Skip to main content

Tempat Ikan Kali Bude Yatno, Banjarnegara: Monggo Pinarak Rumiyen Mas!

ikan kali bude yatno

Ketika melewati Kota Banjarnegara, selain dawet ireng yang bakal sering kita lihat di pinggir jalan, ada kuliner lain yang gue saranin dicoba.

Mudik kemarin dari Purwokerto menuju Semarang gue ngelewatin Banjarnegara dan nggak sengaja melihat sebuah warung kecil dengan papan plang yang sangat menarik perhatian. Gue yang udah kelewat lumayan jauh, akhirnya dengan niatnya puter balik buat mampir ke warung ini, namanya Ikan Kali Bude Yatno.

Warung ikan kali ini nggak besar, hanya terlihat papan nama warungnya dan etalase kaca kecil yang berisikan tumpukan ikan-ikan kali di sana. Ketika masuk ke dalem, gue disambut senyum ramah oleh seorang wanita paruh baya yang menjual iwak kali ini, namanya Bude Yatno.

Beliau menjual berbagai macam jenis iwak kali yang semuanya terlihat fresh dan menarik buat disantap. Pas lagi milih-milih, beliau bercerita, menurutnya bahwa suaminya lah yang menangkap ikan-ikan ini sendiri dari beberapa sungai yang ada di Banjarnegara.

Gue lupa jenis-jenis ikannya yang dijual, padahal si Ibunya udah ngejelasin satu per satu dengan sangat bersemangat (maaf ya bu saya lupa). Pokoknya yang gue inget ada ikan wadernya, haha (iyalah).

Selain ikan, ada juga udang-udang kali berukuran kecil sampai yang berukuran sedang, yang udah gue bayangin makan pake nasi anget trus dicocol sambel terasi, duh duh..

Ternyata si Ibu nggak hanya menjual ikan atau udang buat dibawa pulang aja, ternyata juga bisa makan di sini. Pas banget Ibunya menawari gue buat makan di tempat.  Si Ibu pakai manas-manasin gue; 

“mas monggo lo pinarak, dahar teng mriki, sop e sek mawon mateng”
(mas silahkan duduk, makan di sini, sop-nya baru aja mateng)

Ah elah, bu! Pengen sih, tapi gue baru aja makan dan masih kenyang, tapi tenang bu kalau saya lewat Banjarnegara lagi pasti mampir deh.
ikan kali bude yatno banjarnegara
lokasinya di pinggir jalan raya besar (jalur mudik)
iwak kali bude yatno banjarnegara
si Ibu juga jual ayam goreng kremes (tapi ikannya jauh lebih menarik)
iwak kali bude yatno
tuh liat beginian siapa yang nggak ngiler

Untuk harganya semua disamaratakan, yaitu Rp150.000 untuk pembelian 1 kg ikan-ikanan atau udang. Murah banget lo ini, kapan lagi bisa dapetin ikan kali goreng yang masih fresh dan bercita rasa kampung sesungguhnya.

Tapi nggak harus beli sekilo juga bisa kok, setengah kilo, seprapat, atau cuma mau makan nasi pakai sop di sana juga bisa dan tentunya jauh lebih murah.

Oia, kata si Ibunya, dulu pernah ada rombongan walikota Semarang yang ngeborong ikan-ikannya buat dibawa pulang.

Sungguh, gue rekomendasiin buat kalian buat mampir ke warung Ikan Kali Bude Yatno ini ketika ngelewatin Kota Banjarnegara, hitung-hitung ngebantu ngelarisin jualan si Ibunya yang ramah dan baik banget sama siapa aja yang datang membeli ikannya.


Selamat Mencari Ikan!

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…