Kampung Jawa Resto, Ngaglik, Sleman: Makan Asyik Ditemani Suara Misterius

November 24, 2017

kampung jawa resto

Di review sebelumnya gue menuliskan kekecewaan pada salah satu tempat makan sekaligus warung ngopi yang ada di Pakem, Sleman. Nggak puas dan sebel, membuat gue mencoba mencari pengganti kekecewaan itu, maka pergilah gue ke salah satu tempat makan “berkonsep sama” yang terletak di daerah Monjali, Yogyakarta, nama tempat makan itu adalah Kampung Jawa Resto. But how? Apa iya bisa menjadi pengganti mood gue yang rusak sebelumnya?

Oke, sebenernya jauh hari sebelum pergi ke Jogja, gue udah memutuskan buat mampir ke Kampung Jawa Resto ini, gue mengikuti timeline foto-foto dari akun Instagramnya (@kampungjawa.yk). Terlihat banyak posting-an foto yang menarik dan memang benar begitu adanya ketika sampai di Kampung Jawa Resto ini selepas waktu Maghrib. Seperti yang gue bilang di awal, bahwa Kampung Jawa Resto ini punya konsep yang nggak jauh berbeda dengan Klinik Kopi, yaitu nuansa kayu dari rumah Joglo yang khas. Lokasinya ada di daerah Monjali, tepatnya di Jalan Watugede, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, sebuah jalan yang banyak restoran dan tempat makan asyik di sini. Tapi walaupun gue ke Kampung Jawa Resto ini di malam Minggu, ternyata suasananya nggak seramai yang dibayangkan (dalam konteks positif ya ini). Maksudnya, dengan kondisi yang nggak ramai ini justru bisa membuat kita benar-benar merasakan atmosfer asli yang ditawarkan restorannya.
kampung jawa resto monjali
tampak depan rumah makannya, "wa"-nya mati! haha..
kampung jawa resto ngaglik
ini area depannya, nuansa kayu langsung terasa pas pertama kali masuk
Nah, asyiknya makan di Kampung Jawa Resto ini adalah kita mengambil makanannya sendiri. Mulai jenis nasi sampai lauk-pauknya kita bisa ambil sendiri di meja yang panjang banget (pusing dah lo yang suka makan). Pilihan jenis nasi di Kampung Jawa Resto ini ada 3 macam, nasi putih biasa, nasi merah, dan nasi jagung. Lauk pauknya rata-rata adalah makanan rumahan, mulai dari bihun goreng, terong balado, telur dadar, dll. Oh iya, ada yang nggak gue notice nih pas lagi asyik ambil makanan, bahwa ternyata Kampung Jawa Resto ini juga menyediakan menu selain prasmanan, pilihannya ada nasi goreng, bakmi godog/goreng, bihun godog/goreng, dan lainnya. Padahal kalau gue tau sebelumnya, lebih baik gue pesan menu itu, sepertinya enak di udara malam yang dingin makan mi godong hangat.
kampung jawa resto sleman
makannya ki liat spanduknya noh!
kampung jawa resto jogja
lauk pauk seabrek-abrek di meja
Oke itu nggak terlalu masalah buat gue. Menu makan prasmanan yang gue ambil adalah nasi jagung, terong balado, telur dadar, bihun goreng, tahu bacem, sambel plus kerupuk putih (ebuseet ki, makan apa kesurupan lau). Asyiknya lagi adalah piringnya pakai piring seng dengan motif bunga zaman old yang khas banget (inget makan di rumah mbah). Begitu juga dengan cangkir mungil sebagai wadah saji susu jahe hangat yang gue pesan. Rasanya gimana ki? Jujur aja ya, rasa masakan Kampung Jawa Resto ini emang “rumahan” banget. Rasa masakan yang mungkin udah sering kita rasakan dari masakan Ibu di rumah, mulai dari terong baladonya, bihun gorengnya, sampai tahu bacemnya. Oh ya, mau ngasih tau aja kalau nasi jagung di Kampung Jawa Resto ini berbeda dari ekspektasi nasi jagung yang pernah gue coba. Nasi jagungnya bukan seutuhnya dibuat dari jagung (jagung yang ditumbuk halus), melainkan nasi yang dicampur dengan butiran jagung. Nggak masalah juga sih, mungkin jenisnya memang berbeda dari apa yang sering gue makan di rumah mbah. Tapi, andaikan nasi jagungnya ini bisa dibuat lebih gurih (nggak plain), mungkin bakalan lebih nikmat.

kampung jawa monjali
piring gue sebelah kiri kok, yang kanan punya temen. percaya kan sama gue?
kampung jawa ngaglik
lucu ya cangkirnya, abaikan tangan yang mirip ulekan sambel

Ada satu hal yang bikin sensasi makan di Kampung Jawa Resto ini “meledak” enak nggak karuan, hal itu berasal dari sambelnya. Beuh, ajegile pedasnya nggak main-main. Gue lupa ambil sambel jenis apa, kayaknya sih sambel bawang. Pertama kali yang uring-uringan kayak orang kesurupan adalah temen karena dengan percaya dirinya nyampur makanannya dengan sambel ijo yang dia ambil. Paniknya bukan main, sampai gue ketawain “elah, gitu aja lebai deh!”, sambil gue nyendok nasi pakai sambel bawang yang ada di piring gue. 10 detik pertama, biasa aja. 20 detik setelahnya, pedasnya enak nih. Oke, lanjut ke suapan kedua dengan sambel bawang itu lagi dan kali ini nggak perlu detik-detikan, seketika mulut langsung kebakaran! Aaaaaaaaaa….. pedes binggo. Tapi ini yang bikin nafsu makan naik dan nikmat, nyuap pakai sambel itu terus sampai pada akhirnya menyerah dan lari ke depan pesan minuman. Mungkin si mbaknya ngeliat gue keringetan, lari-lari, mulut ngas-ngos-ngas-ngos kali ya, jadi pesanan es kolang-kalingnya datang cepet banget ke meja.

Oke, lumayan berhasil es kolang-kalingnya mengurangi rasa pedes di mulut, tapi rasa es kolang-kalingnya terlalu manis (banget malah) dan sirup melon sebagai campurannya yang bikin tampilannya berwarna hijau muda. Nggak perlu berlama-lama, 20 menit setelah makan pakai sambelnya Kampung Jawa Resto ini perut langsung panas, arghhhh. Tapi ini hal positif, justru gue suka sama tempat makan yang berani bikin sambel “beneran pedes”, bukan sambel yang pedasnya lucu-lucuan aja di mulut.
kampung jawa sleman
nih nih biang keladinya, yang kiri sambelnya lebih gelap dan yang kanan lebih merah
resto kampung jawa monjali
penyembuh luka yang terlalu manis
Bahas makanan kelar, sekarang gue mau cerita suasana di Kampung Jawa Resto Palagan ini. Awalnya gue duduk di rerumputan bagian depan, dimana kursinya terbuat dari ban bekas unik banget. Asyik juga di sini, tapi ketika di bagian tengah ada yang udah kelar makan, gue pun pindah ke bagian tengah yang sama asyiknya. Kursi besi jadul dengan pelapis busa berwarna turquoise membuat perpaduan warna di area taman Kampung Jawa Resto semakin cantik. Jadi secara keseluruhan area dari Kampung Jawa Resto ini 60%-nya outdoor dan 40%-nya indoor. Di salah satu sudut pinggir tamannya kita bisa melihat proses memasak bakmi Jawanya, karena ada gerobaknya di sana, aroma kenikmatan bakal tercium dari segala penjuru ketika mereka mulai memasak. 

Gue nggak tau suasana siang atau menjelang sorenya di Kampung Jawa Resto ini bagaimana, tapi yang jelas di area outdoor-nya ada sejumlah pendopo/gubug yang bisa dipakai ketika matahari lagi panas terik. Di salah satu sudut area indoor-nya juga ada spot khusus bagian kopi yang lengkap dengan mesin brewing-nya. Kemarin pas gue ke sini sekitar akhir bulan Oktober 2017, Kampung Jawa Resto belum punya Wi-Fi. Tapi sekarang (dikonfirmasi langsung di Instagramnya) mereka udah pasang Wi-Fi, cocok banget buat ngerjain tugas kampus atau kerjaan.
resto kampung jawa
awalnya gue mau duduk di area ini
resto kampung jawa ngaglik
tapi pindah ke tengah sini
kampung jawa resto di sleman
nih gerobak bakmi Jawanya
restoran kampung jawa jogja
asiiiik kan tempatnyaa....
restoran kampung jawa sleman
btw, mereka nyetel tembang jawa lo sayup-sayup

restoran kampung jawa di jogja
itu pojok bagian kopi-kopiannya
harga makanan di kampung jawa jogja
ini berdua habis segini, masih termasuk murah lo mengingat apa yang didapat
Terakhir, jangan kaget ketika makan di Kampung Jawa Resto kalian bakalan denger “suara misterius” yang bikin kaget kalau denger pertama kali. Suara yang datang dari kegelapan arah belakang taman, nggak ada penampakannya, tapi bisa kita dengar suaranya. Hayolooo, apaan tuh? Iya, jujur gue juga kaget pertama kali denger, suara itu belum pernah gue tau sebelumnya. Pertama kali gue pikir itu adalah suara dari burung kakaktua, tapi ternyata bukan. Setelah bertanya kepada salah satu pegawainya, bahwa suara misterius itu berasal dari burung merak putih. Hah, burung merak putih? Iya, suara burung merak putih yang terdengar ini ternyata milik tetangga belakang Kampung Jawa Resto. Kesimpulannya, bahwa Kampung Jawa Resto ini menjadi tempat makan yang bisa gue rekomendasikan buat kalian yang mau nyari makan di Jogja dengan “nuansa rumah” dan “njawani”. Selamat makan!
sumber: http://www.walkindonesia.com

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK