Skip to main content

Hotel Rinjani, Hotel Murah di Tengah Kota Mataram

Alamat: Jl. Caturwarga No.18, Mataram Tim., Kec. Mataram, Kota Mataram, NTB
Reservasi: Traveloka.com
Harga: Rp96.000/malam (fan double bed) + Sarapan 


Hotel murah yang berada di salah satu jalan utama pusat Kota Mataram sangat layak untuk ditempati bagi para backpacker.

Terletak di Jalan Caturwarga No.18 dengan bangunan yang memang tidak terlihat seperti hotel, namun lebih mirip ruko. Eitsss tapi jangan salah, ketika masuk ke dalam barulah terlihat bangunan dengan kamar-kamar yang berjajar rapi seperti kos-kosan.

Untuk hotel murah seharga 100 ribuan, kebersihannya bisa diacungi jempol, karena petugasnya dengan rutin membersihkan jika ada sampah yang berserakan di lingkungan hotelnya. Isi dalam kamarnya pun bersih dan lantai kamar mandinya pun tidak licin.
hotel rinjani mataram
kamar di Hotel Rinjani
hotel rinjani lombok
ada TV dan kipas anginnya, mayan lah!
kamar hotel rinjani
kamar di Hotel Rinjani (*maaf berantakan) :))
hotel murah di lombok
pemandangan dari balkon lantai 2
Pelayanan dari staff hotelnya terbilang ramah, mereka dengan senang hati membantu kita apabila terjadi kesulitan atau membutuhkan sesuatu. Terbukti pada saat jam 10 malam gue ingin membeli air mineral dan ternyata mereka menyediakannya. Lalu di pagi hari saat ingin berfoto dari balkon, lalu si petugasnya menyarankan untuk naik ke lantai paling atas karena pemandangannya lebih bagus. Terima kasih.
teras hotel rinjani
teras di depan masing-masing kamar 
Sarapan pagi di sini ada dua pilihan, mi rebus atau mi goreng. Ini jauh lebih baik ketimbang hanya sarapan pancake atau semacamnya. Pilihan jatuh pada mi rebus dengan telur setengah matang, ditaburi cabai rawit potong, dan ditemani dengan teh manis hangat, membuat suasana pagi kian hangat.
sarapan di hotel rinjani
sarapan mie rebus dan teh manis hangat
hotel rinjani lombok mataram
pemandangan dari balkon lantai 3
Kesimpulannnya, dengan harga yang nggak lebih dari 100 ribu per malamnya, hotel ini sangat worth it dengan apa yang akan didapatkan. Apalagi, sudah ada TV di setiap kamarnya, setidaknya ada hiburan yang bisa kita lihat saat malam hari. Selamat menginap!

+ Harga yang terjangkau, bersih, berada di pusat Kota Mataram
-  Kasur busa yang empuknya cukup aneh

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…