Kuliner Jogja yang Harus Lo Cobain [Versi Gue]

Maret 17, 2016

Ngomongin Jogja emang nggak ada habisnya, begitu juga dengan kulinernya. Gue yang kuliah dan hidup merantau di sana selama kurang lebih 4 tahun rasanya masih kangen terus sama Jogja. Nah buat lo yang mau jalan-jalan ke Jogja, gue punya rekomendasi kulineran nih yang anti-mainstream dari kebanyakan rekomendasi kuliner-kuliner lainnya. 

1. Gudeg Permata
Kenapa ini gue sebut paling pertama? Ya kenapa lagi kalo bukan karena gudeg menjadi makanan khas paling dicari wisatawan sewaktu berkunjung ke Jogja. Gudeg itu ada 2 jenis bagi kalian yang belum tahu, gudeg basah dan gudeg kering. Kebanyakan dari wisatawan lebih banyak mencoba gudeg kering (biasanya rekomendasinya adalah Gudeg Yu Djum). Menurut gue Gudeg Yu Djum memang menjadi juaranya gudeg kering, tapi mungkin karena lidah gue lebih suka gudeg basah dan maka dari itu gue ngerekomendasiin Gudeg Permata sebagai gudeg basah terbaik yang ada di Jogja.

Gudeg Permata ini ada di Jalan Gadjah Mada, Pakualaman. Lapak dagangnya berada persis di sisi barat Bioskop Permata. Gue kurang tahu pasti bukanya jam berapa, biasanya jam 8 – jam 9 malam mereka baru beres-beres menyiapkan segala macam halnya. Jangan salah, banyak pembeli yang rela menunggu dan ngantri sebelum lapak gudeg itu sendiri dibuka. Untuk jam tutupnya sekitar jam 2 pagi, tapi kalau jam 12 sudah habis mereka akan menutup lapaknya lebih gasik.

Untuk rasa gudegnya sendiri itu menurut gue khas banget, berbeda dengan gudeg-gudeg basah kebanyakan, manisnya pas dan kreceknya nggak amis. Saran gue pesen pakai ayam, tapi jangan kaget kalau ukuran ayamnya besar banget. Daging ayamnya sekali colek langsung lepas dan empuk! Minumnya simpel aja pesen teh hangat atau wedang tape, duduk lesehan tiker di lorong. The best place for enjoying your food! Karena rasanya akan beda saat lo duduk di dalam ruangan pakai meja. Asiknya lagi, di sini lo bakal ditemani oleh alunan musik dari musisi jalanan Yogyakarta. Lagu yang paling sering dinyanyikan adalah Yogyakarta-nya Kla-Project. And that’s the reason why I hard to leave Jogja.

2. Pecel Baywatch Mbah Warno
Kalau mau ngerasain rasa pecel kampung sesungguhnya, di sini tempatnya. Masih jarang wisatawan yang dateng ke Jogja tahu tentang pecel ini. Kebanyakan dari mereka lebih mengenal pecel legenda di kompleks UGM. Tapi setelah tahu dan mencoba rasa pecel ini, pasti pengen balik lagi walaupun tempatnya memang jauh.

Lokasinya memang nggak berada di tengah kota, Pecel Baywatch Mbah Warno berada di daerah wisata Kasongan, Bantul. Butuh waktu sekitar 30 – 45 menit dari kota dengan kemacetan yang rata-rata ada di lampu merah. Saat sudah berada di Jalan Bantul dan bertemu lampu merah perempatan, dimana lo akan melihat gapura besar bertuliskan “Desa Wisata Kasongan”. Mulai dari situ arahkan kendaraan untuk belok kanan, sampai melewati banyak rumah yang berjualan kerajinan dari tanah liat. Jalan terus aja sampai bertemu masjid besar di kiri jalan. Nggak jauh dari situ ada pertigaan dan belok kanan. Rutenya sama persis ke arah ayam goreng Mbah Cemplung, karena memang lokasinya bersebelahan.

Tapi uniknya, banyak wisatawan yang hanya mengetahui keberadaan Ayam Goreng Mbah Cemplung, mereka akan kebingungan jika ditanya lokasi dari Pecel Baywatch. Kenapa banyak yang tidak tahu? Karena menurut gue sangatlah kontras antara warung makan Ayam Goreng Mbah Cemplung dengan Pecel Baywatch Mbah Warno ini. Ayam Goreng Mbah Cemplung punya area makan dan area parkir yang sangat luas, bahkan gue rasa bis pariwisata pun bisa parkir di sana. Tetapi saat kalian akan pergi ke Pecel Baywatch, dari jalan raya memang tidak terlihat karena sama sekali tidak ada plang papan khusus yang menunjukkan bahwa ada warung makan di sana. Kalian harus meraba-raba dimana letak warung makan Pecel Baywatch ini. Hal itu juga terjadi saat gue pertama kali mencarinya, memutar jalan yang sama hingga berulang kali sampai pada akhirnya bertemu dengan warga sekitar untuk ditanyai, yang ternyata daritadi gue udah melewati tempatnya berulang kali.

Pecel Baywatch Mbah Warno berbeda dengan pecel lainnya, pecelnya punya campuran kembang turi yang sudah sangat jarang ditemui. Rasa sambel kacangnya pas, nggak terlalu pedas dan nggak terlalu manis. Mbah Warno juga tidak hanya menjual pecel saja, tetapi makanan pendamping lainnya juga enak dan tidak ada rasa penyeselan setelah kalian mencobanya. Mangut lele, belut goreng, tahu dan tempe bacem adalah pilihan terbaik yang harus dicoba di sini. Cita rasanya sungguh-sungguh khas masakan kampung yang sama sekali belum tercampur rasa modern dari kota (*btw rasa modern kayak gimana deh ki! (-_-)).

Sebenernya ada hal lain yang juga membuat Pecel Baywatch Mbah Warno ini spesial, apalagi kalau bukan tempatnya, ya suasana rumah kampung yang khas banget. Suasananya ini mampu menjadi pemanja saat lo makan di Pecel Baywatch Mbah Warno ini. Aroma dan asap dari pawon membumbul di langit-langit membuat gue betah berlama-lama di rumahnya Mbah Warno. Satu hal lagi, kalau lo hanya mau minum air putih aja, lo bisa tuang sendiri air-nya itu dari kendi tanah liat yang ada di meja. Bagi yang belum tahu rasa air yang menginap di dalam kendi, rasa airnya itu adem, dingin, dengan sedikit aroma khas dari kendinya itu sendiri, adem nikmat!

Oh ya, gue belum cerita kenapa namanya Pecel Baywatch? Oke, asal usul penamaan Pecel Baywatch ini tidak lain tidak bukan karena Mbah Warno sendiri yang saat berjualan dari dahulu (sampai sekarang) hanya menggunakan kutang dan kain jarit aja, yang diibaratkan seperti aktris Pamela Anderson dalam film Baywatch. Itulah yang membuat pecel ini khas dan unik dari pecel-pecel lainnya yang ada di Jogja. Sekarang Mbah Warno dibantu oleh 2 orang juru masaknya yang ramah dan baik hati melayani setiap tamunya.
Mbah Warno

3. Jadah Tempe Kaliurang
Ini menjadi salah satu cemilan favorit di Jogja, ya walaupun gue nggak sering-sering banget makan, tapi ini beneran enak. Bagi lo yang nggak tahu ini apa, sebenernya ini hanyalah tempe atau tahu bacem yang dimakan bareng dengan Jadah. Nah mungkin banyak dari kalian yang juga nggak tahu apa itu Jadah, jadi Jadah ini adalah makanan khas Jawa yang terbuat dari ketan, kalau di Sunda, uli ya namanya? Biasanya sih ini disajiin pagi-pagi dengan secangkir teh hangat. Duileh! Jadah ini bisa di makan langsung (basah), di bakar (kayak di Lembang, Bandung, atau di goreng. Gue sih biasanya dan lebih suka kalo Jadah ini di goreng, teksturnya renyah di luar tapi lembut di dalam (caelaaaah…kayak iklan apa gituuu….).

Balik lagi ke Jadah Tempe, dimana saat kalian berkunjung ke daerah wisata Kaliurang tepatnya di objek wisata gardu pandang merapi, maka kalian akan menemukan banyak penjual Jadah Tempe di sana, mulai dari nama yang mungkin nggak asing atau rekomendasi seperti “Mbah Carik”, sampai mbah-mbah lainnya. Pada dasarnya semua rasanya sama aja, cuma karena mungkin Mbah Carik yang paling pertama berjualan Jadah Tempe di sini, makannya jadi legenda.

Biasanya sih si penjual Jadah Tempe ini udah punya menu paketan, kalau emang mau beli banyak dan nggak mau beli satuan. Kisaran 15.000 - 20.000-an dan itu udah dapet banyak banget sekitar 8 – 10 tahu/tempe beserta Jadah-nya. Apalagi biasanya mereka juga sekaligus ngejual pendampingnya yaitu wedang ronde hangat. Ulalaaa.... dinginnya Kaliurang, makan Jadah Tempe, ditambah Wedang Ronde, maknyus!
daftar harga
4. The House of Raminten
The House of Raminten menjadi tempat yang paling hits dan harus kalian datengin kalau lagi main di Jogja. Raminten punya dekorasi yang unik dan nggak bakal lo temuin tempat makan semacam ini di kota mana pun. Lokasinya ada di Jalan Faridan Muridan Noto No.7, Kota Baru, uka selama 24 jam penuh tiada henti. Keren nggak tuh! Gue biasanya ke sini malam hari, karena suasana malam di Raminten teramat beda saat dengan siang hari. Memang suasana malamnya agak sedikit creepy karena penerangan yang sedikit remang, nuansa interior Jawa, bau dupa, ditambah dengan tembang gamelan Jawa, tapi asik kok.

Menu makanan di Raminten bervariasi dan banyak yang dinamain aneh-aneh. Ada beberapa menu yang jadi favorit gue dan hampir selalu gue pesen pas ke sini. Pertama adalah nasi kucing, yang kalian bakalan kaget dengan tampilannya yang wah tapi dengan harga murah. Trus cobain mendoan-nya, rasanya enak cocok banget buat ngemil. Gue juga pernah nyobain makanan-makanan yang lebih berat (bubur ayam, kupat tahu, soto ayam, bakso) dengan ukuran super besar. Hampir semua menu dessert di sini juga pernah gue cobain, tapi nggak mungkin gue review dan jelasin satu-satu lah ya. Gue sebut aja yang menurut gue rekomendasi, haha. Pertama adalah es krim bakarnya dengan porsi yang bener-bener ngenyangin. Isinya 2 lembar roti tawar, ditambah pisang goreng sama ceres cokelat di tengahnya, ditambah lagi es krim ber-scoop2 banyaknya.

Oia dulu pernah sempet ada menu ekstrem di sini, tapi sekarang hilang entah kemana. Namanya Jangkrik Goreng, hah? Gue jadi salah satu orang yang beruntung kali ya yang bisa nyobain salah satu menu ekstrem ini di Raminten. Jadi ini beneran jangkrik yang digoreng dengan bumbu keju. Pertama gue agak kaget sama bentuknya pas datang di meja, karena jangkriknya beneran gede-gede banget. Gue berekspektasi berlebih jangan sampai melted in my mouth itu isian jangkrik. Tapi ternyata nggak, ini beneran udah diolah dan digoreng kering crispy. Teksturnya mirip udang ebi atau ikan wader kecil, enak!

Kalau minumannya ada 2 pilihan terbaik yaitu Wedang Sereh sama Es Carica. Penyajian wedang serehnya nggak biasa, karena menggunakan gelas yang tingginya mungkin sekitar 50cm. Satu lagi yang paling the most favorite menu di sini adalah Es Carica-nya. Enak bro! Tau buah carica kan? (buah asli khas Dieng, semacam buah pepaya mini). 

5. Mie Ayam Tumini
Emang sedikit butuh perjuangan buat ke sini dari kota, tapi nggak sejauh ke Pecel Baywatch. Lokasinya ada di Jalan Imogiri Timur, kalau dari arah kota persis sebelum pintu masuk Terminal Giwangan. Warungnya juga warung biasa aja, bukan warung makan yang udah di renovasi seperti kebanyakan tempat makan kalau udah terkenal. Bukanya jam 8 pagi, dimana waktu gue ke sana dengan niatnya satu jam sebelum buka nungguin di depan warung. 

Pas pertama dateng pesenan mi ayam cekernya gue beneran kaget! Mana mi-nyaaa!!!! Gileee porsinya gede banget dan mi-nya ternyata ketutupan sama olahan ayam yang banyaknya nggak karuan. What the ….. Tapi semua sebanding sama rasanya yang juga beneran enak. Ukuran cekernya gede-gede dan empuk. Olahan ayam-nya nggak pelit kayak abang-abang mi ayam kebanyakan. Ini ayamnya juga tebel-tebel potongan dagingnya, beneran nggak nyesel kalau kalian sempet buat nyobain ini. Walaupun memang pasti ditanya, ngapain jauh-jauh ke Jogja cuma buat makan mi ayam doang, dimana-mana juga ada kali. Biarkanlah mereka berbicara apa, tapi jangan kaget ya kalo kalian udah nyobain trus ketagihan pengen lagi.

6. Bakpia 25/75 atau Bakpia Kurniasari
Terakhir, ini buat kalian pada yang mau bawa buah tangan dari Jogja. Sebenernya ada banyak yang bisa dibawa pulang jadi oleh-oleh dari makanan khas Jogja. Mulai dari gudeg kering, yangko, geplak, sampai bakpia yang terkenal itu. Nah ngomongin masalah bakpia, paling banyak yang bingung nih bakpia mana yang paling enak di Jogja. Karena emang jujur di Jogja yang memproduksi bakpia sekarang banyak banget dan dengan label merek penomoran (Bakpia 125, Bakpia 33, dll).

Nggak cuma satu dua orang yang nanyain ke gue bakpia nomer berapa yang paling enak di Jogja. Jawabannya adalah bakpia 25 atau 75. Kenapa ada 2 jawaban? Pertama bakpia legenda di Jogja adalah bakpia 25, lokasi penjualan resminya ada di Jalan AIP 2 KS.Tubun, Pathok. Kalo dari jalan raya kalian harus masuk dulu ke gang kecil sampai nemuin rumah dengan parkiran yang lumayan luas. Tempat jualannya juga sekaligus pabrik dimana kalau lagi produksi, kita bisa lihat langsung cara pembuatan bakpianya.  Nah kalau bakpia 75 ini lokasinya ada di seberang gang jalan yang menuju ke bakpia 25 tadi. Rasa dari kedua bakpianya tu 11 12, karena yang punya tu adek kakak. Nah kenapa penamaannya pake nomer sih? Denger-denger sih katanya dulu pas belum ada blok-blok penomoran rumah yang dibuat pemerintah, mereka udah punya penomoran blok rumah sendiri yaitu nomor 25 dan di seberang adalah nomor 75. Begitu sih katanya.

Trus kok nyebutin Bakpia Kurniasari sih ki? Iya, ini bakpia adalah bakpia yang baru-baru booming di sekitaran tahun 2010 sewaktu zaman gue kuliah di sana. Lokasinya ada di jalan ringroad utara yang mengarah ke Monjali, ada di ruko sederetan sama Ahmad Dhani Masterpiece Karaoke. Bakpia Kurniasari ini nggak bisa dibandingin sama bakpia legenda Jogja sebenernya, karena punya rasa dan tekstur yang berbeda.

Bakpia 25/75 punya tekstur yang lebih kering, lapisan kulitnya lebih tebel, dan bentuknya yang cenderung membulat. Nah kalo Bakpia Kurniasari ini teksturnya basah, lapisan kulitnya lebih tipis karena mereka ngunggulin isi bakpia yang banyak, bentuknya juga lebih gepeng/pipih daripada bakpia legenda Jogja. Tapi, so far keduanya sih boleh kalian beli, bawa pulang buat oleh-oleh, dan dicoba di rumah. Sama-sama enak dan sama-sama recommended menurut gue. 

Selamat Kulineran!

Pict Source:
1. Gudeg Permata: http://jalan2men.com/wordpress/wp-content/uploads/2016/02/Gudeg-Permata.jpg
2. Pecel Baywatch: https://4.bp.blogspot.com/-V8BBtB8cIoY/VrP1u44y43I/AAAAAAAACMk/0Kf9yMwc5QA/s640/IMG_0648.JPG 
http://santapjogja.com/wp-content/uploads/2014/07/Pecel-Baywatch-1.jpg
3. Jadah Tempe: punya sendiri. hehe..
4. House of Raminten: https://latitudes.nu/wp-content/uploads/2011/09/1.jpg
5. Mie Ayam Tumini: http://cdn-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/mie-ayam-tumini_20151127_194904.jpg
6. Bakpia: https://ecs7.tokopedia.net/img/product-1/2015/6/23/234206/234206_f8194dba-ce2b-414a-b2db-ece2b5d64e7e.jpg
http://assets.kompas.com/data/photo/2015/04/13/1745208bakpia-1780x390.jpg

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK

Member of

ID Corners