Dilema Pembangunan Jalan Tol Jakarta – Surabaya

3:19:00 AM

Pastinya ada yang udah tau dan mungkin ada juga yang belom tau kali ya tentang berita pembangunan Tol Trans Jawa.

*penjelasan sedikit*
Perencanaan pembangunan Jalan Tol Trans Jawa ini ada 2 tahapan yaitu pertama Jalan Tol yang akan menghubungkan Ibukota Jakarta dengan Kota Surabaya di Jawa Timur sepanjang 615 km. Kedua adalah menghubungkan Merak hingga Banyuwangi, yang baru akan digarap setelah proyek tahap pertama selesai. Target pemerintah RI akan merampungkan proyek tahap pertama di tahun 2018 mendatang sampai yang saat ini masih terus dikerjakan.

Ruas tol yang sudah, sedang, dan akan digarap adalah Cikampek-Palimanan, Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Semarang-Solo, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Mojokerto-Jombang-Kertosono, dan Mojokerto-Surabaya.
Sejatinya memang pembangunan ruas tol ini ditujukan untuk pemerataan ekonomi di wilayah bagian Barat dan Timur pulau Jawa. Menurut gw pribadi, hal ini memang benar jika dilihat dari sisi positifnya. Pembangunan jalan tol ini punya pengaruh dan manfaat lumayan besar memang. Pertama adalah masalah waktu tempuh dari satu kota ke kota yang lain menjadi lebih singkat. Contohnya aja misal waktu tempuh dari Jakarta ke Cirebon, dimana misalkan lo lewat jalur biasa bisa memakan waktu tempuh sampai 4 – 5 jam lamanya, tapi pas pembangunan tol ini kelar lo bisa hemat waktu 2 – 3 jam. Misalkan beneran lancar di tol, lo mungkin hanya butuh waktu 2 – 3 jam aja dari tol dalam kota sampai ke Kota Cirebon.

Kedua adalah dengan adanya pembangunan jalan tol ini, gw rasa peningkatan kunjungan wisata ke kota-kota yang berada di wilayah pulau Jawa akan semakin meningkat. Biasanya orang-orang Ibukota (termasuk saya, cieeelah…) yang pengen ngabisin akhir pekan singkatnya, cuma punya referensi ke daerah dengan akses paling gampang, deket, dan yang gak pake lama di jalanan. Contohnya yang paling mainstream adalah kawasan Puncak, Sentul, Bogor, Pantai Anyer, dan Bandung. Ya gak heran sih kalo musim-musim liburan tempat-tempat ini ramenya gak karuan dan kalo gw sih udah males duluan ngebayanginnya. Nah dengan adanya jalur tol baru ini, gak cuma gw pastinya yang berpikirian kalau lo semakin di mudahkan buat akses menuju kota-kota di Jawa Barat atau Jawa Tengah (*untuk saat ini), contohnya misal Cirebon, Kuningan, Tegal, dan sekitarnya. Coba bayangin aja misalkan jalan tol ini udah rampung sepenuhnya dari Jakarta sampai Surabaya, betapa singkatnya perjalanan lo.
Keuntungan ketiga adalah terpecahnya titik macet di pantura pas musim liburan dan musim mudik. Yang biasa pulang kampung pasti tau lah macetnya jalur pantura kayak apa, sampai buka contraflow juga tetep aja macet, tapi sekarang macetnya sukses agak sedikit berkurang dengan adanya jalur tol. Pemudik kini ditawari 2 pilihan jalur, mau lewat jalur biasa dengan kemacetan yang biasanya terjadi di pasar tumpah atau lampu merah atau mau lewat jalur tol dengan kebosanan yang akan dirasakan ketimbang lewat jalur biasa.

Tapi dari ketiga keuntungan yang udah gw sebutin tadi, pernah gak lo mikir apa dampak yang mungkin gak kasat mata atau lo mungkin gak bakal kepikiran itu. Sebenernya ini pendapat pribadi sih, emang di setiap perkembangan atau pembangunan punya dilema tersendiri dari sisi baik dan buruknya. Yang gw pribadi rasain adalah mungkin berkurangnya jumlah penjual dan pendapatan para penjual makanan atau oleh-oleh khas yang ada di sepanjang jalur pantura. Gw orang yang tiap tahun pulang kampung ke Purwodadi lewat jalur pantura, jadi gw tau betul gimana ramai atau tidaknya pedagang yang berjualan di jalur pantura tiap musim mudik tiba. Nah setahun dua tahun terakhir kemarin, dimana yang biasanya banyak pedagang-pedagang makanan khas mulai dari keluar tol Cikampek – Brebes dengan antrian pembeli bermobil dan bermotor, tetapi kemarin sangatlah sepi. Sepi dari penjual-penjual yang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya dan jika pun ada penjual juga sepi dari para pembeli. Bisa gw sebutin misalnya pedagang mangga Indramayu, pedagang tape dan kerupuk pasir di Cikampek, pedagang bawang atau telor asin di Brebes. Memang masih ada yang beli, tapi gw yakin pendapatan mereka tu gak sebanyak sebelum dibangunnya jalur tol.
Satu hal lagi yang menurut gw harus diperhatikan oleh pemerintah adalah ketersediaannya rest area yang mencukupi dan memadai di ruas tol nan panjang ini. Berdasarkan pengalaman 2 kali melewati tol ini di tahun yang berbeda, semua gak ada perubahan yang nyata. Toilet masih sama saja kekurangan air, bau, tidak ada petugas yang bersih-bersih. Seharusnya mengetahui lonjakan kendaraan yang mau lewat jalan tol ini, pemerintah bisa punya solusi lebih entah itu menambah personil kebersihan, menambah pasokan air bersih, dan sebagainya. Semoga nantinya jikalau benar jalan tol ini udah kelar sepenuhnya dari Jakarta sampai Surabaya, juga diiringi oleh fasilitas yang memadai. Dan untuk para pengendara kendaraan pribadi, keputusan semua ada di tangan Anda. Mau memberikan keuntungan bagi jasamarga atau memberikan keuntungan bagi warga di sekitar pantura?

Pict Source:
Peta Pembangunan Tol: http://katadata.co.id/public/media/oldmedia/konten/2015/04/Jaringan%20Tol%20Trans%20Jawa.png
Ruas Jalan Tol: http://assets.kompas.com/data/photo/2015/06/12/1616332cikopali3780x390.jpg
Pedagang Mangga: http://beritadaerah.co.id/wp-content/uploads/2015/07/antarafoto-pedagang-mangga-pantura-080715-da-3.jpg
Pedagang Kerupuk: http://cdn-2.tstatic.net/jabar/foto/bank/images/kerupuk-melarat.jpg

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+