Skip to main content

Pasar Ben Thanh, Saigon: Semerbak Aroma Kopi dan Biji Bunga Lotus yang Bikin Penasaran!

pasar ben thanh


Pasar Ben Thanh memang menjadi tempat paling pas kalau mau mencari oleh-oleh murah dari Vietnam. Lokasinya berada di pusat Kota Saigon dan berada di seberang terminal bis kota di sini, pasti kalian sudah bisa langsung notice karena bangunan pasarnya mencolok banget dari jalan raya. Pasar Ben Thanh ini juga nggak jauh letaknya dari pusat backpacker di Ho Chi Minh City (Jalan Pham Ngu Lao), hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit aja dengan berjalan kaki. 

Bentuk Pasar Ben Thanh ini sekilas mirip-mirip Pasar Bringharjo yang ada di Jogja dan ternyata dalamnya pun mirip-mirip. Di bagian kanan-kiri dalam Pasar Ben Thanh ini banyak penjual pakaian dan makanan, mulai dari berjualan kaos-kaos, makanan ringan, sampai kopi. Nah, ternyata penjual kopi lah yang mendominasi di Pasar Ben Thanh ini. Gue sempet berhenti di salah satu penjual kopi di sana dan dijelaskan berbagai macam jenis kopi. Selain kopi, ada oleh-oleh yang paling dicari wisatawan ketika berkunjung ke Saigon ini, yaitu Biji Bunga Lotus. Harganya termasuk mahal, kalau di Rupiahkan sekitar 100.000 – 300.000 tergantung banyaknya Biji Bunga Lotus itu. Gue pengen sih, tapi apa mau dikata seorang backpacker yang nukerin uang VND pas untuk keperluan di keesokan harinya, jadinya hanya bisa melihat saja bentuk dari Biji Bunga Lotus itu bagaimana.

bagian dalam pasar ben thanh
di dalem Pasar Ben Thanh nih, padet banget yang jualan
penjual kopi pasar ben thanh
paling banyak ngejual kopi-kopian
oleh-oleh di pasar ben thanh
makanan-makanan kering yang dijual per ons/kg-an
ini kok ada yang kemasan kecil ya? pas gue kesana nggak ada deh (sumber: http://lobaksusue.blogspot.co.id)
Oh iya, suasana malam di Pasar Ben Thanh ini berbeda jauh dengan suasana siangnya. Pasarnya memang tutup, tapi pedagangnya semua pindah berada di jalanan dan sekeliling pasar. Rame banget, kalau di Indonesia mirip-mirip pasar malam. Penjualnya juga sama seperti yang berjualan di dalam Pasar Ben Thanh, penjual pakaian, makanan, dan kopi-kopian. Saran gue kalau mau beli oleh-oleh di Pasar Ben Thanh ini adalah harus punya mental baja untuk berani menawar setengah harganya atau bahkan 1/4 harganya. Terbukti ketika awalnya iseng menanyakan harga gantungan kunci dan sok nggak butuh karena setelah menawar "setengah harga" kepada si penjual, gue langsung pergi. Eh ternyata gue dipanggil lagi sama si penjualnya dan dia setuju dengan deal "setengah harga" yang gue minta. Strategi itu pun gue terapkan ketika berhenti di salah satu kios pedagang pakaian untuk membeli kass merah bergambar bintang khas Vietnam. Gue berhasil mendapatkan harga yang murah untuk semua oleh-oleh yang gue beli di Pasar Ben Thanh ini. (mau tau gue dapet harga berapa, cek di sini deh)


suasana malam pasar ben thanh
Pasar Ben Thanh nyalanya bagus banget kalau malam
beli oleh-oleh di pasar ben thanh
di sekeliling pasar, jadi tempat jualan oleh-oleh
pedagang kaos di pasar ben thanh
berhenti di salah satu penjual pakaian, nawar sadis di sini, ternyata ampuh!
jajanan kaki lima pasar ben thanh
itu ketan ya, kayaknya cuma diwarnain aja biar menarik, makannya nggak gue beli
gantungan kunci khas vietnam
dapet deh gantungan kunci serenteng dengan harga murah meriah!
Selamat Berbelanja!

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…