Pura Besakih, Karangasem: Dulu, Tempat Wisata di Bali ini Terkenal Dengan Punglinya, Sekarang Bye?

November 13, 2018


Lokasinya berada di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Pura terbesar di Bali berdiri berdampingan dengan Gunung Agung yang berada di dekatnya. Pura Besakih, itulah nama pura yang berada di ketinggian 1000-meter di atas permukaan laut ini, kompleks pura yang besar dan luas dengan beberapa pura-pura kecil di dalamnya. 

Mengunjungi Pura Besakih bisa jadi rekomendasi kalau kalian menginginkan tempat wisata di Bali yang benar-benar bisa membuat hati berdebar kagum, apalagi cocok buat yang membutuhkan ketenangan dari hiruk pikuk keramaian daerah Kuta Legian. 65 km, satu setengah jam, adalah jarak dan waktu yang harus ditempuh dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk menuju ke Pura Besakih. Eitss, tapi itu belum termasuk kemacetan di Kuta, Denpasar, atau Sanur ya, hehe... Alokasikan waktu sekitar 2 jam untuk perjalanan menuju Pura Besakih, supaya sekaligus bisa menikmati perjalanan dengan nyaman. Setelah melewati Kabupaten Klungkung, jalan mulai menyempit dan lebih sepi dari sebelumnya, jalan pun menjadi menanjak, mengharuskan kita harus lebih berhati-hati. Setelah sampai di lokasi, pasti seketika akan dibuat takjub dengan pemandangan yang hadir di depan mata, percaya sama gue. Beruntungnya ketika kalian ke sini saat cuaca cerah, pemandangan Pura Besakih bakal semakin mendebarkan keindahannya karena didampingi Gunung Agung yang menjadi latar belakangnya. Amazing!




Tempat wisata di Bali yang menjadi favorit wisatawan mancanegara dan lokal ini terdapat satu Pura Penataran Agung dan 18 pura pendamping lainnya. Di sini juga terdapat 3 arca yang menjadi simbol sifat Tuhan atau Tri Murti, yaitu Dewa Brahmana, Dewa Wisnu, dan Siwa yang melambangkan sebagai Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara, dan Dewa Pelebur. Pura Besakih konon katanya butuh waktu 1000 tahun untuk membangunnya, bisa dilihat juga dari sisa-sisa bukti peninggalan sejarah zaman megalitikum seperti menhir, tahta baru, sampai struktur terasi piramid yang ada di sini. Nah, tau nggak, kalau Pura Besakih ini menjadi Mother Temple atau induk dari semua pura yang berada di Pulau Bali lo, keren cui. Upacara terbesarnya dinamakan Eka Dasa Ludra dan diadakannya setiap 100 tahun sekali, terakhir di tahun 1979. Kalau sekarang 2018, berarti baru diadakan lagi pada tahun 2079. Hmm…




Banyak Oknum Nakal…. Help Me!
Terus ki, berapa biaya masuk ke Pura Besakih? Nah, ini yang akan gue bahas. Di balik megahnya pura terbesar di Bali yang membuat banyak orang ingin mendatanginya, ada hal yang justru mencoreng tempat wisata di Bali ini menjadi jelek dan membuat beberapa wisatawan menjadi enggan untuk mengunjunginya. Apa itu? Ya, pungutan liar. 

Sebenernya topiknya pernah gue bahas, tapi gue baru mendapatkan informasi baru yang telat gue dengar, jadi akan lebih menarik ketika kalian juga bisa mengetahuinya. Perlu kalian tau, gue nggak akan membahas masalah ini kalau hanya menceritakan ulang dari berita di internet aja, karena semuanya gue alami sendiri ketika mengunjungi Pura Besakih sekitar tahun 2013 lalu. 

Sebelum sampai di Pura Besakih, gue sama sekali nggak tau apapun tentang praktik pungutan liar (pungli) ini. Gue pikir semuanya akan baik-baik aja seperti kebanyakan tempat wisata di Bali yang lainnya. Tapi, baru gue ketahui setelah membayar biaya retribusi tiket masuk sebesar Rp20.000. Setelah memarkiran motor, gue dipanggil oleh sejumlah orang berpakaian adat Bali lengkap dengan udeng di kepala mereka. Di pos penjagaan, gue seperti di interogasi karena dikelilingi oleh banyak orang berpakaian adat di sini, awalnya gue memang berusaha untuk sopan, karena bagaimanapun juga gue hanyalah tamu. Mereka menjelaskan satu per satu ke gue dengan bahasa yang “memang sopan” atau “disopan-sopani” untuk mendapatkan perhatian, mengatakan bahwa di dalam Pura Besakih sedang ada yang beribadah, membuat di beberapa area tidak boleh dimasuki oleh wisatawan, maka dari itu mereka mewajibkan untuk gue memakai jasa pemandu.






Tanpa menunggu jawaban dari gue, mereka langsung menyodorkan sebuah buku tamu yang isinya adalah daftar nama yang ditulis “berdonasi” untuk Pura Besakih, seketika gue kaget ketika melihat deretan list nama dengan nominal Rupiah yang tertulis di dalam buku itu. Entah bohong atau bagaimana, rata-rata dari nama yang tertulis di buku tersebut memberikan “donasi” paling rendah 200.000 Rupiah, ajegile! Gue yang waktu itu pergi ke Bali dalam keadaan masih kuliah dan backpacker-an, jumlah uang segitu sungguh membuat sesak dada seketika. Bayangkan, untuk satu orang diminta dua ratus ribu, itu bener-bener nggak masuk akal. Kalau memang ada penjelasan resmi atau bukti resminya, gue masih bisa menerima, lha ini sama sekali hanya menuliskan nama dan memberi uang kepada oknum yang jelas? 

Terus, gue dengan ikhlas memberikan uang 200.000 Rupiah kepada orang-orang itu? 
No..no..no.. tidak semudah itu Ferguso! 

Beradu mulut dengan mereka, karena nggak semudah itu harus mengeluarkan uang yang jumlahnya terbilang banyak. Setelah bernegosiasi cukup lama, sampai pada kesepakatan mengeluarkan 150.000 Rupiah untuk 2 orang dan mereka menyetujuinya. Gila, bener-bener dipalak gue saat itu! Setelah beres urusan tetek bengek di pos dan dipakaikan kain berwarna ungu di pinggang, gue diantar oleh pemandu untuk masuk ke dalam area pura. Walaupun masih terasa sebal, tapi hal itu seketika sirna saat melihat pemandangan Pura Besakih yang sangat menakjubkan. Sayangnya cuaca hari itu di Karangasem sedang nggak bersahabat, membuat Gunung Agung tidak terlihat. 

Kemudian, gue dijelaskan satu per satu mulai dari sejarah dan fungsi dari masing-masing area yang ada di area kompleks Pura Besakih. Dijelaskan juga kapan aja ada tanggal perayaan agung di sini, sampai penjelasan mendetail dari masing-masing pura-pura kecilnya. Memang gue akui kalau sang pemandu sangatlah komunikatif dan memberikan banyak informasi bermanfaat. Hal itu juga yang sekaligus membuat gue merasa tidak terlalu dirugikan karena sudah membayar ratusan ribu di pintu masuk tadi. Setelah mengitari pura yang luas ini dan turun kembali ke pintu masuk depan, gue pun berterima kasih kepada sang pemandu karena telah memberikan banyak hal yang informatif di Pura Besakih ini. 


Tetapi ternyata hal tidak mengenakkan kembali terjadi, tiba-tiba pemandu itu menyodorkan tangannya ke gue dan dengan terang-terangan meminta biaya tambahan lagi. Are you serious?! Gue pun kaget dan emosi kembali tak terbendung lagi sampai kemudian gue bilang kalau di awal sudah mengeluarkan ratusan ribu, yang dikatakan juga sudah termasuk biaya pemandu masuk ke dalam Pura Besakih. Beribu ucapan pemandu lontarkan ke gue dan tetap mengikuti sampai lokasi di mana motor gue terparkir. Hey! 

Akhirnya, daripada urusan nggak kelar-kelar, gue pun merogoh isi dalam kantong celana dan mendapati uang Rp10.000 dan langsung memberikannya kepada si pemandu. Dia pun akhirnya pergi dengan wajah sebal. Aduh duh Beli, harusnya gue yang kesel bukannya Anda! 

Perubahan Besar Pura Besakih yang Bebas Pungli
Sangat disayangkan memang, Pura Besakih yang menjadi pura paling sakral di Bali ini berubah sebagai ladang pungli dari oknum tidak bertanggung jawab, potensi tempat wisata di Bali nan indah ini pun tercoreng karenanya. Apalagi setelah ditelusuri, memang kejadian ini sudah berulang kali terjadi, bahkan sempat ada pemboikotan untuk hotel dan travel agent di Bali supaya turis tidak diarahkan pergi ke Pura Besakih selama 6 bulan. Hasilnya? Nihil. Setelah 6 bulan para oknum nakal ini kembali beraksi meminta pungutan liar di sini, bahkan sudah banyak wisatawan yang mengeluhkan aksi pungli ini dan menuliskan review kekecewaan mereka di situs TripAdvisor, pemberitaan pun datang dari berbagai media massa.

Terus ki, sekarang gimana?
Duh pengen ke sana ki, bagus banget, masih ada pungli?

Tenang aja guys, kalian nggak perlu merasakan kepahitan yang gue dan wisatawan lain alami, karena sekarang oknum pungutan liar di Pura Besakih sudah diberantas bersih. Tepatnya di akhir tahun 2016 lalu, Badan Pengelola Objek Pura Besakih sudah memberlakukan penjagaan dan pengecekan berlapis untuk tiket masuknya. Tujuannya itu tadi, mencegah terjadinya kembali pungutan liar yang sangat merugikan wisatawan. 

Sekarang kalian hanya perlu membayar sebesar Rp40.000 untuk wisatawan domestik masuk ke dalam Pura Besakih dan Rp60.000 untuk wisatawan mancanegara. Bahkan biaya tersebut sudah termasuk peminjaman kain sarung dan ikat pinggang juga lo. Kerennya lagi, sekarang ada jasa ojek yang bisa mengantarkan kamu dari area parkir sampai ke depan Pura Besakihnya persis, padahal nggak jauh sih, hehe... Keren ya! 


Selamat Berkunjung!

You Might Also Like

0 komentar

GOOGLE+

FACEBOOK