Trip Report Hari Ketiga: Ahh..Uhh..Sakit! Kemudian Diketok Petugas Hotel di Beijing!

April 24, 2018



Hari ketiga benar-benar tumbang! Kaki sudah tau sakit dari semalam, tapi dipaksa buat jalan lagi. Ya gimana, masa iya satu hari di Beijing skip, padahal liburan juga sedikit harinya. Dengan percaya dirinya gue berjalan kaki dari hotel ke ujung gang tapi dengan kondisi yang masih terpincang-pincang, karena belagu “masih kuat kok…masih kuat”, akhirnya pun tumbang di salah satu sudut jalan. Bagian kaki yang sakit kalau dibuat berpijak udah beneran nggak bisa di toleransi lagi sakitnya (suer sakit banget!), kaki kanan nggak bisa lagi buat berjalan. Gue kebingungan saat itu, mau lanjut jalan salah, tapi pulang ke penginapan juga salah. Inilah mungkin untungnya kalau traveling berdua, dengan baik hatinya si Andi menyuruh gue untuk duduk di pinggir jalan dan memijit kaki gue pakai balsem. Iya di pinggir jalan dan aroma balsemnya kemana-mana! Di hari senin dan di jam berangkat kerja yang super sibuk. Hampir ada setengah jam gue dipijit kakinya sama Andi dan merengek kesakitan, karena memang benar-benar sakit. Dilihat setiap orang yang lewat? Pasti. Bahkan ada yang tersenyum ke gue, mengambil hp-nya, dan merekam apa yang dilakukan Andi ke kaki gue, haha malu cing! Selama dipijit gue berkata kepada temen gue kalau untuk tetap melanjutkan agenda sesuai dengan itinerary, tapi dia nggak mau. Padahal gue nggak masalah jika harus pulang dan istirahat di penginapan, tapi dia kekeh nggak mau jalan sendirian tanpa gue. Nggak mau mungkin bukannya kasihan sama gue, tapi nggak mau jalan sendiri karena takut nyasar, haha. Tapi kan keren tuh jadi punya tema sendiri “Lost in China”, ahay! Mulai dari sinilah sampai 2 minggu setelah pulang ke Indonesia gue berjalan terpincang-pincang, nggak tau kenapa, entah keseleo, salah urat, atau putus urat, yang jelas sakit banget kalau dibuat jalan.  

Oke lanjut, kaki sudah agak mendingan enak untuk dibuat berjalan menuju stasiun subway. Seperti yang gue bilang sebelumnya, pagi itu adalah hari Senin, hari dan jam kerja yang pastinya super sibuk. Petugas keamanan yang berjaga di stasiun subway banyak banget, sampai gue sedikit miss komunikasi dengan salah satu petugas, karena untuk turis nggak perlu double check setelah scanning tas di mesin. Gue yang mungkin dikira warga lokal (emang gue like a Chinese ya?), dipanggil oleh petugas dan gue nggak ngerti doi ngomong apaan, langsung gue bilang aja “I’m a tourist” dan si petugas pun langsung mempersilahkan gue pergi “Oh, yes…yes..!), lah kocak.

Destinasi wisata di hari kedua di Beijing adalah menuju Tiananmen Square dan Forbidden City. Masuk ke dalam gratis (nggak ada biaya tiket masuk sama sekali). Nah, sebenernya saat keluar dari penginapan rencananya mau mencari makan terlebih dahulu, tapi lagi-lagi nggak semudah yang dibayangkan. Sampai pada akhirnya dengan terpaksa daripada mati di China, gue makan di dalam komplek Forbidden City. Nama restorannya Tasty bla bla bla… karena pakai pinyin. Di sini gue makan nasi daging yang kalau di Rupiah-kan harganya sekitar Rp 78.000-an dan minumnya Milk Tea seharga 8 CNY (Rp 18.000-an) Hahahaha… mahal kan! Tapi untungnya nih ditolong sama rasanya yang menurut gue enak. It’s okey lah..

ini restorannya, tuh gue cuma bisa baca kata 'tasty' di sana
enak sih tapi mahal
Setelah perut kenyang, lanjut jalan lagi ke bagian dalam dengan kondisi kaki masih terpincang-pincang dan masih kesakitan. Areanya benar-benar luas dan sayangnya gue nggak bisa masuk ke dalam museum-nya karena saat itu lagi di renovasi. Kalau nggak masuk ke museumnya, menurut gue juga nggak masalah sih, karena kita juga udah bisa masuk ke dalam sebagian area Forbidden City secara cuma-cuma alias gratis. Ketika melewati pintu keluar, gue melihat ada yang menjual Tanghulu. Harga satu batang yang berisi 5 butir buah hawthorn berry harganya 6 CNY (Rp 13.000-an). Gue hanya mencoba 1, sisanya dimakan teman, terlalu manis takut sakit gigi, haha.

