[VIETNAM Hari ke-4] City Tour Saigon & Cu Chi Tunnel

May 26, 2016

Hari ke-4 (Senin, 9 Mei 2016)
Ho Chi Minh City's People Committee Bulding, Nguyen Hue Walking Street, Opera House, Kantor Pos Saigon, Gereja Katedral, & Cu Chi Tunnel

Ini jeda lama banget ya nulis lanjutannya dari hari ke-3. Duh mood nulis baru balik, cieeelaah.... yaudahlah ya sok mangga dibaca siapa tau berguna.


Mau coba rasa hari Senin yang berbeda dari biasanya? Cobalah ambil cuti yang anti-mainstream, dimana bukan mengambil pada hari kejepit seperti orang lain kebanyakan, melainkan di hari setelahnya. Hal ini sudah saya coba saat solo traveling ke Lombok dan juga di Vietnam ini. Di saat semua orang mengeluh hari pertama kerja setelah liburan panjang, saya masih bisa mem-posting sesuatu hal yang [masih] berbau liburan. Dan itu rasanya menyenangkan!

Di hari keempat ini, kami akan pergi ke Cu Chi Tunnel dan pada pukul 7 kami sudah siap turun ke bawah untuk mendapatkan sarapan dari hotel. Saya memesan salah satu menu yang ditawarkan yaitu bread with egg, dimana ekspektasi saya adalah roti tawar isi telur dadar atau telur ceplok matang. Ternyata perkiraan saya salah besar, saya pun kaget ketika yang datang adalah telur mata sapi setengah matang dengan baguette berukuran super besar. Bisa dibayangkan kenyangnya sarapan yang saya santap saat itu.
sarapan di Hotel
Pink Tulip Hotel
Sebelum ikut tour pukul 1 siang, kami berencana untuk berkeliling kota terlebih dahulu dengan tujuan utama adalah gedung parlemen (Ho Chi Minh City’s People Committee Building), Nguyen Hue walking street, opera house, kantor pos, gereja katedral, dan objek menarik yang ada di sekitarnya. Jarak dari Pham Ngu Lao menuju gedung parlemen dan gedung parlemen ini tidaklah jauh, bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan berjalan kaki. Pada awalnya, saya agak sedikit ragu jika harus ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi kenyataannya memang benar bahwa berjalan kaki disini tidaklah membosankan dan tidak terasa melelahkan. Mengapa begitu? Karena selalu ada hal baru yang bisa saya temui dan saya jadikan objek foto yang menarik.

Sesampainya di Nguyen Hue walking street, saya tak henti-hentinya berdecak kagum dengan suguhan pemandangan kota yang luar biasa indahnya. Pemandangan Ho Chi Minh City’s People Committee Building dengan arsitekturnya yang sangat menarik dan bentuk bangunan-bangunan di sekitarnya yang juga menambah indah pemandangan disana. Masih di area yang sama, terdapat patung Uncle Ho yang memang menjadi tokoh yang sangatlah dihormati disini. Nguyen Hue walking street menjadi salah satu spot favorit untuk berfoto bahkan bagi warga Vietnam/Ho Chi Minh City itu sendiri, terbukti saat kami berada disana terlihat banyak anak muda yang sepertinya ingin membuat foto buku tahunan dengan pakaian khas adat Vietnam (sok tau!) haha. Kami pun iseng untuk meminta foto bersama mereka dan mereka pun tampak senang saat kami ajak berfoto. Say cheeseee….!! :D
gedung parlemen Ho Chi Minh City
Gatotkaca numpang foto ya...
aheeeey...
Hunting foto dan jeprat-jepret narsis pun berlanjut. Pada saat kami sedang asik berfoto, tiba-tiba seseorang turis asing menegur saya “hello, are you from pink tulip hotel?” dan saya pun meng’iya’kan pertanyaan si bule tersebut. Saya langsung mengenali wajah si bule ini, karena saya melihatnya saat sedang sarapan pagi di hotel. Mulai dari sanalah saya berkenalan dan saling mengenal satu sama lain dengan turis berkewarganegaraan New Zealand ini yang bernama Terry.

Selama pembicaraan berlangsung ada yang membuat saya salut sama Terry ini. Terry adalah seseorang yang sedang mengeksplor wilayah Asia Tenggara seorang diri! Solo traveler! Vietnam menjadi destinasi ketiganya setelah Thailand dan Kamboja. Dimana setelahnya dia akan melanjutkan perjalanan menuju Myanmar, Laos, dll. Cool! Bayangkan saja, menurutnya dia mengambil cuti kerja selama satu bulan untuk bisa menjelajahi seluruh negara bagian Asia Tenggara dengan santai dan tidak terburu oleh waktu. Terlebih dia melakukan perjalanan seorang diri tanpa ada tekanan dari siapapun, bebas melakukan apa yang dia suka dan apa yang dia mau. Itu keren! (*saya saat ini hanya bisa berandai-andai “kapan saya bisa seperti dia?”).

Kami semua berjalan menuju arah yang sama yaitu opera house, kantor pos, dan gereja katedral. Jarak dari gedung parlemen menuju opera house tidak jauh, hanya berbeda block jalan saja dan kita bisa menemukan dengan mudah gedung opera house yang berdiri megah di seberang jalan. Lalu, dari opera house kami semua berjalan menuju ke gereja katedral dan kantor pos yang ditempuh sekitar 10-15 menit dengan berjalan kaki.
penjual kelapa disini niat banget di bentuk sampai kecil gitu...
Kantor pos Ho Chi Minh City mempunyai desain arsitektur khas Eropa, karena memang benar bangunan ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Prancis di Vietnam. Saat pertama kali masuk ke dalam kantor pos, kita akan disuguhkan oleh pemandangan lukisan dari Uncle Ho yang sangat besar di ujung lorong. Terdapat aktivitas kantor pos pada umumnya, mulai dari mereka yang mengirim surat, mengecap perangko, mengumpulkan surat-surat, dan lainnya. Di dalam kantor pos besar ini juga banyak yang menjual souvenir/oleh-oleh bagi mereka yang ingin membawa buah tangan dari Ho Chi Minh City atau bagi mereka yang ingin sekedar membeli kartu pos saja. Harganya pun menurut saya masih masuk di akal dan tidak jauh dengan harga pernak-pernik yang biasa dijual di Indonesia.
kantor pos Saigon/Ho Chi Minh City
lukisan Uncle Ho yang super besar!
lucu ya tempat ATM-nya
sibuk dengan urusannya masing-masing
berbagai souvenir yang bisa dibeli
Setelah dari kantor pos, kami berlanjut pergi ke gereja katedral yang berada di seberang jalan. Gereja ini menjadi pusat destinasi wisata di Saigon yang wajib dan harus dikunjungi. Ramai sekali suasana di sekitaran gereja ini mulai dari mereka yang ingin sekedar melihat-lihat, berfoto selfie, sampai pre-wedding. Kami sempat masuk ke dalam untuk berfoto dan sekedar melihat isinya. Gerejanya ternyata sangatlah besar dan bergaya arsitektur khas Eropa klasik (*cieeelah kayak pernah ke Eropa aja ki!). haha… Namun disini ada pembatasan area kunjungan wisata, jadi kita memang tidak bisa semena-mena masuk ke tempat yang memang seharusnya digunakan untuk beribadah ini. Tapi itu semua cukup terpuaskan dan terbayarkan apa yang disuguhkan disana kepada saya dan para wisatawan lainnya.
Terry berfoto2...
harus dan wajib ke sini 
tinggi dan megah

bagus dalem gerejanya
dapet temen baru!
Tidak terasa saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang dan saya memutuskan harus berpisah dengan Terry. Saya kembali berjalan kaki ke Pham Ngu Lao menuju kantor TheSinhTourist untuk mengikuti tur Cu Chi Tunnel setengah hari. Panas memang cuaca saat itu sama seperti di Jakarta dan dehidrasi pun melanda. Swalayan disambangi dan softdrink pun terbeli untuk melepas dahaga di tengah hari bolong saat itu. Fanta rasa sarsi. Hahaha… Apaan tuh? Yaudah dibeli aja. Emang niat kesini pengen nyoba yang aneh-aneh dan gak ada di Indonesia. Rasanya? Kalo yang pernah nyoba Marjan rasa Moka ini hampir mirip cuma ditambah soda aja. Ya masih bisa diterima lah ya rasanya.
rasa Sarsi.. hahaha
Sesampainya di kantor TheSinhTourist kami langsung melakukan check-in terlebih dahulu (*ya keren lah ya ini sama kayak mau naik pesawat). Haha. Proses tur dari TheSinhTourist menurut saya sudah super profesional, dengan tata cara yang rapi dan detail. Kami harus check-in terlebih dahulu untuk bisa mendapat konfirmasi keberangkatan dan mendapatkan air mineral serta tisu basah. Tidak pakai ngaret, tepat pada pukul 1 siang bis datang dan kami pun berangkat. Saya ingat kalau tidak salah perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit – 1 jam lamanya. Selama perjalanan guide pun menjelaskan bermacam-macam hal, nahum sebenarnya saya juga tidak terlalu mengerti walaupun si guide menjelaskan dengan bahasa Inggris. Kenapa memang? Si guide memang berbicara menggunakan Bahasa Inggris tapi masih dengan aksen/logat khas Vietnam yang medok banget. Jadi ucapan/ejaan Inggrisnya seperti diseret atau tersamarkan. (*jadi saya seperti sedang belajar di dalam kelas Inggris, memperhatikan si dosen/pembicara dengan raut muka berfikir keras apa yang diucapkannya) haha…

Selama perjalanan menuju Cu Chi Tunnel menurut kami tidaklah asing, pemandangannya sama persis bagi yang sudah pernah berwisata ke arah Gunung Kidul di Yogyakarta. Hahaha… gersang dan panas! Sesampainya di lokasi kami langsung berkumpul dan mendengarkan semua penjelasan dari guide. Nah entah mengapa kali ini si guide berbicara dengan lafal yang lebih jelas ketimbang tadi saat berada di dalam bis.
tiketnya keren euy!
ya kaaan kayak di Gunung Kidul mau ke arah pantai... Haha..
sesi pertama, mendengarkan penjelasan
Jadi, Cu Chi Tunnel ini adalah tempat persembunyian tentara Vietkong yang super aman dan berbahaya bagi musuh-musuhnya. Tentara Vietkong ini bersembunyi di bawah tanah dengan ukuran ruangan yang super sempit menurut saya (*bukan karena saya berbadan XL ya ini), tapi memang untuk ukuran orang yang kurus pun menurut saya ini memang super sempit dan panaasss!!! Tyas mencoba untuk masuk ke dalam tempat persembunyian ini dan katanya memang lembab dan panas di dalam sana. Saya sebenarnya ingin mencoba masuk, tapi saya ragu kalau saya nyangkut dan malah tidak bisa keluar dari sana. Hahahahaha…
Tyas yang muat masuk
Tur berlanjut menuju menuju spot ranjau yang digunakan tentara Vietkong untuk menjebak musuh-musuhnya. Sampai pada satu lokasi yang saya memutuskan untuk masuk ke dalam lorong tempat persembunyian tentara Vietkong di Cu Chi Tunnel ini. Dan benar saja, di dalam memang sangat sempit dan bernafas pun sulit karena hanya sedikit ventilasi udara yang dibuat di terowongan ini. Kami yang masuk harus berjalan jongkok mengikuti alur dan jalan terowongan yang tidak dirubah sama sekali demi kepentingan wisata. Jadi benar-benar bentuk aslinya yang sama digunakan untuk hidup dan tinggal oleh tentara Vietkong.

Pada akhir tur, kami semua diberikan sebuah hidangan yang menjadi makanan sehari-hari oleh tentara-tentara Vietkong saat berperang melawan penjajah yaitu singkong rebus dengan cocolan gula dan kacang. Haha… Saya gak mau komentar ah sama yang satu ini. Hehe..
salah satu perangkap yang dibuat tentara Vietcong
satu rombongan tour
eaaaaa... tapi enak kok..
Setelah semua tur Cu Chi selesai, kami kembali ke kota Saigon di sore hari. Mencari makan adalah tujuan utama kami, yang lagi-lagi kami kebingungan setengah mati untuk memutuskan makan apa dan dimana. Yang pada akhirnya kami kembali menyambangi warung yang tidak jauh letaknya dari penginapan di Pham Ngu Lau. Saya memesan bihun daging dan Tyas memesan bihun udang. Rasanya? Ya tidak jauh berbeda lah ya dengan rasa yang familiar di Indonesia. Kami pun mengakhiri hari dengan berbaring di kasur hotel.
Indomie everywhere.....
Indomie everywhere.....
bihun ayam rasanya nggak asing
bihun udangnya enak
PENGELUARAN HARI KE-4
Tur Cu Chi Tunnel: 89.000 VND
Fanta: 7.000 VND
Makan Malem: 35.000 VND
TOTAL: 131.000 VND


lanjut ke perjalanan seharian penuh yang sangat seru

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+