Skip to main content

Rumah Roso Homestay, Jogja: Bertemu Kucing, Burung Hantu, dan Mbak Lusi yang Ramah

Alamat: Jl. Langenarjan Kidul No. 5B - Panembahan Kraton, Mantrijeron, Yogyakarta
Reservasi: Booking.com (Very Good, 8.5)
Harga: Rp137.500/malam (AC Double Bed) + Sarapan

Lokasi menjadi faktor utama ketika gue memesan dan memutuskan untuk menginap di Rumah Roso Homestay. Hanya perlu berjalan kaki seperti ke belakang rumah jika kita ingin bersantai sore atau menaiki becak berkelap-kelip di Alun-Alun Kidul.

Ya, jika dari arah Alkid atau Nasi Brongkos Handayani, arahkan kendaraan berbelok kiri pada jalan sebelum lampu merah tersebut. Nggak jauh dari sana, maka akan terlihat sebuah rumah bertuliskan Rumah Roso Homestay di kiri jalan.

Sebagaimana layaknya homestay, penginapan ini memberikan sebuah perasaan yang nyaman selayaknya di rumah sendiri. Gue bertemu dengan sang pemilik Rumah Roso Homestay, namanya Mbak Lusi yang sangat ramah dan baik. 
rumah roso homestay
Rumah Roso Homestay terlihat dari jalan raya
rumah roso homestay jogja
tampak terasnya dari halaman depan
rumah roso alkid
tempatnya cukup instagramable
rumah roso jogja
halaman depan yang nyaman
rumah roso alkid jogja
meja penerima tamu
rumah roso alun-alun kidul
nuansa kayu yang mendominasi di sini
menginap di rumah roso
suasana seperti di rumah sendiri yang nyaman
kamar rumah roso homestay
kamar yang saya tempati
Mbak Lusi punya kucing dan seekor burung hantu yang menjadi daya tarik tersendiri ketika menginap di tempatnya. Nuansa kayu mendominasi penginapan ini, mulai dari halaman depannya, ruang tunggu, sampai interior di setiap kamarnya. Ukuran kamarnya standar dan cukup. Tetapi, menurut gue busa kasurnya agak sedikit nggak nyaman, entah mengapa.

Nggak ada kamar mandi di dalam kamarnya, jadi kita shared bathroom untuk mandi di Rumah Roso Homestay. Terdapat dua kamar mandi yang bisa digunakan, di bagian depan ukurannya besar dan yang di belakang sedikit lebih kecil. 
burung hantu rumah roso
si burung hantu lucu..
kucing pemilik rumah roso
si mpus yang manja..


sarapan di rumah roso
nasi bakar + sate tempe, enak tapi sedikit
Handuk, sabun, sampo, atau odol pun disediakan bagi para tamu yang mungkin lupa membawa peralatan mandinya. Untuk sarapan paginya, gue mendapatkan nasi bakar dengan dua tusuk sate tempe yang enak. Namun, mungkin bagi beberapa orang porsinya terbilang sedikit. Hehe… Selamat menginap!

+ Lokasinya strategis dekat alun-alun kidul, bersih, nyaman, kamar mandi bersama besar, Mba Lusi ramah, sarapannya enak
- Kasur busanya sedikit ambles, jadi bagi beberapa orang agak kurang nyaman

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…