Mudik Pantura: Mereka yang Mengaku Berpendidikan dari Ibukota

1:22:00 AM

Mudik memang sudah menjadi tradisi tahunan di Indonesia dan tidak akan ada habisnya. Bandara, terminal, dan jalur pantura selalu penuh dengan mereka-mereka yang ingin kembali pulang untuk bersilaturahmi ke daerah asalnya. Saya disini mau membahas mereka-mereka yang tidak beretika yang khususnya terjadi di jalur Pantura dan mungkin juga terjadi di tempat keramaian mudik lainnya.

Nah hampir setiap tahunnya jalur Pantura ini selalu dipenuhi dengan kendaraan pribadi Ibukota. Mereka berbondong-bondong menuju ke berbagai kota yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Bali dan Madura. Kepadatan bisa kamu rasakan mulai H-7 sampai H+7, ribuan pengendara motor, ratusan pengendara mobil, puluhan bis antarkota, dan berbagai moda transportasi apapun yang banyak “dipaksakan” untuk pergi ke kampung halaman. Pernah saya melihat ada yang menggunakan Bajaj atau Bemo untuk pulang kampung dengan penuh barang bawaan. Itu bahaya men!

Buat yang setiap tahunnya pulang kampung seperti saya, pastinya sudah tahu betul kondisinya seperti apa. Ratusan warung-warung tenda dadakan banyak bermunculan dan menjual segala macam apa yang bisa dijual mulai dari minuman dan makanan-makanan berat. Nggak hanya itu, setiap masjid yang lokasinya berada persis di pinggir jalur Pantura ini juga otomatis kebanjiran pengunjung bagi mereka yang mau solat atau sekedar beristirahat. Belum lagi pedagang asongan yang membanjiri jalanan, mereka rela berpanas-panasan demi mendapatkan keuntungan rupiah dari euforia mudik tahunan.

Pada dasarnya kita semua sangatlah terbantu dengan ada dan banyaknya pedagang di jalur Pantura ini. Saat kelaparan atau kehausan, nggak perlu bingung karena tiap meternya kamu bakal menemukan pelepas dahaga dan lapar itu. Apalagi semuanya tersedia sampai 24 jam penuh. Nggak hanya itu, saat perut bermasalah atau ingin buang air kecil pun sudah tidak lagi menjadi masalah di jalur Pantura ini, banyak rumah disini yang dengan senang hati mempersilahkan toiletnya untuk dipakai mereka yang membutuhkan.

Tapi sangat disayangkan, saya masih melihat banyak dari mereka-mereka yang kurang tahu rasa berterimakasih. Padahal katanya mereka mengaku sebagai warga Ibukota yang lebih berpendidikan dari mereka yang tinggal di daerah. Katanya mereka mengaku bahwa mereka “lebih baik” daripada mereka yang tinggal di daerah. Apa yang bikin saya risih dan sampai saya menulis artikel ini? Ya semua ini adalah masalah SAMPAH. Saya selalu mudik setiap tahunnya dengan kendaraan pribadi dan saya selalu kesal sendiri jika sedang berhenti di pom bensin atau warung makan di jalur Pantura ini, selalu melihat banyak sampah berserakan dari mereka-mereka yang datang mampir. Bungkus cup mie instant, botol air mineral, bungkus makanan ringan yang dibuang begitu saja, padahal ironisnya ada tempat sampah yang tidak jauh letaknya. Bahkan saya pernah melihat sendiri di tengah kemacetan ada yang membuang bungkusan es dan makanan ke luar lewat jendela mobilnya. Saya beneran nggak habis pikir. Kenapa kita “dibudidayakan” sangat pemalas untuk membuang sampah di tempat yang benar?

Ini foto-foto yang saya coba kumpulin dari internet;
Pict source; 
Pict 1, 2, 3: http://bonsaibiker.com/
Pict 4: https://pbs.twimg.com/media/CKj3Tw2UMAAyhaa.jpg
Pict 5: http://img.bisnis.com/posts/2015/07/19/454755/cipali4sah.jpg

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+