[LOMBOK Day 4] Pantai Mawun. Pantai Terindah di Lombok!

Januari 10, 2016

Lombok Hari ke-4 (Minggu, 3 Januari 2016)
Pantai Selong Belanak – Pantai Mawun – Pantai Kuta

Hari keempat di Lombok gue akan semakin menghitam karena semua destinasi wisata di hari Minggu tanggal 3 januari ini adalah pantai semua. Iya, gue akan pindah ke daerah selatan Pulau Lombok, tapi masih dalam bagian wilayah Lombok Tengah. Destinasi pertama adalah Pantai Selong Belanak. Sekitar jam 7 pagi setelah sarapan gue langsung bergegas cabut dari penginapan. Dengan kepercayaan diri tinggi, gue mengikuti petunjuk jalan yang bertuliskan Selong selama hampir 30 menit berkendara, sampai gue tersadar kok semakin lama gue nggak yakin dengan berpatokan papan petunjuk arah itu. Setelah gue buka Waze dan berhenti di pinggir jalan, gue tersadar kalau gue salah jalur, ya kan bener! Gue justru menuju arah Lombok bagian timur, bukan ke selatan seperti yang gue ingin tuju, lhaaaa? Terus itu Selong apaan? Ternyata nama Selong ini adalah Kabupaten Selong yang ada di Lombok Timur, bukan petunjuk untuk menuju ke Pantai Selong Belanak. Whaaaat, lhaa dhalaaah, piye to leee…

Akhirnya dengan kalemnya gue puter balik menuju rute Selong Belanak yang benar. Perjalanan dari kota Mataram ke Pantai Selong Belanak gue tempuh sekitar 1,5 jam. Lagi-lagi yang bikin gue salut sama Lombok adalah jalan rayanya yang punya permukaan aspal halus dan rata. Enak banget berkendara di Lombok, terlebih lagi ditunjang dengan warga di sini yang memang sangat berhati-hati dalam berkendara. Sesampainya di Pantai Selong Belanak gue membayar biaya masuk sebesar 10.000 Rupiah. Gue nggak tau entah masuk kantong pribadi atau masuk kas pemerintah, soalnya yang berjaga di pos tiket sepertinya warga-warga sekitar, bukan petugas resmi yang menggunakan seragam. Gue positive thinking aja lah semoga duitnya beneran masuk kas pemerintah yang berguna buat pengembangan pariwisata di Lombok itu sendiri. 

(hijau) jalur yang rencanya mau gw lewatin lewat Desa Sade, (biru) jalur setelah nyasar
Pas sampai di pantainya gue langsung cari kamar mandi buat ganti celana, tapi gue juga haus, jadi sambil nyari kamar mandi gue mampir ke salah satu warung yang penjualnya lagi bersih-bersih. Satu kaleng sprite seteguk demi seteguk gue habiskan sambil duduk di bangku warung beratapkan daun kelapa itu. Namanya mas Jack, dia yang punya warung, orangnya baik dan gue sempet ngobrol sebentar. Doi ternyata seorang surfer dan dengan baik hatinya nawarin gue buat main surfing sampai bisa, wiiiiiih… Oh iya pas gue tanya mas Jack dimana letak kamar mandi umumnya ternyata udah kelewat jauh sama gue, kamar mandinya ada di deket parkiran, lah? Jauh banget gue harus balik lagi ke sana cuma mau ganti celana. Akhirnya gue minta izin sama mas Jack buat pinjam kamar mandinya buat ganti celana dan mas Jack pun mempersilahkan gue dengan ramah. Thankyou mas!

duduk manis di Warung Mas Jack
menu di Warung Mas Jack
Pantai Selong Belanak
jagung bakarnya menggiurkan

Gue jalan semakin menjauh dari keriuhan dan kerumunan wisatawan di Pantai Selong Belanak , gue mencari spot dan tempat yang agak sepi di sini. Nah pas lagi asyik nya foto, datanglah segerombolan anak-anak dan 1 orang dewasa yang ternyata mereka lagi nyari ikan, what? Di pantai nyari ikan? Dan pakai jaring? Ketidakpercayaan gue digugurkan dengan setengah ember ikan yang mereka dapat.

Nah pas lagi duduk asyik di pantai, gue didatangi seorang laki-laki berambut Bob Marley. 
“Mas maaf, saya mengganggu nggak ya?”
“Oh ya, silahkan mas”
“Iya, begini mas. Di daerah Lombok ini, khususnya Lombok Utara masih sepi mas. Belum banyak penjagaan dari Polisi setempat. Nah mas ni bawa kamera dan barang lainnya, harap hati-hati mas, waspada aja”
“Oh siap mas, makasih infonya”
“Oke mas itu aja, saya balik ke sana lagi ya”
“Siap thanks mas!”

Ternyata si masnya hanya mau menginfokan ke gue untuk lebih hati-hati selama di Lombok. Waww!! Respect! Masih ada mereka-mereka yang baik hati mau memberikan himbauan kepada para pendatang yang datang ke tanah-nya supaya lebih waspada.

Nah pantai Selong Belanak ini bagus, lautnya hijau kebiruan. Tapi alangkah lebih bagusnya lagi kalo kita bisa liat dari atas bukit. Karena bibir pantai dan garis lautnya di sini sejajar, jadi mungkin agak kesulitan buat puas menikmati pantainya. Sebenernya selama di pantai ini gue lagi mencari jalur buat naik ke bukit yang berada di sekitaran Pantai Selong Belanak, tapi nggak ketemu. Setelah puas menikmati Pantai Selong Belanak, gue cabut ke destinasi pantai selanjutnya yaitu Pantai Mawun, dikarenakan masih dalam satu wilayah dan satu garis pantai. Jalan raya dari pantai Selong Belanak ke Pantai Mawun ini relatif lebih sepi (walaupun masih high season waktu gue ke sana). Ya emang bener, gue rasa di sini jangan sampai terlalu sore kalau lewat sini sih, serem ugha. 

pengan tau cara naik ke bukit itu
Pantai Selong Belanak ramai pengunjung
Sesampainya di area Pantai Mawun di sini juga ada biaya masuk sebesar 10.000 Rupiah dan pas gue parkir ada kejadian yang menurut gue nggak sepantasnya terjadi. Jadi ada 3 orang turis asing yang mau ngambil motor di parkiran, nah ada seorang warga lokal yang dari gelagatnya dan omongan ke turis asing itu nggak ramah. Gue yang lagi asyik melepaskan helm, masker, jaket dll sayup-sayup dengar kalau ternyata si warga lokal yang nggak ramah itu mintain duit parkir ke turis buat 2 motor sebesar 50.000, what!! Eh nggak berapa lama tiba-tiba datanglah mobil Jazz berwarna merah dan parkir di samping bule itu. Jeng jeng, ternyata yang keluar adalah 5 orang polisi yang bawa senapan laras panjang (penjagaan musim liburan tahun baru kali ya). Huahahahaha… Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang mendatangi ke warga lokal itu dan bilang “sudah-sudah” sambil mengembalikan uang si bule dan menyuruhnya pergi. Sangat disayangkan sebenernya hal ini harus terjadi, apalagi pariwisata Lombok ini sedang di promosikan dengan gencar di luar negeri (pasang iklan “Visit Indonesia” Lombok NTB di Taksi London”). Memang scam tidak hanya ada di Indonesia, tapi kebanyakan negara Asia Tenggara, hal tersebut mungkin akan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan yang datang ke objek wisata tersebut. Jangan begitulah!

Balik lagi ke Pantai Mawun, pas gue berjalan dari parkiran menuju pantainya gue cuma bisa melongo saat itu, gilaaaa kereeen banget! Banyak yang bilang kalau Pantai Selong Belanak adalah yang paling indah di Lombok, tapi menurut gue justru Pantai Mawun lah yang terindah. Di sini datarannya lebih tinggi daripada permukaan air lautnya, jadi kita bisa dengan jelas menikmati hijau birunya lautan di Pantai Mawun ini. Gue mendapatkan teduhan yang nyaman dan enak di bawah pohon kelapa. Di sini gue nggak melakukan hal apapun dan nggak mendengarkan musik apapun, Cuma duduk aja menikmati pantai yang super indah ini. Hampir 2 jam nothing to do gue di Pantai Mawun ini sambil gue menunggu jam check-in hotel di Kuta. Saran terbaik gue sih kalau emang mau ke pantai-pantai yang ada di Lombok ini sebaiknya pakai kacamata Polarized. Kenapa gue bilang gitu? Kacamata Polarized ini bisa meredam panas dengan sangat baik tapi nggak akan menghancurkan warna dari objek yang dilihat. Justru setelah gue coba, kacamata polarized ini bakalan menambah tingkat kontras dari warna objek yang dilihat. Percaya deh sama gue, berbeda dengan kacamata hitam biasa yang non-polarized, mungkin tampak gelap aja karena hanya mereduksi pencahayaannya aja. (coba deh browsing di Google tentang kacamata polarized ini).

Pantai Mawun
nyantai gak ngapa2in terkadang jadi hal terasik 
pantai terkeren di Lombok!
pemandangan di perjalanan dari Pantai Mawun ke Pantai Kuta

Gue cabut dari Pantai Mawun sekitar jam 2 siang karena bertepatan dengan jam check-in di hotel. Perjalanan dari Pantai Mawun ke daerah Pantai Kuta agak lumayan jauh dengan kondisi jalanan naik turun berbelok-belok (mungkin kalau dari kalian yang pernah jalan dari Pantai Pandawa ke Uluwatu Bali, kondisi jalanmnya hampir mirip). Sesampainya di area Pantai Kuta gue langsung melihat plang papan petunjuk bertuliskan Lara Homestay, tapi sebelumnya gue yang kehausan dan kelaparan mampirlah sebentar di Indomaret di deket situ.

Lara Homestay gue pilih di pegipegi.com karena selain lagi ada promo, di TripAdvisor ratingnya bagus dan banyak komentar positif tentang penginapan ini. Lokasinya dari jalan raya kita harus masuk ke dalam gang kecil yang nggak beraspal, nanti barulah bertemu dengan bangunan bertingkat 2 bercat abu-abu bertuliskan Lara Homestay.  Gue tiba langsung disambut oleh Ibu Lara yang super baik. Gue dipersilahkan duduk dan gue pikir gue disuruh menunggu sebentar, ternyata beliau menjelaskan sesuatu ke gue.

“Mas Ikhda, sebelumnya saya mohon maaf. Ternyata begini, seharusnya yang menginap di kamar yang akan mas tempati harus check-out siang ini. Tetapi ternyata turis asing yang sedang menginap ini sakit dan menambah waktu menginap di sini. Saya tidak bisa menolak dan saya juga tidak bisa membiarkan mas. Jadi saya sudah siapkan kamar untuk mas, nanti silahkan ikuti mbak itu ya mas”
“Oh baik Ibu Lara tidak apa-apa, terima kasih sebelumnya”

Gue pikir gue akan ditempatkan di penginapan Lara Homestay 2 punya Ibu-nya yang lain tapi nggak di lokasi ini. Tapi kok tadi Ibu Lara sempet bilang “Saya beri kamar di Hotel ya mas”. Gue nggak ngeh dengan kalimat si Ibu Lara sambil pamitan pergi pakai motor mengikuti si mbak homestay-nya Ibu Lara. Eh bener aja dong si mbaknya belok ke hotel bernama Melati Hotel & Resort Kuta Lombok. Si mbak tadi bicara sama receptionist hotelnya dan gue disuruh menunggu di meja tamu-nya. Lantas si mbak tadi berpamitan meninggalkan gue dengan senyuman ramahnya. Nggak berapa lama pelayan dari hotel itu datang membawakan gue segelas Orange Juice dingin yang dengan sok elegannya gue minum sedikit-dikit, padahal haus banget nggak ketulungan, hahaha.

Nggak berapa lama salah satu pelayan hotel-nya mempersilahkan gue buat ikut menuju kamar yang akan gue tempati. Betapa kagetnya gue dapet kamar yang ukurannya super besar dengan 2 kasur king size, ini buat gue gegulingan juga masih kegedean. Gue di kasih kamar di lantai 2 yang menghadap kolam renang dan bukit di daerah Kuta ini. So, karena dari tadi gue penasaran berapa harga permalamnya hotel ini, browsing-lah gue di booking.com yang ternyata kamar gue semalam harganya 450.000, wheeee!!! Gue dapet harga di Lara Homestay cuma 150.000 tapi gue tidur bermalam di kamar seharga 3 kali lipatnya. 

Setelah ruangan kamar dingin, TV nyala dengan channel internasional-nya, rebahanlah gue di kasur berukuran besar yang empuk dengan selimut yang super tebal. Gue nyemilin biskuit sambil nonton TV sampai sekitar jam 5 sore. Perut nggak kuat sok-sokan cuma nyemilin wafer cokelat doang, akhirnya gue memutuskan keluar berharap bisa dapet makan murah di sini. Gue cabut ke arah Pantai Kuta dengan excited yang dimana ekspektasi gue berubah saat berada di sana. Pantai Kuta ternyata nggak sebagus yang gue bayangkan, pantainya kotor, banyak banget sampah di sini, di pinggir pantai, dan bahkan di sela-sela karang yang air-nya. Terlebih katanya (obrolan di forum) banyak pedagang kaos/kain yang menawarkan dagangannya secara memaksa. Tapi saat gue keliling pantai di sana dan foto-foto di depan tulisan Pantai Kuta memang ada yang menawarkan kaos/kain khas Lombok saat itu, gue langsung menolaknya dengan halus dan si pedagang pun tak memaksa.

Cuma saat ada pedagang anak-anak yang menjual gelang dengan harga “5.000 dua, mas”, gue tertarik bukan karena kasihan. Tapi gue memang tertarik dengan salah satu gelang yang dijual si bocah itu, gelang seperti bentuk mutiara berwarna hitam. Pas lagi asyik milih, datanglah 3 anak lagi yang menjual gelang-gelang lainnya ke hadapan gue “mas, mas ini mas gelangnya bagus”, “mas yang ini aja mas”, “mas murah mas gelangnya dibeli mas”.

Babang pusing 1 lawan 4 orang ini mah, hahahaha… Akhirnya daripada gue pusing dengerin anak-anak pada ngoceh, gue suruhlah mereka semua duduk santai di pasir sambil gue pilih gelangnya. Akhirnya gue beli masing-masing 2 gelang setiap anak, jadi adil karena mereka super bawel. Oh iya, di Pantai Kuta ini gue udah prepare bawa botol minum, ini sesuai saran dari Mbak Anis yang katanya pasir Pantai Kuta butirannya mirip merica, jadi bagus kalau dibawa pulang dan ditaruh di botol. Tapi jangan harap bisa jalan dengan anggun di atas pasir di Pantai Kuta ini ya, karena kalau nggak pakai alas kaki sakiiiit coiii! Pasirnya selain punya butiran mirip merica, tapi juga bercampur dengan banyak pecahan karang juga. 

Pantai Kuta yang biasa aja
banyak pedagang di sini
para pedagang kain di Pantai Kuta
spot favorit buat foto-foto
kondisi lingkungan/daerah di sekitaran Pantai Kuta
lingkungannya cukup asik dan nyaman
Sebelum pulang ke arah hotel, gue keliling di daerah sekitaran Pantai Kuta ini, sembari menunggu matahari tenggelam. Ternyata wilayah/daerah Kuta ini memang ramai dengan warung atau kafe-kafe yang sebagian diperuntukkan untuk para turis. Tapi sangat disayangkan sih kondisi pantai yang nggak mendukung buat turis bakal balik lagi ke Pantai Kuta ini. Nah pas mengarah ke hotel, gue melihat pedagang gorengan yang kelihatannya sangatlah menarik untuk dibeli. Parkirlah motor dengan cantik di depan warung Ibu-Ibu pedagang gorengan dan terbelilah sekantong gorengan untuk dibawa ke hotel. Gue juga nggak langsung belok ke hotel, gue jalan agak jauh sedikit dari hotel dan gue melihat warung Lamongan yang jual pecel lele, ayam goreng, nasi goreng, dll. Dalem hati gue boleh nih buat makan malam nanti, karena warung makan lainnya sepertinya mahal-mahal. Setelah sampai di hotel gue makan itu gorengan yang gue beli 12.000 isinya 8 gorengan dan ternyata gue kenyaaaang, hahahaha…. Padahal niat beli nasi goreng di warung tenda Lamongan udah mencuat. Baiklah niat makan nasi goreng diurungkan dan saatnya tidur malam untuk menyambut hari esok yang lebih baik. Preeeet…!!! 

REVIEW HOTEL
Nama: Melati Hotel & Resort Kuta Lombok
Reservasi: -
Harga: Rp 450.000,-/malam (AC Double Bed) + Breakfast 
COST
Tiket Masuk Pantai Selong Belanak: Rp. 10.000,-
Sprite: Rp. 15.000,-
Parkir Motor Pantai Selong Belanak: Rp. 1.000,-
Tiket Masuk Pantai Mawun: Rp. 10.000,-
Teh Pucuk + Wafer Selamat: Rp. 20.000,-
Gelang 8: Rp. 30.000,-
Gorengan: Rp. 12.000,-
Lara Homestay: Rp. 150.000,-
TOTAL PENGELUARAN DAY 4: Rp. 248.000,-

You Might Also Like

1 komentar

  1. wah mas eki keren ya udah ke semua pantai di dunia

    BalasHapus

GOOGLE+

FACEBOOK