Take a Break! I'm Down!

February 21, 2018


Hello guys,
Sepertinya dalam kurun waktu satu bulan ke depan saya akan menyicil dalam memposting artikel. Banyak artikel yang tertunda memang seperti Trip Pengalengan dan Trip Beijing kemarin. Ditambah dengan banyaknya draft berbagai artikel yang juga menumpuk untuk diedit dan dibaca ulang sebelum di publish.

Semenjak pulang dari Beijing di akhir bulan Januari kemarin, kondisi badan menurun dan masih belum fit sampai saya memposting artikel ini. Pertama kali berobat ke Klinik di BSD nihil hasilnya, kedua berobat ke dokter umum di Rumah Sakit Islam Jakarta juga nihil hasilnya. Saat itu, pekerjaan di kantor pun saya tidak bisa atasi, hampir 2 minggu saya tidak masuk kerja. Saya sempat masuk ke kantor satu minggu setelahnya dalam keadaan badan yang lumayan membaik, tapi ternyata saya pun drop lagi. Hari Selasa 20 Februari kemarin, saya pun pergi berobat ke Rumah Sakit Mitra Keluarga di Bekasi. Pada awalnya saya disarankan oleh dokter untuk dirawat inap, tetapi saya menolak, saya meminta pemeriksaan tes darah lengkap dan melihat hasilnya hari itu juga. Kalau pun memang hasilnya buruk, saya bersedia untuk dirawat inap saat itu. 

Lalu, apa hasilnya? Dari 11 pemeriksaan laboratorium;

  1. Darah Rutin (Typus, DBD, dll)
  2. LED (Trombosit, Hemoglobin, Leukosit, dll)
  3. SGPT (Fungsi Hati/Liver)
  4. Ureum (Fungsi Ginjal)
  5. Creatinin (Fungsi Ginjal)
  6. Gula Darah Sewaktu
  7. Cholesterol Total
  8. Elektrolit
  9. Urin Lengkap
  10. Asam Urat
  11. Albumin (Protein Dalam Darah)
Tekanan darah normal dan hampir semua hasilnya bagus, bahkan sempat kaget sekaligus senang saat dijelaskan oleh dokter kalau kadar Gula Darah dan Kolesterol saya normal bahkan katanya cenderung baik. Tapi setelah itu dokter menjelaskan kalau ada yang buruk dalam diri saya yaitu pada hasil lab nomor 3 yaitu SGPT (Fungsi Hati/Liver). Kadar normalnya di dalam tubuh manusia adalah 0-41 U/L, tapi hasilnya 74 U/L. Dokter menjelaskan kalau kadar naiknya masih termasuk sedikit (bisa ada yang sampai 200-300) dan ini masih bisa disembuhkan, tapi bukan dengan medis, melainkan merubah pola hidup sehat, penyakit ini disebut fatty liver (steatosis). Ya, Ibu saya langsung menangis mendengar hal ini dari dokter karena langsung teringat saat dulu (saat SD) saya juga pernah dirawat satu bulan lebih di Rumah Sakit, didiagnosa dokter terkena penyakit Hepatitis B (virus yang menjangkiti hati/liver). Nggak jauh-jauh dari masalah hati, haha... 

Setelah gue mencari tahu lebih lanjut tentang penyakit fatty liver di internet, jadi ini merupakan gejala ketika hati/liver sudah tertutup lemak lebih dari 5% dari total berat hati. Ya, emang nggak lain nggak bukan penyebabnya adalah berat badan yang berlebih dan asupan makan yang salah (makan makanan berminyak, berlemak, dan bersantan). Nah, yang ternyata memang sakit seperti ini harus benar-benar ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam, bukan dokter umum. Kenapa? karena di klinik dan dokter umum, mereka salah mendiagnosa penyakit saya ini, karena gejala penyakit fatty liver ini sama seperti gejala penyakit maag atau asam lambung.

Apa saja gejala penyakit fatty liver yang mirip penyakit maag atau asam lambung ini?

  • Mual dan muntah
  • Pusing
  • Rasa sakit pada perut bagian atas
  • Nggak nafsu makan
  • Penurunan berat badan drastis
  • Mudah lelah dan pegal
  • Mudah mengantuk
Ya, semuanya benar dan terjadi pada saya. Hampir satu bulan saya terus-terusan mual dan nggak nafsu makan. Melihat makanan atau foto makanan di Instagram, saya langsung mual, akhirnya unfollow semua akun-akun tersebut. Makan hanya bisa 2-3 suap, setelah itu perut sudah mual kembali. Berat badan pun turun drastis (nggak normal), hanya dalam satu minggu saya kehilangan 8kg. Kepala terkadang nyut-nyutan dan berat untuk berpikir sesuatu hal. Satu lagi yang paling terasa adalah mudah lelah dan pegal, itu terjadi ketika bangun tidur. Mulai dari ujung kaki sampai ke pundak, semua terasa sakit untuk digerakkan. 

Akhirnya, membuat saya harus beristirahat total kembali dalam waktu yang cukup lama. Terhitung dari hari Selasa kemarin sampai Minggu (25 Februari 2017). Berbekal resep obat yang diberikan dokter, saya bisa rawat jalan dan harus kontrol kembali satu minggu setelahnya. Makanan pun sekarang harus saya pilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk kesehatan saya. Sakit itu nggak bro/sist, selain menghambat aktivitas tapi juga menguras kantong untuk biaya berobat. Terhitung mulai dari berobat di klinik, dokter umum, sampai dokter spesialis, saya menghabiskan biaya sekitar 2,5 juta. Beruntungnya sekitar 1,5 juta bisa di cover oleh asuransi dari perusahaan, 1 jutanya lagi dibayar sendiri.

Oke, jadi saya cuma bisa mengingatkan kalau jangan terlena dengan semua makanan enak, seperti gorengan, makanan bersantan, berlemak, fast food, dll. Saya nggak bilang jangan makan semua itu, boleh, asal harus di kontrol dan jangan terlampau sering. Akibatnya nggak datang langsung, tapi akan tiba di kemudian hari, entah itu di umur 30, 40, atau 50-an. Saya masih bersyukur karena diperingatkan dan diberi sakit di usia 26 ini untuk bisa merubah pola makan hidup sehat setelahnya. Habis uang 2,5 juta untuk makanan sehat lebih baik bukan daripada untuk membeli obat-obatan? 

Keep healthy felas!

sumber image: https://wallpaper.wiki/

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK