Skip to main content

Ho Chi Minh City Hall; Siang Aja Udah Keren, Ternyata Malemnya Jauh Lebih Keren Lagi

ho chi minh city hall

Gue nggak henti-hentinya berdecak kagum dengan keindahan yang gue lihat saat itu, di pagi dan di malam hari sama-sama keren dan bagus. Ya, ini adalah sebuah gedung parlemen dan area luas di depannya bener-bener bikin gue terkagum-kagum! Ho Chi Minh City Hall merubah kesan bangunan pemerintahan yang biasanya terkesan seram, kaku, dan membosankan, menjadi sebuah bangunan menarik untuk didatangi, dikunjungi, dan cantik untuk berfoto-foto.

Jarak Ho Chi Minh City Hall dari pusat keramaian Ho Chi Minh City (jalan Pham Ngu Lao), sekitar 30 menit dengan berjalan kaki. Awalnya gue sedikit ragu kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki, tapi ternyata asyik kok dan seru. Jalan kaki di sini nggak bikin bosan dan nggak terasa melelahkan (walaupun keringet udah bercucuran). Ya mungkin karena daerah baru kali ya, jadi semuanya terasa menyenangkan saat dilalui. Di area Nguyen Hue Walking Street dan Ho Chi Minh City Hall ini terdapat monumen berupa patung besar dari pejuang Vietnam yaitu Uncle Ho (Paman Ho). Ya, Paman Ho sampai sekarang memang menjadi tokoh paling di hormati di Vietnam yang berjasa melawan para penjajah. Selain itu bentuk bangunan Ho Chi Minh City Hall ini sangat artistik yang sekaligus menambah daya tarik turis untuk berfoto-foto.

ho chi minh city hall vietnam
salah seorang bagian keamanan gedung parlemen 
hcmc city hall
suasana di depan gedung parlemen siang hari
Gue ke sini di siang dan malam hari, kalau siang hari memang cenderung sepi dan hanya ada beberapa wisatawan aja yang datang. Kebetulan pas gue ke Ho Chi Minh City Hall ini lagi ada segerombolan anak sekolah yang sepertinya sedang membuat foto perpisahan. Mereka menggunakan pakaian khas Vietnam yang khas banget dan membuat gue pengen foto bareng juga. Mencoba berbicara kepada mereka dengan Bahasa Inggris dan tak disangka tak dinyana mereka pun kegirangan ketika diajak berfoto. Ahahhahahaha…. Nah berbanding terbaik dengan suasana siangnya, suasana malam di sini jauh lebih seru dan menyenangkan. Kenapa gue bilang gitu? Semua lampu-lampu yang ada di sepanjang Nguyen Hue Walking Street nyala berwarna-warni, bagus banget (norak lau ki!), di Jakarta nggak ada yang beginian soalnya. Lampu yang menyorot ke bangunan Ho Chi Minh City Hall, ke deretan pohon di sini, ke gedung-gedung bertingkat yang ada di sekitarnya, dan yang menyorot ke dancing fountain cantik banget! 

hcmc saigon hall
mereka malah seneng dah
hcmc city hall saigon
patung Uncle Ho yang berada persis di depan City Hall
suasana malemnya jauh lebih keren
saigon city hall
dancing fountain-nya cakep!
hcmc city hall
kan bagus kan bagus!

Malam hari, semua orang di area Ho Chi Minh City Hall dengan asyiknya duduk bersantai, berfoto, bermain air, bermain skateboardhoveboard, atau sekedar berjalan kaki santai, semua tampak senang dan ceria. Terlebih lagi hampir di setiap meternya ada speaker yang melantunkan musik, musik-musik yang diputar sepertinya sih musik hits atau top10 di Vietnam (nggak ngerti gue bahasa tangtingtung). Tapi yang jelas, Ho Chi Minh City Hall wajib lo datangi ketika lagi di Ho Chi Minh City, saran gue sih datang pas malam hari. Happy traveling!

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…