[VIETNAM Hari ke-2] Menempuh Perjalanan Darat 4 Jam dari Saigon ke Mui Ne!

May 19, 2016

Hari ke-2 (Sabtu, 7 Mei 2016)
Memakai Batik di Negeri Orang, Perjalanan Bis Layaknya Pulang Kampung, Rasa Dedaunan Aneh!

Sekitar pukul 05:30 pagi waktu Malaysia, akhirnya ruang tunggu menuju boarding gate dibuka. Saya yang sudah menggigil kedinginan untuk mencoba tidur disini pun akhirnya bergegas masuk melalui proses pengecekan barang untuk yang kedua kalinya disini. Pesawat menuju Ho Chi Minh City berada di gate L3 yang tidak terlalu jauh jaraknya dari proses scanning barang, namun lagi-lagi saat itu saya masih harus menunggu dengan kondisi AC yang juga masih super dingin.

Oh iya, kami punya rencana yang unik dan sudah di gagas jauh-jauh hari memang yaitu berganti pakaian dari kaos menjadi baju batik saat penerbangan menuju Saigon dan itu terlaksana. Tetapi sebelumnya, kami berniat ingin mandi dahulu di KLIA2, karena membaca beberapa blog menyebutkan ada fasilitas shower gratis disini. Namun, sama seperti Nyonya Colors, bahwa posisi fasilitas shower gratis itu berada di area sebelum pemeriksaan imigrasi. Kami pun memutuskan untuk tidak pergi kesana, mengapa? Karena menurut sejumlah sumber bahwa antrian pemeriksaan imigrasi di KLIA2 ini super panjang. Jadi daripada kami tertinggal pesawat, maka kami pun memutuskan untuk sikat gigi dan menggunakan parfum saja saat itu.

Ada hal lucu saat saya sudah berganti pakaian menggunakan batik, semua orang yang sedang menunggu di kursi tunggu depan kamar mandi tiba-tiba semua melihat saya dengan tatapan aneh. Mungkin mereka bertanya-tanya, ini orang mau pergi umroh kali ya? Huahahahaha…. Betul saja memang, kami berdua mempunyai warna batik yang mirip ini, kok dirasa seperti kami ingin pergi umroh ya. Jadi seolah-olah kami ini seperti rombongan jamaah haji dengan pakaian batik dari Indonesia. Hahahaha….
tuh kayak jemaah haji! :(
Saya membeli kursi seharga 20.000 Rupiah untuk penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Ho Chi Minh City, karena saya memang mengincar kursi di sebelah jendela. Alhasil, saya dan Tyas pun tidak duduk bersebelahan seperti pada penerbangan sebelumnya. Pada malam harinya, Tyas sempat mengatakan kepada saya “Ki, tadi pas mendarat di KLIA2 liat kebun kelapa sawit yang luas banget gak?”, karena kondisinya malam hari jadi saya pun tidak bisa melihat apapun saat pendaratan di KLIA2 semalam. Baru pagi ini saat terbang dari KLIA2 menuju Ho Chi Minh City, saya bisa melihat dengan jelas memang betapa luasnya kebun kelapa sawit di sekitar area KLIA2 ini. Bukan hanya luas, namun penataan area kebun yang sangatlah rapi. Salut!

Penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Ho Chi Minh City ditempuh selama 2 jam dan sekitar pukul 8 pagi waktu setempat (Saigon), kami pun mendarat di Tan Son Nhat International Airport. Terbayang akan chaos-nya lalu lintas jalanan Saigon akan kendaraan roda dua (motor), ternyata sudah saya lihat dari atas pesawat sebelum mendarat. Ada satu jalan besar yang hampir seluruh bagian badan jalannya dipenuhi dengan motor dan dari atas terlihat seperti koloni semut yang akan mengerubungi gula.
siap terbang menuju Saigon dari KLIA2
kebun kelapa sawit yang luas dan rapi
KLIA2 terlihat dari atas udara
seperti gerombolan semut!
Setelah turun dari pesawat yang juga menggunakan jembatan, bukan menggunakan bis seperti di Indonesia, kami harus melewati bagian pengecekan Imigrasi Vietnam. Tetapi saya baru ingat apa yang dikatakan Tyas sebelumnya, bahwa nanti di pesawat akan diberikan sebuah formulir pendataan imigrasi dari pemerintah negara yang akan dikunjungi (berarti dari pemerintah Vietnam). Namun Tyas bergumam dan heran mengapa kami semua dalam penerbangan ke Ho Chi Minh City tidak diberikan kertas formulir semacam itu? Kami pun tidak terlalu memikirkan hal tersebut, karena memang mungkin pengawasan menuju Ho Chi Minh City tidaklah ketat seperti negara lainnya.

Saat sedang mengantri pemeriksaan imigrasi, tiba-tiba di belakang kami ada yang mengucap pelan “Dari Indonesia ya mas, mbak?” sahut 2 wanita berkaos cerah dan bercelana pendek. Jadi mereka berani menyapa kami, karena kami baru ingat kalau masih menggunakan baju batik yang seperti jamaah haji ini. Mereka pun mengatakan demikian bahwa batik yang kami pakai adalah batik corak Indonesia, bukan batik milik Malaysia. Kami pun mengobrol satu sama lain sembari menunggu antrian imigrasi yang cukup panjang dan lama. Mereka berdua berasal dari Bali yang juga ingin berlibur di Vietnam sama seperti kami. Ada pertanyaan satu sama lain yang cukup menggelitik menurut kami, “mas/mbak kenapa milih Vietnam buat liburan?”, kami pun menjawab dengan sedikit canggung dan bingung “karena jarang aja orang Indonesia yang mungkin berlibur disini” dan mereka pun meng ‘iya” kan jawaban kami. Haha..
ngantri imigrasi yang super panjang
Setelah lolos dari pemeriksaan imigrasi, kami berdua langsung mencari tempat penukaran uang di bandara. Mengapa harus di bandara? Ya, menurut banyak saran dari para traveler lainnya, bahwa menukar uang dengan rate terbaik adalah di bandara negara setempat yang kita kunjungi. Penukarannya dari Dollar ya bukan dari Rupiah, jadi kami menukar Dollar ke Vietnamese Dong disini. Sebelumnya Rupiah sudah ditukarkan oleh Tyas menjadi Dollar dan Ringgit di salah satu money changer dengan rate terbaik dan terpercaya di Bandung.  

Kami berdua sempat bingung memilih money changer mana yang menawarkan rate terbaik disini, akhirnya kami memutuskan untuk menyambangi Eximbank yang mempunyai banyak stand counter di bandara ini. Kami berdua menukarkan total 250 USD dan jika sudah ditukarkan menjadi 5.576.875 VND untuk hidup berdua selama 5 hari di Saigon. Jadi masing-masing dari kami mempunyai sekitar 2.788.437 VND (125 USD) (*tergantung kurs saat itu 7 Mei 2016). Kami merasa kaya disini!!! :D
berbagai konter money changer dan provider SIM card
jadi kayaaa disiniii...
Setelah penukaran uang selesai, kami pergi ke salah satu counter provider kartu SIM Card lokal disini. Lokasinya masih satu deretan dengan jajaran counter money changer. Sebenarnya ada banyak pilihan jaringan telekomunikasi yang bisa kita gunakan, seperti Mobifone, Vinaphone, Satsco, dll. Namun karena saya melihat counter Vinaphone lah yang paling ramai antriannya, saya mempercayakannya dengan membeli kartu SIM seharga 100.000 VND dengan kuota sebesar 5 GB Unlimited. Murah bukan!!??
5GB cuma sekitar 70-80 ribu kalau di Rupiahkan!
Kartu SIM terpasang dan sinyal HSDPA Internet pun sudah berjalan, kami pun bergegas keluar bandara untuk menuju kota. Sebelumnya, kami ingin berfoto di depan papan tanda “Selamat Datang di …………..” sebagaimana selayaknya bandara-bandara pada umumnya. Namun setelah kami berputar mencari ternyata di Tan Son Nhat International Airport ini tidak ada papan tanda kedatangan seperti itu, ah sangat disayangkan.

Untuk bisa menuju kota dari Bandara ada 2 pilihan yang paling mudah, pertama menggunakan taksi dan kedua adalah naik bus umum. Taksi yang di rekomendasikan adalah Vinasun Taksi dengan harga sekitar 100.000 VND bahkan bisa lebih jika lalu lintas padat, bukan saya banget inimah. Haha. Saya memutuskan untuk menggunakan bus umum nomor 152 dengan biaya hanya 5.000 VND saja. Murah bukan? Sebelumnya bayangan saya adalah menaiki bus kota tanpa AC dengan kondisi seadanya, saya sudah siap akan hal itu namun ternyata bayangan saya semua salah besar. Bis 152 dari Bandara ke kota HCMC (begitu juga sebaliknya), menurut saya bagus dan terbilang masih dalam kategori nyaman, karena terdapat AC yang berhembus dingin di teriknya matahari kota Saigon. Destinasi terakhir bis 152 ini adalah di terminal bis depan pasar Benh Thanh, jadi masih terjangkau dan mudah untuk akses kemana pun kamu menginap di Ho Chi Minh City.
bus 152 Bandara - Ben Thanh Market
bus yang nyaman!
Saya sampai di kota sekitar pukul 11 siang dan langsung bergegas menuju TheSinhTourist. Jadi jauh-jauh hari saya sudah membaca rekomendasi tour di berbagai blog, bahwa TheSinhTourist lah yang paling murah dan terpercaya di Vietnam. Reviewnya disini ya (link will be updated soon). Saya langsung duduk manis di depan meja pelayanan di kantor TheSinhTourist, ada hal yang menarik buat saya disini. Saya yang mengurusi semua pembelian paket tour dan tiket bis, mau tidak mau harus berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Namun, saya sulit mengerti apa yang sang receptionist katakan, karena berucap Bahasa Inggris dengan aksen Vietnam yang diseret. Oh god! 

Percakapan demi percakapan, pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan dan terselesaikan. Akhirnya kami mendapatkan semua apa yang dibutuhkan selama 5 hari di Ho Chi Minh City.
1.       Tiket Bus Saigon – Mui Ne            : 198.000 VND (@99.000 VND)
2.       Tiket Bus Mui Ne – Saigon            : 238.000 VND (@119.000 VND) Sleeper Bus
3.       Paket Tour Sand Dunes Mui Ne  : 599.000 VND (@299.500 VND) Private Jeep
4.       Paket Tour Cu Chi Tunnel              : 178.000 VND (@89.000 VND)
5.       Paket Tour Mekong Delta             : 338.000 VND (@169.000 VND)
TOTAL SEMUA                                  : 1.551.000 VND (775.500 VND/orang)  

Kami memang membeli semuanya sekaligus saat itu juga, karena akan memudahkan kami di kemudian hari tanpa harus bolak-balik ke kantor TheSinhTourist.
kantor TheSinhTourist yang nyaman
Hampir 1 jam kami berurusan dengan tiket-tiket ini dan perut pun sudah tidak bisa diajak berkompromi karena memang terakhir diisi Nasi Briyani saat transit semalam. Kami mencari di sekitar jalan Bùi Viện dan kami pun singgah ke sebuah warung dengan kursi “dingklik” kecil, dimana kalau di Indonesia kursi seperti ini dibuat untuk mencuci baju atau mencuci piring oleh Ibu-Ibu di rumah. Haha..

Di warung kecil ini saya melihat papan menu pada etalase kacanya bahwa ada campuran “pork” nya. Namun ternyata setelah kami melihat buku menunya, mereka juga menyediakan menu lain tanpa “pork” di dalamnya seperti daging ayam, daging sapi, dan seafood. Kami pun masih mencari aman dan belum berniat memesan yang aneh-aneh dan memutuskan untuk memesan nasi goreng daging sapi dan air mineral seharga 25.000 VND + 10.000 VND, berarti jika di Rupiah kan hanya sekitar 15 ribu saja untuk nasi gorengnya dan sekitar 6 ribu untuk air mineralnya.

Makan siang dengan duduk di “dingklik” kecil pinggir jalan, melihat banyaknya motor mobil lalu lalang plus suara klasonnya, pemandangan bangunan-bangunan rapat dengan kabelnya yang semrawut, ditambah panasnya cuaca tengah hari kota Saigon menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya pribadi.

Di meja makannya tersaji berbagai macam sambal, cabai, dan kecap untuk menambahkan rasa pada makanan yang kami pesan. Sayang dong sudah jauh-jauh sampai Vietnam kami tidak mencoba hal-hal yang tidak ada di Indonesia. Satu persatu saya mencoba rasanya dan ternyata memang semua rasanya tidak cocok di lidah saya. Pertama yang berupa potongan-potongan cabai besar itu rasanya asam kecut, kedua adalah bawang putih potong dengan kuah asam yang lagi-lagi rasanya super aneh, ketiga adalah sambal yang isinya minyak dengan rasa hambar. Kecap asin dan sausnya menurut saya masih masuk di lidah orang Indonesia sih walaupun memang masih sedikit ada rasa anehnya.
berbagai menu dengan campuran "pork"
duduk di "dingklik" kecil
nasi goreng selayaknya nasi goreng biasanya... Haha
berbagai sambal dan cabai tambahan yang rasanya aneh...
kabel-kabel yang njliwet....
Perut kenyang dan berhubung kami akan menempuh perjalanan selama 3-4 jam menuju Mui Ne, maka kami menyempatkan untuk membeli jajanan di Circle K dekat dengan kantor TheSinhTourist. Saat saya sedang mencari-cari camilan apa yang murah untuk dibeli, disini saya menemukan PopMie dan Richeese Nabati dari Indonesia. Saya pikir mereka memproduksi ulang disini dengan bahasa lokal, namun setelah saya lihat kemasannya ternyata masih berbahasa Indonesia. Hoho.

Saya membeli chiki yang bertuliskan Indo Chips (yaelah kii, jauh-jauh ke Vietnam makannya kerupuk udang juga). Haha.. Untuk minumnya saya membeli minuman yang menurut saya enak dan sepertinya tidak dijual dan tidak ada di Indonesia, namanya Leo Salted Lemon Mineral. Jadi rasanya seperti spr*te karena bersoda dengan rasa lemon, namun ada rasa asinnya sedikit yang membuat minuman ini berbeda dengan yang lainnya.  
jauh-jauh ketemunya doi lagi...
enyaaaak ini...
kerupuk udang! :(
Saat saya menunggu kedatangan bis yang saya pikir telat 1 jam dan saya sudah hampir gondok karenanya, ternyata memang saya yang salah melihat waktu. Jam tangan saya masih menunjukkan waktu Malaysia yang lebih cepat 1 jam daripada waktu Saigon, jadi intinya bis ke Mui Ne datang dan berangkat dengan tepat waktu pada pukul 1 siang.

Bis yang digunakan adalah milik TheSinhTourist itu sendiri dan seperti sebagaimana layaknya bis pada umumnya, tidak ada yang spesial menurut saya. Perjalanan ditempuh selama 4 jam lamanya, kalau di Indonesia mungkin seperti jarak dari Jakarta menuju Cirebon/Tegal melalui jalur pantura. Memang benar, saya pun merasakan jalanan menuju Mui Ne dari Saigon ini seperti jalur pantura, panas dan gersang. Kami berhenti sejenak selama 20 menit di salah satu tempat peristirahatan dan saya menyempatkan membeli minuman dingin berlabel Tropicana Twister rasa jeruk seharga 15.000 VND.
bus yang biasa sajaaa... Haha...
Memasuki daerah Mui Ne semakin banyak kehidupan dan nuansa tepi pantai pun semakin terasa. Banyak kafe dan hotel yang menawarkan suasana pemandangan laut dan pinggir pantai. Kalau yang sudah pernah ke daerah Senggigi di Lombok, suasananya mungkin tidak jauh berbeda. Kami pun tiba di Mui Ne sekitar pukul setengah 6 sore waktu setempat dan ternyata kami diantar sampai depan penginapan.

Penginapan sudah kami pesan jauh-jauh hari melalui booking.com, yang kami dapatkan seharga 230.000 VND (sekitar 140 ribu Rupiah per malam). Baca review-nya disini ya (link will be updated soon (again)). Ada hal yang lucu lagi saat kami bertemu dengan sang pemilik guesthouse yang ternyata tidak fasih berbahasa Inggris, bahkan kata-kata dasar bahasa Inggris yang umum digunakan. Kami sempat kebingungan saat si pemilik guesthouse mengatakan satu kata kepada kami dalam bahasa yang tidak jelas, kami berdua saling tatap mata karena kebingungan. Akhirnya, saya berinisiatif mungkin si bapak ingin meminta pembayaran di muka sebelum kami masuk ke dalam kamar. Tyas pun mengeluarkan uang sejumlah total biaya penginapan disini semalam, si bapak menerimanya dan kemudian tersenyum pergi meninggalkan kami di depan kamar. (Oalaaaah si bapak minta pembayaran to…capedeee). Kami pun beristirahat sejenak merebahkan badan sebelum kami keluar untuk mencari makan malam.

Pukul 7 kami memutuskan untuk keluar mencari makan di sekitar penginapan yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mudah bagi kami kalau kami mempunyai uang lebih dari budget yang sudah ditentukan untuk makan, karena disini lebih banyak warung dan restoran seafood sepanjang pantai. Saya pun sesekali berhenti dan melihat buku menu yang dipajang di depan restoran-restoran tersebut, harganya memang standar seafood indonesia (berkisar 40 ribu – 100 ribu Rupiah). Kami berdua berdiskusi bahwa kami bisa saja makan seafood disini, namun resikonya akan timbul di hari berikutnya yang mengharuskan kami makan super hemat. Kami pun akhirnya memutuskan untuk tidak gegabah, terlebih karena masih hari pertama di Vietnam dan masih ada 4 hari lagi yang harus kami jalani disini.
berbagai restoran yang menjual sajian seafood
seafood nya memang terlihat menggoda dan segar
Setelah menyusuri trotoar disana, kami tidak sengaja menemukan penjual Banh Mi. Bagi yang belum tau Banh Mi ini adalah semacam sandwich namun yang melapisinya bukan roti tawar, melainkan baguette (roti khas Prancis). Kami tidak berpikir panjang dan langsung menyambangi penjual Banh Mi yang sekaligus toko kelontong disana. Saya pun minta dibuatkan 2 porsi untuk dibungkus dan saya tahu sebelumnya kalau Banh Mi ini sejatinya menggunakan isian “pork”. Maka saya terlebih dahulu bertanya dan mengatakan kepada si Ibu penjual “this is beef or pork?”, namun si Ibu sepertinya tidak bisa mengerti bahasa Inggris dan menjawab “yes, yes…this is meat”. Sembari saya melihat kotak berisi daging yang ditunjukkan oleh si Ibu dan saya dengan agak sedikit ragu menjawab “okay..I want two”.

Ketika si Ibu penjual membuatkan Banh Mi, kami memilih camilan di toko kelontong milik si Ibu apa yang sekiranya cukup mengenyangkan untuk esok hari. Karena kami akan berangkat mengikuti private jeep tour Sand Dunes pada pukul 4 pagi, terlebih kami juga tidak mendapatkan sarapan dari penginapan. Setelah mendapatkan camilan dan air mineral, Banh Mi seharga 15.000 VND siap saya bawa pulang untuk disantap di penginapan dengan penuh rasa penasaran.

Setelah sampai penginapan, cuci tangan, dan siap mencoba rasa Banh Mi ini seperti apa. Ekspektasi saya mungkin tidak jauh berbeda seperti memakan sandwich pada umumnya. Gigitan pertama, biasa saja karena masih di ujung roti baguette-nya. Gigitan kedua, hmmm rasa dagingnya aneh ya tapi so far enak sih. Gigitan ketiga, mulai kena saus yang rasanya juga sedikit aneh. Gigitan keempat, tetooooot!!!! Ho******kk!!! Tidaaaaaaak!!! Apa yang saya makaaaaan!!! Saya langsung “lepeh” dari mulut saya dan melihat apa yang saya kunyah barusan. Ternyata sumbernya berasal dari salah satu daun pelengkap isian Banh Mi ini! Rasanya benar-benar tidak enak dan aneh bagi lidah saya! Begitu juga dengan aromanya. Saya pun membuka Banh Mi dari gigitan yang tersisa dan ternyata masih ada daun tidak enak itu di dalamnya. Dengan penuh rasa sedih dan duka saya mengambil itu daun dan membuangnya ke tempat sampah.

Saat itu Tyas sedang berada di kamar mandi selagi saya mencoba Banh Mi dan mendapatkan zonk di dalamnya. Setelah Tyas keluar dari kamar mandi, dia langsung mengatakan kepada saya “Gimana ki rasanya, enak?”. Saya menjawab pertanyaan Tyas dengan muka kecut asam karena di lidah masih terasa pahit dan aneh dari daun itu, “Coba aja dulu ya”. Raut muka Tyas pun berubah aneh dan penuh tanda tanya.

Saya dengan antengnya pasang muka tenang duduk manis di atas kasur menonton TV, sembari melihat Tyas yang akan mencoba Banh Mi tersebut. Saya pun sudah siap-siap menahan tawa saat si Tyas sudah menggigit dan mengenai dedaunan itu. Tetooot!! Ternyata si Tyas lebih zonk karena mengenai dedaunan itu pada gigitan pertamanya “&*^$%#^%%*%^&%^#...Ekiiii kok rasanya aneeeh” Hahahahahaha….. Saya puas tertawa karena si Tyas bisa merasakan apa yang saya rasakan barusan, karena kalau saya beri tahu terlebih dahulu pastinya si Tyas akan memisahkan daun tersebut dan membuangnya. Hahahahahha….
tuh tuh dedaunan yang rasanya omegoyttt!!
sprite made in Vietnam
astornya enak lo ini rasa jeruk, jarang-jarang...
merek air mineral paling terkenal di Vietnam
PENGELUARAN HARI ke-2
Bis 152 Bandara – Kota: 5.000 VND
Makan Siang Nasi Goreng Daging Sapi: 25.000 VND
Air Mineral: 10.000 VND
Kerupuk Udang + Salted Water: 12.500 VND
Paket Tour + Tiket Bis/orang: 775.500 VND
Beli Minum Tropicana Twister: 15.000 VND
Hotel 230.000 VND : 2 orang: 115.000 VND
Banh Mi: 15.000 VND
Camilan Astor: 16.000 VND
Minuman Soda: 15.000 VND
Air Mineral: 10.000 VND
TOTAL: 1.014.000 VND (Rp. 617.609)

You Might Also Like

5 komentar

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Boleh tahu, kalau naik bis bandara itu turunnya dimana? Trus jalan kaki ato taxi ke tempat tournya? Bln depan saya jg mw kesana dan lagi cari2 info untuk ke mui ne juga. Thanks before...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik bis bandara nanti turun di depan Pasar Ben Thanh, nah jalan kaki aja mba/mas ke arah Jalan Pham Ngu Lao (pusatnya backpacker). Nah nyalain aja GPS mba, kan udah beli kartu tu di bandara (ini koordinatnya https://www.google.com/maps/place/TheSinhTourist+(SinhCafe)/@10.7683391,106.6927547,18z/data=!4m13!1m7!3m6!1s0x31752f3de9212357:0xe6320836f82516ba!2zUGjhuqFtIE5nxakgTMOjbywgUXXhuq1uIDEsIEjhu5MgQ2jDrSBNaW5oLCBWaWV0bmFt!3b1!8m2!3d10.7688503!4d106.6937954!3m4!1s0x0:0x627c7c02eb70bdd3!8m2!3d10.7681!4d106.693674).

      Semoga berguna mba/mas, happy traveling!

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

GOOGLE+

FACEBOOK