Perjuangan Penuh Drama Menuju Kampoeng Jazz 2018 di Bandung; Lari-Lari Mengejar Bus, Ngompol di Celana? Ewh!

Mei 09, 2018

kampoeng jazz 2018 di unpad


Nggak ada rencana sama sekali di akhir bulan pergi ke Bandung buat nonton konser Jazz. Cerita ini bermula ketika feedme.id mengadakan kuis di Facebook dan berhadiah tiket masuk Kampoeng Jazz 2018. Iseng-iseng mencoba ternyata GUE MENANG! Bayangkan acaranya di Bandung, di hari Sabtu tanggal 28 April, di mana di hari itu gue belum gajian dan masih belum jelas turun gajinya kapan, karena bisa jadi turun di hari Senin depannya.

Itinerary Super Kere ke Bandung
So? Gue akan tetap berangkat dengan rencana dadakan dan membuat itinerary serta perkiraan biaya menuju Bandung versi tanggal tua. Rencananya gue akan pulang pergi menggunakan bus primajasa dari Bekasi dengan biaya sekali jalannya hanya 60.000 aja, murah kan? Sampai di Bandung, gue akan meminjam motor adik (kebetulan lagi kuliah di sana) buat puter-puter selama di Bandung, karena gue pikir akan lebih boros kalau pakai Go-Jek, selain itu nggak praktis. Rencana juga akan sarapan di daerah Gor Saparua yang di sana banyak makanan enak dan harganya murah. Makan siang pun rencana akan pergi ke Warung Taru/Warung Inul, karena tempatnya asyik dan makanannya enak, terlebih harganya lumayan bersahabat. Malamnya, selesai jam 11, gue nggak mungkin menginap di hotel karena budget akhir bulan yang nggak menyanggupinya. Rencananya akan ngemper tidur di Masjid Raya Bandung yang katanya memang banyak yang menginap di sana kalau hari libur, menarik kan? Keesokan paginya langsung pulang ke Bekasi lagi, tanpa main dan ke sana sini. Done!

Wah pengen tau ki ceritanya, seru kayaknya! Iya memang bakalan seru sih, tapi rencana hanyalah rencana, yang ternyata mungkin gue harus bersyukur karena Tuhan belum menghendaki gue untuk semenderita itu pergi ke Bandung. Di H-1 sore hari gue mendapatkan kabar dari teman kalau gaji udah cair, iya cair di tanggal 27! Waaaawww… senangnya bukan main dong, Alhamdulillah. Akhirnya membuat gue sedikit merubah rencana “versi akhir bulan” yang udah dibuat sebelumnya. Tapi untuk pulang pergi ke Bandung gue tetap menggunakan bus primajasa dan makan siang gue akan tetap di Warung Inul. Tapi tentunya gue akan jadi tidur di Masjid ya, maka terpesanlah satu kamar hotel di daerah Pasteur dan terakhir di hari Minggu paginya gue akan jalan-jalan terlebih dahulu di Car Free Day Dago. Okesip berangkat!

Momen Mendebarkan Mengejar Bus
Hari Sabtu pagi, gue telat bangun dan baru berangkat dari rumah jam 5:40 pagi, suer deh ini kesiangan banget. Gue akan pergi ke Bandung berdua bareng teman dan kita naik Go-Jek sendiri-sendiri menuju Halte Bus Pasar Modern Harapan Indah dengan jarak dari sekitar 7 km. Driver Go-Jek gue datang duluan dan selama di jalan gue minta driver-nya supata agak cepat mengendarai motornya. Apesnya, udah 10 menit berlalu teman masih belum datang driver Go-Jeknya, padahal kita berdua mau mengejar bus jam 5 pagi. Waktu yang tersisa ada sekitar 20 menitan aja, sedangkan untuk perjalanan normal dari rumah ke halte bus itu sekitar 30 menit. Untungnya nih, si driver Go-Jek teman gue lumayan cerdas karena lewat jalan pintas belakang (shortcut) yang bisa memangkas waktu lumayan banyak. Tapi sebenarnya “yaudah lah” kalau memang nggak bisa naik bus yang jam 5, menunggu 1 jam lagi buat naik yang jam 6 juga nggak masalah”.

Tapi, drama kembali berlanjut setelah gue sampai di halte, bertepatan dengan bus primajasa yang mau berangkat dengan kenek yang memanggil-manggil gue “mas ayo mas berangkat!”. Gue bilang aja “duluan aja pak, saya nunggu temen”. Tapi setelah gue lihat live location teman yang udah dekat, gue lari dan teriak-teriak agar didengar sopir bus yang udah menjalankan bus-nya “bang ikut bang ikut!”, hahahahahah. Kemudian, bus berhenti di pinggir jalan dan gue pun naik, gue menelepon teman dan menyuruh bilang ke abang Go-Jek-nya supaya mengejar bus yang udah berangkat, walaupun masih bergerak pelan nggak jauh dari halte dan masih di dalam komplek perumahan. Lagi-lagi coi, pakai acara drama menyebalkan kayak sinetron! Teman yang naik Go-Jek melintas dengan indahnya di depan bus tanpa berhenti menuju ke halte yang udah berada di seberang jalan sana, elaaaah! Si kenek bus langsung bilang “mas itu ya temannya” dan si supir bus pun bolak-balik memencet klakson bus yang super kencang itu, tetap aja teman nggak ngeh dan si abang Go-Jek-nya tetap menyetir dengan percaya diri menuju halte.
 
Gue yang udah di dalem bus menelepon teman, yang brings*k-nya paka acara nggak bisa tersambung, akhirnya gue minta turun sebentar dan lari ke halte memanggil teman gue. Teriak-teriak lah selama menyeberang ke halte “woiii woii, woiii!!!” dan doi menengok sambil lari ke bus yang sedang melaju pelan. Gue dan teman pun naik ke dalam bus, berterima kasih ke si kenek, sopir, dan mengucapkan maaf ke penumpang lainnya yang udah di dalam bus dari tadi melihat gue yang heboh penuh drama. Berangkaaaat!

Bekasi – Bandung 6 Jam!
Baru aja masuk tol Bekasi Barat, jalan tol udah macet penuh kendaraan nggak gerak sama sekali, padahal masih jam 6 pagi, astaga! Padahal biasanya naik mobil jam segini masih lancar jaya. Boro-boro ngebut bus-nya, bergerak aja gue udah senang banget. A few hours later…… tidur ayam, bangun-bangun jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi dan itu MASIH DI PINTU TOL CIKARANG UTAMA! What the *&^@#$%$@$#@$@$!!! Berpikir sambil melihat jalanan yang penuh dengan mobil ditambah truk kontainer, ternyata gue baru menyadari KALAU INI ADALAH LONG WEEKEND!

Iya, hari Senin-nya adalah hari kejepit karena hari Selasa-nya libur tanggal merah, ditambah anak sekolah masih libur panjang, lengkaplah sudah tumpah ruah di jalan tol mobil-mobil plat Jakarta. Pasrah tanpa daya di dalam bus yang nggak bisa ngebut sama sekali. Mengobrol menjadi pemecah bosan saat itu, karena main hp pun semakin pusing. Sampai waktu terus berjalan sambil menertawakan diri sendiri karena berandai-andai jam 8 pagi udah bisa cari sarapan di Bandung. Laper banget, gimana nggak, gue semalam hanya makan 1 buah bakpia, minum air putih, dan langsung tidur. Begitu juga ketika subuh tadi mau berangkat, mana sempat karena terburu-buru mengejar waktu.

