Skip to main content

[VIETNAM Hari ke-1] Makan Murah ala Backpacker di Terminal 3 Soekarno Hatta

Hari ke-1 (Jumat, 6 Mei 2016)
Makan Murah Porsi Jumbo, Chit-Chat Menyesakkan Dada, 
Kedinginan Bermalam di KLIA2

Penerbangan menuju Kuala Lumpur sekitar pukul 8 malam, namun setelah sholat Jumat, saya langsung minta diantar oleh adik menuju halte DAMRI Harapan Indah. Perjalanan dari Harapan Indah ke Bandara Soekarno Hatta ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam karena jalanan Jakarta yang lebih lengang daripada biasanya (tanggal merah long weekend). Tarif perjalanannya dipatok seharga 45.000 Rupiah, saat itu hanya ada 5 orang saja di dalam bus dan hanya saya yang minta diturunkan di terminal 3. Buat sekedar info, penumpang DAMRI yang akan turun di terminal 3 biasanya akan diantar terlebih dahulu, bukan yang terakhir.

Saya pun sampai sekitar jam 3 sore dan langsung bertemu teman yang sudah tiba lebih dahulu dari Bandung menggunakan bus Primajasa. Selama di dalam bus DAMRI, sebagaimana selayaknya perut yang baru diisi sedikit saat sarapan, mereka pun memanggil-manggil untuk diurus. Berbekal info dari salah satu blog yang menyebutkan ada kantin khusus karyawan di Terminal 3, kami pun meraba-raba mencari dimana keberadaan lokasi kantin murah karyawan bandara tersebut. Setelah agak pusing mencari, ternyata lokasinya sangat mudah dijangkau, persis berada satu deret dengan gerbang tiket masuk Terminal 3, bukan berada di samping gedung terminal yang saya bayangkan sebelumnya. Saya memesan nasi putih dengan ikan tongkol, usus, tahu, es teh manis, dan tambahan air mineral 600ml, semua itu hanya saya tebus sebesar 25.000 Rupiah saja. Coba bayangkan betapa murahnya dan bandingkan jika harus makan di dalam Terminal 3 yang rata-rata harga makanan di sana di atas 35.000 Rupiah. Oh iya, yang perlu saya garis bawahi di sini adalah porsi nasinya yang terbilang “porsi kuli”, saya yang doyan makan pun kaget saat melihat porsi nasi standar yang diambilkan. Jadi tempat ini cocok buat kalian para backpacker sejati yang mau naik pesawat AirAsia dari Terminal 3.

kantin karyawan terminal 3
kantin karyawan Terminal 3 Soekarno Hatta
makan murah di terminal 3
segini cuma 25rb sama air mineral!
Masih sekitar 2-3 jam lagi penerbangan menuju Kuala Lumpur, saya pun mengisi waktu dengan hunting foto pesawat seperti biasanya, sedangkan Tyas asyik dengan ponselnya yang terhubung dengan colokan listrik karena low-batt. Sekitar pukul 7 saya masuk ke area penerbangan Internasional melalui pemeriksaan dokumen, cap imigrasi, dan scanning barang. Saat sudah berada di dalam, saya merasakan ada yang janggal perihal proses masuk sampai ke ruang tunggu (gate) ini. Benar saja setelah kami memikirkan proses apa yang kurang, ternyata kami nggak melewati proses pengecekan data dan dokumen di check-in counter AirAsia, karena masuk melewati pintu kedatangan bukan melalui pintu masuk keberangkatan. Terlebih kami memang sudah melakukan online check-in 14 hari sebelum keberangkatan, jadi sewaktu pemeriksaan dokumen kedua, kami pun sudah bisa lolos masuk ke tahap pengecekan paspor.

airasia terminal 3
Gatot Kaca ikutan jalan-jalan
boarding room terminal 3
ruang tunggu keberangkatan internasional terminal 3
Pesawat berangkat tepat pukul 20:30 tanpa delay dan seperti biasa di Terminal 3 ini kita harus menggunakan bus untuk menuju pesawat. Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur memakan waktu selama 2 jam. Selama penerbangan saya harus menahan godaan terbesar dari aroma Nasi Lemak atau Nasi Rendang yang menyeruak ke seluruh bagian kabin dari mereka yang memesan makanan (huwaa huwa….). Pesawat AirAsia yang saya naiki adalah AirAsia Malaysia, jadi seluruh cabin crew berasal dari Malaysia, begitu juga dengan pemberitahuan informasi yang disampaikan dalam Bahasa Melayu, serta harga menu makanan yang menggunakan satuan MYR (Malaysia Ringgit).

ac di kabin airasia
hembusan AC kabin seperti kulkas...
Penerbangan menuju Malaysia saya duduk bersebelahan dengan Tyas, karena saya nggak memutuskan untuk membeli kursi pada penerbangan pertama ini. Saya pun berfoto-foto selfie dengan teman menggunakan Xiaomi Yi yang saya tempelkan pada casing ponsel menggunakan bike mounting. Tiba-tiba seorang Ibu yang duduk di baris seberang memanggil saya dengan pelan “mas, maaf itu kok bisa nempel ya? sambil nunjuk ke arah hp saya”. Saya pun menjelaskan kepada si Ibu dan nggak disangka ternyata si Ibu juga lebih mengerti tentang aksesoris sports cam semacam ini. Mulai dari situlah percakapan dengan si Ibu berlanjut inspiring sekaligus menyesakkan dada. Si Ibu bercerita akan pergi ke Thailand bersama anaknya, setelah di awal tahun kemarin mengunjungi Sapporo di Jepang saat musim salju (*sambil menunjukkan foto-foto dari ponselnya) (*nggak kuat lihat mak…nggak kuaaaat…!! *mupeng*). Nggak hanya itu si Ibu yang lanjut bercerita, ternyata akan pergi umroh untuk yang kesekian kalinya di akhir tahun ini, namun katanya sebelum umroh, Ibu dan keluarganya akan pergi selama 2 minggu untuk jalan-jalan di Eropa (si Ibu menyebutkan satu per satu negara-negara yang akan dikunjunginya mulai dari Belanda, Prancis, Spanyol, Turki, dll). Saya pun sampai lupa mengingat negara-negara yang disebutkan oleh si Ibu, karena saya cuma bisa melongo terdiam ketika si Ibu bercerita. Sejuta pertanyaan langsung menyeruak di pikiran “Si Ibu gajinya berapa ya?”, “Si Ibu kerja apa?”, “Suaminya kerja apa?”, terlebih karena si Ibu berkerudung ini berpenampilan biasa saja, bukan berpenampilan mencolok dan mentereng seperti kebanyakan Ibu-Ibu sosialita.

xiaomi yi
nih bentukkannya seperti ini
Sekitar pukul 23:30 saya mendarat di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2) yang menjadi basis penerbangan milik AirAsia. Kesan pertama tentang bandara ini adalah luas dan besar. Saya harus berjalan kaki menuju ruang tunggu melalui jalur transit dan pindah penerbangan dengan jarak yang lumayan jauh. Sebenarnya ada semacam golf car gratis untuk mengantar kita, namun karena berhubung sudah tengah malam, apa boleh buat golf car tersebut hanya terparkir rapi tanpa pengemudi. Penerbangan saya selanjutnya pada pukul 07:05 pagi waktu Malaysia dan otomatis saya harus menginap semalam di bandara ini dan harus mencari makan demi perut agar nggak kelaparan keesokan harinya.

mendarat di KLIA2
mendarat dengan aman di KLIA2
tengah malem di KLIA2
tengah malem di KLIA2 sepi melompong
midnight in KLIA2
berasa bandara punya sendiri
Pada blog-blog yang saya baca sebelumnya banyak yang menyarankan warung makan Nyonya Colors, karena harga makanan di sana murah hanya berkisar 5 – 7 MYR, jika di Rupiah kan sekitar 15 – 25.000. Saya pun mencari dengan gigihnya untuk menghemat pengeluaran sebisa mungkin, tapi hasilnya ternyata nihil. Nyonya Colors berada di terminal keberangkatan sebelum pemeriksaan imigrasi, jadi kami berdua yang sudah masuk ke boarding gate, nggak bisa keluar lagi. Apa daya, akhirnya mau nggak mau mencari makan di area food court penerbangan Internasional KLIA2. Di sana kami menemukan banyak tempat makan, seperti McDonald, Burger King, Fried Chicken, dan berbagai jenis makanan lainnya. Harganya? Rata-rata makanan di sini diatas 15 MYR, jadi kalau di Rupiahkan di atas 40.000. McDonald dan Burger King di sini nggak ada menu nasi dan kedai fried chicken saat saya datangi sedang beres-beres menutup dagangannya. Alhasil, saya memesan Nasi Briyani di kedai Taste of India, seharga 16 MYR berarti sekitar 52.000 untuk satu porsinya dan membeli air mineral di penjual terpisah seharga 3.5 MYR (11.000), mahal ya.

nasi briyani malaysia
Nasi Briyani porsi seabrek!
foodcourt KLIA2
food court
gatot kaca di malaysia
Gatot Kaca sampai Malaysia
Oh iya, ada yang asing dan aneh menurut saya di sini, saat akan mencuci tangan di wastafel menggunakan sabun, bau sabunnya bukan seperti sabun pencuci tangan kebanyakan, tetapi lebih persis bau cairan porselen pembersih keramik, hahahahha… Di kursi area food court ini enak karena modelnya sofa, saya pun dengan asyiknya berbaring lemas dan mengantuk setelah makan selesai. Terlebih jam menunjukkan pukul setengah 2 pagi waktu Malaysia, namun saat sedang asyik-asyiknya tiduran tiba-tiba saya dibangunkan oleh petugas kebersihan di sana yang menjelaskan bahwa di area food court ini nggak boleh untuk tidur. Kami berdua pun pindah lokasi dan kebingungan mencari tempat untuk merebahkan badan, terlebih di area dekat boarding gate lantainya nggak dilapisi oleh karpet. Jadi bisa dibayangkan kami nggak membawa jaket, tidur duduk di dinginnya lantai keramik, ditambah dengan hembusan AC bandara menjelang pagi yang super dingin. 

KLIA2 International Boarding Gate
KLIA2 International Boarding Gate
PENGELUARAN HARI ke-1
Bis DAMRI Harapan Indah - Soekarno Hatta: Rp 45.000
Makan Sore (Nasi, Usus, Ikan Tongkol, Es Teh, Air Mineral 600ml): Rp 25.000
Makan Malem (Nasi Briyani): Rp 53.000 (16 MYR)
Air Mineral: Rp 11.500 (3.5 MYR)
TOTAL: Rp 134.500

Masih lanjut yoo (*kedinginan).....

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…