Jogja Telah Mengajariku Berbagai Banyak Hal

3:28:00 AM

Jogja, ingin ku kembali ketika ku mengingatnya. Jogja bukan sekedar kota wisata atau kota pelajar semata bagi sebagian besar mahasiswa yang pernah kuliah dan hidup disana. Jogja menjadi sebuah “rumah” yang nyaman untuk hidup, berkenalan, dan berinteraksi satu sama lain. Merantau hidup sendiri selama 3 – 4 tahun atau bahkan lebih menjadi sebuah tantangan sekaligus menjadi salah satu pengalaman hidup yang tidak terlupakan.

Satu minggu, dua minggu, bahkan satu bulan pertama ketika saya benar-benar hidup sendiri untuk pertama kalinya itu sangat terasa sulit. Saya masih ingat betul saat beberapa hari pertama di Jogja belum kenal teman siapapun dan belum masuk ke kampus untuk ospek. Saat itu saya sedang makan nasi goreng sendiri di belakang kosan, tidak sengaja saya mendengar orang yang ada di belakang saya sedang telpon dengan berulang kali mengucapkan kata “FIB UGM”. Ya, FIB UGM adalah fakultas dimana saya akan belajar disana, sontak setelah orang tadi selesai menelpon saya langsung berinisiatif mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan basa-basi menyebut “FIB UGM” tadi. Benar saja, namanya adalah Panji Sofyandisna yang sampai sekarang menjadi teman terbaik saya. Panji berkuliah jurusan Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Alhasil mulai dari situlah saya mendapatkan teman di Jogja dan sering bermain bareng karena juga lokasi kos-kosan kami tidak berjauhan.

Jogja mendidik saya untuk menjadi pribadi mandiri dalam segala hal, sekaligus menjadi pribadi yang baik untuk menjalin sosialisasi. Saya adalah orang yang pemalu sejak masa sekolah, tetapi selama di Jogja saya belajar berbagai macam hal untuk bisa berinteraksi di depan orang banyak dengan rasa penuh percaya diri. Kehidupan di kampus memang menjadi hal yang paling menantang sekaligus menyenangkan. Belajar banyak hal baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya dan mengenal banyak teman dari berbagai daerah di Indonesia. Mengikuti beberapa forum kegiatan kampus, bekerjasama dalam kepanitiaan acara fakultas dan kampus, dan beberapa kali diberikan kesempatan untuk memimpin sebuah tim, itu semua telah menjadi penguat rasa percaya diri yang saya dapatkan. Jatuh bangun dalam membuat sebuah acara dan melihat keberhasilan acara yang dibuat sendiri juga menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Jogja juga berhasil membuat saya untuk bisa mengatur keuangan dengan baik sampai sekarang. Sebenarnya ini bukan sebuah pencapaian, tapi lebih ke miris dari kehidupan anak kos yang memang diharuskan berhemat sebisa mungkin. Haha.. Jadi setiap bulannya anak kos mendapatkan jatah jajan yang terbatas dan anak kos harus bisa mengatur untuk bisa hidup selama satu bulan penuh. Jika tidak? Matilah mereka. Hal tersebut membuat sebagian besar mahasiswa yang pernah berkuliah di Jogja akan mengerti betul tentang nilai dari sebuah barang atau makanan. Apakah itu benar-benar murah atau terlalu mahal. Hehe.

Hal yang paling membuat pengaruh besar dari hidup saya setelah tinggal di Jogja adalah kota ini berhasil membukakan mata saya tentang indahnya alam Indonesia. Selama hidup di Jogja saya bisa berkesempatan mengexplore banyak tempat yang benar sungguh indah tidak ternilai. Baik itu di wilayah provinsi Jogja sendiri ataupun di wilayah sekitaran Jogja (Magelang, Solo, Semarang). Tapi sangat disesalkan hal tersebut baru terjadi saat-saat menjelang semester-semester akhir masa kuliah, saya sangat menyesal punya banyak waktu luang saat kuliah mengapa tidak dimanfaatkan untuk bepergian.

Terakhir dan tidak bukan, Jogja mengajarkan saya tentang arti pertemanan yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Kami semua rata-rata mempunyai hidup senasib, sama-sama menjadi anak rantau yang hidup sendiri jauh dari orang tua. Jadi kami semua saling membutuhkan satu sama lain, saat teman sedang sakit kita mempunyai peranan yang teramat penting, karena begitu juga sebaliknya saat kita sakit, kita pun membutuhkan bantuan dari teman. Tidak hanya hal itu saja, masih banyak hal-hal lain yang saling membutuhkan satu sama lain dan itu tidak bisa dipungkiri lagi oleh kita para mahasiswa rantau.

Jogja memang sudah menjadi kota yang nyaman untuk belajar, bermain, bersosialisasi, dan berinteraksi, membuat saya terus ingin, ingin, dan ingin kembali hidup di kota ini. Seandainya Jogja punya UMR seperti Jakarta. I wish and you wish too, right? :D

Pict Source: https://www.yogyes.com/en/yogyakarta-travel-guide/year-end-holiday/1.jpg

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+