Selepas Tol Cikampek seharusnya gue mulai senang karena sering melintasi Tol Cipularang ini dan nggak pernah yang namanya bertemu kemacetan, kalaupun macet itu biasanya ada yang kecelakaan. Inget, sepadat-padatnya tol arah Bandung, itu nggak pernah namanya diam grak di tengah tol. Tapi hari itu nggak men! Berhenti total di tol, kalau nggak salah di sekitar Padalarang. Rasa kesal, rasa bosan, rasa lapar, rasa marah, rasa pusing karena kepala nyut-nyutan semakin menghantui, ditambah waktu yang sudah menunjukkan pukul 10 dan GUE BELUM SAMPAI BANDUNG!
kampoeng jazz 2018 di bandung
masih di Tol Padalarang aja, lama banget, nggak sabar, ketahuan nyetir sendiri
Padat merayap sepanjang Tol Cipularang yang penuh kendaraan, sampai gue agak senang ketika melihat papan penunjuk arah keluar Tol Pasir Koja, “akhirnyaaaa sampaiiii”, teman gue seketika nyolek dan bilang “keluar tol di dalam kota juga macet”, seketika mood drop lagi. Iya memang, keluar Tol Pasir Koja adalah perempatan besar lampu merah dengan counting yang lama, jadi membuat antrean panjang yang mengular sampai mendekati gardu tol. Gue bilang ke teman “kita turun sini aja deh, ke arah Terminal Leuwi Panjang masih banyak lampu merahnya!”. Oke, akhirnya gue turun dari bus di tengah kemacetan dan berjalan kaki menuju perempatan besar di depan untuk memesan Go-Jek.

Nggak lama setelah Go-Jek datang, gue pun melaju di bawah terik matahari Bandung yang menyengat, menembus kemacetan di jalan raya, berbelok melewati gang kecil menuju Stasiun Kereta Api Bandung. Ngapain ki kok ke stasiun? Iya di stasiun gue mau ambil motor adik yang bakal gue pakai selama 2 hari di Bandung, kebetulan juga doi lagi pulang ke Bekasi. Nah, dari stasiun gue langsung meluncur ke arah Dago Atas buat mencari makan pagi yang sudah telanjur siang.

Nasi Cikur Warung Inul
Untuk yang kedua kalinya gue balik lagi ke sini, iya nasi cikur-nya memang punya daya pikat yang kuat. Gue sampai di Warung Inul masih sekitar jam setengah 12 siang, suasananya masih terbilang sepi, barulah ketika selesai makan yang bertepatan dengan jam makan siang, warungnya perlahan mulai berangsur-angsur ramai. (review lengkap di sini)

Di Warung Inul gue dan teman memesan 2 porsi nasi cikur, ayam & tahu pepes, cah kangkung, 2 buah tahu goreng, kerupuk, dan 2 gelas nutrisari. Pas bayar totalnya 100.000, nah loh, nggak kaget sih (karena udah gajian, haha sombong!). Tapi aneh aja makan berdua bisa habis Rupiah segitu, apa yang membuatnya mahal? Setelah bon gue terima, gue lihat lah satu per satu karena penasaran dan ternyata harga nutrisari-nya mahal banget, masa iya satu gelas 10.000! Semahal-mahalnya bolehlah diberi harga 5.000, gue nggak masalah. Bukannya perhitungan, tapi itu sangat nggak wajar, menang banyak warungnya. Gue juga sebelumnya nggak mengerti kalau default-nya sudah dapat teh tawar gratis dan tahun lalu bukan gue yang membayar ke teteh di kasirnya.

Gue lihat-lihat lagi di bon pembelian, ada pepes ayam harganya 20.000, termasuk mahal memang, tapi nggak masalah karena rasa pepes-nya endesss. Selain itu kata teman sambel-nya juara, rasanya memang pedas menggugah selera makan siang saat itu, mantap. Kalau gue tetap nasi cikur-nya paling juara di sini, harga per porsinya 7.000 aja, murah kan. Selebihnya, yaitu cah kangkung dan tahu gorengnya, biasa aja.  Jadi kesimpulannya, warung ini sebenarnya punya harga yang masih terjangkau, kalau nggak pesan nutrisari, haha. Gue akan tetap balik lagi kok ke Warung Inul ini, karena memang rasa masakannya enak-enak.

