Sandal Gunung Naik Kelas Bisnis Garuda Indonesia

September 02, 2015

Kamis, 1 Januari 2015

Pagi hari di hari yang baru, saya packing dengan penuh semangat 45 karena pada pukul 2 siang harus cus berangkat ke Surabaya! Ini sebenernya cuma pengen ngerasain pengalaman terbang yang berbeda, kebetulan dapet rezeki lebih. Jeng…jeng…jeng….jeng…..seorang saya bisa ngerasain naik untuk pertama kalinya burung terbang berlabel Garuda dan untuk pertama kalinya juga pakai kelas Bisnis…!!!! :O cieeelaah.. *saya juga sempet nggak percaya *terharu…. :’)

Saya mengambil penerbangan CGK-SUB karena jatuhnya lebih murah kesana daripada saya harus langsung ke Malang. Saya mengambil penerbangan jam 5 sore supaya sampai Surabaya bisa langsung istirahat di hotel. Dari rumah sekitar jam 2 siang naik Damri Shelter Harapan Indah dan ternyata rame banget. (*maklum sih musim liburan). Alhamdulillah jalanan ke Bandara nggak macet, masuk tol sebelah ITC Cempaka Mas, lupa apa nama gerbang tolnya. Sampai bandara sebenernya masih terlalu cepet, tapi itu justru asik daripada harus terburu-buru. Biasanya kalau kecepetan sampai bandara, saya mbolang di area bandara kemana-mana yang nggak jelas tujuannya.

Sampai bandara sekitar jam 3 sore dan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di terminal 2, halaaah… Haha lebay lebaay…, Saya naik ke lantai 1 buat melakukan check-in, lucunya disini, haha saya malu ceritanya… *seorang saya naik pesawat Garuda, kelas Bisnis pula. Kenapa lucu? Karena saya saat itu lupa kalo mau naik kelas bisnis dan saya hanya memakai sandal gunung, celana panjang, kaos, dan tas ransel. (*itu outfit naik kereta api banget coi…. !!) :’)

Yaudah lah ya akhirnya saya berjalan dengan penuh percaya diri. Lalu setelah pemeriksaan tas, ada banyak counter check-in seperti di terminal-terminal lainnya. Saya tadinya mau langsung check-in disana, tapi setelah saya pikir2, saya kan naik kelas Bisnis “masa iya counter check-in-nya sama dengan yang kelas ekonomi?” Hazeeek. Gaya lu kii...!!
Nah dengan muka kebingungan saya bertanyalah kepada penjaga keamanan disana;

“Pak, maaf ini counter check-in saya sebelah mana ya?”
“Oh iya mas, di sebelah situ mas” (*sambil menunjuk ke arah counter check-in yang super ramai itu)
“Oh kalau yang bisnis sama ya pak berarti di sana?”
“Oh bisnis pak, bapak bisa ke counter check-in sebelah sana pak khusus untuk kelas bisnis.” (*si bapak menjawab dengan muka yang sedikit nggak percaya ngeliatin gw) haha…
“Oh baik, terimakasih pak” *tetep kaleeem…. 

Huahahahahhaha… si bapaknya kayaknya nggak percaya sama saya deh dengan outfit naik kereta tapi nyarinya counter check-in bisnis. Sampailah saya di counter check-in yang ternyata super mewah, berbeda jauh sama counter check-in dari biasanya. Di counter check-in ini khusus pelanggan Garuda kelas bisnis dan mungkin first class juga disini. Counter check-innya nggak ramai dan juga nggak seluas bagian ekonomi. Tetapi disini ada sofa yang empuk buat menunggu pada saat kita melakukan proses check-innya.

pict from garuda-indonesia.com

Setelah selesai saya melakukan check-in, saya dipersilahkan untuk menuju ke ruang tunggu khusus. Maka dengan santainya saya pergi meninggalkan counter check-in dan dengan kalemnya (padahal kebingungan) saya mencari dimana tempat ruang tunggu khusus yang dimaksud. Sampai pada akhirnya saya tahu kalau ruang tunggu itu bernama “Garuda Indonesia Executive Lounge”. Saat pertama kali masuk, saya disambut oleh 2 orang petugas yang ramah banget. Saya menunjukkan boarding pass dan saya ditawarkan untuk mengambil sederetan koran dari berbagai media dan itu free. Okelah saya ambil kompas dan kemudian masuk ke dalam untuk mencari kursi.
Bagian luar GI Executive Longe gan. Pict from flickr.com

Di Executive Lounge ini saya disuguhkan makanan-makanan yang banyak banget, mulai dari yang berat sampai yang ringan atau sekedar camilan, mulai dari sup, rendang, nasi goreng, semur, dan banyak banget apalah itu saya nggak tahu namanya satu persatu, dan semua makanannya panas. Itu baru satu corner lo, corner kedua ada bakul soto lengkap dengan gerobak-gerobaknya, corner ketiga adalah dessert yang disana tersedia zuppa soup, bubur, roti, selai, meses, pisang goreng, dll. Lalu corner terakhir adalah minuman jus, teh, kopi, air putih. (*eitss jangan berharap nemu merk lokal disini, semua merk selai, meses, teh, kopi, merknya luar semua) Dimana yang paling saya inget tehnya itu pake Dilmah Tea. Semuanya model prasmanan alias kita ambil sendiri sepuasnya dan duduknya di kursi sofa berlapis kulit yang super nyaman.
garuda indonesia executive lounge
suasana di dalam Garuda Indonesia Executive Lounge
ngeteh di garuda lounge
ngeteh-ngeteh lucu...
Beneran kita dimanjain saat berada di executive lounge ini, yang katanya kalau yang naik ekonomi pun bisa masuk ke lounge ini tapi akan dikenakan biaya tambahan. Oh iya, ada satu lagi yang buat saya mungkin merasa wah sama pelayanan yang dikasih Garuda buat pelanggannya, yaitu toilet yang ada di executive lounge ini, toiletnya super bersih, kering, dan wangi. Di toiletnya ada petugas bebersihan yang selalu siap mengelap lantai atau wastafel setiap kali basah, dan saat kamu masuk toiletnya akan disambut ramah sama itu petugas (“silahkan mas, toiletnya semua sedang kosong, silahkan”). Haishhhh, keren!
naik garuda bisnis class
nih gw cuma pake sandal gunung, udah copot pula bagian belakangnya. -_-
Okelah, 1,5 jam berlalu saya habiskan dengan main hp dan ngemil-ngemil. Saya hanya mencoba nasi goreng, rendang, salad, sama jus jambu saat itu. Sebenernya pengen nyobain sotonya, tapi sebelum berangkat ke bandara saya sudah makan jadi agak sedikit kenyang. Oh iya, di lounge ini saya cuma sedikit mengambil fotonya, karena saya beneran terlalu asik sendiri mengambil makanan plus ngeliatin pesawat yang lalu lalang di luar jendela. Hahaha norak deh!

Sekitar 30 menitan sebelum jam keberangkatan saya cabut dari lounge itu dan kembali mengantri di ruang tunggu Gate F7. Nah selama menunggu di gate ini baru kita semua menjadi satu, jadi kamu nggak akan tahu siapa yang naik bisnis dan siapa yang naik ekonomi. Lalu, setelah mbak-mbak di speaker pengeras suara memberikan info bahwa pesawat sudah bisa dinaiki, lagi-lagi penumpang bisnis di treatment khusus oleh Garuda. Apa itu? Yap, ada jalur khusus untuk masuk ke dalam pesawat untuk penumpang kelas Bisnis, antriannya bernama “Sky Priority”. Saat itu hanya ada saya dan 2 orang lainnya yang masuk lewat akses ini dan tanpa perlu antri panjang!
sky priority garuda indonesia
sky priority
bussiness class garuda indonesia
posisi pesawat paling ujung banget
Pesawat saat itu posisinya lumayan jauh, jadi mengharuskan saya menaiki bis untuk bisa sampai ke pesawat yang terparkir di paling ujung landasan. Saat akan masuk ke dalam kabin, posisi kursi kelas bisnis ini berada di paling depan. Kalau nggak salah hitung ada 12 seat kelas bisnis dengan konfigurasi 2-2, setelah itu barulah masuk ke kabin seat ekonomi dengan sekat gorden merah yang tebal. Saya duduk di seat 7H dan lagi-lagi setiap saya naik pesawat entah kenapa saya selalu mendapatkan kursi di sebelah jendela yang tanpa harus saya pesan dahulu sebelumnya. Lucky me?

