[LOMBOK Day 3] Mengakhiri Basahnya Hari dengan Pedasnya Ayam Taliwang Irama

Januari 09, 2016

Lombok Hari ke-3 (Sabtu, 2 Januari 2016)
Air Terjun Tiu Kelep & Sendang Gile – Bukit Malimbu

sunrise di Trawangan 
Pagi di hari ketiga ini gue bangun sekitar jam 04:30 WITA, memutuskan buat sepedaan muterin Gili Trawangan. Tapi berhubung matahari belum terbit, gue mampir dulu di pinggir pantai bagian Timur Gili Trawangan. Ternyata menunggu sunrise di sini damai banget, kenapa gue bilang gitu? Iya, karena suasana pulau masih sepi banget, yang ada hanyalah suara desiran ombak yang ditemani dengan suara burung-burung berkicau di sini dan mataharinya terbit diantara pegunungan-pegunungan nun jauh di sana, indah banget. Di sini sebenernya gue pengen coba bikin video timelapse tapi gagal, membuat gue melanjutkan bersepeda ke bagian Gili Trawangan yang belum gue jelajahi. Nah ada yang lucu lagi nih, gue bersepeda sampai jalan ber-conblock habis dan berganti medan pasir. Di sini gue bertemu 2 persimpangan, lurus dan belok kiri. Pertama gue memutuskan belok kiri karena jalurnya tanah yang menurut gue lebih layak untuk dilewati sepeda daripada yang lurus berpasir. Logikanya gitu kan? Gue telusuri jalanan itu sampai ke dalam yang semakin lama semakin nggak ada kehidupan dan jalannya pun semakin kecil. Gue mulai ragu sama feeling gue belok sini, akhirnya gue bukalah Waze dan ternyata emang benar jalur yang gue lewati ini salah, membuat gue balik lagi ke arah pertigaan tadi. 

coba duduk diem di pasir dan nikmatin pemandangannya. 
[iklan sebentar]
Ini sebenernya gue agak bad mood dan sedih buat cerita dan nulis trip report lombok hari ketiga ini. Kemarin di tanggal 12 Januari 2016, gue baru aja apes banget karena kamar kos gue habis di bobol maling, laptop + HD external lenyap begitu saja.
[baiklah dilanjutkan]

Nah di pertigaan ini gue sedikit ragu menelusuri jalur berpasirnya, walaupun banyak jejak ban sepeda di sana. Nggak mungkin mengayuh sepeda di sini, gue tuntunlah sepeda dengan ban segede gaban itu. Sampai bertemu jalur yang lagi-lagi menurut gue “Apa mungkin ini jalur sepeda buat keliling Gili Trawangan?”. Jalurnya beneran sempit dan harus melipir kalau kita mau lewat sini. Sampai akhirnya bertemulah jalan besar yang ber-conblock lagi dan mulai bermunculan lagi berbagai penginapan dan hotel mahal di sebelah kiri jalan (kanannya pantai). Diluar dari keribetan mencari jalan dan nyasar tadi, sebenernya asyik banget bersepeda pagi-pagi memutari Gili Trawangan ini, masih belum banyak orang dan nggak ramai suasananya. Hanya ada beberapa orang aja yang jogging, bersepeda, dan asyiknya kita saling menyapa satu sama lain. 

Nah yang gue perhatikan di Gili Trawangan sebelah sini [lihat di gambar] jarang banget tersentuh oleh wisatawan (mungkin). Itu menurut gue ya, soalnya di sini lokasinya nggak strategis buat ke mana-mana. Kenapa gue bilang gitu? Di sini kesannya adalah bagian Gili Trawangan yang lebih kumuh, sepi, dan jalannya pun banyak yang rusak. Terlebih lagi banyak lahan dan tanah di sini yang tulisannya “Land for Sale”. 

kita harus lewatin itu tu pinggir2an jalannya
jalanan berpasir yang gak mungkin gowes sepeda
sepeda epic!!
Gili Trawangan di pagi hari
selalu asik buat jalan kaki

Setelah puas bersepda, balik lah ke penginapan dan bergegas mandi. Sekitar jam 8 pagi gue turun ke bawah buat sarapan. (udah excited dapet sarapan apa, ya setidaknya nasi goreng lah). Ditawarkan lah menu sama petugas hotelnya dan sedikit kaget setelah melihat list menunya. Menu sarapannya ternyata western semua dan semuanya bagi gue cuma ngotorin gigi doang, hahaha. Maka dengan berat hati dan bingung akhirnya pilih yang paling aman dan paling kenyang menurut gue yaitu pancake. Setelah sarapan, gue cabut dari penginapan menuju pelabuhan, sekalian balikin sepeda.

