Mengapa Banyak yang Suka Mengambil Peralatan Makan di Pesawat? Apakah Boleh?

12:13:00 AM

Memang banyak sekali yang masih kebingungan mengenai informasi benda-benda apa saja yang boleh dan tidak diperbolehkan dibawa keluar dari kabin pesawat. Maskapai penerbangan pun tidak menjelaskan dan memberikan peraturan yang jelas di setiap penerbangannya barang-barang apa saja yang tidak boleh dibawa pulang. Kita tidak pernah mendengarkan larangan dari pramugari atau melihat peraturan tertulis yang menjelaskan tentang hal ini sampai saat ini. Hal itulah yang membuat para penumpangnya kebingungan dan miss information sehingga pada akhirnya mereka mempunyai asumsi sendiri bahwa barang-barang tersebut “mungkin” bisa dibawa pulang.

Sebenarnya kasus ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di luar negeri pun banyak dari mereka yang memang sengaja mengambil peralatan makan dari maskapai yang mereka naiki. Di Indonesia sendiri, maskapai Garuda Indonesia lah yang tercatat paling sering peralatan makannya dibawa pulang oleh penumpangnya. Ya, karena memang sebelum ada Batik Air hanya maskapai inilah dengan penerbangan domestik yang menyediakan meal service di semua kelas penerbangannya. Lalu kenapa Batik Air yang juga menyediakan meal service jarang sekali diambil peralatan makannya? Batik Air (setahu saya dari teman yang sudah pernah merasakan Batik Air) bahwa semua peralatan makannya terbuat dari plastik baik itu sendok dan garpunya serta pada gelas dan wadah makanannya tidak tercetak logo Batik Air. Lain Batik Air lain dengan Garuda Indonesia yang mempunyai sendok dan garpu terbuat dari stainless steel dengan logo debossed (timbul ke dalem), yang mungkin bagi sebagian orang disini terlihat mewah. Begitu juga dengan cangkir dan wadah makanan mereka yang berwarna putih dengan garis hijau khas Garuda Indonesia dengan bentuk yang lumayan cantik. Mungkin itu yang membuat para penumpangnya tertarik untuk membawanya pulang dan bersandar cantik di rak piring di rumah.
https://ecs7.tokopedia.net/img/product-1/2015/4/9/395610/395610_a79d93a2-de60-11e4-b3db-706c87772fba.jpg
http://images.huffingtonpost.com/2014-01-03-Inflight_meal_Garuda_Indonesia_Air_Lines_200507.jpg
Lalu benda apa saja sih yang boleh dan tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang dari maskapai penerbangan?

Peralatan Makan
Semua peralatan makan dari semua maskapai di dunia sebenarnya tidak untuk dibawa pulang oleh penumpangnya. Banyak orang yang berpikiran “ini pasti dibuang kan?” “ini nggak mungkin dicuci lagi kan?” dari mereka yang ingin membawanya pulang ke rumah. Namun, sebenarnya semua peralatan makan yang ada memang akan melalui proses sterilisasi kembali dengan teknologi tinggi sehingga membuatnya siap digunakan kembali dengan bersih. Saya ingat saya pernah menonton di jaringan TV Internasional (National Geographic atau History Channel) saya lupa, tentang tayangan katering dan layanan meal service di pesawat mulai dari proses pembuatannya sampai proses akhir dari meal service tersebut. Asosiasi katering makanan pesawat punya standarisasi tinggi pastinya mengenai mana peralatan makan yang masih super layak untuk digunakan kembali dan mana yang memang harus dibuang atau tidak digunakan kembali.

Hal ini sepertinya memang wajar karena logikanya tidak mungkin setiap harinya perusahaan maskapai penerbangan membuat dan mencetak secara terus menerus peralatan makan untuk dipakai satu kali saja. Jika ditanya kenapa tidak ada keterangan atau larangan resmi mengenai pelarangan membawa peralatan makan ini? Sepertinya maskapai memang tidak ingin membuat penumpangnya merasa “risih” dikarenakan semua peralatan makan yang mereka gunakan bukanlah sekali pakai. Hal kedua memang tidak ada hukuman sama sekali bagi siapa saja yang mengambil peralatan makan milik maskapai ini. Contohnya adalah saya tiba-tiba menemukan cangkir dan wadah makanan milik Garuda Indonesia di rak piring di rumah, yang ternyata saat Ibu saya mengambilnya pada saat tour bersama teman-temannya. Logikanya kalau setelah makan dan peralatan makan diambil kembali sama pramugarinya, seharusnya terlihat ada yang hilang terlebih itu benda besar. Tapi toh selama ini tidak ada pramugari maskapai baik di Indonesia maupun di dunia yang memarahi penumpangnya ketika tau ada barang yang hilang.

Masih dalam tayangan yang saya tonton itu, Sir Richard Branson selaku CEO dari Virgin Airlines memang menyatakan banyak peralatan makannya yang hilang dibawa oleh penumpangnya. Namun, beliau merelakannya karena memang itu secara tidak langsung sebagai promosi marketing dari maskapai tersebut.

Selimut
Hampir sama seperti peralatan makan, maskapai pun seringkali kerap mendapati selimut-selimut yang hilang. Biasanya rute-rute Internasional jarak jauh lah maskapai-maskapai yang menyediakan selimut untuk penumpangnya. Bayangkan saya betapa bangganya mungkin membawa selimut berlogo Emirates, Singapore Airlines, atau Qatar Airlines. Untuk Garuda Indonesia biasanya pada rute ke Saudi Arabia untuk para penumpang yang ingin melakukan Umroh atau Haji. Maka tidak jarang bagi Ibu-Ibu atau Bapak-Bapak di Indonesia sepulang dari tanah saudi banyak yang membawa oleh-oleh berlogo Garuda Indonesia.
https://ecs7.tokopedia.net/img/product-1/2015/8/25/561626/561626_3bd6433e-4b03-11e5-89e0-cce349bc7260.jpg
Selimut pun begitu, pada dasarnya selimut ini akan dicuci kembali dengan standarisasi yang super tinggi untuk digunakan kembali oleh penumpangnya di penerbangan-penerbangan selanjutnya. Kalau di Indonesia seperti selimut milik PT.KAI pada perjalanan executive-nya yang tidak boleh di bawa pulang karena memang akan dicuci kembali. Di beberapa forum traveler ada yang pernah menanyakan masalah selimut ini boleh dibawa pulang atau tidak di salah satu maskapai Internasional dan si pramugari menjawab dengan ramah boleh untuk dibawa pulang.

Logika saya berputar, berarti memang pada dasarnya selimut ini boleh untuk dibawa pulang karena memang sampai saat ini tidak pernah ada laporan atau komplain di marahi atau di hukum karena mengambil selimut milik maskapai. Tetapi jika maskapai mengumumkannya secara resmi bahwa selimut boleh dibawa pulang, maka nantinya setiap penumpang akan secara “wajib” membawa pulang selimut tersebut setiap melakukan penerbangan dan pihak maskapai pun perlahan mungkin akan “pusing” dengan keuangan yang harus disediakan untuk membuat selimut-selimut ini kembali setiap harinya.

Headphone
Kalau untuk masalah headphone ini, berdasarkan pengalaman, saya agak sedikit kaget ketika akan keluar kabin Garuda Indonesia dan melihat banyak sekali headphone berserakan di lantai dan kursi begitu saja. Berawal dari sana lah saya akhirnya mencari tahu informasi di internet mengenai penggunaan headphone di beberapa maskapai. Dimana ternyata semua headphone “gratisan” yang disediakan oleh Garuda Indonesia akan disterilisasikan kembali untuk dikemas dan dipersiapkan kembali pada penerbangan-penerbangan Garuda yang lainnya. Tidak hanya Garuda Indonesia, beberapa maskapai Internasional seperti Turkish Airlines dan Malaysia Airlines juga menerapkan sistem yang sama yaitu akan disterilisasi kembali.

Di Indonesia ada maskapai yang membolehkan membawa pulang headphone-nya yaitu Batik Air. Loh kok bisa? Ya, karena kita harus membayar sebesar Rp. 25.000,- untuk menggunakan headphone-nya dan itu sudah menjadi hak milik setiap penumpang yang menggunakannya.
https://aridotk.files.wordpress.com/2011/02/p1160694.jpg
http://i12.photobucket.com/albums/a202/chelsea_number_8/RI-ID/IMG_0248_zpsb1cf928a.jpg
Tapi sebenarnya buat apa membawa pulang headphone ini, bagi yang udah sering naik Garuda pasti tau lah ya kualitas headphone-nya seperti apa. Walaupun sudah menggunakan colokan double jack 3.5mm tapi tetap saja headphone-nya banyak yang rusak bahkan mati sebelah (penerbangan saya ke Lombok).
  
Toiletries, Majalah, Tisu dan Peralatan Kecil Lainnya
Toiletries dan majalah untuk penerbangan kelas bisnis dan kelas satu (first class) pada beberapa maskapai memang dipersilahkan setiap penumpangnya untuk membawanya pulang. Karena itu merupakan salah satu bagian dari service kelas wahid yang sangat wajar dan setara dengan harga yang harus dibayarkan.

Beda kelas bisnis, beda kelas satu, berbeda pula dengan kelas ekonomi. Pada kelas ekonomi, satu-satunya maskapai di Indonesia yang menyediakan koran/newspaper gratis adalah Garuda Indonesia. Setiap penumpangnya ditawari dan dipersilahkan mengambil koran yang berada di dekat pintu masuk kabin pesawat, koran yang disediakan pun dari bermacam-macam mulai dari Kompas, Tempo, hingga The Jakarta Post. Nah untuk majalah pada maskapai Garuda Indonesia ini yang berjudul “Colours” ternyata bisa dibawa pulang. Baru tahu kan? Ya, banyak yang menanyakan hal ini melalui akun twitter resminya Garuda Indonesia dan admin menjawab dengan baik hati bahwa majalah bisa dibawa pulang. Mungkin jika kamu ragu, mungkin bisa menanyakannya langsung kepada sang pramugari apakah majalah tersebut boleh dibawa pulang atau tidak. Bagi saya pribadi yang biasanya saya bawa pulang dari maskapai Garuda Indonesia selain koran gratisannya adalah tisu basah, permen Foxs dengan kemasan Garuda Indonesia dan tusuk gigi-nya. Karena memang itu bisa dibawa pulang dengan praktis, mudah, dan legal.
Ada yang bertanya di akun Twitter resminya Garuda Indonesia


http://2.bp.blogspot.com/-KK3GwRG6QzY/U0rGepk5eRI/AAAAAAAABIk/6_YGUp8lhoo/s1600/20140109_063211.jpg
Memang sangat menarik jika kita bisa mempunyai salah satu dari peralatan maskapai untuk dibawa pulang, terlebih jika kita menaiki maskapai yang harganya tidak murah. Sebenarnya mudah saja, kita hanya perlu menanyakan kepada sang pramugari “apakah bisa dibawa pulang atau tidak” jika kita tertarik untuk membawa salah satu benda milik maskapai yang sedang kita naiki. Tidak perlu malu, karena pramugari sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu dari penumpangnya dan pramugari pun akan menjawabnya dengan ramah dan dengan senyuman manisnya kepada kita. 

You Might Also Like

1 komentar

  1. Kalo mr. eki bawa pulang juga ga peralatan makan garuda? secara sampean sering naik garuda kan? :D

    ReplyDelete

GOOGLE+