Duduklah saya di kursi nan nyaman dari kelas bisnis Garuda Indonesia ini. Kursinya dibalut kain berwarna merah hati dengan pola batik yang indah. Lalu, kesan pertama saya duduk di kelas bisnis ini adalah lega, karena punya leg room yang super luas (*denger-denger sih lebih dari 100cm). Disana, saya langsung disambut oleh pramugari yang menawarkan sederetan newspapers dan dengan polosnya saya mengambil koran Bisnis Indonesia. (huahahahaha sok2an abis)
legroom kelas bisnis garuda indonesia
legroom-nya lega. eh nyeker tuh?? haha..
Nggak berapa lama setelah itu, datanglah lagi si mbak-mbak pramugari. Ngapain? Si mbak pramugarinya ngasih handuk hangat (*panas sih menurut gw) yang diberikan menggunakan jepitan besi kepada saya. Dimana saya benar-benar nggak tahu itu handuk digunakan untuk apa, huahahahahha…. Saya dengan stay cool-nya menunggu sambil melihat Ibu yang duduk di sebelah saya akan melakukan apa dengan ini handuk. Si Ibu di sebelah ternyata pakai ini handuk untuk mengelap tangannya. Yasudah nggak pakai mikir panjang lagu saya ikutilah itu si Ibu untuk mengelap tangan saya pakai handuk hangat ini. Ya walaupun entah si Ibu bener juga apa nggak, saya juga nggak tahu deh. -_-

Kemudian, si pramugari dateng lagi buat mengambil handuk hangat tersebut (*lagi2 mengambilnya menggunakan jepitan besi dan di taruh di atas nampan kayu (berasa ngambil gorengan). Lalu dibelakangnya ada pramugari kedua yang menawarkan welcome drink kepada saya, "orange juice, apple juice, or tea?" (*si pramugari nawarin minumannya pakai english cui). Saya pilih orange juice saat itu dan karena ini welcome drink, saya pikir harus segera diminum dan benar saja sekitar 5 menit si pramugari kembali berkeliling untuk mengambil gelas welcome drink saya.
welcome drink garuda indonesia
welcome drink, orange juice...
Pesawat pun sudah mundur dan antri untuk take off. Oh iya, sama seperti kelas ekonominya dimana peragaan keselamatan nggak lagi dipraktekkan langsung oleh pramugari/pramugara-nya, tetapi diberi tahu melalui layar monitor yang ada di setiap baris kabin bisnis ini. (haha.. saya punya cerita lucu tentang monitor di kelas bisnis ini).

Pesawat pun terbang semakin tinggi  ke udara…. Halah opo toh..
Sewaktu tanda sabuk pengaman sudah mati, pramugari-pramugari nan cantik kembali keluar dan memberi tahu kepada penumpang (khusus kelas bisnis) untuk membuka bagian yang ada di sandaran tangan sebelah kanan. (lagi2 saya norak bin bingung) saya nggak tahu kalau ternyata di dalemnya ada sebuah meja lipat yang bisa ditarik keluar.

Setelah posisi meja saya sudah rapi dan siap memangku makanan, pramugari pun datang memberikan satu set makanan lengkap dengan buah sebagai dessert. Kemudian, pramugari yang lainnya menawari saya minuman dengan pilihan lengkap “silahkan mas mau minum apa, kami ada jus, kopi, teh, atau minuman bersoda”, dan karena saya baru saja meminum jus jeruk dan di lounge juga sudah ngeteh lucu, akhirnya saya pilih minuman bersoda. Lalu, si pramugarinya bertanya lagi kepada saya “baik mas, kami ada coca-cola, fanta, dan sprite”. Saya pilih sprite yang udah lama juga saya nggak meminum itu. Haha… *nggak penting bagian ini sebenernya.
makan di garuda indonesia
mamam mamam... entah ini apa namanya saya lupa
Oh iya, saya biasa yang makan warteg tau-tau dikasih makanan yang sampai sekarang saya nggak tahu namanya. Walaupun saya nggak tahu ini apa yang disajikan Garuda untuk saya, tapi so far rasanya enak. Tekstur luarnya itu mirip bagian roti yang kering di zuppa soup, nah bagian dalamnya creamy gurih-gurih gitu. Ada potongan dadu keju plus daging yang lumayan banyak. Enak deh.. Saladnya juga enak walaupun porsinya dikit menurut saya. Haha. Untuk buahnya ada potongan apel, pepaya, dragonfruit, plus sebutir anggur. Ya lumayan lah buat pencuci mulut lucu.

Perjalanan Jakarta - Surabaya ditempuh sekitar 30 menit lagi, dan saya ambil posisi santai dengan merebahkan sedikit kursi dan menaikkan sandaran betis yang super nyaman. Oh iya, tadi kan saya bilang ada hal lucu tentang monitor kelas bisnis ya. Haha… Jadi semenjak masuk dan duduk di dalam kabin, saya di dalam hati terus bertanya-tanya, “dimana layar monitor personalnya?” “masa kelas ekonomi punya monitor tiap bangku, tapi bisnis cuma ada di ujung baris kursi doang?”     
hiburan kelas bisnis garuda indonesia
sasa iya monitornya cuma itu doang?
10 menitan saya stay cool sembari mencari dimana letak monitor yang seharusnya ada itu. Tiba-tiba muncul pikiran yang brilian, cerdas, smart, dan menganggumkan, -_- “saya kan tadi ambil meja lipat untuk makan di sandaran tangan sebelah kanan”. Aha! Berarti bisa jadi monitornya berada di sandaran tangan sebelah kiri?. Maka saya bukalah itu sandaran tangan sebelah kiri dengan perlahan dan benar saja memang itu monitor berada di dalem sana.
pengaturan kursi garuda indonesia
bagian sandaran tangan sebelah kanan + pengaturan sandaran betis dan sandaran kursi
tv di garuda indonesia
ternyata layarnya ada di dalem sandaran tangan sebelah kiri ini. pantes ada remotenya disini.
film di garuda indonesia
hiburan kelas bisnis Garuda Indonesia, isinya sama aja kayak yang ekonomi
Lalu, saya ambil dan nyalakan monitor itu. Sebenernya saya nggak mau mendengarkan musik apalagi buat menonton film, karena memang sudah mau sampai juga sebentar lagi. Saya hanya penasaran letak monitor personal kelas bisnis ini ada dimana. Kesimpulannya, garuda memang oke dan nomor satu untuk masalah kenyamanan bagi setiap penumpangnya. Mulai dari pelayanan (service), kebersihan, makanan, sampai hiburannya. Good job, Garuda! Keep it cool!

Sekitar jam 7 malam saya sampai di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Bandara yang keren menurut saya, mirip Terminal 3-nya Soetta tapi versi gedenya lagi. Oh ya, saya persingkat cerita ya selama di Surabaya ini, karena saya di sini hanya numpang menginap semalam aja. Nah, dari bandara saya langsung naik taksi menuju Tune Hotel yang berada di Jalan Arjuna dengan waktu tempuh selama 40 menitan. Saya check-in dan mendapatkan kamar simpel tanpa AC, Wi-Fi, dll. Haha.. Memang Tune Hotel ini menerapkan sistem pembelian additional, dimana item-item yang ada di kamar akan dikenakan biaya lagi jika kita menggunakannya. Sebenernya nggak masalah buat saya saat itu, karena walaupun saya nggak mengambil paket ruangan ber-AC, tapi saya masih tenang karena ada kipas angin segede gaban yang menempel di langit-langit kamarnya. Nggak apa-apa lah ya cuma buat tidur semalem doang, karena besok pagi saya udah cabut lagi menuju Malang.

Di depan Tune Hotel ini ada juga budget hotel yang mungkin bisa jadi referensi, yaitu CitiHub Hotel. Persis di sebelah Tune Hotel ini ada Travel Cipaganti (yang sekarang sudah berubah nama).  Saya langsung mandi dan rebahan bentar sampai ketiduran. Tiba-tiba jam sudah jam 11 malam, yang saat itu saya terbangun karena kelaparan. Saya memutuskan untuk keluar mencari makan di sekitar hotel. Jalan raya saat itu masih terbilang ramai dan untungnya nada tukang nasi goreng yang baunya dari seberang jalan sudah tercium enak banget. Setelah perut kenyang, saya kembali ke hotel dan istirahat untuk perjalanan besok yang lebih seru dan bertemu dengan temen kuliah di Malang.

Cost:
Damri HI – Bandara : Rp. 40.000
Airport Tax : Rp. 40.000 
CGK-SUB Kelas Bisnis : Rp. 2.349.000
Taksi Bandara : Rp. 75.000
Tune Hotel : Rp. 150.000 (*sudah kepotong 100.000 dari kupon pegipegi.com)
Nasi Goreng : Rp. 10.000
TOTAL : Rp. 2.664.000

TIPS: Buat yang mau backpackeran mungkin bisa abaikan hari pertama saya, karena baru mulai kehitung beneran backpackeran di hari kedua besok di Malang. Yang backpackeran bisa naik Kereta Matarmaja langsung menuju Malang (*kereta ekonomi yang saya gunakan untuk pulang dari Malang ke Jakarta), saya mendapatkan harga 180.000 rupiah.

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK