Skip to main content

Makan Lesehan dan Lalapan di RM Sangkan Hurip 2, Punclut


Nggak lengkap rasanya ke Bandung tanpa nyobain makan lalapan dan sambelnya.  Orang Sunda emang jago bikin sambel dan lalapan enak. Kesempatan itu nggak gue sia-siakan untuk mendatangi sebuah warung lesehan yang ada di daerah Punclut, Bandung Utara. Rumah Makan Sangkan Hurip 2 namanya. 

Untuk ke sini ada dua cara, pertama bisa lewat Jalan Ciumbeuleuit dan kedua bisa lewat Jalan Ir.H.Djuanda. Untuk kalian tau, kalau lewat Jalan Ciumbeuleuit, medan jalannya cenderung sempit dan masih banyak yang rusak. Kalau lewat Jalan Ir.H.Djuanda, dengan jalannya lebih lebar, tapi harus lewat perumahan Citra Green yang punya tanjakan dan turunan tajam. 

Daerah Punclut ini seperti Puncak Bogor atau Bandungan di Ambarawa, menyajikan suasana alam pegunungan dan sejuknya udara dari atas bukit. Sepanjang jalan berjejer rumah makan dengan view pemandangan kota Bandung. Rumah Makan Sangkan Hurip adalah yang paling terkenal, mereka punya dua cabang, yang pertama lokasinya sedikit lebih bawah daripada cabang kedua. Gue mampir di cabang keduanya, punya tempat yang besar hingga dua tingkat dan area parkir yang luas.


rumah makan sangkan hurip 2
selamat datang di area pengisi perut kelaparan

Di Rumah Makan Sangkan Hurip 2 kita nggak akan dilayani seperti restoran lain, maksudnya kitalah yang harus memilih dan mengambil sendiri menu diinginkan. Pilihannya banyak, mulai dari ayam, pepes (ikan mas, tahu, jamur, jambal, oncom, dll), udang, ikan asin, tahu tempe, usus, jeroan ati, dll. Kita tinggal bilang si Aa-nya duduk di mana dan bayar setelah selesai makan.

Ketika baru aja duduk dan mau menikmati pemandangan, ternyata makanan udah datang, cepet banget! Oh iya, nasi yang disajikan di Rumah Makan Sangkan Hurip 2 adalah nasi merah, jadi cocok buat yang lagi diet, hehe..

Gue pesen lele goreng, pepes oncom, dan ikan asin. Rasanya enak, tapi yang bikin kaget adalah sambelnya. Gue cocol sambel pertama kali, rasanya nggak terlalu pedes. Kedua kalinya ambil banyak, barulah mulut mulai kepedesan, pedes banget, luar biasa!

lesehan rumah makan sangkan hurip 2
makan lesehan penuh kebersamaan, nikmatnya!
sambel rumah makan sangkan hurip
ini dia sambel yang luar biasa bikin mulut kebakar


Ada sedikit saran buat yang mau ke Rumah Makan Sangkan Hurip ini. Misal datang berlima, sebaiknya pesan nasi tiga atau empat porsi dulu, karena memesan lima porsi nasi langsung, nasinya benar-benar banyak. Waktu itu gue masih tersisa setengah bakul, sayang banget kan? Jadi sebaiknya pesen dikit dulu, kurang baru minta tambah.

Satu hal lagi, jangan sampai kekenyangan ya, hehe... Kenapa gue bilang gitu? Iya, karena kalau kekenyangan, setelah itu pasti ngantuk dan bahkan bisa masuk angin. Angin yang berhembus ke dalam Rumah Makan Sangkan Hurip terbilang kencang dan dingin, jadi resiko masuk angin kalau berlama-lama di sini bisa aja terjadi. Hehe..

pemandangan punclut
pemandangan dari Rumah Makan Sangkan Hurip 2
pemandangan kota bandung dari ketinggian
pemandangan Kota Bandung dari ketinggian
punclut bandung
ada yang tahu ini hotel apa?

Kesimpulannya, sambelnya enak dan bikin semua menu makan siang jadi lebih nikmat. Harganya terbilang masuk akal, tergolong murah menurut gue. Pakai nasi merah, lele goreng, pepes oncom, ikan asin, teh manis, hanya perlu membayar Rp37.000 Rupiah. Selamat makan!

Lele Goreng: 7.5 dari 10
Pepes Oncom: 7 dari 10
Ikan Asin: 7 dari 10
Sambal: 8.5 dari 10

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…