Oh iya tiket di pelabuhan Gili Trawangan pun sama sistemnya seperti di Pelabuhan Bangsal, yaitu kapal berangkat berdasarkan warna tiketnya. Setelah sampai di pelabuhan Bangsal yang sepertinya nggak pernah sepi, gue ambil motor di penitipan motor dan segera berangkat lagi ke arah Air Terjun Tiu Kelep & Sendang Gile, wohooooo….!!! Pindah ke gunung!! Perjalanan dari Pelabuhan Bangsal ke arah Air Terjun Tiu Kelep & Sendang Gile ini gue tempuh sekitar 1 – 1,5 jam dengan rute yang berliku. Mungkin saat lo nyetir atau pakai motor sendiri akan terasa jauh, tapi tenang aja karena rata-rata jalan raya di Lombok udah bagus dan beraspal. Jadi lo bisa pacu kendaraan sedikit lebih cepat, tapi tetep ya harus behave dan berhati-hati juga. 

mereka yang mau nyebrang dari Trawangan

Waktu itu cuaca yang bikin gue sedikit was-was, karena gue tau kalau ke arah pegunungan dan terlalu sore pasti cuacanya nggak bersahabat. Bener aja dong, di perjalanan saat mulai menanjak ke daerah pegunungan, gerimis pun sempat turun cukup lama yang membuat gue harus berteduh di sebuah warung yang tutup saat itu. Jalur menuju ke Air Terju Tiu Kelep dan Sendang Gile ini juga merupakan jalur bagi mereka para pendaki yang mau naik ke Gunung Rinjani, jadi jangan kaget kalau di sepanjang jalan lo bakalan banyak melihat yang menawarkan jasa pemandu atau guiding buat naik ke Gunung Rinjani.

Masuk ke Air Terjun Tiu Kelep & Sendang Gile kita dikenakan biaya tiket masuk sebesar 5.000 Rupiah aja. Kedua air terjun ini walaupun dalam satu area dan satu pintu masuk, tapi keduanya punya jarak yang berjauhan. Jalur menuju Air Terjun pertama yaitu Sendang Gile tracking-nya sudah rapi dan enak karena dibuatkan anak tangga. Di sini juga terlihat lebih banyak wisatawan yang berkumpul sekedar bersantai atau mereka yang ingin mandi di bawah air terjun. Di Air Terjun Sendang Gile juga banyak pedagang yang berjualan, jadi mungkin nggak perlu khawatir bagi kalian yang kelaparan atau kehausan setelah menuruni anak tangga yang lumayan jauh dan panjang di sini.

Nah, berbanding terbaik dengan jalur menuju ke air terjun kedua yaitu Air Terjun Tiu Kelep, tracking naik turun dan menyeberang sungai harus dilalui. Asli jauh pisan, gue nggak lebai dan nggak bohong. Lucunya, gue salah kostum men, pakai celana jeans yang beneran nggak fleksibel abis buat kaki manjat-manjat di batu. Untuk bisa sampai ke air terjun ini perjuangannya nggak gampang cui, asli. Kenapa gue bilang gitu? Iya, jalurnya berat bagi kalian yang mungkin jarang naik, jarang olahraga, atau yang kerja di dalam ruangan ber-AC (kayak gue), hahaha…. Jaraknya gue nggak bisa kira-kira, tapi butuh waktu sekitar 45-1 jam dengan medan yang licin dan jurang.

Namanya solo traveling, gue jalan kaki sendirian dan awan gelap pun udah di atas kepala banget saat itu. Bener aja setelah melewati sungai, gerimis pun turun dengan gemulai. Tapi men setelah lo sampai di sana, baaaaaah!!! Lupakan itu hujan, Lupakan itu jalan yang jauh, Lupakan itu basah-basahan menyeberang dan nyebur sungai. Asliii kereeeen banget pemandangannya! Mungkin ini air terjun paling indah yang pernah gue datangi selama hidup gue, yang menggeser posisi Curug Cipendok di Banyumas Purwokerto sebelumnya. Lo nggak bakal menyesal ke sini. Terlebih kalau cuaca lagi bagus bagusnya, lo bisa puas foto di sini, cakep banget!

Baru sebentar gue menikmati pemandangan, bressssss! Rintikan air hujan dari langit pun tiba-tiba datang keroyokan. Untungnya saat itu gue prepare bawa payung dan jas hujan plastik. Gue pakai jas hujan plastik dan tetap payungan dengan indahnya di saat wisatawan lainnya panik kebasahan dan kehujanan, heheDi saat kehujanan kayak gini sebenernya yang gue pikirkan cuma satu yaitu kamera yang gue bawa. Di sana gue cuma berdiri menikmati pemandangan yang [lagi-lagi] gue bilang luar biasa indahnya. Gue foto pakai Xiaomi Yi dan bolak-balik mikir bagaimana caranya gue ngambil kamera DSLR dari dalem tas tanpa ribet dan basah. Akhirnya setelah beberapa saat mengumpulkan niat mengeluarkan kamera, gue memberanikan diri buat mengambilnya dari dalam tas. Payung tetap gue pegang dan gue berusaha ambil foto dengan DSLR, ribetnya bukan kepalang! Tapi gue berhasil mendapatkan 3 – 4 jepretan foto dari DSLR dan setelahnya buru-buru gue masukin tas lagi. Let’s go kita cabut dari sini! Bye-byeee air terjun yang indah permai!

Ketika perjalanan pulang dari Air Terjun Itu Kelep sampai pertigaan menuju air terjun satunya, sebenernya gue masih biasa saja, belum terasa capek. Barulah setelah jalurnya berubah menjadi tangga gue mulai ngos-ngosan. Kaki gue beneran lemes dan setiap beberapa langkah tangga gue istirahat karena udah nggak kuat lagi. (duh yang nggak biasa olahraga, lari/jogging, naik gunung) ini beneran capek banget. Gue istirahat di bale teduhan hampir setengah jam, karena tenaga gue beneran habis. Parahnya gue baru inget kenapa gue bisa kecapekan banget. Iya, tadi pagi gue baru makan pancake doang di Gili Trawangan dan sampai sore itu gue belum makan lagi. *jangan ditiru ya, mending sebelum ke sini ada baiknya makan dulu.

air Terjun Tiu Kelep
banyak yang mandi dan disini rame pengunjung
Air Terjun Sendang Gile
indahnya luar biasaaa.....
andai cuaca bersahabat....
ranger merah beraksi!! :D
Gue turun dan balik ke kota lewat Senggigi lagi, karena penasaran dengan Bukit Malimbu-nya. Sebenernya gue juga penasaran lewat Hutan Pusuk yang banyak monyetnya, tapi gue ragu jalannya lewat mana. Sampai di area Bukit Malimbu gue mampir sebentar buat foto-foto. Haha.. Oh iya ternyata yang hujan emang di daerah Kaki Gunung Rinjani-nya saja, sekitaran air terjun tadi, selepas itu beneran kering kerontang. Gue sampai di kota sekitar jam 4 sore dan langsung check-in di Hotel Rinjani yang ada di jalan Catur Warga, Kota Mataram. Gue istirahat di hotel ini sampai selepas Maghrib. Sebelumnya gue udah kontak-kontakan sama Mbak Anis nih. Mbak Anis adalah orang asli Lombok yang sebelumnya ngajak janjian jalan pas gue di Senggigi, tapi waktu itu Mbak Anis ketemuan dulu sama Ashar, karena gue nggak bisa ikutan jalan bareng. Rencananya gue mau kulineran malam, nah kebetulan banget kan ada orang Lombok yang bisa di ajak jalan-jalan. hehe.. Gue jemput Mbak Anis di rumahnya sambil berpatokan pada dewa penyelamat Waze, yang ternyata  nggak jauh dari hotel dimana gue menginap. Gue bertamu di rumahnya dan bertemu dengan ibunya yang super baik dan ramah. Di Lombok sebenernya Mbak Anis ini tinggal bertiga, tapi Ayahnya di Jogja saat itu. Setengah jam gue ngobrol di ruang tamu dengan Ibunya dan Mbak Anis, ngobrol sana sini sampai-sampai gue direkomendasikan Ayam Taliwang enak di Mataram. Nggak pakai ngobrol lagi, gue pamitan sama Ibunya Mbak Anis buat jalan-jalan. Ibunya diajak nggak mau, yah maaf ya bu jadi sendirian deh di rumah.

Bukit Malimbu
manjain mata :O
spot terbaik buat selfie... 
Sebelum muter-muter kota, makan malam dulu sesuai rekomendasi dari Ibunya Mbak Anis yaitu Lesehan Taliwang Irama di depan SMP 2 Kota Mataram kalau nggak salah. Di sini bukan restoran, bukan ruko, tapi warung tenda kaki lima, Ibunya Mbak Anis bilang kalau selain enak harganya juga nggak nguras kantong. Sayangnya saat itu Mbak Anis nggak ikutan makan karena barusan makan, jadi cuma nemenin gue makan aja. Oh iya, sebelum pesanan datang, gue nyobain puding yang kata Mbak Anis itu puding asli Mataram, dia juga lupa namanya tapi rasanya endessss! Nggak pake lama datanglah di depan gue 1 porsi ayam taliwang yang isinya 2 belah ayam, 1 porsi beberuk terong, 1 porsi plecing kangkung, 2 jenis sambel, 2 porsi nasi (huahahah), 2 air mineral, dan 1 bungkus kerupuk kulit. Rasanya? Wuaaaaah, enak pisaaan dan pedeeeesss!! Mankyuus dah pokoknya, nggak nyesel. Hebatnya lagi semua itu cuma menghabiskan 76.000 Rupiah doang, wawww!!
puding enak. entah apa namanya :)
akhirnya makan plecing di tempat asalnya
buat 1 orang apa 2 orang hayooo?? :P
Perut kenyang dan energi pun kembali. Yes, gue siap buat menjelajah Kota Mataram di malam hari. Selama muterin Kota Mataram gue di motor sama Mbak Anis ngakak-ngakakan karena cerita ngalor ngidul mulai dari yang serius, seru, sampai yang lucu. Mulai dari cerita orang jual rambutan di sini yang pakai lampu dan ditutupi kertas minyak warna merah kalau malam supaya keliatan merah-merah rambutannya, sampai cerita Mbak Anis yang pernah traveling ke Korea Selatan sendirian, weww! Menembus dinginnya malam di Kota Mataram, motor diarahkan menuju Suranadi. Suranadi ini adalah tempat mata air yang punya khasiat bikin awet muda. Gue disuruh Mbak Anis untuk bisa mampir ke tempat ini, katanya kalau siang di depan pintu masuk Suranadi ini ada sate enak juga, huahahahha.

Cerita pun berlanjut pas perjalanan pulang dari Suranadi ke rumah Mbak Anis. Cerita tentang masyarakat Lombok yang jarang terjadi kericuhan antara Umat Muslim dan Umat Hindu, mereka saling menghormati satu sama lainnya. Cerita dimana Mbak Anis nggak suka sama yang namanya mall, sampai gue tau kalo ternyata Mbak Anis ini juga kerja di Jakarta, hueeee.... Nah sekitar jam 10 malam gue anter Mbak Anis ke rumahnya dan gue sangat-sangat berterimakasih sama Mbak Anis yang mau direpotin nemenin jalan-jalan di Mataram sampai larut malam begini. Sekarang gue punya temen orang Lombok yang super baik, thanks Mbak Anis. Penutupan hari ketiga di Lombok yang sungguh menyenangkan, banyak bertemu orang-orang baru dan melakukan hal-hal baru.

REVIEW HOTEL
Nama: Hotel Rinjani
Reservasi: Traveloka.com
Harga: Rp 96.000,-/malam (Fan Double Bed) + Breakfast 
Tiket Kapal Nyebrang ke Bangsal: Rp 15.000,-
Parkir Nginep di Bangsal: Rp 10.000,-
Tiket Masuk Air Terjun: Rp 5.000,-
Parkir Motor: Rp 2.000,-
Pocari Sweat: Rp 8.000,-
Bensin: Rp 25.000,-
Makan Malem: Rp 76.000,-
1 porsi Ayam Taliwang
1 Beberuk Terong
1 porsi Plecing Kangkung
2 botol Aqua
2 porsi Nasi Putih
1 bungkus Kerupuk
2 buah Puding
Parkir Motor: Rp 2.000,-
Hotel Rinjani: Rp 96.000,-
TOTAL PENGELUARAN: Rp 239.000 ,-

You Might Also Like

2 komentar

  1. sunset dan air terjunnya benar-benar bikin WOW, apalagi suasana pedesaannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luar biasa indahnya air terjun ini. Wajib dikunjungi di Lombok.

      Hapus

GOOGLE+

FACEBOOK