagangannya. Pada awalnya gue berniat ingin membelinya, namun gue kembali berpikir kalau gue nggak terlalu lapar dan di sisi lain juga harus menghemat pengeluaran, sedih ya.

Selepas Madiun, gue mulai ngantuk karena memang bosan dan cuaca di luar kereta sangatlah panas. Kemudian, kereta kembali berhenti cukup lama di Stasiun Surabaya Gubeng dan pertama kalinya gue berada di Kota Surabaya. Walaupun hanya melihat dari dalam kereta, senggaknya gue sudah tahu Surabaya itu seperti apa. Melihat kota Surabaya sampai ke Sidoarjo menjadi pemandangan lain dari dalam kereta, karena memang jalur rel-nya berada persis di samping jalan raya. Oh iya, apesnya di Surabaya Gubeng ini kepala kereta pindah. Alhasil membuat kami yang tadinya duduk searah dengan laju kereta, kini kami duduk seperti berjalan mundur dan itu rasanya nggak enak.

Ompol Berkah dari Anak Kecil

Seorang Ibu yang duduk di depan kami dan membawa anaknya itu mengajak ngobrol kami berdua cukup lama, ya lumayan lah sebagai penghilang penat kami di kereta saat itu. Anaknya pun bermain-main dengan kami berdua, sampai akhirnya anaknya Ibu itu mengompol dan terkena celana kami berdua karena menempel-nempel terus dengan kami, tidaaaaak!!

Kemudian, kereta berjalan dengan kecepatan yang lebih pelan saat melewati bendungan lumpur lapindo. Dimana menurut gue tinggi dari bendungannya sudah seperti rumah bertingkat 2 dan 3. Hati merasa terenyuh dengan para korban yang rumahnya tenggelam oleh lumpur dan nggak mendapatkan ganti rugi setimpal. Oke, selepas Sidoarjo, hari sudah beranjak gelap dan matahari pun siap meninggalkan kami dari ufuk barat. Rasa lelah dan bosan semakin menyeruak kala itu dan kami berdua sudah bercanda nggak karuan tentang kapan ini kereta sampai, yang ternyata kami sadari masih 4 - 5 jam lagi lamanya.

Setelah sampai di Stasiun Jember, para penumpang mulai turun dan kereta pun semakin sepi. Si Ibu yang membawa anaknya pun juga akan turun sebelum stasiun terakhir Banyuwangi Baru. Pada pukul 21:30 kami tiba di tujuan akhir kereta Sri Tanjung dan hanya ada beberapa penumpang saja yang turun. Mereka pun rata-rata membawa carrier-carrier besar seperti kami, entah mungkin mereka akan ke Ijen atau juga akan menyeberang ke Bali.

Kereta sudah mulai sepiiii..... (Eh si Ibunya kena candid) :D
PENGELUARAN HARI 1:
Tiket Sri Tanjung : Rp 50.000
Beli Jajanan + Aqua : Rp 20.000
Beli Pop Mie : Rp 10.000
TOTAL PERORANG : Rp 80.000


(Ketapang – Gilimanuk – Denpasar - Kuta)
Senin, 9 SEPTEMBER 2013

Setelah itu, kami berjalan kaki dari Stasiun Banyuwangi Baru menuju ke Pelabuhan Ketapang. Jaraknya nggak jauh, hanya perlu sekitar 5 menitan untuk bisa ke pelabuhan. Niatnya memang kami akan mencari penginapan terlebih dahulu dan baru menyeberang di keesokan paginya. Alasannya karena gue ingin menikmati pemandangan di pagi hari dari atas kapal ferry. Namun berhubung badan sudah terasa lelah saat itu, jadi kami memutuskan untuk langsung nyebrang. Memang yang menjadi masalah adalah ketika tiba di Terminal Ubung tengah malam atau masih terlalu pagi, di sana belum ada transportasi umum yang tersedia. Tetapi kami nekat dan membeli tiket kapal seharga 8.000 Rupiah. Petugas pun memperingatkan kami agar segera menuju kapal, karena kapal sebentar lagi mau berangkat. Oke, pindah pulauuuu!

Goyangan Maut Kapal Ferry


Kami pun berlarian dengan membawa carrier besar menuju kapal dan kemudian naik ke geladak depan, ngobrol dengan seseorang yang sebelumnya bertemu di pelabuhan. Arus air laut saat itu lagi nggak bersahabat, membuat kapal yang kami naiki bergoyang cukup kencang. Dimana hal itu membuat gue untuk masuk ke dalam dan selonjoran sambil mendengarkan lagu dangdut yang berdendang. Tidur belum terlelap pules, gue udah dibangunin oleh temen karena kapal sudah hampir merapat ke Pelabuhan Gilimanuk. Nah mas-mas tadi menawarkan gue untuk ikut dengannya karena juga akan pergi ke arah Kuta. Oke, beruntungnya kami ada yang bisa diandalkan di sini, karena si masnya bilang kalau dia udah sering pergi ke Bali dengan kapal.

Perjalanan Ekstrem ke Denpasar


Setibanya di pelabuhan, udah banyak banget yang nawarin berbagai macam transportasi menuju Denpasar dan kota-kota lain di Bali. Sampai pada akhirnya kami bertiga deal2an dengan seorang bapak yang menawarkan bis ke Denpasar. Kami pun setuju dan keluar pelabuhan dengan melewati pengecekan KTP. Gue berpikir kalau bis yang akan kami naiki adalah bis besar, kalau pun itu nggak ber-AC senggaknya adalah bus besar. Eh lah dalaaaah, ternyata bis yang kami akan naiki menuju Denpasar adalah bis kecil dan saat itu sudah penuh dengan penumpang. Namun, si bapak meyakinkan kami kalau bisnya masih muat, what! Gue pun bilang ke si bapak kalau kami nggak masalah menunggu bis selanjutnya daripada kami harus berdesak-desakan di bis kecil ini dan duduk atau berdiri nggak nyaman selama 3 - 4 jam menuju Denpasar. Namun, si bapak memberi tahu kalau bis selanjutnya datang masih lama. Entah benar atau nggak, akhirnya kami pun terpaksa naik ke bis itu dan gue duduk jongkok di depan samping supir. Temen gue mendapatkan kursi yang lumayan nyaman, sedangkan gue duduk di atas kap mesin yang terasa panas di pantat, jadi membuat gue berulang kali harus mengangkat pantat selama perjalanan, hiiiksss...!!! Perasaan campur aduk banget saat itu, karena memang udah lelahk karena perjalanan kereta sebelumnya dan terlebih lagi tas kami ditaruh di atap bis yang gue nggak lihat apakah itu diiket atau nggak. Parahnya lagi bis kecil ini udah beneran bobrok dan jelek banget, terlebih si supir ngebut dan ugal-ugalan bawa bisnya. Satu lagi hal yang bikin gue beneran nggak karuan, knalpot kan seharusnya berada di belakang, tapi entah kenapa asep bis itu masuk ke dalem kabin dengan bau yang bikin pusing kepala, oh god!

Supir Angkutan Nan Baik Hati?

Sekitar jam 3 pagi kami tiba di Terminal Ubung, Denpasar. Ya bener aja, saat itu sama sekali nggak ada angkutan umum. Alhasil membuat kami bertiga (masih dengan mas-mas yang kami temui di pelabuhan), menunggu di depan Indomaret yang berada di seberang terminal. Tiba-tiba, banyak orang-orang yang silih berganti menawari kami transportasi menuju Kuta, mulai dari ojek, taksi, sampai angkutan umum dengan sistem charter.

Ketika itu gue berpikir kalau lebih baik menunggu sebentar hingga matahari terbit, karena memang alasan terbesarnya adalah bisa mengurangi pengeluaran. Namun, kami bertiga berembuk dan berencana untuk patungan biaya transportasi ke Kuta saat itu. Si mas-nya pun menawar seorang bapak yang memberikan harga 40.000 Rupiah per orangnya. Gue pikir 40.000 per orang itu untuk taksi, ternyata adalah angkot charter. Si mas itu yang terus ngotot menawar sampai harga terendahnya yaitu 20.000 per orang, namun si bapak yang sudah menurunkan harganya sampai 25.000 itu tetap ditolak oleh si mas tadi. Sebenernya kami berdua untuk 25.000 rupiah per orang nggak masalah, tapi nggak dengan mas tadi. Mas yang gue lupa namanya itu, kemudian menawar ojek dengan harga terendah yang sama. (*dalem hati* lah mendingan naik angkutan charter daripada harga segitu naik ojek, terlebih kita bawa carrier besar). Gue dan temen nggak mau naik ojek dan kami nggak masalah kalau si mas-nya mau duluan naik ojek. Akhirnya, karena mungkin nggak enak dengan kami, si mas-nya ikut kami naik angkot charter dengan harga deal 25.000 per orang. (*kami benar nggak masalah dengan harga segini, lagipula ini masih jam 3 pagi dan masih untung ada yang mau nganter kita saat itu yang jaraknya lumayan jauh).

Ada kejadian lucu di sini, gue sama temen duduk di belakang dan si mas tadi duduk di samping supirnya. Doi mau turun sebelum Kuta (lupa nama daerahnya), nah sepanjang perjalanan sopirnya diajak ngoceh terus sama doi. Mungkin mau lebih akrab kali ya, namun hal berbeda ditunjukkan oleh si supir yang diam dan jutek. Sepertinya si supir males menggubris obrolan-obrolan dari si mas itu dan kami berdua di belakang pun hanya bisa mendengarkan saja karena udah pengen istirahat karena badan capek banget. Kemudian, setelah mas itu turun dan kami berterimakasih kepadanya karena udah bantuin nyari bis saat di pelabuhan. Nah, tiba-tiba kok si supir mendadak berubah yang tadinya jutek, merengut, tapi jadi ramah dan malah doi yang ngajak ngobrol kami berdua (tinggal dimana, kuliah dimana, liburan berapa hari, dll). Hahahahaha... (*gue rasa sih ini supir nggak suka sama si mas tadi karena emang dia yang nawar kelewatan). Haha, dasar..

Nah kami diturunkan di perempatan Legian, dimana harus berjalan kaki lagi menuju Jalan Poppies Lane 2. Sesampainya di penginapan, kami langsung check-in sepagi itu dan kami ambil 1 kamar untuk 3 hari (9-11 September) dengan harga 100.000 per malamnya. Murah kan?

PENGELUARAN:

Ferry ke Gilimanuk : Rp 8.000/orang
Bis ke Denpasar : Rp 30.000/orang
Angkutan ke Kuta : Rp 25.000/orang
Losmen Arthawan 3 hari : Rp 150.000 (*100.000/orang x 3 hari : 2 orang)
TOTAL PERORANG : Rp 213.000 

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK