Dilema dan Ironisnya Promosi Pariwisata di Media Sosial dan Televisi

March 01, 2016

Instagram? Salah satu aplikasi berbagi foto yang paling fenomenal saat ini terutama di kalangan para traveler. Bisa kita lihat betapa banyaknya akun-akun pribadi yang menampilkan hasil foto-foto mereka pada saat mengunjungi berbagai tempat wisata di Indonesia dan bahkan di dunia. Hasil fotonya pun banyak yang luar biasa bagusnya dan bisa diacungi jempol. Terlebih kalau mereka bisa mengambil gambar dari perspektif berbeda, sehingga walaupun berada di satu area tempat wisata tapi mampu menghasilkan gambar yang berbeda dengan yang lainnya. Followers pun bertambah dan likes pun bercucuran setiap harinya.

Keinginan menjadi seorang traveler yang berlomba-lomba mengupload fotonya di Instagram semakin tahun semakin banyak saja memang. Terlebih dengan adanya tayangan My Tr*p My Adventu*e di salah satu stasiun televisi swasta yang banyak membuat para “alayers” mencoba ikut-ikutan menjadi seorang traveler “katanya”. Diikuti dengan demam kaos bertuliskan program acara itu yang juga semakin banyak dijual dimana-mana. Menurut saya acara tersebut cukup bagus dan banyak lokasi-lokasi keren di Indonesia yang saya juga baru tau setelah menonton acara tersebut.
http://www.olarv.com/wp-content/uploads/2015/08/Ini-nih-komiknya-via-kyuri_komik.jpg
Namun sebenarnya hal ini menjadi sebuah dilema tersendiri, mengapa demikian? Secara tidak langsung memang hal ini menjadi langkah terbaik dalam mempromosikan pariwisata Indonesia ke khalayak ramai. Tempat-tempat yang belum terjamah (masih perawan) dengan keindahan alaminya, tempat-tempat populer yang ikut kebanjiran pengunjung dalam menambah pemasukan daerah, dan sebagainya. Sosial media memang saya akui hebat dalam masalah ini dan sudah menjadi media marketing terbaik di jagat internet online. Tidak butuh waktu lama untuk mengenalkan satu tempat/daerah yang satu dan daerah yang lain, satu akun yang posting gambar, komentar pun berdatangan dengan cc mereka ke teman-temannya. Dan keesokan harinya mereka berbondong-bondong datang demi mendapatkan foto yang menarik untuk dipasang di akun sosial media mereka.

Tetapi hal inilah yang sebenarnya menjadi polemik dan obrolan di forum-forum traveler kebanyakan. Banyak dari mereka para traveler wannabe yang tidak bertanggung jawab pada saat datang ke lokasi wisata tersebut. Mencoret-coret aset wisata disana, merusaknya, membuang sampah sembarangan, dll.

Kasus yang baru-baru ini heboh adalah kebun bunga amaryllis di Gunung Kidul, Yogyakarta yang hancur lebur karena kelakuan para pengunjung yang datang hanya demi mendapatkan foto yang bagus namun dengan cara yang salah. Tidak hanya kasus itu saja, banyak kasus-kasus lainnya seperti di Danau Air Tawar Ranukumbolo dan Pulau Sempu di Malang yang saat ini rusak karena banyaknya sampah hasil peninggalan para “traveler wannabe” itu.


Kebun Bunga Amaryllis, Gunung Kidul Yogyakarta
http://www.sapujagat.com/wp-content/uploads/2015/11/bunga-lily.jpg


Tumpukan sampah di Danau Ranukumbolo, Bromo Tengger Semeru
http://panduanwisata.id/files/2015/05/Sampah-di-Danau-Rinjani-wisatagunung.jpg


Sampah di Pulau Sempu, Malang
http://sg.image-static.hipwee.com/wp-content/uploads/2015/04/pc270048-750x477.jpg?b75e97


Saya pribadi tidak jarang melihat hal-hal seperti itu, miris dan sedih rasanya. Saat di telaga warna Dieng sekumpulan keluarga dengan asiknya makan kacang tanpa mengumpukan kulitnya dan membuang begitu saja di tanah beserta bungkusnya. Saat berada di Puncak Suroloyo, Kulon Progo di pos pemantauannya banyak sekali coretan-coretan pilok dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Ya banyak lagi hal-hal seperti itu yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu. Tidak habis pikir memang dan sangat disesalkan mengapa kita tidak bisa sadar akan kebersihan.

Tidak masalah sebenarnya adanya tayangan traveling dan adanya aplikasi berbagi foto yang populer saat ini, saya justru mendukungnya karena memang hal ini akan memajukan pariwisata di Indonesia itu sendiri. Namun, memang kembali lagi kepada pribadi masing-masing yang dimana sebagian besar masyarakat di Indonesia ini tampaknya kurang paham atau memang tidak peduli akan arti kebersihan dan dampaknya di kemudian hari.

**Be A Smart Traveler and Take Awesome Instagram Photos**

You Might Also Like

5 komentar

  1. Itulah Indonesia,,, hehehe Sebenarnya negara kita ini kaya dan sangat indah jika di bandingkan dengan negara lain, tetapi sebagai kunci dari penampilan suasana lingkungan adalah "Kesadaran" warganya sebagai penghuni rumah bersama yang Maha besar ini. Kalau sudah begini, kapan Indonesia maju dan saling menjaga kelestarian lingkungan? Hah,,, sebel juga melihat kelakuan mereka, semoga cepat sadar mereka yang tidak sadar!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau urusan Alam, Indonesia the best!
      yang sangat disayangkan adalah SDM nya yang payah dan tidak bertanggung jawab.

      Maka dari itu menjadi tugas kita yang mungkin masih melek akan kesadaran alam dan kebersihan di tempat wisata/dimanapun kita berada.

      Delete
  2. Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul " Dilema dan Ironisnya Promosi Pariwisata di Media Sosial dan Televisi ".
    Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Pariwisata Indonesia

    ReplyDelete
  3. Dengan keberadaan 76 juta netizen itu, kita bisa bayangkan bagaimana sesaknya perbincangan di jejaring sosial, seperti Facebook, WhatsApp, Twitter, Instagram dan YouTube. Dengan sekali klik, tanpa berfikir panjang, artikel atau gambar-gambar hoax itu diproduksi demi menaikkan peringkat situs tertentu, atau sengaja dibuat untuk menjatuhkan orang dan kelompok tertentu. Ironisnya, https://www.itsme.id/media-sosial-dan-ironi-literasi-kita/

    ReplyDelete

GOOGLE+

FACEBOOK