Bori Kalimbuang: Peninggalan Batu Menhir Zaman Megalitikum di Toraja Utara

6:40:00 AM


“Emang nggak bayar?”
“Ini kok loketnya kosong nggak ada orang?”

Masuk ke Bori Kalimbuang ini nggak gratis ya, ini cuma pas gue ke sana aja kebetulan lagi nggak ada penjaganya. Bukan karena apa, tapi ternyata di area belakang tempat wisata Bori Kalimbuang ini sedang ada rapat pariwisata tahunan, jadi semua orang sedang berkumpul di sana. Tahu hal demikian karena bertemu dengan seorang wanita yang tampak bersemangat saat bertemu kami dan menjelaskan beberapa hal tentang Bori Kalimbuang ini.

Bori Kalimbuang merupakan sebuah area dari susunan batu menhir peninggalan zaman megalitikum. Lalu kenapa semua posisi batunya bisa rapi dan berdiri tegak seolah ada yang menatanya? Ya, memang betul, batu-batuan yang berdiri di Bori Kalimbuang memang dibentuk dan ditata sedemikian rupa oleh manusia. Tujuannya dari dibuatnya batu menhir ini adalah untuk menghormati para pemuka adat atau bangsawan kala itu yang sudah meninggal. Semakin tinggi batu menhirnya, maka menunjukkan bahwa ia semakin dihormati derajatnya. Prosesnya sama seperti membuat kuburan batu yang membutuhkan biaya besar, mendirikan batu menhir ini juga katanya harus mengorbankan minimal 24 ekor kerbau (bahasa Torajanya adalah Tedong). Nggak hanya harus mengorbankan kerbau, tapi katanya ritual untuk mendirikan sebuah batu ini sangatlah panjang hingga berbulan-bulan dan membutuhkan tenaga manusia yang banyak. Tapi diluar itu semua, poin utamanya dari dibangunnya Batu Menhir ini adalah sifat gotong royong dan kebersamaannya, sesulit dan seberat apapun bisa dilakukan jika kita bisa bekerja sama dengan yang lain. Nice!
Bori Kalimbuang terlihat dari jalan raya
Loketnya itu di sebelah kanan ( lagi nggak ada yang berjaga)
Batu-batuannya nggak semua sama tinggi
Di area wisata Bori Kalimbuang ini juga terdapat kuburan batu, baby graves, dan rumah adat Tongkonan dengan 1000 tanduk kerbau. Jarak satu lokasi ke lokasi yang lain nggak jauh, mungkin hanya sekitar 500-700 meter aja. Di tempat ini, pertama kalinya gue melihat kuburan bayi (baby grave), yang di kubur bukan di tanah atau di batu, melainkan di pohon. Pohon yang digunakan adalah pohon tarra yang ukurannya gede banget dan katanya bayi yang boleh dikuburkan di sana harus di bawah 6 bulan. Kenapa pohon tarra? Ya, katanya pohon ini punya banyak getah yang diibaratkan sebagai pengganti ASI, jadi seolah-seolah kita mengembalikan si bayi ke rahim sang Ibu. Lalu, minimal bayi 6 bulan karena usia tersebut dianggap masa kehidupan yang masih suci dan belum ada dosa. Prosesnya sama seperti menguburkan jenazah di batu, pohon itu dilubangi seukuran bayinya dan kemudian ditutup dengan ijuk. Keren ya Indonesia, punya berbagai macam adat yang sangatlah beragam dan unik!
Satu tempat 3 objek wisata
Kuburan batu di Bori Kalimbuang
Ini kuburan lo, meriding juga kalau kelamaan di sini
Nah itu, yang berbentuk kotak hitam itu adalah ijuk sebagai penutup kuburan bayinya
Rumah Adat Tongkonan dengan 1000 tanduk kerbau
Posisi terjauh adalah rumah adat Tongkonan dengan 1000 tanduk kerbau, yang sama saja seperti di Pallawa atau Kete Kesu. Namun, bukan rumahnya yang menarik perhatian gue, tapi selama berjalan kaki menuju tempat tersebut, gue ngelewati banyak pohon cokelat yang sepertinya tidak diurusi oleh pemiliknya. Buah-buah cokelat banyak banget yang berjatuhan di tanah dan terurai begitu saja. Ah sayang sekali, padahal di tempat lain cokelat bener-bener diolah dengan baik dan menjadi oleh-oleh khas. Nah, ada yang lucu lagi nih, kalau di Jawa kan banyak kandang sapi kan ya dan kedengaran dari jalan “mooo…mooo….”, tapi di Toraja nggak, karena yang ada adalah kandang babi. Makannya gue agak sedikit kaget pas tiba-tiba denger suara “groook….grooook….” kenceng banget, gue kira genderuwo lagi ngorok siang-siang. It’s a new experience for me!

Bori Kalimbuang sayang banget dilewatin kalau lagi main di Toraja, terlebih lagi lokasinya juga termasuk mudah dicari dan ditemukan karena berada di pinggir jalan persis.

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+