[LOMBOK Day 5] Tanjung Aan yang Terlewatkan, Tanjung Ringgit yang Mengesankan

Januari 11, 2016

Lombok Hari ke-5 (Senin, 4 Januari 2016)
Tanjung Ringgit – Pantai Tangsi (Pink)



Di sini jam 5 pagi WITA matahari udah muncul, jadi udah terang benderang, beda sama di Jawa yang baru terang setelah jam 6 pagi. Gue santai-santai di depan kamar dan duduk di kursi bean bag menikmati indahnya hidup. Seperti jalan-jalan sebelumnya di mana hari ini adalah hari pertama orang-orang masuk kerja dan gue masih leyeh-leyeh liburan di Lombok, aaaaaaah....

Beberes terus mandi dan jam 8 katanya breakfast sudap siap disajikan di restoran hotel ini. (review sarapan udah di post sebelumnya). Setelah sarapan gue mampir dulu ke Lara Homestay, gue bertemu dengan Ibu Lara lagi dan mengucapkan terima kasih banyak karena udah diberikan penginapan pengganti yang menurut gue berlebih. Ibu Lara bilang ke gue kalo ke sini lagi nanti sama istrinya, nginep di sini ya mas Hahahahahah... gue jawab dengan senang hati “siaaap bu!”. Jadi buat temen-temen yang baca tulisan ini dan misal berencana mau ke Lombok, monggo nginep di Lara Homestay aja, tempatnya bersih dan deket sama Pantai Kuta. Dijamin nggak nyesel! Thanks Ibu Lara..

Brum brum.... motor gue pacu ke destinasi pertama untuk yaitu Tanjung Aan. Oh iya, malamnya gue dapet pesanan dari #travelranger https://travelrangers.wordpress.com/ buat bikin catatan di kertas (yang lagi tren itu, eitsss tapi sorry yaw gue nggak nyampah buang sembarangan). Gue bilang okelah siap, doakan semoga ketemu toko alat tulis sebelum gue sampai destinasi wisatanya. Motor gue pacu dengan pede-nya tanpa melihat Waze, sambil menikmati perjalanan dengan cool nya. Sampailah gue di pelabuhan dan pasar Ikan yang saat itu mulai meragukan kepedean gue yang sok tau jalan. Kebetulannya pas banget bensin motor habis, jadi gue membeli bensin eceran dan bertanya di mana letak Tanjung Aan berada. Alangkah kagetnya saat si Ibu penjual bensin menjawab;

Si Ibu: “waah udah kelewat jauh banget mas”
Gue dengan muka kaget melongo: *dalam hati* Whaaaaat!!!!
Si Ibu: “Itu Tanjung Aan di deket Pantai Kuta mas, nggak jauh dari sana”
Gue: Whaaaaat!!!! (2)
Si Ibu: “Mas dari arah mana?”
Gue: “Pantai Kuta, bu”
Si Ibu: “Loh kok bisa kelewat? Ini udah jauh banget dari sana mas”
Gue: Whaaaaat!!!! (3)

Buru-buru lah gue buka Waze yang ternyata memang udah terlewat jauh banget dari tempat gue berada saat itu. Okelah, daripada gue balik lagi, mending lanjut. Destinasi kedua hari itu adalah Pantai Tangsi yang lebih dikenal dengan nama Pantai Pink. Nah memang pantai ini jauh banget jaraknya dari Pantai Kuta. Gue melewati jalan desa yang rusak dan pas bertemu jalan raya, gue melihat ada toko alat tulis buat beli kertas HVS dan spidol buat bekal titipan.

