Pinus-Pinus Imogiri yang Saling Berbisik!

September 09, 2016

Bagi yang pernah ke Kebun Buah Mangunan pasti tau tentang keberadaan objek wisata satu ini. Ya Hutan Pinus Imogiri, menjadi salah satu objek wisata yang wajib lo datangi ketika berada di daerah Dlingo, Imogiri, Bantul. Hamparan area hutan pinus yang sangat rindang akan membuat pikiran tenang dan nyaman. Objek wisata ini menurut gue sudah well-organized dengan adanya biaya tiket masuk yang digabung dengan biaya parkir kendaraan di sana. Lahan parkirnya cukup memadai untuk menampung banyak kendaraan roda 2, roda 4, dan bahkan bis pariwisata. Untuk roda 2, tiketnya dikenakan 6.000 Rupiah dan roda 4 tiketnya sebesar 10.000 Rupiah.

Di kawasan hutan pinus ini lo juga bisa menyewa hammock untuk digunakan berfoto ataupun sekedar bersantai, biayanya sekitar 10.000 Rupiah. Jika terus mengikuti jalan setapak yang ada di hutan pinus, maka lo akan dibawa menuju ke puncak tebing. Ada 2 gardu pandang yang bisa dinaiki untuk menikmati pemandangan dari atas ketinggian. Ketika berada di kawasan hutan pinus Imogiri, seringkali gue melihat ke arah atas. Melihat ranting-ranting pinus yang saling beradu, berdecit terkena sapuan angin, seolah mereka sedang berbicara satu sama lain dan membicarakan kami-kami yang sedang berada di bawahnya. Bayangan itu terus muncul, ratusan pohon-pohon pinus raksasa yang bisa berbicara dan kami adalah liliputnya yang sedang mampir ke rumahnya.

Gue berkunjung pada tanggal 18 Agustus 2016, bukan tanggal merah dan bukan weekend. Suasananya masih terbilang ramai untuk weekday, gue nggak bisa membayangkan betapa membludaknya manusia di sini ketika weekend atau hari libur.

hutan pinus imogiri
area kawasan hutan pinus Imogiri
gardu pandang hutan pinus
gardu pandang yang ada di kawasan hutan pinus Imogiri
spot foto hutan pinus imogiri
area berfoto-foto favorit di sini
jaga kebersihan di tempat wisata
tetap jaga kebersihan ya!
Jajaran kios-kios penjual makanan dan minuman berada di area parkir. Ketika pertama kali datang, ada satu warung dengan papan menu yang menarik perhatian gue di sana. Di papan menu tersebut bertuliskan “Tiwul Sambal Terong”! Bagi yang belum tau tiwul, tiwul adalah makanan khas daerah Gunung Kidul yang dahulu dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Tiwul terbuat dari singkong yang ditumbuk menjadi lembut. Gue udah sering makan, namun yang gue tau kalau tiwul biasanya dicampur dengan gula merah. Jadi singkong yang setengah matang ditumbuk bersama gula merah, diaduk, dicampur menjadi satu, dan kemudian ditanak lagi hingga benar-benar matang dan gula merahnya pun meleleh bercampur singkong tumbuknya. Nah ini yang menarik nih, tiwul dengan sambal terong? Gimana rasanya ki? Setelah mencicipinya, ternyata singkongnya ditumbuk tanpa menggunakan gula merah. Jadi rasanya plain dan tekstur tiwulnya lebih keras. Tapii… yang bikin enak ketika dimakan dengan sambel terangnya, maknyus! Jadi memang nggak salah jika dahulu tiwul ini dikonsumsi sebagai pengganti nasi oleh warga Gunung Kidul.

ini nih warung yang jualan tiwul sambel terong
ini tiwul dan sambel terongnya, enak lo rasanya!

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK

Member of

ID Corners