Skip to main content

Ngopi Sambil Main Air di One Eighty Coffee & Music, Dago, Bandung


Bandung emang surganya kafe, mulai dari yang biasa aja, yang mahal, sampai yang unik. Salah satu kafe unik di Bandung adalah One Eighty Coffee & Music. Gampang banget buat nyari lokasinya, dari di jalan Djuanda, hanya perlu belok ke Jalan Ganeca No.3 di seberang Rumah Sakit Boromeus, Dago. Ke sini hari Minggu siang, ternyata cari parkir mobil nggak gampang, sampai dapet sedikit jauh dari lokasi One Eighty Coffee & Music.

Dari luar, bentuk bangunan One Eighty Coffee & Music emang nggak terlalu mencolok dan nggak mencerminkan kafe. Malah gue mengira ini adalah bangunan rumah tua. Tetapi setelah masuk ke dalam, baru terasa nuansa kafenya. Di bagian belakang, ada sesuatu yang unik yaitu sebuah kolam dangkal dengan sederetan meja kursi di sana.

Iya, itu adalah daya tarik One Eighty Coffee & Music sehingga membuatnya berbeda dengan kafe kopi lainnya di Bandung. Tapi sayangnya, gue nggak bisa mencoba merasakan sensasi main air di sini. Penuh banget dan waiting list-nya lumayan banyak. 

Di kolam dangkal ini, lebih dominan anak-anak yang kecipak-kecipuk main air. Jadi kenyamanan bakal sedikit berkurang kalau mau santai menikmati secangkir kopi. Tapi, mungkin bisa mendapatkan suasananya ketika berkunjung di hari biasa.

one eighty coffee & music
tampak bagian luarnya, cakep ugha!
main air di one eighty coffee & music
bisa main air kalau yang kebagian meja di sini
one eighty coffee & music dago
banyak anak-anak kalau weekend, berisik


Deretan menu makanan dan minuman di One Eighty Coffee & Music hampir rata-rata sama seperti kafe kopi lain. Menunya mulai dari makanan berat, ringan, kopi, sampai minuman manis ada di sini. 

Gue pesan Ice Coffee Vietnam yang rasanya pas dan enak, walaupun porsinya terssa lebih sedikit dari biasanya. Kentang gorengnya pun enak, rasa gurih dan asin mendominasi. Ada satu minuman yang juga gue coba saat itu, tapi maaf lupa namanya. Minuman jus buah berry yang di campur dengan es, rasanya seger banget!

kopi vietnam
es kopi Vietnam yang porsinya dikit banget
jus buah berry
jus berry dan teman-temannya
kafe kopi di dago
tempatnya instagramable
coffee set
semua peralatan membuat kopi yang saya nggak tahu cara pakainya
peracik kopi
sang peracik kopi

Suasana One Eighty Coffee & Music di dominasi material kayu dan banyak pajangan lucu yang membuat kafe ini termasuk dalam kategori “Instagramable”. Selamat ngopi!

Ice Coffee Vietnam
: 7.5 dari 10

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…