Blusukan ke Pasar Prawirotaman: Lihat dan Nyobain Pentil!

November 26, 2017

mi pentil pundong bantul

Main ke Jogja 2 hari 1 malam, gue menginap di salah satu guest house di Jalan Prawirotaman, namanya Kampoeng Djawa Guest House. Gue udah dua kali bermalam di sini, harganya pas di kantong (untuk tidur malam doang kan?), lingkungannya bersih dan termasuk nyaman. Apalagi lokasi guest house ini yang menjadi pertimbangan utama kenapa gue pilih buat tidur di sini. Seperti yang udah gue sebut di atas kalau lokasinya ada di Jalan Prawirotaman, sebuah jalan satu arah yang terkenal dengan julukan “kampung turis”-nya Jogja. Kalau di Jakarta ada Jalan Jaksa, di Bali ada Jalan Legian/Kuta, nah di Jogja ada Jalan Prawirotaman. Sebenernya ada Jalan Sosrowijayan yang juga termasuk “kampung turis” di Jogja, tapi kasta dari Jalan Prawirotaman ini sedikit lebih tinggi.

Nah, pagi hari sebenenrya gue dapet sarapan nasi goreng dari guest house-nya. Tapi sebelum gue sarapan nasi goreng itu, sekitar jam 6 pagi gue udah bangun dan meluncur ke Pasar Prawirotaman yang jaraknya nggak jauh. Ngapain deh ki pagi-pagi ke pasar, kayak emak-emak lu! Niat awalnya sih karena pengen mencari jajanan buat dicemilin, pengen banget kue carabikang yang katanya ada yang jual di sana. Sampai di pasar sekitar jam setengah 7 pagi dan rame banget (iyalah ki, mereka dari jam 4 subuh juga udah beraktivitas, emangnya lau!).
suasana pasar prawirotaman
Pasar Prawiro Taman atau Pasar Prawirotaman yang bener ya?
pagi hari di pasar prawirotaman
seneng aja ke pasar, dulu sering diajak mbah putri soalnya
Seperti yang gue bilang tadi, pertama yang dicari ketika gue sampai di pasar adalah penjual kue carabikang. Muter-muter nggak nemuin juga, sampai pada akhirnya gue menyerah [update] yang ternyata baru dapet info dari temen kalau yang berjualan kue carabikang berada di gang sebelah selatan pasar, bukan di dalam pasarnya. Sampai gue bertemu dengan Ibu penjual keripik belut dan membeli 2 bungkus dagangannya seharga 22.000 aja, murah. Oke, gue lanjut jalan lagi memutari isi Pasar Prawirotaman ini. Jadi, di area depan pasar ini adalah penjual jajajan, di area tengah bagian sayur dan buah-buahan, bagian belakang yang berjualan basah-basahan (ayam, daging, ikan, dll), dan bagian samping pasar adalah area berjualan makan sarapan, bubur ayam, soto ayam, nasi rames, dll.
pasar prawirotaman jogja pagi hari
suasana di dalem Pasar Prawirotaman pagi hari
pasar prawirotaman pagi hari
endog asin, endog puyuh, endog kampung
jajanan pasar prawirotaman
hiyaaaaa...ini diaaa yang dicariii...
jagung grontol pasar prawirotaman
si Ibu penjual jagung grontol
Lanjut jalan lagi, gue bertemu dengan nenek penjual grontol di Pasar Prawirotaman. Tau grontol nggak? Grontol adalah makanan yang terbuat dari butiran jagung yang direbus dan dikukus, dimakan pakai parutan kelapa dan gula (mungkin di setiap tempat ini berbeda namanya). Gue beli sebungkus jagung grontol ini 5.000 aja buat dimakan di penginapan nanti. Lanjut jalan lagi gue ke arah depan Pasar Prawirotaman dan gue melihat sesuatu yang baru sekaligus bikin penasaran. Rasa penasaran itu yang menghentikan langkah gue di sana, tepat di depan dagangan seorang Ibu yang ramah ketika gue bertanya “Ini apa Bu?”.

Jadi, ternyata si Ibu menjual Bakmi Pundong atau Bakmi Pentil Pundong. Dijelaskan si Ibu-nya kalau makanan ini asalnya dari Kecamatan Pundong di Bantul. Bahan dasar dari pembuatan mi ini adalah pati ketela, dimana pati ketela ini menjadi sumber penghasilan utama masyarakat Pundong sana. Bentuk serta tampilan dari Mi Pundong ini terbilang unik dari mi lainnya, karena punya dua warna berbeda yaitu putih dan kuning. Ukuran mi-nya panjang tanpa terputus (baru diputus ketika ada yang membeli) dan relatif lebih tebal. Gue beli sebungkus Mi Pentil Pundong harganya 5.000 Rupiah aja, murah kan?
mi pentil pundong pasar prawirotaman
nah ini dia si Ibu penjual Mi Pundong yang ramah banget
Penyajian Mi Pentil Pundong dibungkus dengan daun pisang, ditaburi bawang goreng, dan ada sambel merah goreng di sana. Gue icip pas sampai di penginapan bareng dengan nasi goreng dari penginapannya. Rasanya gimana ki? Kesan pertama yang langsung terasa dari Mi Pundong ini adalah kenyil-kenyil. Iya, tekstur mi-nya kenyal banget, jauh lebih chewy daripada tekstur kuetiaw biasanya. Tekstur dari Mi Pundong ini (mungkin) nggak cocok di lidah semua orang, ada beberapa yang mungkin suka, tapi ada juga mungkin yang nggak suka. Aneh memang di lidah ketika bertemu tekstur Mi Pundong ini, terlebih lagi mi-nya ternyata nggak ada rasanya, gurih pun nggak. Nah, tadi kan gue bilang kalau Mi Pundong ini punya dua warna yang berbeda, putih dan kuning. Jangan harap ada perbedaan dari rasanya, karena keduanya sama aja, plain. Mungkin hanya diberi pewarna aja (semoga alami ya), supaya tampilan dan penyajian Mi Pundong ini lebih menarik lagi. Tapi semua itu akan berubah seketika menjadi enak saat si sambel merah gorengnya sudah tercampur ke Mi Pundongnya. Tekstur “aneh” kenyal kenyil itu tertutupi dengan rasa sambel merah goreng yang seakan menjadi pendobrak rasa dari Mi Pentil Pundong ini.
mi pentil pundong khas bantul
si Pentil dicampur sambel makin enak
Nah, dari tadi kenapa kok gue sering nyebut “pentil” atau “Mi Pentil Pundong”? (jangan piktor ya, tapi sebenernya alasannya “dirty sih). Iya, setelah gue cari tau di internet mengenai asal usul Mi Pundong ini, kenapa disebut juga dengan Mi Pentil adalah karena tekstur “kenyil” atau chewy tadi saat digigit.

Ada satu lagi yang mungkin kalau gue tau duluan, jadi agak gimana gitu pas nyobain Mi Pentil Pundong ini. Apa ki? Yaitu proses pembuatannya. Udah ketebak belum? Oke, jadi adonan atau bahan dasar berupa pati ketelanya supaya mendapatkan tekstur kekenyalan yang pas harus diolah dengan cara “diinjak-injak”. Nah, ini yang nggak gue tau, “katanya” zaman old begitu proses pembuatannya di daerah Pundong Bantul sana, semoga sih di zaman now cara pembuatannya udah nggak “diinjak-injak” lagi ya.

Kesimpulannya adalah bahwa Mi Pentil Pundong yang gue beli di Pasar Prawirotaman dan gue makan buat sarapan itu rasanya enak. Enak setelah bertemu dan bercampur dengan sambel merah gorengnya. Mi Pentil Pundong ini juga terasa mengenyangkan yang mungkin efek dari tekstur “kenyal-kenyil” itu tadi. Selamat blusukan dan selamat mencoba Mi Pentil Pundong!

Mi Pentil Pundong : Rp 5.000 (7.5 dari 10)

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK

Member of

ID Corners