Skip to main content

Gudeg Yu Djum Pusat, Selokan Mataram Jogja: Gudeg Legendaris Yang Paling Diburu!

Siapa sih yang nggak kenal gudeg? Makanan satu ini menjadi yang paling diburu ketika berkunjung ke Kota Jogja. Almarhum Yu Djum, menjadi salah satu nama penjual gudeg paling legendaris di Jogja. Cabang Gudeg Yu Djum sekarang ada di mana-mana. Dulu hanya berlokasi di dua tempat, di Jalan Wijilan dan di Selokan Mataram.

Gue lebih suka makan di pusatnya yang sekaligus dapur utama untuk semua cabangnya. Di pusatnya, tempatnya lebih kecil, namun suasana njawani-nya benar-benar terasa. Suasana rumah khas Jawa yang berpadu dengan aroma asap dari pawon yang bakal bikin betah.
gudeg yu djum
mbaknya pake seragam SD pas hari 17-an
gudeg kering yu djum
simpel tapi enaknya bukan main!
Pilihan menu di Gudeg Yu Djum bervariasi, mulai dari gudeg telur, tempe, tahu, dan ayam. Harganya mulai dari Rp15.000 sampai Rp35.000. Gudeg Yu Djum adalah tipe gudeg kering, yang membuatnya bisa dibawa sebagai oleh-oleh. Paket gudeg kendil cocok dipilih untuk dibawa pulang karena bisa bertahan 48 jam.

Rasanya Ki? Tipikal rasa gudeg Alm.Yu Djum ini manis, jadi buat yang nggak makanan manis sepertinya harus menyesuaikan. Krecek dan sambelnya pun menurut gue nggak pedes, walaupun udah ditambah lagi sambelnya. Ya, begitulah tipikal orang Jawa kalau bikin sambel, rasanya nggak akan sepedes sambel buatan orang Sunda atau Sumatera.

Tapi sejauh ini, Gudeg Yu Djum adalah gudeg kering paling enak dari semua gudeg kering yang pernah gue coba di Jogja.

Gudeg Telur Tempe: Rp18.000 (9/10)

Comments

  1. Replies
    1. bener bangeeet, duh, tapi rasa gudeg di Jakarta belum ada yang seenak di Jogja. Apa karena suasananya ya? hehe

      Delete
    2. udah pernah coba gudeg mercon ?

      Delete

Post a comment

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…