Perjalanan dari Pantai Kuta ke Pantai Tangsi ditempuh selama 1,52 jam lamanya. Nah buat yang mau ke Pantai Tangsi (Pink) atau Tanjung Ringgit gue kasih bayangan rutenya biar nggak kaget tau kondisi jalannya. Jadi jalan ke Pantai Tangsi dan Tanjung Ringgit ini nggak mulus, rute awalnya emang enak jalanan beraspal halus, tapi setelah itu berubah menjadi jalan berpasir (lihat di gambar), jangan seneng dulu karena setelah jalan berpasir abu-abu kemudian berganti lagi jalan berpasir putih campur tanah. Itu jalannya masih rata, sampai lo bertemu jalan berbatu. Jalur berbatu ini masih terus berlanjut bahkan setelah pintu gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Pantai Pink”. Nggak jauh dari gerbang masuk itu, kalau kita mau ke Pantai Pink harus belok kiri, kalau mau ke Tanjung Ringgit masih harus lurus.

ke Pantai Tangsi = (merah) jalur dari Pantai Kuta, (biru & hijau) jalur dari Kota Mataram
(hijau) jalan aspal, (kuning) jalan berpasir, (jingga) jalan pasir putih & tanah, (merah) jalan berbatu
jalan beraspal
jalan berpasir putih
jalan tanah dan pohon tumbang

Tanjung Ringgit masih harus lurus, sampai bertemu bangunan nggak jelas. Pasti lo bakal kaget mungkin “Ini jalurnya ke mana lagi?!” Memang sebenernya jalannya putus dan mentok di bangunan itu, tapi sebenernya ada jalur di sisi kanan bangunan nggak jelas ituMemang nggak terlihat seperti jalur untuk ke destinasi wisata memang sih, bahkan pas gue nulis artikel ini gue baru tau kalau Dubes Swedia pernah berkunjung ke sini, waw! Jalurnya men… super ekstrem dan mungkin kalau musim hujan jalurnya bakalan bahaya banget karena licin, jalurnya dipenuhi bebatuan yang nongol gede-gede banget. (tapi hal ini lagi-lagi membuktikan dan meyakinkan gue kalau mau pemandangan alam yang bagus memang biasanya nggak mudah buat mencapainya).

Grudak...grudukk..grudak...grudukk motor punya Mas Belen gue pacu dengan super pelan dan hati-hati banget, bukan motor gue coiii!Gue jalan terus sampai menemukan spot yang kece buat foto-foto. Sebenernya agak sedikit was-was pas ke sini, karena sepi banget dam nggak ada orang selain gue, terlebih hari itu adalah Senin dan hari pertama masuk kerja. Tapiiiiii, semua rasa was-was itu hilang seketika pas gue melihat pemandangan yang super amaziiiing!! Sumpah indah banget!!. Tanjung Ringgit, iya, spot terindah kedua di Lombok setelah Pantai Mawun. Sepadan dengan perjuangan dan jauhnya jarak buat ke sini. Lo beneran bisa melihat biru air laut dari atas tebing ini, cakep banget!

keren kan! Uluwatu versi kerennya lagi
tebing-tebing tinggi di pinggir laut lepas
ada yang dateng, kayaknya sih mau ziarah gitu
bangunan yang entah apa itu gw lupa
Itu di tengah hari bolong sekitar jam 12 siang dan matahari tepat lagi di atas kepala. Gue kemudian balik ke arah Pantai Tangsi (Pink), yang di mana pintu masuknya sedang dijaga oleh mas-mas yang lagi makan siang sendirian. Gue ngobrol sebentar sama mas-masnya sambil gue ditawari makan, wkwk. Ternyata oh ternyata di area Tanjung Ringgit tadi juga ada meriam bekas peninggalan Jepang dan katanya Tanjung Ringgit ini dijadikan pusat pemantauannya. Tapi gue nggak tau letak persisnya di sebelah dari spot gue foto-foto tadi.

Daaaaan…. selamat datang di Pantai (yang katanya) Pink ini…. Pas gue sampai, lhaaaaaa ini mana warna pink-nya. Berarti gambar-gambar di Google contrast dan exposure-nya udah ditambah berapa persen ya itu (coba cari deh). Sebenernya setelah gue lihat pasirnya memang ada bagian yang berwarna pink, yang setelah gue cari tau itu adalah dari pecahan karang-karang yang memang berwarna pink. Tapi yang jelas kalau datang langsung dan melihat sendiri, warna pink-nya nggak lebai seperti di internet ya.

Dari kejauhan gue melihat ada yang naik bukit di sebelah kiri Pantai Tangsi ini. Nggak pakai basa-basi gue langsung cus buat naik ke bukit itu dan lagi-lagi pemandangannya 360 derajat indah banget. Gue udah nggak peduli sama panas, keringetan ngos-ngosan, haus, laper, semua sudah terbayarkan. Sampai setelah puas foto-foto di atas bukit, gue melihat ada bapak yang lagi mengupas kulit kelapa di depan warungnya. Ya sambil berteduh dari panasnya matahari gue membeli kelapa muda di sana dan seger banget. Tapi perut emang nggak bisa diajak kompromi dikit, rewel banget gara-gara melihat bungkusan Indomie di warung bapaknya. Ya apa daya gue akhirnya membeli mi goreng dengan telur ceplok, selamat makan.

ini udah agak gw naikin contrast-nya
nah ini warna asli pasirnya tanpa editing warna
Pantai Pink dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit
pemandangan dari atas bukit (2) kereeen kaaaan...
es kelapa seeeegeeer....
neduh duluuuu, mau mati kepanasan
Perut kenyang dan perjalanan jauh menuju Kota Mataram pun siap diarungi kembali. Kali ini gue bawa motor agak santai karena hari itu udah nggak ada destinasi lagi yang ingin gue tuju. Pas lagi santai-santainya lewat jalanan yang sepi itu, tiba-tiba gue agak nggak percaya apa yang gue lihat barusan dan itu lewat di depan gue. Apa itu? Entah itu kadal atau biawak yang ukurannya gede banget mirip komodo dan menyeberang cepet banget di depan gue. Whaaaaaaaaaat!!!!!!! The hell!!!!!!!! Mulai dari situ gue agak ngeri jalan pelan-pelan. Sambil lihat spion kanan kiri karena was-was banget, itu beneran posisi gue lagi di hutan yang rindang dan cenderung gelap. Eeeeeeh…. nggak berapa lama, bener dong ada lagi yang aneh-aneh di hutan. Tiba-tiba ada yang loncat dari ranting satu ke ranting yang lain dan banyak bangeeet. Itu monyet! Gile makin serem dan gue pacu motor agak ngebut, kan nggak lucu tiba-tiba ada monyet nempok di pundak gue.

Selepas hutan itu, gue mulai agak tenang. Sampai di Praya disambut dengan rintik gerimis air hujan dan gue berhenti di pinggir jalan untuk mikir apa gue masih punya waktu buat ke Air Terjun Benang Kelambu atau nggak. Tapi ternyata jalurnya masih jauh dan gue harus puter balik buat ke arah Benang Kelambu. Yah mau apa daya daripada sampai sana terlalu sore, akhirnya gue urungkan niat itu. Memutuskan bahwa explore tempat wisata di Lombok ditutup dan berganti ke wisata kuliner, *ketokpalu*.

jalan raya dari Pantai Tangsi ke Praya (*eh ada yang nyebrang tuh)

Nah di Praya ini ada satu kuliner paling dicari yaitu nasi balap puyung, yang asli lokasinya berada di Desa Puyung. Dari jalan raya Praya – Mataram plang petunjuk Nasi Balap Puyung “Inaq Esun” terpampang jelas di kanan jalan, karena lokasinya memang masuk ke dalam gang bukan di pinggir jalan raya. Gue nggak berekspektasi pedes sama sekali sama makanan khas Suku Sasak Lombok ini, tapi setelah gue coba satu suap, baaaah pedes giling! Isi nasi balap puyung ini adalah kacang kedelai kering, ayam suwir kering, dan ayam basah yang bumbu-nya entah dari apaan ini pedes banget. Tapi diluar dari rasa pedes, nasi balap puyung ini enak.

Oh iya, sebenernya gue udah prepare kalau makan kuliner terkenal di suatu kota biasanya harganya nggak murah a.k.a lebih mahal dari yang lainnya. Perkiraan gue satu porsi nasi balap puyung ini antara 25.000 – 30.000, ditambah minum nutrisari mungkin habis 35.000-an kali ya. Setelah di depan kasir, gue kaget banget sampai gue ulang dua kali “berapa bu?” “maaf tadi berapa bu?”, ternyata cuma habis 20.000 aja dan udah dengan minumnya. Bah! Berarti satu porsi nasi balap puyung hanya 15.000 aja. Hueeeee itu murah lo untuk kuliner yang udah punya nama dan dicari banyak orang kalau ke Lombok.

Nasi Balap Puyung Inaq Esun
biasa aja dong bu mukanya! haha *peace bu*
Nasi Balap Puyung
Perut kenyang walaupun agak sedikit panas, gue lanjut balik ke arah Kota Mataram dan berencana langsung check-in dan istirahat sebentar. Pas udah di Mataram gue lihat namanya Phoenix Showroom yang nantinya mau gue datangi buat beli oleh-oleh. Nah, sebelumnya nyokap juga nitip minta dicarikan kalung mutiara. Kebetulan gue inget kata Mbak Anis kemarin, katanya ada sentra mutiara murah di Kota Mataram, namanya Sekarbela. Iya, sekitar jam 4 sore dengan berbekal pacar tercinta Waze meluncurlah gue ke Sekarbela ini. Sekarbela adalah nama sebuah wilayah/desa di Mataram pengrajin Mutiara, kalau mau cari di maps coba search Jalan Sultan Kaharudin. Di sepanjang jalan ini bakal melihat banyak toko-toko yang menjajakan mutiara-mutiara Lombok (kalau di Jogja semacam daerah Kasongan yang banyak menjual guci-guci dari tanah liat).

Tawar menawar harga mutiara cukup sengit antara gue dengan si pedagang. Toko pertama yang gue datangi minta 800.000 untuk kalung 2 putaran, untuk 1 putarannya harganya 450.000 dan untuk kualitas mutiara super air tawar. Emang ada yang lebih murah sekitar 100.00 untuk satu putarannya, tapi kualitasnya dibawah super. Perbedaan antara super dan yang biasa bisa terlihat kasat mata, kalau yang super bentuk dan polesan mutiaranya hampir bulat sempurna, tapi kalau yang biasa bentuknya nggak rapi dan polesannya masih terlihat garis di sekeliling mutiaranya.

Nyokap mau yang kualitas super dan gue tawar sampai harga 400.000 untuk 2 putaran, si pedagang tetep ngotot kalau harganya mentok di 700.000. Hampir setengah jam gue duduk di depan etalase toko itu, berharap dapet harga murah, tapi toko pertama gagal. Gue cabut dan cari lagi sampai bertemu toko mutiara yang kiosnya lebih kecil daripada toko pertama. Di sini yang jual kebetulan Bu Haji dengan Pak Haji, bertanyalah gue kalung mutiara 2 putaran dengan ukuran yang sama seperti toko pertama. Ternyata harga di sini agak lebih miring karena untuk 1 putarannya dihargai 300.000, gue pun spontan nyebut 400.000 untuk 2 putaran. Pertama sih si Ibu nya bilang 500.000, tapi gue kekeh 400.000. Nah disitu gue diperlihatkan ada 3 pilihan kalung mutiara dengan jenis yang sama, gue disuruh pilih sama si mbak pegawainya, lhaaaaaa… di mata gue ketiga kalung mutiara sama semua. Gue bilang sama si mbaknya, “mbak, mbak kan cewek nah pasti tau dong mana yang bagus dari 3 kalung ini. Pilihin mba.” Si mbaknya sambil senyum-senyum akhirnya memilihkan salah satu dari 3 kalung mutiara itu yang paling bagus. “yang ini mas”. Terus gue mau tau dong kenapa doi pilih yang dia pilih, kata si mbaknya “ini kilaunya lebih bagus mas daripada yang lain”. Gue ambil 3 kalung mutiara tadi dan gue jejerin, whaaaaat…. Sama ajaaaaaa, liatnya darimana deh. -_- Yaudah gue yang nggak tau apa-apa tentang mutiara, akhirnya gue pilih kalung hasil seleksi mbaknya. Saat itu gue masih kekeh 400.000 dan gue pasang muka nggak niat beli. Eeeeh.. si Ibu-nya bisik-bisik ke si bapaknya dan akhirnya gue di kasih harga terakhir 400.000 untuk 2 putaran kalung mutiara kualitas super. Waaaaaaaaaaa…!!!! Senangnyaaaa…..
salah satu toko mutiara di Sekarbela
yang di boks kualitas super, yang diluar kualitas biasa
Setelah mendapatkan kalung mutiara, gue niatnya pergi ke toko oleh-oleh Phoenix Showroom yang ada di Jalan A.A Gede Ngurah. Tapi ternyata pas sampai di sana kok tutup. Gue berhenti di depan tokonya dan gue mencari tahu jam bukanya di internet. Iyalah ternyata tutupnya jam 6 sore dan gue ke sana jam set 7 malam, balik deh ke hotel kalau kayak gini caranya. Sampai di hotel sebenernya masih browsing-browsing di mana tempat oleh-oleh yang buka di malam hari, sampai gue iseng nanya Mas Belen di mana tempat oleh-oleh yang recommended di sini. Ternyata jawabnya Mas Belen malah bukan Phoenix Showroom, tapi mengatakan Toko Oleh-Oleh Lestari di Ampenan yang buka di malam hari. Nggak pakai lama di kamar, gue langsung cabut ke daerah Ampenan buat ke toko oleh-oleh yang dimaksud Mas Belen, karena gue pikir kalau nyari pagi-pagi terlalu mepet dan buru-buru.

Nah ada yang menarik dan unik nih pas mau ke arah Ampenan di malam hari, tepatnya di Jalan Udayana. Gue kaget di pinggiran jalan itu banyak lilin-lilin yang menyala, gue kira ada yang lagi persami, hahahahaha. Ternyata eh ternyata pas gue perhatiin lebih deket, itu lesehan tempat makan meeeen!!! Lucu deh baru lihat tempat kayak gini dan rata-rata di sini mereka menjual Sate Bulayak, tapi sayangnya gue nggak mampir. Setelah itu, sampailah gue di Toko Oleh-Oleh Lestari yang mungkin nggak banyak orang tau. Ternyata di sini lengkap pilihan oleh-olehnya dan makanan produksi Phoenix Food juga ada. Gue udah tau apa yang mau gue beli di Lombok ini yaitu dodol rumput lautnya, karena gue ketagihan pas nyokap pulang dari Lombok dan bawa itu. Jadi makanan-manakan yang berhasil gue rampok di Toko Oleh-Oleh Lestari adalah:

·         1 bungkus gede Dodol Rumput Laut
·         1 bungkus gede Manisan Rumput Laut
·         4 bungkus Kerupuk Rumput Laut
·         1 bungkus Keripik Teripang
·         1 bungkus Peyek Teri
·         2 bungkus Rumput Laut
·         1 botol Sambal Encim
·         1 bungkus Terasi Lombok
·         10 gantungan kunci


nih kayak gini nih (foto diambil dari http://mynewblogkitchen.blogspot.co.id/)
Nah baliklah gue ke hotel dan pas gue hitung-hitung lagi di bon pembelian oleh-oleh, jeng jeng jeng jeng…..kok ada yang aneh yaaaa… Hmm…. Ternyata si penjual salah hitung di bagian rumput laut, yang seharusnya gue masih dapat kembalian 20.000 lagi. Sebenernya males sih ke sana lagi karena jauh dari hotel, tapi dipikir-pikir kalo 20.000 itu bisa dapet gantungan kunci lagi 4 biji, kan lumayan. Akhirnya gue balik lagi ke toko oleh-oleh itu dan supaya nggak terasa melelahkan gue berencana mau sekalian mencoba Sate Rembiga di Jalan Rembiga yang nggak jauh dari jalur gue ke Ampenan. Pas gue sampai di tempat oleh-olehnya, si mbaknya dengan ramahnya meminta maaf karena memang salah itung dan gue dapet 4 gantungan kunci lagi. Huehehehe….