Hotel Ilos, Pasteur
menginap di hotel ilos bandung
Hotelnya di dalam perumahan di daerah Pasteur
Setelah selesai makan siang di Dago Atas, gue kembali ke kota arah Pasteur. Waktu masih menunjukkan jam setengah 12 siang dan gue mencoba untuk check-in di hotel, siapa tau bisa, kalau pun belum bisa ya duduk aja di lobby-nya. Oh iya, ini nggak akan gue bahas di artikel sendiri ya, karena nggak ada yang membuat gue terkesan dari hotel ini, semua biasa aja, bukan jelek, tapi everything is standard.

Sampai di Hotel Ilos ternyata sudah bisa masuk jam 1 siang, lumayan bisa istirahat dulu di sini karena acara Jazz di Unpad dimulai jam 2 siang. Kamar hotelnya termasuk besar, kasurnya twin empuk, AC-nya dingin karena baru. Sikat gigi, odol, sampo, sabun, handuk juga siap disediakan, karena itu gue nggak membawa apapun supaya tas enteng, haha. Selebihnya ya standar hotel bintang 2 lah.

Kampretnya ada drama lagi nih (*drama dimulai). Pas sampai di dalam kamar kok gue merasa celana bagian pantat terasa basah, setelah gue lepas, bener aja dong basah kuyup kayak cepirit, arghhhhhhhh!! Jadi jangan-jangan selama gue di Warung Inul dan pas check-in di lobby banyak orang yang melihat? Ah elah, gue bertanya-tanya sendiri kenapa celana bisa basah dan ternyata semua ini ulah jok motor adik gue yang bolong. Hah? Iya, jadi di awal sebelum berangkat adik gue sudah bilang kalau di jok motornya ada jas hujan plastik warna biru, tapi nggak menjelaskan kenapa jas hujan itu berada di sana. Gue pikir kalau jas hujan itu baru aja dipakai, gue ambil dan taruhlah di bawah jok, memang baru melihat kalau jok motornya sobek dan terlihat bisanya. Itulah yang mengakibatkan celana jeans berwarna terang yang gue sedang pakai terkena rembesan air dari busa jok motornya, gue bisa tau karena dulu motor gue di Jogja pernah begitu, males ganti sarung jok, wakakakaka.

Gue bingung setengah mati, karena bakal pergi 1 jam lagi. Gue coba taruh di bawah AC, hasilnya nihil, sampai akhirnya dengan pasrah memutuskan untuk tetap memakai celana basah itu tapi ditutupi dengan jaket di bagian pinggang seperti anak gawl. Masih nggak sreg, gue terus berusaha mencari cara bagaimana celana itu bisa kering sempurna, sampai berbuah manis ide yang muncul. “Kan di hotel bisa pinjam setrika!”, telepon ke receptionist dan diantarkanlah setrika ke kamar. Case closed, yeay!
kamar hotel ilos pasteur
ya standar aja lah ya Hotel Ilos ini
istirahat di hotel ilos bandung
istirahat sebentar ngademin badan
Kampoeng Jazz 2018
di sini
nonton kampoeng jazz di bandung
yeayyy!!!
es milo kepal di bandung
biasa aja ah (umurnya pendek ini)
nonaria di unpad kampoeng jazz
sekilas aja ya, selengkapnya ada di post sebelumnya
suasana malam kampoeng jazz
suasana malamnya asyik di UNPAD
Lapar Perut, Lapar Jalan-Jalan
Setelah selesai nonton Kampoeng Jazz 2018 yang seru banget, sekitar jam 11 malam gue pergi ke Braga buat mencari tempat leyeh-leyeh. Gileee, Bandung tengah malem nggak ada matinya. Gue lewat belakang dan depan Masjid Raya Bandung, masih aja macet, apalagi di Braga, tambah muaceeet.