Ketika mau keluar agak odong nih, gue melihat ada mobil yang pertama kali gue pikir itu buat muter keliling Forbidden City-nya, tetapi setelah naik ternyata itu adalah mobil buat keluar sampai menuju jalan raya besar, hahahaha. Yaudah lah terlanjur antre, naik aja lah, eh pas lagi antre ada yang ribut-ribut, ada grup wisata emak-emak mau naik mobil dan mereka mau 1 grup naik dalam mobil yang sama. Ada 1 penumpang yang bukan grup turnya udah terlanjur naik dan nggak mau turun, dicas-cis-cusin sama Ibu-Ibu grup itu lama banget sampai penumpang yang bukan grupnya itu pindah mobil. Ribet elah emak-emak!

Jadi memang dari dalam komplek sampai ke bagian luar lumayan jauh kalau berjalan kaki, apalagi suhu udaranya lagi dingin banget dan kaki masih cenat-cenut sakit. Bener aja, pas turun di dekat danau, gue merasakan titik paling menggigil selama di Beijing. Tangan kebas buru-buru pakai sarung tangan, telinga sama bibir udah mati rasa, gue pakai deh itu syal nggak tau deh berbentuk apa. Pas lagi ribet menutupi badan, ada aja yang nawarin buat ke Great Wall dan doi notice dong gue dari Indonesia, doi langsung berkata “warm country, right?”, gue yang lagi sibuk ribet bilang no, no, thanks! Nggak gue gubris deh bodo amat, gue kedinginan!

mataharinya ngumpet-ngumpet malu
Dari pintu keluar yang ada Donghuamen Subway Station, gue jalan kaki menuju ke Wangfujing Street karena jaraknya nggak terlalu jauh. Sampai di lokasi, sempat takjub karena ini area khusus pejalan kaki, nggak ada kendaraan sama sekali. Banyak toko-toko besar dari brand-brand ternama di sini, sampai street food pun juga ada. Gue mencoba banyak makanan di sini, eh nggak banyak deh, karena termasuk mahal-mahal, haha.. Setelah perut terisi makanan yang nggak mengenyangkan, lanjut pulang ke penginapan buat check-in.

nah keluarnya lewat bangunan merah ini, sepertinya sih lagi renovasi gerbang masuk
banyak toko souvenir lucu sepanjang jalan
duh koh ci...
kapok nggak ya nginep di sini?
urusan makan semua nomor satu, rame banget!
sore hari di Beijing
Setelah sampai di penginapan dan check-in kelar, gue pun merebahkan badan dan kaki yang masih sakit. Teman berbaik hati mau memijit kaki gue lagi yang masih sakit menggunakan balsam. Gue yang dipijit malam itu, otomatis nggak bisa menahan rasa sakitnya. Aaah….uuuh....aaaah…awwww…nooo…that’s hurt! Hahahaha… Sampai jam setengah 11 malam dan gue baru sadar kalau suara gue TOA banget dan baru sadar ada tulisan tertempel di dinding tembok kamarnya “no pornography”. Bener aja dong.. dong.. dong..! Aneh banget, nggak berapa lama setelah gue selesai dipijit, pintu kamar gue ada yang ngetok. Iya jam 11 malam! Anjir, mampus! Pas gue buka pintu dan ternyata si mas petugas receptionist yang memberikan kembalian uang hotel karena salah hitung ketika check-in. Wait, something wrong deh ini! Make sense nggak sih ngetok kamar tamu tengah malam? Logikanya gini, kenapa nggak besok pagi aja pas gue lewat depan meja receptionist-nya, kan udah ngerti gue masih menginap 3 malam di sini. Aneh kan? Tanya kenapa?

tetep ya bawa Indomie!
Kalajengking: 20 CNY
Gurita: 20 CNY
Martabak: 10 CNY
Mochi: 28 CNY
Tempelan Kulkas 2 Pieces: 30 CNY
Pajangan Dinding: 59 CNY

You Might Also Like

1 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK