[LOMBOK Day 1] Selamat Tahun Baru 2016 dari Senggigi Lombok!!!

4:36:00 AM


Sebenernya rencana ke Lombok ini udah kepengen dari lama banget, bahkan dari saat gw pergi ke Bali beberapa tahun yang lalu. Akhirnya di bulan Agustus tahun 2015 kemarin, niatan pergi ke Lombok ini menguat kembali karena gw pengen tahun baruan liat kembang api di tempat yang berbeda dan dengan kebetulannya pas mau ada Garuda Indonesia Travel Fair di bulan September. Makin makin deh tu gw semangatnya kayak apa.

Dengan semangat 45, gw nabung dan beruntungnya saat itu lagi ada tawaran ngerjain kerjaan freelance yang gajinya kalau dihitung-hitung lumayan bisa buat beli tiket pesawat. Alhamdulillah-nya gaji freelance bisa turun beberapa hari sebelum hari H event travel fair-nya Garuda. Yeeeeeeey!! Syubidam dara dududududu………~~~~ Acaranya berlangsung di JCC Senayan yang deket banget sama kantor, akhirnya malem selepas jam kerja gw langsung pergi ke JCC dengan teman. Tiket masuknya kalau nggak 30.000 rupiah. Gw puterin lokasi acaranya dan sudah benar-benar siap membawa catatan kertas dan pulpen. Hahaha…

Sebenernya gw udah tahu tujuan utama disini yaitu menuju ke booth TX Travel *inibukanpromosi* *guegakdapetroyalti*. Gw mendapatkan saran dari teman kantor yang juga pernah ke Lombok, katanya doi bisa dapet tiket PP Garuda cuma 800.000 rupiah. Whaaaaat!!! Bayangin kurang murah apa coba itu dan karena itulah juga gw jadi semangat 45 buat ke Lombok. Pertama gw dikasih harga 1,5jt PP u/ tanggal yang super high season dan itu termasuk murah. Tapi gw nggak memutuskan dengan cepat begitu aja, gw kembali muterin beberapa booth travel agent yang ada disana, yang hasilnya jauh lebih mahal. Malah ada yang mematok harga 2,8jt PP, wahahahaha....!!! Akhirnya gw kembali lagi menuju TX Travel dan langsung membayarnya karena emang takut kehabisan. Gw pun dapet tiket PP Garuda 1,5jt untuk keberangkatan tanggal 31 Desember dan kembali ke Jakarta pada 5 Januari di sore hari. Senangnya bukan main saat itu!

Lombok Hari ke-1 (Kamis, 31 Desember 2015)
Pantai Senggigi

Huraaaaay!!! Bangun pagi dengan penuh semangat karena disaat yang lain masih kerja, gw cuti. Hari terakhir di 2015 ternyata paginya di guyur hujan dan gw berangkat menuju bandara dengan menggunakan GrabCar. Tujuannya adalah terminal 2F dengan biaya yang tercantum sebesar 92.000 rupiah, belum termasuk biaya tol dan parkiran di bandara. 

Ada cerita dari si bapak driver-nya, dimana katanya doi baru selamat dari maut pagi itu. Whaaat!! Katanya saat doi mau keluar dari pintu tol Slipi Palmerah, ada truk di depan mobilnya yang ngebut dan nabrak pembatas jalan, nah truk tersebut terlempar dan terbalik hampir menimpa mobilnya. Beruntungnya si bapak driver ini langsung tancap gas dan hanya menyenggol sedikit pada bagian belakang mobilnya.
masih bau plastik baru banget mobilnyaa... GrabCar
Gw berangkat dari Slipi sekitar jam 7 pagi dan tiba di bandara jam 9. Gilee lu ndroo, flight masih jam 11 udah berangkat jam segitu! Haha.. Ya, daripada gw bengong sendiri di kos-kosan nungguin jam berangkat, mendingan nunggu di bandara deh sekalian cuci mata. 

Gw pun belum sarapan dan membeli sebungkus Roti'O dan air putih untuk sekedar mengganjal perut yang kelaperan. Sekitar jam 10an, gw pun masuk ke dalam gate yang sudah diarahkan. Gw nggak perlu lagi mengantri check-in dengan antrian yang super panjang, karena saat itu gw udah melakukannya secara online beberapa hari sebelum keberangkatan.
Lomboooook..... :D
Garuda membuka sistem check-in online-nya 24 jam sebelum keberangkatan. Nah keuntungan lain dari check-in online ini adalah kita akan mendapatkan kesempatan untuk memilih kursi yang diinginkan. Nah pada kondisi awal, gw ditempatin di sebuah kursi kehormatan yaitu pada emergency seat. Kenapa gw bilang terhormat? Dan gw sudah mendapatkan 3 kali kursi pesawat di emergency seat. Terhormat karena memang maskapai nggak memilih acak buat siapa saja yang berhak duduk disana, mereka akan menyortir dan memilih berdasarkan usia, kesehatan fisik, dan riwayat sakit, dll. Coba deh perhatiin jika kalian naik pesawat, nggak ada dari mereka misal Ibu-Ibu, lansia, atau anak-anak yang ditempatkan di baris kursi darurat.

Ada satu kelebihan lagi jika kamu ditempatkan di baris kursi darurat, dimana kamu akan mendapatkan legroom  yang lebih luas daripada baris seat lainnya. Nah, mohon maaf banget tapi nih Garuda, kali ini gw mutusin untuk pindah dari kursi darurat. Bukannya apa, namun gw lagi pengen bersantai dan rileks untuk nggak memikirkan hal-hal buruk yang kemungkinan terjadi selama penerbangan. Akhirnya, gw pindah 2 baris di depan kursi darurat.

Lalu, proses keberangkatan Garuda ini memang gw acungi jempol. Proses dari open gate sampai kita naik ke pesawat cepet banget, nggak seperti kebanyakan maskapai yang masih harus menunggu lama di ruang tunggu. Nah, seperti biasa karena posisi pesawat nggak dekat dengan bangunan gedung, maka mengharuskan penumpangnya untuk naik bis pengantar terlebih dahulu untuk menuju pesawat.

Proses keberangkatan Garuda ini memang bisa diacungi jempol dan sangat kontras sama maskapai lainnya, kenapa gw bilang gt? Iyaaa proses dari open gate sampai naik ke pesawat ini cepet bangets ngets ngetss… gak kayak maskapai singa yang gw nunggu di gate lama banget. Seperti biasa posisi pesawat yang jauh mengharuskan penumpangnya diantar pake bis menuju pesawat.
Boeing 737-800
seat baris depan, jadi naik dari pintu depan
Berhubung gw pergi di high season, hampir semua kursi terisi penuh oleh penumpang, namun entah mengapa kursi di samping gw kosong. Isinya dominan anak kecil, di depan gw, di belakang gw, dimana-mana. Jadinya suasana kabin pesawat sangat berisik oleh cuap-cuap anak kecil dan bahkan ada yang menangis. Okelah, gw berusaha keep calm karena sudah nyangklongin (bahasa baku-nya apa ya?) earphone dan tinggal gw play, semua masalah beres!

Sebelum mengudara, para pramugari Garuda yang cantik ini menawarkan permen kepada setiap penumpangnya.Ramah sekali! Ya memang nggak mengherankan sih kelas ekonomi-nya garuda mendapatkan penghargaan dari SkyTrax à World's Best Cabin Staff 2015 World's Best Economy Class Airlines. Dan maskapai-nya sendiri pun di tahun 2015 masuk dalam The World's Top 20 Airlines 2015 di urutan ke-8. 

Ini bukan pertama kalinya gw naik Garuda, kesan pertama naik Garuda justru di kelas Bisnis. Dimana pada cerita sebelumnya, gw beneran kebingungan mencari layar monitor yang ternyata letaknya terlipat pada sandaran kursinya. Berbeda dengan kelas ekonominya, dimana layar monitor berada di bagian belakang seat-nya.
in-flight entertainment
Perjalanan 2 jam menuju Lombok, gw isi dengan menonton sherlock holmes yang masih cukup menarik untuk ditonton ulang. Nah, ada yang lucu disini dan jatohnya sih gw yang norak sepertinya. Ketika kebingungan menggunakan headset-nya Garuda, bingung bukan nggak bisa menggunakannya. Namun lebih kebingungan apakah berbayar atau gratis untuk menggunakan fasilitas tersebut. Sampai kemudian gw melihat orang di seberang baris yang menggunakannya dengan tenang. Yasudahlah, gw pun ikutan membuka bungkusnya dan memakainya untuk mendengarkan suara dari layar entertainment-nya.

Berselang 20 menit mengudara, tanda sabuk pengaman pun mati. Pramugari-pramugari mulai berlalu-lalang dan siap membagikan makan siang kepada setiap penumpangnya. Dimulai dari urutan seat terdepan, dimana sayup-sayup gw mendengarkan pilihan menunya adalah Nasi Goreng Ayam atau Mie Goreng Ikan. Tadinya gw ingin memesan nasi gorengnya, namun setelah sampai di baris gw duduk, menu tersebut sudah habis karena banyak dipesan. Alhasil membuat gw mendapatkan mie goreng ikannya dan untuk minumnya gw pilih jus jambu with ice... hahahah (*seriusan gw bilang seperti itu kepada pramugarinya). Haha..
saatnya makaaaan...
mi-nya enaaaaak....
Rasa mi gorengnya enak dan saus sambalnya pun pakai belibis. Bagi kalian yang sudah tahu rasa dari saus ini, tentunya nggak perlu diragukan lagi enaknya bukan? Pencuci mulut yang disajikan berupa puding markisa dari Inaco. 

Setelah perut kenyang, gw ngerebahin kursi untuk sedikit santai. Namun lagi-lagi, penerbangan kali itu benar-benar berisik oleh banyaknya anak kecil. Terlebih lagi anak kecil yang duduk di depan gw ini berdiri dan loncat-loncat di bangkunya. Nggak hanya itu, anak yang duduk di belakang gw pun kakinya menendang-nendang kursi yang gw duduki. Arghhhh....

Tiba sekitar pukul 2 siang dan bandara Lombok benar-benar ramai seperti pasar di musim liburan. Gw langsung pergi ke arah luar dan mencari dimana letak loket penjualan bus damri. Tiket damri jurusan Mataram mempuyai tiket berwarna biru dan ternyata bisnya berukuran kecil. Gw awalnya mengira kalau bisnya berukuran sama seperti yang ada di Jakarta. Gw kebagian duduk di paling belakang yang beneran nggak enak banget, sekalinya ada jalan rusak atau polisi tidur gw langsung mental-mental. Ngok!
bis kecil milik Damri
Menginjakkan pertama kalinya di tanah NTB, menurut gw nggak seasing ketika pertama kalinya berkunjung ke Sumatra atau Bali. Kenapa? Ya, karena memang disini mayoritas adalah umat muslim, jadi yang gw lihat sepanjang perjalanan dari bandara menuju Mataram adalah masjid-masjid dan rumah penduduk umum seperti di tanah Jawa. Berbeda ketika kamu berkunjung ke Bali, dimana dominan yang adalah rumah dengan pura-pura adat khas Bali yang unik. Namun ini menurut pandangan pribadi gw ya.

Setibanya di pool Damri pada pukul 3 sore dan sebelumnya gw udah janjian dengan Mas Belen. Doi merupakan seseorang yang mempunya travel agent di Lombok dan menyewakan motornya selama 5 hari dengan potongan harga diskon. Gw kenal doi dari forum Lombok Backpacker di facebook. Gw dikasih harga sebesar 60.000 rupiah perharinya dan kagetnya minjem motor di Mas Belen ini syaratnya nggak ribet seperti kebanyakan rentalan motor. Hanya menyerahkan KTP asli aja, sudah itu saja cukup. Gw dapet motor Vario baru berwarna hitam yang masih enak banget dikendarai. Tapi memang, sejauh gw mendapatkan motor rentalan, helm-nya pasti selalu nggak bener dan nggak nyaman buat dipakai. Haha..
sampai di pool bis Damri Suweta Mataram
Setelah mendapatkan motor, gw langsung mengarahkan motor menuju Senggigi, yang sejatinya gw nggak tahu itu ke arah mana. Hahahahah... Akhirnya membuat gw gunain teman kesayangan selama traveling yaitu Waze. 

Sampailah gw di Sendok Hotel Senggigi sekitar pukul 4 sore. Gw dapet welcome drink berupa orange juice yang beneran seger banget saat itu. (*ah tau aja emang lagi haus dan kepanasan). Haha... Gw kemudian dianter menuju kamar yang terletak di paling ujung belakang. Sekitar 1 jam gw bersantai, merebahkan badan, dan beristirahat. Handuk mandi pun diantarkan ke kamar oleh petugas hotel saat itu. 
orange juice for welcome drink
Sekitar pukul 5 sore gw mutusin buat keluar untuk melihat sunset di Pantai Senggigi. Gw bertanya kepada receptionist hotel, yang memberitahukan kalau menuju pantai hanya 5 menit saja dengan berjalan kaki. Benar saja, jalan menuju Pantai Senggigi ini benar-benar berada di seberang hotel gw menginap saat itu. Sepanjang jalan menuju Pantai Senggigi ini banyak kafe-kafe dan hotel mewah seperti di Legian atau Kuta.
jalan menuju Pantai Senggigi.
pintu masuk Pelabuhan Senggigi, sebelah Kila Villas
banyak penjual nasi bungkus murah di sini
Sesampainya di pantai yang ternyata sudah ramai oleh mereka-mereka para pemburu sunset. Banyak juga bocah-bocah yang asik berenang dan loncat dari dermaga sembari menunggu matahari terbenam. Nah yang kocak ketika gw disini, pas lagi asik-asiknya foto-foto ni ya, nah sebelah kan ada 2 orang Ibu-Ibu yang lagi asik selfie. Salah satu Ibu tersebut sepertinya lagi merekam video deh dan doi merekam sambil muter-muter dan nyanti lagu one last time-nya Ariana Grande. Huahahahahha.... 
banyak anak-anak berenang di sini...
indahnya sunset di Senggigi
manjain mata banget ini
Setelah puas berfoto-foto dan menyaksikan langsung matahari tenggelam dengan indahnya, gw kemudian menyambangi salah satu warung makan yang berada disana. Warung makan yang gw lihat menjual nasi bungkus di depan warungnya. Duduk manis lah gw di bangku warung tersebut dan memesan nasi campur dengan segelas es teh. Ternyata bah! Rasanya pedes banget nget nget, yasudahlah ya lumayan untuk mengganjal perut yang kelaparan saat itu. 

Perut kenyang dan tenaga terisi kembali untuk berjalan kaki sepanjang Senggigi. Ya, di sepanjang Jalan Raya Senggigi ini banyak banget kafe, restoran, bar, money changer, travel agent, dll. Disini mungkin karena memang akan ada perayaan tahun baru yang membuat banyak penjagaan dari pos Polisi. 
ada pos Polisi untuk penjagaan malam tahun baru
radler disini iklannya pake billboard cuy...
kafe-kafe buat nongkrong di sekitaran Senggigi
Setelah gw puas sekaligus capek berjalan kaki sepanjang Jalan Raya Senggigi, gw kembali ke arah hotel. Nggak jauh dari hotel, gw liat pedagang martabak yang ramai pembeli, mampirlah dan membeli seporsi martabak manis pisang cokelat.

Waktu menunjukkan pukul 8 malam dan masih terlalu lama untuk pergi ke Pantai Senggigi buat melihat kembang api. Gw memutuskan kembali ke kamar, upload-upload foto, sambil makan martabak yang barusan dibeli. Nah disini gw bingung dan baru sadar kalau jam tangan belum diganti waktunya menjadi WITA. Ngeh ketika gw ngeliat jam tangan masih jam 10, tetapi jam di hape sudah jam 11. Otomatis saya langsung bergegas keluar dan berjalan kaki lagi menuju Pantai Senggigi bergabung bersama wisatawan lainnya yang ingin menikmati pergantian tahun baru.

Bener aja dong, jalan raya udah rame dan penuh sama orang, motor, dan mobil yang mau ke arah pantai. Nah kejadian apes bin buntung terjadi disini. Gini, kan gw bawa Xiaomi Yi plus tongkatnya tuh, nah agak ribet kalo gw pegang-pegang, nah di tas kameranya kan ada tempat yang buat naruh di sabuk. Gw taruh lah tongkat itu disana, dan kameranya sendiri gw taruh di dalem tas. Nah di tongkat itu juga ada mur yang buat ngencengin antara tongkat sama case underwater-nya. Terus gw mampir lah ke Indomaret samping hotel buat beli minum, setelah keluar gw periksalah tu tongkat yang masih nyangkut di tas. Tapiiiiiii, mur pengenceng-nya itu entah kemana hilaaaang. The hell!!

Anjiiir apes banget gw, ini baru hari pertama dan masih ada beberapa hari ke depan disini, gw foto selfie pake apaaa. Nah, logika-nya kan tu pasti mur jatoh gak jauh dong ya antara kamar, hotel, dan indomaret karena setelah keluar kamar gw baru sampe situ dan hilang. Gw puterinlah 3 kali tu jalur yang tadi gw lewatin dan tetep aja kaga ketemuuuu… Ah kampreet!! 

Yasudahlah apa mau dikata, gw langsung cabut ke pantai sekitar jam setengah 11. Oia sebenernya masuk ke Pantai Senggigi ini kita dikenain retribusi 1000 rupiah. Nah, waktu itu kebetulan gw nggak bawa receh dan ngasih uang 50rb ke petugas disana. Trus mungkin karena gak ada kembalian kali ya, petugasnya ngasih tiket ke gw dan uang 50rb-nya jg dikasih lagi. “Masuk aja mas udah gpp, ini tiketnya” ujar si mas petugas. Wewww!! Baiklah..

Sesampainya di pantai, disana udah rame banget sama orang-orang yang nungguin fireworks. Waktu pun terus berputar dan mendekati jam 12 malem semua orang pun semakin bersorak menunggu pergantian tahun ini. [12:00] Teeeeeet…..teeeeeet….teeeeeet…… suara terompet pun bersorak-soray, tapi anehnya kok belum ada yang nyalain fireworks-nya ya. Dalem hati gw, ini nungguin apa, kan udah jam 12? Ternyata eh ternyata mereka disini nunggu fireworks dari hotel/resort pinggir pantai disini. 5……4…….3…….2……1…. Wuuusssssssss……………. kembang api pun kemudian bersahutan memancarkan cahaya warna-warninya di langit hitam.....
salah satu villa yang bakal nyalain kembang api..
HAPPY NEW YEAR 2016....!!!
HAPPY NEW YEAR 2016....!!!
Jujur ini adalah tahun baru paling indah yang gw rasain, walaupun gw sendiri tapi gw gak merasa sendirian. Entah kenapa gw merasa bahagia saat itu. :’) duileeeeh.... Kembang api pun masih terus bersahut-sahutan sampai hampir setengah jam lamanya. Setelah selesai dan habis, gw pun langsung bergegas pulang ke hotel.

Oia sebenernya gw janjian mau ketemuan sama temen dari forum Lombok Backpacker namanya Ashar yang katanya mau tahun baruan di Senggigi juga. Tapi ternyata doi kejebak di pool Damri Mataram karena baru flight dari Jakarta jam 8 malem. Komunikasi pun susah selama di Pantai Senggigi karena saking ramenya pengunjung dan mungkin rebutan sinyal juga. Ashar gak dapet Damri karena udah kemaleman dan katanya arah Senggigi juga udah macet total. Alhasil gw bilang ke Ashar, kalau nanti sampe Senggigi kabarin aja telpon kalo perlu, soalnya takutnya gw udah ketiduran. Dan bener aja Ashar sampe Senggigi dan nelpon gw sekitar jam 4 pagi.

Gw keluar hotel dong ya buat nemuin Ashar. Ebuseeeeet ternyata di depan Sendok Hotel ini banyak orang yang masih pada party dengan suara soundsystem yang luar biasa kencengnya. Gw pun keluar dengan nyelip-nyelip diantara mereka. Salah seorang disana bilang ke gw “mas ganggu ya? kenceng banget musiknya?”, gw jawablah “oh gpp nyantai-nyantai”. Ya gw juga gak masalah, karena ini hal yang wajar lah ya selama mereka juga gak melakukan hal yang merugikan atau berlanjut ke hal kriminal.

Okelah, Ashar pun tiba dan kami pun beristirahat di kamar sembari bercerita sampai gak sadar ternyata jam 5 pagi disini matahari udah terbit. :O

REVIEW HOTEL -> 
Nama: Sendok Hotel
Reservasi: Pegipegi.com
Harga: Rp 150.000,-/malem (Fan) with Breakfast (Potongan diskon 50% dari promo pegipegi.com) **normal price Rp 300.000,-
Selengkapnya ada disini yah http://www.ikutilangkahkaki.com/2016/02/sendok-hotel-menginap-di-pusat.html

COST
GA CGK-LOP: Rp. 750.000,-
GrabCar ke Bandara: Rp. 100.000,-
Parkir Grand Slipi Tower: Rp. 3000,-
Tol Dalam Kota: Rp. 9000,-
Roti’O + Aqua Botol: Rp. 20.000,-
Damri Bandara – Mataram: Rp. 25.000,-
Sewa Motor 5 Hari: Rp. 300.000,- (Mas Belen 0877-6306-1938)
Bensin Full Tank: Rp. 36.000,-
Nasi Campur + Es Teh: Rp. 15.000,-
Fruittea: Rp. 5.000,-
Martabak Manis Pisang Coklat: Rp. 19.000,-
Aqua Botol: Rp. 3.000,-
Sendok Hotel: Rp. 150.000,-
TOTAL PENGELUARAN DAY 1: Rp.  1.435.000,-

You Might Also Like

2 komentar

  1. Panjang banget ceritanya. Tapi seru. Saya juga habis dari Lombok bulan November kemarin. Beberapa sudah saya tulis di blog. Monggo berkunjung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mau baca dong ceritanya saya.. :D

      Delete

GOOGLE+