Bingung cari parkiran, setelah dapat parkir, masih bingung mau makan dimana, sampai memutuskan untuk masuk ke Braga Art Café. Kafe ini berada persis di depan pintu masuk ke Braga City Walk. Kafe ini mempunyai 2 lantai dan pas pertama kali masuk ke dalam langsung disuguhi nuansa Jawa yang berpadu dengan desain modern (Jawa modern). Nuansa Jawa terlihat dari kursi, meja, dan pintu kayu jati yang digunakan, sedangkan kesan modern dimunculkan pada area kasir yang di bagian atasnya terdapat tumpukan botol wine dan beer, unik. Gue beranjak ke lantai 2-nya yang bikin berdecak kagum karena kontras dengan nuansa di lantai bawahnya. Di bagian atas dari Braga Art Café ini ada pendopo yang berukuran besar! Iya, nuansa Jawa semakin kental terasa di sini, asyik banget.

Pelayan datang memberikan buku menu, karena gue lagi pengen banget makan nasi goreng setelah 3 bulan nggak memakannya, terpesanlah Nasi Goreng ala Sunda punya Braga Art Café. Lalu, karena seharian belum makan buah, gue pesan Jus Pepaya sebagai minumnya. Tau apa? Ketika pesanannya datang gue kaget banget karena penyajiannya nggak pakai piring. Lah terus? Penyajiannya pakai semacam wadah tanah liat yang ukurannya super besar, mirip yang biasa dipakai buat wastafel di resto-resto Sunda, tau kan? Hahahaha.. (I’m so sorry gue nggak bisa ambil fotonya, kamera udah mati dan hp sudah tidak mendukung buat foto malam hari).
menu makan di braga art cafe
kelihatannya biasa, tapi sebenernya porsinya melimpah, mantap!
Ternyata nasi gorengnya juara woi! Pertama yang membuatnya juara adalah nasinya nggak terlalu berminyak, kedua, bumbunya banyak, ketiga, acarnya enak, keempat, ada tambahan 4 tusuk sate, kelima, timun dan seladanya banyak. Paket komplit enaknya! Begitu juga dengan jus pepaya-nya yang punya warna jingga cantik dan manisnya pas. Oke, noted, Braga Art Café masuk list tempat makan enak di Bandung dengan harga yang masih reasonable.

Hello Sunday!
Semalam sampai di hotel jam 1 malam dan langsung tidur. Terbangun jam 6 pagi tepat tanpa terlewat, langsung bersiap pergi ke Car Free Day di Dago. Mungkin bagian cerita ini udah mulai nggak penting kali ya, jadi gue cerita sedikit aja. Di CFD Dago gue beli buah naga potong, pepaya, mangga, dan sawo. Mata berbinar-binar ketika melihat sawo, udah lama banget nggak makan sawo, enaaaak! Setelah itu karena banyak jajanan, gue beli otak-otak bakar buat dimakan pas balik ke hotel. Eh ketika gue nemenin temen beli bakso goreng, di dekatnya ada penjual gelang, gue beli, pas ada yang jual topi dibeli, woi ki mentang-mentang habis gajian. Sebenernya pengen cari kaos greenlig*t atau 3seco*d, udah ketemu penjualnya, tapi motif yang gue mau nggak ada ukuran L -nya (cieee cari ukuran L lagi).
rujak di cfd dago
mata langsung berbinar-binar melihat ini
buah potong di cfd dago bandung
berbinar lagi ketika melihat sawo di dalam sana, waaaaaa.....!!
Pulang ke hotel, leyeh-leyeh lagi sampai waktu check-out jam 12 siang, cari makan siang ke Dago Atas lagi, tepatnya di The Parlor. Sama seperti Warung Inul, gue udah 2 kali ke sini karena tempatnya nyaman banget, gue pesan minuman Peach pakai madu tanpa soda dan pesan pizza 1 loyang untuk berdua, kenyang, oke pulang. 

minum di the parlor bandung
itu peach + madu, tanpa soda. suegeeer!! 
pemandangan dari the parlor
udah 2 kali ke sini, review-nya di sini ya
pizza di the parlor bandung
pizza-nya endesss banget!!
Turun ke arah bawah menuju stasiun untuk menitipkan motor dan naik Go-Jek menuju Terminal Leuwi Panjang. Naik bus primajasa lagi menuju Bekasi, thanks Bandung, thanks feedme.id, thanks Unpad!

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK