[VIETNAM Hari ke-3] Explore White & Red Dunes, Fishing Village, & Fairy Stream Mui Ne, Vietnam Selatan

May 24, 2016

Hari ke-3 (Minggu, 8 Mei 2016)
Sunrise di Gurun Pasirnya Indochina, Kampung Nelayan Para Penjual Hasil Laut Segar, Fairy Stream (Mini Red Canyon-nya Vietnam)

Tidur di KLIA2 merem melek karena kedinginan dan disini hanya bisa tidur selama 4 jam saja. Pukul 4 pagi saya sudah diwajibkan terbangun dengan mata sendu kemayu dan dengan badan seperti zombie saat ingin pergi ke kamar mandi. Omaigaaat…!!!

Ya, karena setengah 4 pagi kami berdua akan dijemput oleh driver untuk ikut private jeep tour Mui Ne. Benar-benar tepat setengah 5 pagi, sang driver dengan mobil jeep besarnya sudah menunggu di depan homestay kami. Sebenarnya agak tidak enak memang saat itu karena kami menggunakan tour lain, homestay kami ternyata juga mempunyai paket tour Mui Ne dengan spanduk yang sangat besar di dekat meja receptionist-nya.

Oh ya, saat akan pergi ke depan pagar untuk memberitahukan sang driver agar menunggu sebentar lagi, saya sebenarnya agak takut keluar kamar karena pemilik homestay mempunyai 2 anjing besar yang sepertinya memang ditugaskan untuk berjaga malam disini. Benar saja, setelah saya dilihat dengan tatapan mencurigakan oleh 2 anjing penjaga itu, saya pun diikuti dengan jarak yang benar-benar dekat di belakang saya sampai masuk ke dalam kamar. Untungnya 2 anjing itu tidak menggonggong!

Saat semua sudah siap, saya celingukan terlebih dahulu apakah 2 anjing tadi masih berada di depan kamar kami atau sudah pergi. Saat kondisi aman, kami berdua keluar dan bertemu sang driver yang bernama Mr. Chou. Jarak dari penginapan saya yang berada di pusat keramaian Mui Ne sampai ke objek wisata White Sand Dunes memakan waktu sekitar 1 jam lebih perjalanan.

Menerobos keheningan fajar menggunakan jeep dan disuguhkan pemandangan pinggir pantai dengan matahari yang masih tersipu malu untuk muncul di ufuk timur, menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya.
menembus suasana fajar di Mui Ne, Vietnam
perjalanan pinggir pantai (like in Senggigi Lombok, haha)...
Sekitar pukul 5:20 saya tiba di spot pertama dari private jeep tour ini, yaitu White Dunes. Jika ada yang sudah pernah ke Gumuk Pasir Parangkusumo di Kulon Progo mungkin banyak yang menganggapnya tidak jauh berbeda. Nah berhubung saya belum pernah ke Parangkusumo, jadi White Dunes Mui Ne ini menurut saya luar biasa indahnya, terlebih pada saat momen matahari terbit. Saran terbaik dari saya kalau ingin berfoto disini adalah mencari spot dengan permukaan pasir yang bersih, artinya tidak ada tumbuh-tumbuhan atau dedaunan kering apapun disana.

Kami diberi waktu selama 1 jam untuk menikmati pemandangan dan berfoto di White Dunes. Sebenarnya kalau punya sedikit uang lebih, kamu bisa menyewa ATV untuk berkeliling seluruh area secara penuh. Namun karena kami traveler versi hemat, jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki untuk menikmatinya dan itupun menyenangkan!
Gurun Pasir di pesisir Laut Cina Selatan
Jeep in Sahara... (bukan ding...haha apasih)
Gatotkaca sampai Vietnam Selatan
1 jam berlalu dan kami melanjutkan perjalanan menuju spot kedua yaitu Red Dunes. Dimana ternyata Red Dunes ini lokasinya lebih dekat dari Mui Ne, jadi tour ini dibuat untuk mendatangi spot yang jauh terlebih dahulu bukan sebaliknya.

Sekitar 10-15 menit dari White Dunes menuju Red Dunes yang ternyata lokasinya terletak di pinggir jalan utama dan banyak penjual makanan disini bagi mereka yang kelaparan di pagi hari. Red Dunes mempunyai wilayah/area pasir yang lebih kecil daripada White Dunes dan juga terlihat biasa saja menurut saya. Red Dunes mempunyai butiran pasir yang lebih besar dibandingkan butiran pasir White Dunes yang lembut dan halus mirip seperti tepung. Jatah waktu yang diberikan sang driver di Red Dunes adalah 20 menit, namun saat masih tersisa waktu 5 menit kami memutuskan untuk meminta lanjut ke destinasi selanjutnya.
melanjutkan perjalanan ke Red Dunes..
Red Dunes...
wussss....silau mbak??
Destinasi ketiga adalah destinasi yang paling menarik menurut saya pribadi, yaitu Mui Ne Fishing Village. Pemandangan laut dengan berbagai macam jenis kapal nelayan khas yang luar biasa indahnya. Saya turun ke bawah untuk melihat kehidupan para nelayan disini, yang lagi-lagi memang tidak jauh berbeda dengan kondisi para nelayan di Indonesia. Tetapi ada satu hal yang membuat saya kagum dan tidak saya temukan di kampung nelayan atau tempat penjualan ikan manapun di Indonesia. Nelayan disini menjual berbagai hasil tangkapannya (ikan, udang, kerang, kepiting, dll) hidup-hidup menggunakan wadah baskom besar yang diisi air bersih dan gelembung udara! Hebat! Bandingkan di Indonesia yang rata-rata nelayan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) menjualnya dalam kondisi/keadaan sudah mati, walaupun memang sama-sama terbilang fresh dari laut.
kampung nelayan Mui Ne... Amazing right?
kepitingnya beda
para penjual hasil laut di kampung nelayan..
bulet-bulet lucuk...
20 menit pun berlalu dengan cepat karena saking asiknya mengamati para nelayan dan hasil laut yang ditawarkannya kepada kami. Kami pun bergerak menuju destinasi terakhir, yaitu Fairy Stream Suoi Tien (Mini Red Canyon). Hahaha… Saya kaget ketika ditunjukkan pintu masuk akses menuju fairy stream ini, karena masuk melalui halaman samping rumah warga yang dijadikan warung. What! Lucunya lagi kita harus menyusuri sungai dangkal berpasir yang rasanya ini beneran Indonesia banget. Kita berdua pun saling guyon-guyonan “haha ini mah di kampung gw ada, yas”, “haha…yah kii, ini kayak main air di kali”. hahahahah… Sepanjang menyusuri sungai dangkal berpasir ini, lagi-lagi pemandangan khas Indonesia pun disuguhkan dengan hadirnya kerbau yang sedang asik memakan rumput. Banyak turis asing terheran-heran dan menginginkan berfoto bersama kerbau tersebut. Dalam hati saya bergumam “yaelah, omegot tiap pulang kampung gw ketemu beginian”, “di rumah mbah buyut, malah gw disuruh kasih makan tu kebo”.

Jadi, fairy stream ini adalah semacam tempat keluarnya mata air dari tengah-tengah padang gurun. Keluarnya air tersebut kemudian membentuk sebuah pola unik pada bebatuan yang kapur disana, sehingga hal itulah yang membuatnya menarik untuk dijadikan tempat wisata.
tuh kan kayak kali/sungai di Indonesia? haha..
menyusuri sungai....
Mini Red Canyon, people said..
Disini saya [lagi-lagi] tidak sengaja bertemu dengan orang Indonesia. Saat sedang mengobrol dengan Tyas sembari asiknya menyusuri sungai dangkal berpasir ini, kami berpapasan dengan 2 orang perempuan yang melihat aneh ke arah kami dan berucap “dari Indonesia ya?”, saya pun sontak “yes, Indonesia!”. Yaelaaaah udah pemandangan sama suasananya mirip di Indonesia, eh ketemu orang Indonesia juga disini.

Saat kami berada dalam perjalanan pulang, saya bertanya dan meminta kepada Mr.Chou untuk menunjukkan kepada saya lokasi kantor TheSinhTourist cabang Mui Ne. Karena saya pikir jarak dari homestay menuju kantor TheSinhTourist masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki, namun ternyata sedikit cukup melelahkan jika di siang hari kami harus berjalan kaki menuju kantor tersebut.

Kami kembali ke homestay masih sekitar pukul 9:30 pagi saat itu. Kami sudah merencanakan sepulang dari tur akan menyambangi sebuah warung es krim gelato di dekat homestay. Tidak disangka ternyata apa yang kami harapkan pupus sirna karena warung gelato tersebut masih tutup, padahal waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 10:00. Suasana terbilang sangat sepi disini yang notabene-nya adalah daerah wisata, toko-toko masih tutup semua dan jalanan pun masih lengang dari kendaraan bermotor. Berbanding terbalik kalau kita melihat daerah Legian/Kuta di Bali bahkan Senggigi di Lombok yang mulai pukul 8 pagi pun sudah banyak aktivitas yang dilakukan disana.

Kami pun menyusuri trotoar untuk mencari warung apapun yang sudah buka disini, saat kami hampir putus asa ternyata ada satu warung yang sudah buka disini. Dari niat awal kami yang memang ingin mencari es krim karena suhu udara Mui Ne yang amat sangat panas memang, kami pun membuka etalase kaca freezer es krim disana. Saya membeli es krim dan Tropicana Twister seharga 55.000 VND.

Nikmat yang tak tergantikan saat bisa menikmati es krim di pinggir jalan, duduk di depan warung yang belum dibuka, di tengah teriknya panas matahari yang menyinari Mui Ne saat itu. Tiba-tiba datang seorang Ibu penjual bercaping yang menjajakan makanannya kepada kami dengan ramah. Kami pun melihat apa yang dijual, ternyata si Ibu menjual jajanan yang sempat akan kami coba saat berada di Red Dunes. Saya pun bertanya berapakah harga untuk satu kotak makanan kepada si Ibu menggunakan bahasa Inggris, si Ibu mengerti maksud saya namun menjawab dengan cara menunjukkan lembaran uang sebesar 15.000 VND.

Namanya adalah Bánh Bột Lọc Nhân Tôm Thịt, hahahahah susah ya.. (emaaang ini aja nyari setengah mati di internet namanya apa). Jadi ini adalah jajanan pinggir jalan (street food) yang katanya harus dicoba kalo berkunjung ke Mui Ne. Jadi ini adalah tepung aci (tepung tapioka) yang direbus dan isinya adalah ebi (udang kecil), disajikan bersama kuah minyak berbumbu yang rasanya gurih. Ditaburi semacam daun bawang dan potongan cabai untuk membuat rasanya sedikit pedas.

Ada hal yang menarik perhatian saya disini yaitu wadah pembungkus jajanannya, berupa seperti kotak tupp*rware. Pada awalnya saya memang sedikit ragu, apakah kotak penyajiannya kami harus kembalikan lagi ke sang penjual atau bisa kami bawa pulang. Ternyata kotaknya ini memang untuk dibawa pulang dan hebatnya lagi adalah kotak ini microwave safety plastic, jadi bisa digunakan untuk menghangatkan makanan pada microwave. Ini sungguh street food yang rasanya enak dan sangat murah. Bayangkan saja dengan harga 15.000 VND atau sekitar 9 ribu Rupiah, kami bisa mendapatkan jajanan enak sekaligus beserta wadah plastik microwaveable-nya.
sepiiii...
Ibu penjual...
ini enak ternyata!
Kami check-out tepat waktu pada pukul 12 siang dan kami pun berdiri di pinggir jalan untuk siap mencegat taksi atau bis (kami akan naik mana yang lewat terlebih dahulu). Ternyata bis umum lah yang tampak dari kejauhan dan kami pun naik bis umum tersebut. Saya mengatakan ingin turun di depan Hotel Dinasti, yang menjadi resort bintang empat cukup besar di dekat kantor TheSinhTourist. Lagi-lagi sang kondektur tidak mengerti bahasa Inggris dan ketika itu bis cukup ramai dengan penumpang yang sontak langsung melihat kami semua saat saya terlihat kebingungan membayar. Saya mengeluarkan sejumlah pecahan VND dan sang kondektur langsung mengambil beberapa lembar diantaranya, saya ingat betul diambilnya pecahan sejumlah 12.000 VND untuk 2 orang. Murah meriah!

Saat kami menunggu bus di depan kantor TheSinhTourist, lagi-lagi kami tidak sengaja bertemu sapa dengan orang Indonesia. Saya berkata “dari Indonesia?” kepada 2 perempuan di sebelah yang sedang asik mengobrol menggunakan bahasa Indonesia. Obrolan pun berlangsung seru antara saya dan mereka yang ternyata sama-sama ingin menuju kembali ke Saigon. Kami akan menggunakan sleeper bus untuk perjalanan 4-5 jam menuju Ho Chi Minh City dan ini pertama kalinya saya mencoba sleeper bus.

Naik sleeper bus ternyata super nyaman dan perjalanan 4-5 jam pun tidak terasa melelahkan. Kami diharuskan untuk melepas alas kaki dan diberikan kantong plastik oleh sang supir untuk menyimpan alas kaki kami. Waw! Istimewa! Ada sekitar 35 seat dalam satu sleeper bus ini ada saya mendapatkan nomor 33 yang berada di atas. Alas tidurnya sudah dibuat dengan ukuran “bule”, jadi memang cukup besar untuk bisa digunakan oleh orang Asia. Saya bisa tidur siang dengan nyenyak saat itu, lumayan untuk sedikit mengurangi rasa lelah yang ada (halah… kok kayak lirik lagu yaa~~).
ada wi-finya! And it works!
nyaman banget!
Memasuki kota Saigon, kerumunan motor pun mulai banyak terlihat. Kami tiba sekitar pukul 6 sore dan langsung mencari dimana letak dari Pink Tulip Hotel. Kalau menurut peta, lokasinya hanya berbeda blok jalan dari kantor TheSinhTourist. Namun, pada kenyataannya mencari lokasi tersebut tidaklah semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Kami berdua berulang kali salah jalan, sampai pada akhirnya kami menemukan lokasinya yang memang betul ternyata hanya berbeda blok saja (lebih tepatnya adalah gang kecil).

Kami disambut ramah oleh seorang “bule” yang melayani proses check-in sampai selesai, yang ternyata pembayaran dilakukan setelah kita akan check-out. Review Pink Tulip Hotel ada disini à link will be available soon!

Saya beristirahat dan merebahkan sejenak, walaupun perut lagi-lagi sudah memanggil-manggil untuk “diopeni”. Makan malam kali ini adalah yang menjadi salah satu tujuan utama kami yaitu mencoba Pho…!!!! Ayeeeee…!!! Kami mencoba Pho2000 yang terkenal seluruh antero Vietnam dan membangga-banggakan kalau presiden Bill Clinton pernah makan disini. Lokasi Pho2000 ini berada di pojokan ruko samping persis pasar Ben Thanh. Anda harus jeli melihat papan nama Pho2000 karena lokasinya ada di lantai 2 dari sebuah bangunan yang lantai dasarnya adalah kafe kopi The Coffee Bean.

Aroma khas Pho langsung menyeruak saat membuat pintu restoran di lantai 2, dan kami mendapatkan kursi tepat di pinggir jendela yang menghadap jalan raya. Saat kami membuka menu, Pho2000 tidak hanya menyajikan hidangan Pho aja, namun ada berbagai jenis menu lain khas Vietnam yang juga menarik untuk dicoba. Saya memesan Pho ukuran jumbo dan Tyas memesan porsi reguler, ditambah 2 gelas minuman ice yoghurt untuk menemaninya.

Saat sang pelayan mengantarkan menu pesanan ke meja kami, kami berdua pun terbelalak kaget sekaget-kagetnya karena melihat ukuran mangkok Pho Jumbo yang luar biasa besarnya. Mungkin kalo di Indonesia ini mangkok semacem baskom buat mandi kali ya…. Satu porsi Pho ukuran jumbo saya tebus sebesar 80.000 VND, berarti sekitar 48 ribu (sama seperti harga ramen di Jakarta pada umumnya). Muraaaah kan!! Rasanya? Jangan ditanya lah, ini Pho enak banget dan nagih (bahkan pas saya nulis ini pun jadi pengen dan kebayang rasanya Pho2000 ini).

Ada berbagai macam saus, kecap, dan bumbu pelengkap di hadapan saya, namun karena rasa kuah dari Pho ini udah super enak, jadi saya tidak mau merusaknya karena mencampurnya dengan saus-sausan itu. Tetapi saya mengambil beberapa potongan cabai untuk memberikan rasa sedikit pedas pada kuah Pho saya dan sedikit toge rebus matang. Oh iya, satu lagi yang tidak akan pernah saya ambil dan saya coba adalah berbagai dedaunan aneh yang disajikan terpisah dengan Pho ini.
restoran Pho2000
bandingkan ukurannya!
jangan pake tisunya ya, bayar tuh!
Perut kenyang, kami pun akan melanjutkan untuk pencarian oleh-oleh, walaupun memang masih terlalu awal karena kami masih punya 3 hari disini. Di luar pasar Ben Thanh jika malam dipenuhi oleh tenda-tenda para penjual kaos, souvenir, makanan khas, kopi, dll. Saya sudah membaca banyak blog tentang tips mencari oleh-oleh di Saigon, yang mengharuskan kita untuk bisa menawar sadis bahkan sampai setengah harga. Dan itu terbukti! Pada awalnya ada salah satu pedagang yang menawarkan kepada kami satu set gantungan kunci (isi 10) dengan harga 150.000 VND (sambil menunjukkan angka di kalkulator miliknya kepada saya), saya pun dengan isengnya mengetikkan 70.000 (sambil mengembalikan kalkulator milik Ibu penjualnya). Si Ibu pun tersenyum (sembari menepuk-nepuk pelan tangan saya) dan mengatakan kepada saya “no..no..no…”. Penawaran berlangsung sedikit alot memang (ya gak jauh beda lah ya, kalo liat emak2 nawar di tanah abang/pasar senen), tetapi si Ibu pun setuju dengan harga awal yang saya tawar sebesar 70.000 VND karena saya bilang “I’ll take 11 set!”. Gotcha! Saya mendapatkan 11 set gantungan kunci (berarti isi 110 gantungan) dengan harga 770.000 VND. (Milik Tyas 4 set dan saya 6 set). Saat ingin pergi, kami pun diberikan bonus sebuah magnet kulkas lucu untuk dibawa pulang. Ah, thanks!

Pencarian kami selanjutnya adalah kaos, lagi-lagi kami iseng menyambangi salah satu penjual dan bertanya berapa harga untuk 1 kaosnya. Mba-mba penjual yang saya tanyai menjawab dengan super heboh “yess..yess..ringgit or dollar?”, wahahahah.. dikiranya kami ini orang Malaysia (memang karena Tyas berkerudung dan hampir rata-rata pendatang muslim disini kebanyakan dari Malaysia). Saya pun meminta harga mata uang VND dan diberilah harga 100.000 VND untuk satu kaos. What mahal giling! Saya pun berbisik kepada Tyas dan berencana untuk pergi dari tempat penjual kaos itu. Belum selesai bicara, tangan saya pun langsung dipegang dan ditarik untuk melihat lagi harga yang tertera pada kalkulator si mba-mba gengges ini. (sumpah ini mba-mba super duper heboh) “slowly…slowly…I give you bla..bla…bla”, “yess…yess don’t worry, I give you best price..”, …………………….(berisik dah pokoknya!)

Lucunya adalah sebenarnya kami kehabisan VND untuk membeli 12 potong kaos (saya 5, Tyas 7), jadi maka itu kami memutuskan untuk pergi dan membelinya di kemudian hari. Bukannya kami tidak cocok dengan harga yang ditawarkan si mba-mba heboh ini, haha.. Saya pun bertanya apakah menerima dollar atau tidak dan ternyata mereka juga menerima dollar. Tawar menawar pun kembali sengit antara saya dan si mba-mba heboh, sampai pada harga akhir (hanya 30.000 VND atau sekitar 28.800 Rupiah untuk satu kaosnya). Huahahahahah…!!!
Pasar Ben Thanh dari kejauhan..
tuh tuh tuh mba-mba heboh!
gantungan kuncinya lucuk!
PENGELUARAN HARI KE-3
Uang Tip Driver Mui Ne: 50.000 VND (udah dibagi 2)
Es Krim + Minuman Jeruk: 55.000 VND
Street Food Mui Ne: 15.000 VND
Bis Kota: 6.000 VND
Pho Porsi Jumbo: 80.000 VND
Ice Yoghurt: 18.000 VND
60 pieces Gantungan Kunci: 420.000 VND
5 Potong Kaos: 150.000 VND
TOTAL: 794.000 VND

Masih berlanjut yaw (I love Pho!)...

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK