[VIETNAM Hari ke-1] Makan Murah ala Backpacker di Terminal 3 Soekarno Hatta

4:22:00 AM

Hari ke-1 (Jumat, 6 Mei 2016)
Makan Murah Porsi Jumbo, Chit-Chat Menyesakkan Dada, 
Kedinginan Bermalam di KLIA2

Penerbangan kami menuju Kuala Lumpur sekitar pukul 8 malam, namun setelah sholat jumat, saya langsung minta diantar oleh adik menuju halte DAMRI Harapan Indah. Perjalanan dari Harapan Indah ke Bandara Soekarno Hatta ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam karena jalanan Jakarta yang lebih lengang daripada biasanya (tanggal merah long weekend). Tarif perjalanannya dipatok seharga 45 ribu rupiah, saat itu hanya ada 5 orang saja di dalam bus dan hanya saya yang minta diturunkan di terminal 3. Buat sekedar info, penumpang DAMRI yang akan turun di terminal 3 biasanya akan diantar terlebih dahulu, bukan yang terakhir.

Saya pun sampai sekitar jam 3 sore dan langsung bertemu Tyas yang sudah tiba lebih dahulu dari Bandung menggunakan bus Primajasa. Selama di dalam bus DAMRI, sebagaimana selayaknya perut yang baru diisi sedikit saat sarapan, mereka pun memanggil-manggil untuk diurusi. Berbekal info dari salah satu blog yang menyebutkan ada kantin khusus karyawan disini, kami pun meraba-raba mencari dimana keberadaan lokasi kantin murah untuk karyawan bandara tersebut. Setelah pusing mencari, ternyata lokasinya sangat mudah dijangkau, persis berada satu deretan dengan gerbang tiket masuk kendaraan di terminal 3, bukan berada di samping gedung terminal yang saya bayangkan sebelumnya. Saya memesan nasi putih dengan ikan tongkol, usus, tahu, es teh manis, dan tambahan air mineral 600ml. Semua itu hanya saya perlu tebus sebesar 25 ribu rupiah saja. Coba bayangkan betapa murahnya dan bandingkan jika saya harus makan di dalam terminal 3 yang rata-rata harga makanan disana di atas 35 ribu rupiah. Oh iya, yang perlu saya highlight disini adalah porsi nasinya yang terbilang “porsi kuli” kalo kata orang, saya yang doyan makan pun kaget saat melihat porsi nasi standar yang ditawarkan. Jadi ini tempat cocok buat kalian para backpacker sejati yang mau naik pesawat promo low-cost AirAsia dari terminal 3. Haha.
kantin karyawan terminal 3
kantin karyawan Terminal 3 Soekarno Hatta
makan murah di terminal 3
segini cuma 25rb sama air mineral!
Masih sekitar 2-3 jam lagi penerbangan saya menuju Kuala Lumpur, saya pun mengisi waktu dengan hunting foto pesawat seperti biasanya, sedangkan Tyas asik dengan ponselnya yang terhubung dengan colokan listrik karena low-batt. Sekitar pukul 7 saya masuk ke area penerbangan Internasional melalui pemeriksaan dokumen, cap imigrasi, dan scanning barang.  Saat sudah berada di dalam, saya merasakan ada yang janggal perihal proses masuk sampai ke ruang tunggu (gate) ini. Benar saja  setelah kami berunding memikirkan proses apa yang kurang, ternyata memang kami tidak melewati proses pengecekan data dan dokumen di check-in counter AirAsia, karena kami masuk melewati pintu kedatangan bukan melalui pintu masuk keberangkatan. Terlebih kami memang sudah melakukan online check-in 14 hari sebelum keberangkatan, jadi sewaktu pemeriksaan dokumen kedua, kami pun sudah bisa lolos masuk ke tahap pengecekan paspor.
airasia terminal 3
Gatot Kaca ikutan jalan-jalan
boarding room terminal 3
ruang tunggu keberangkatan internasional terminal 3
Pesawat pun berangkat tepat pukul 20:30 tanpa delay dan seperti biasa di terminal 3 ini kita harus menggunakan bus untuk menuju parkiran pesawat. Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur memakan waktu selama 2 jam. Selama penerbangan saya pun harus menahan godaan terbesar dari aroma Nasi Lemak atau Nasi Rendang yang menyeruak ke seluruh bagian kabin dari mereka-mereka yang memesan makanan (huwaa.huwa….cabal ya perut). Pesawat AirAsia yang saya naiki adalah AirAsia Malaysia, jadi seluruh cabin crew berasal dari Malaysia, begitu juga dengan pemberitahuan informasi yang disampaikan dalam Bahasa Melayu, serta harga menu makanan yang menggunakan MYR (Malaysia Ringgit).
ac di kabin airasia
hembusan AC kabin seperti kulkas...
Penerbangan menuju Malaysia saya bersebelahan dengan Tyas, karena saya tidak memutuskan untuk membeli kursi pada penerbangan pertama ini. Saya pun berfoto-foto selfie dengan Tyas menggunakan Xiaomi Yi yang saya tempelkan pada casing ponsel menggunakan bike mounting. Tiba-tiba seorang Ibu yang duduk di baris seberang memanggil saya dengan pelan “mas, maaf itu kok bisa nempel ya disana? sambil nunjuk ke arah hp saya”. Saya pun menjelaskan kepada si Ibu dan tidak disangka ternyata si Ibu juga lebih mengerti tentang aksesoris sports cam semacam ini. Mulai dari situlah percakapan dengan si Ibu berlanjut inspiring sekaligus menyesakkan dada. Si Ibu bercerita akan pergi ke Thailand bersama anaknya, setelah di awal tahun kemarin mengunjungi Sapporo di Jepang saat musim salju (*sambil menunjukkan foto-foto dari ponselnya) (*gak kuat liat mak…gak kuaaaat…!! *mupeng*). Tidak hanya itu si Ibu yang lanjut bercerita, ternyata akan pergi umroh untuk yang kesekian kalinya di akhir tahun ini, namun katanya sebelum umroh, Ibu beserta keluarganya akan pergi selama 2 minggu untuk mengeksplor Eropa (si Ibu menyebutkan satu per satu negara-negara yang akan dikunjunginya Belanda, Prancis, Spanyol, Turki, dll). Saya pun sampai lupa mengingat negara-negara yang disebutkan oleh si Ibu, karena saya saat itu cuma bisa melongo terdiam ketika si Ibu bercerita. Sejuta pertanyaan langsung menyeruak di pikiran “Si Ibu gajinya berapa ya?”, “Si Ibu kerja apa?”, Suaminya kerja apa?”, terlebih karena si Ibu berkerudung ini berpenampilan biasa saja, bukan berpenampilan mencolok dan mentereng seperti kebanyakan Ibu-Ibu sosialita.
xiaomi yi
nih bentukkannya seperti ini
Sekitar pukul 23:30 saya pun mendarat di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2) yang saat ini menjadi basis penerbangan low-cost milik maskapai AirAsia. Kesan pertama saya tentang bandara ini adalah luas dan besar. Saya harus berjalan kaki menuju ruang tunggu melalui jalur transit pindah penerbangan dengan jarak yang lumayan jauh. Sebenarnya ada semacam golf car gratis untuk mengantar kita, namun karena berhubung sudah tengah malam, apa boleh buat golf car tersebut hanya terparkir rapi tanpa pengemudi. Penerbangan saya selanjutnya pada pukul 07:05 pagi waktu Malaysia dan otomatis saya harus menginap semalam di bandara ini dan berjuang mencari makan murah demi perut agar tidak kelaparan keesokan harinya.
mendarat di KLIA2
mendarat dengan aman di KLIA2
tengah malem di KLIA2
tengah malem di KLIA2 sepi melompong
midnight in KLIA2
berasa bandara punya sendiri
Pada blog-blog yang saya baca sebelumnya banyak yang menyebutkan warung makan Nyonya Colors, karena harga makanan disana berkisar 5 – 7 MYR, jadi jika di rupiah kan sekitar 15 – 25 ribu. Kami pun mencari dengan gigihnya untuk menghemat pengeluaran sebisa mungkin, tapi hasilnya ternyata nihil. Nyonya Colors ini berada sebelum pintu pemeriksaan imigrasi, jadi kami berdua yang sudah terlanjur masuk ke boarding gate, tidak bisa keluar lagi. Apa daya, akhirnya kami pun mau tidak mau dengan terpaksa mencari makan di area food court penerbangan Internasional KLIA2. Disana kami menemukan banyak tempat makan, seperti McDonald, Burger King, Fried Chicken, Taste of India, dan berbagai jenis makanan lainnya. Harganya? Rata-rata makanan disini diatas 15 MYR, jadi kalo di rupiahkan di atas 40 ribu. McDonald dan Burger King disini tidak ada menu nasi dan warung fried chicken saat saya sambangi sudah tutup. Alhasil, saya memutuskan untuk memesan Nasi Briyani dari warung bernama Taste of India, seharga 16 MYR berarti sekitar 52 ribu untuk satu porsinya dan saya membeli air mineral di warung terpisah seharga 3.5 MYR (11 ribu).
nasi briyani malaysia
Nasi Briyani porsi seabrek!
foodcourt KLIA2
food court
gatot kaca di malaysia
Gatot Kaca sampai Malaysia
Oia ada yang asing dan aneh menurut kami disini, saat akan mencuci tangan di wastafel menggunakan sabun, bau sabunnya bukan seperti sabun pencuci tangan kebanyakan, tetapi kalau menurut kami lebih persis bau cairan porselen pembersih keramik. 

Di kursi area food court ini enak karena modelnya sofa, saya pun dengan asiknya berbaring lemas dan ngantuk setelah makan selesai. Terlebih jam menunjukkan pukul setengah 2 pagi waktu Malaysia, namun saat sedang asik-asiknya tiduran tiba-tiba saya dibangunkan oleh petugas kebersihan disana yang menjelaskan bahwa di area food court ini tidak boleh untuk tidur. Kami berdua pun pindah lokasi dan kebingungan mencari tempat untuk merebahkan badan, terlebih di area dekat boarding gate abjad L lantainya tidak dilapisi oleh karpet. Jadi bisa dibayangkan kami tidak membawa jaket, tidur duduk di dinginnya lantai keramik, dipadu dengan hembusan AC bandara menjelang pagi yang super dingin. 
KLIA2 International Boarding Gate
KLIA2 International Boarding Gate
PENGELUARAN HARI ke-1
Bis DAMRI Harapan Indah - Soekarno Hatta: Rp. 45.000
Makan Sore (Nasi, Usus, Ikan Tongkol, Es Teh, Air Mineral 600ml): Rp. 25.000
Makan Malem (Nasi Briyani): Rp. 53.000 (16 MYR)
Air Mineral: Rp. 11.500 (3.5 MYR)
TOTAL: Rp. 134.500

Masih lanjut yoo (*kedinginan).....

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+