Balik dari Toko Oleh-Oleh Lestari, gue mau cari makan malam Sate Rembiga Sinnaseh, lokasinya juga nggak terlalu melenceng jauh dari jalur ke arah hotel dari Ampenan. Nah apesnya pas baru aja mau parkir, si mas penjualnya udah ngasih kode ke gue “cieeelah kode” si masnya nyilang-nyilangin tangannya, yang menandakan kalau sudah habis, ah siyaaaaal abisss coiiii!!! Eki kurang beruntung. Nggak jauh dari situ sekitar 500 meteran, ada rame-rame dan gue lihat ada kepulan asap juga. Pas gue datangi ternyata jual sate juga, baru aja gue celingukan (lagi-lagi) si Ibunya bilang “mas sate dagingnya habis mas”, wheeeeeeeeeet!!! “tinggal sate lilit sama sate ati mas”. Yah dalem hati daripada gue nggak makan, gue belilah sate lilit, sate ati, dan satu lagi yang lucu karena bentuknya dibungkus daun pisang dan udah dibakar, gue tanyalah ke Ibu penjualnya ini apa dan Ibunya jawab “adudfhiewlfshkdnjlfh” whaaaat apaaan tu... Karena saking chaos nya Ibu penjual melayani yang antre, membuat gue nggak tanya 2 kali itu apa, yaudah gue beli aja. Oke lauk udah dapet, sekarang tinggal cari nasi. Gue pikir gampang cari warung nasi di sini, elaaaaah dalaaah susah ternyata. Muter-muter sampai gerimis nggak ketemu yang namanya warung nasi. Oke daripada susah payah cari nasi, gue putuskan buat beli nasi goreng aja. Nasgor dapet, saatnya balik ke hotel dan makan. Lucunya lagi adalah karena si abang nasi gorengnya nggak ngasih sendok plastik, akhirnya gue makan nasi goreng pakai tangan dengan indahnya. Nasi goreng, enak. Sate ati, bumbunya sip. Sate lilit, hmm mayan lah walaupun rasanya agak nggak cocok di lidah. Nah satu lauk yang bikin gue penasaran ini apa. Gue bukalah dengan cantik bungkusan daun pisangnya dan taraaaaaaaaaa warnanya cokelat gelap. Cuilan pertama, yak gue angkat tangan. Hands Up! Hands Up! *nyengir-nyengir bingung* Bah makanan apaan ni! Kelapa parut tapi warnanya cokelat, rasanya? Hmmmm... gue nggak bisa ngasih tahu bagaimana, bagi yang tau makanan apaan ini mungkin bisa komen dibawah. Tell me, please...

Baiklah perut kenyang dan saatnya tidur di kasur super besar karena besok adalah hari terakhir gue di Lombok. 

REVIEW HOTEL
Nama: Arianz Hotel
Reservasi: Pegipegi.com
Harga: Rp 150.000,-/malam (Fan) with Breakfast (Potongan diskon 50% dari promo pegipegi.com) **normal price Rp 350.000,-
PENGELUARAN
Bensin: Rp 20.000,-
Tiket Masuk Pantai Tangsi: Rp 5.000,-
Air Mineral: Rp 5.000,-
Indomie Goreng + Telor Ceplok: Rp 10.000,-
Kelapa Muda: Rp 15.000,-
Tisu Kecil: Rp 3.000,-
Nasi Balap + Nutrisari: Rp 20.000,-
Bensin: Rp 15.000,-
Oleh-Oleh: Rp 498.000,-
Sate-Satea: Rp 15.000,-
Nasi Goreng: Rp 14.000,-
Arianz Hotel: Rp 150.000,-
TOTAL PENGELUARAN DAY 5: Rp 770.000,-

You Might Also Like

5 komentar

  1. seandainya tempat ini di aceh... waduh... bahagianya saya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aceh juga punya tempat wisata yang luar biasa indahnya...

      Hapus
  2. itu sendal yg dikasih ke andi ya... hihihihi

    BalasHapus
  3. Suasananya masih asri dan natural banget kayaknya yah,,, kalau melihat laut seperti mau nyemplung saja. Keren Gan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. The best! Wajib kalau ke Lombok ya gan..

      Hapus

GOOGLE+

FACEBOOK