Skip to main content

Kepedesan, Keringetan di Sambel Gledek & Kremes Bu Uju, Slipi Petamburan

Entah berapa kali gue ke siini, sampai-sampai si mbak pelayannya kenal gue, dan bahkan udah nggak perlu ngasih buku menu lagi ketika dateng. Ya, Bebek Kremes Ibu Uju, sebuah warung makan yang berada di daerah Slipi, tepatnya di Jalan KS. Tubun Raya No.111, patokannya adalah Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. Nggak jauh dari sana, kamu bakal liat plang nama Sambel Gledek & Kremes Bu Uju. Warungnya sebenernya biasa aja, ada tempat lesehan di bagian luar ruangan dan di dalem ruangan. Tempatnya nggak pernah sepi dari pengunjung dan emang kalau lo bawa mobil agak sedikit susah nyari area parkirnya. Ada solusi kalau lo nggak mau parkir di pinggir jalan, coba ke depan sedikit maka akan bertemu pemakaman Dinas DKI, nah parkilah di sana yang punya area lumayan luas dan sepi.

Menu utamanya di Sambel Gledek & Bebek Kremes Ibu Uju adalah bebek gorengnya, tapi menu lainnya pun juga ada misalnya ayam, lele, ati ampela, tahu, tempe, sop iga, dll. Ya, menunya adalah menu penyetan pada umumnya yang sering kita temuin di tempat lain. Gue udah pernah pesen dan nyobain semua menunya di sini, lalu apa yang bikin spesial? Banyak! Bu Uju ini menurut gue nggak pelit, terkadang kalau lo makan penyetan cuma dikasih 2 potong timun, potongan kol kecil, 2 sendok sambel doang. Tapi di Bu Uju nggak! Lalapan yang disajikan banyak dan masih seger-seger semua. Timunnya banyak, potongan kolnya gede, ditambah ada selada. Sambelnya pun ada 2 jenis, pertama adalah sambel bawang yang paling favorit dan tentunya paling pedes. Kedua adalah sambel mateng yang punya rasa cenderung manis dan nggak terlalu pedes. Selain itu, kita juga diberikan bawang goreng yang masih crunchy, bukan yang udah loyo dan basah. 

Rasa bebek, ayam, ati ampela, tahu, tempe dsb, rasanya seperti pada umumnya penyetan. Tapi yang bikin spesial adalah semua itu dibalut dengan kremesan yang banyak, itu yang bikin beda Bu Uju dari penyetan yang lainnya. Jadi, nggak ada salahnya lo cobain dan mungkin bisa dibandingin sama penyetan-penyetan lain setelahnya.
lalapan bu uju
lalapan, 2 jenis sambel, & bawang goreng
kremes bu uju
nasi lele goreng plus tahu

Selamat Kepedesan!

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…