Skip to main content

Pecel & Gudangan Bu Rochani, Purwodadi: Kenikmatan Kembang Turi dan Kenikir Yang Ngangeni!

pecel gudangan bu rochani purwodadi


Malam itu perut kelaparan dan langsung meluncur ke ke depan SMP Negeri 1 Purwodadi, di sana ada yang jual nasi pecel dan gudangan, namanya Bu Rochani. Buka di warung tenda yang ukurannya nggak besar dan luas, lesehan gitu, duduk atas tikar persis di depan Ibunya yang sibuk menyajikan makanannya ke para pembelinya.

Buat yang mau ke sini gampang banget, cari aja tulisan Pecel & Gudangan Bu Rochani Purwodadi di depan SMP Negeri 1 Purwodadi, duduk manis di sana, makan pecelnya, nah pasti kalian bakalan menemukan kenikmatan sesungguhnya dari kuliner Grobogan malam hari. Ehehe...
pecel gudangan bu rochani grobogan
suasananya asik kan, ini baru gue suka daripada kuliner restoran
nasi pecel gudangan bu rochani
si Ibu-nya senyum-senyum bae
Pas gue datang, kebetulan baru ada yang pulang, jadinya gue bisa duduk lesehan depan Ibunya. Ada yang lucu, ketika lagi asyik foto-foto, si Ibunya melihat gue sambil senyum-senyum. Terus si anak yang duduk di sampingnya, nyeletuk gini 

“Wah si Ibu terkenal ki ngko, dodolan gudangan ngarep SMP 1”.

Menu di sini simpel, ada pecel pakai nasi atau lontong dan pakai kuah atau nggak. Satu lagi adalah nasi gudangan. Gue beli semuanya. Pas Ibunya mau kasih makanan ke gue, lama banget, padahal gue udah nyodorin tangan buat ngambil, Ibunya bilang 

"Sebentar mas, ditata sekedap ben apik difoto mase", haha.. siyapp bu.

Oke, yang pertama gue coba di Pecel & Gudangan Bu Rochani adalah nasi pecel tanpa kuahnya, isinya selayaknya pecel, ada kol, kacang panjang, bayam, taoge, dan kembang turi. Rasanya? Enak, khas pecel kampung. Tapi menurut gue, bumbu kacangnya kurang pedes, terlalu manis sambelnya. Bener-bener nggak ada rasa menggigit di lidah. Pecel Bu Rochani nggak pakai daun pepaya-nya, karenna nggak ada rasa pahitnya. Gue sendiri tambah pakai bakwan sama tempe goreng yang baru aja matang dan masih panas. Peyek kacang juga nggak kelupaan.
nasi pecel bu rochani grobogan purwodadi
ini nasi pecel tanpa kuahnya
Gue juga mencoba pecel lontong pakai kuah. Hmmm… unik, gue baru tau kalau ada pecel yang diberi kuah. Rasanya? Apa yaa, menurut gue malah mirip lontong sayur. Tapi bener, kalau kuahnya adalah kuah sayur labu yang biasa di lontong sayur.

Terakhir gue coba adalah nasi gudangan-nya ("urap" kalau yang nggak tau gudangan itu apa). Eitss, spesial di sini, gudangan-nya ada kenikir-nya. Buat yang belum tau apa itu kenikir, kenikir itu sejenis tumbuhan liar dan diambil daunnya buat campuran gudangan ini. Kenikir itulah yang menurut gue bikin rasa gudangan-nya jadi ada rasa pahit-pahitnya, tapi enak. Makan, pakai nasi hangat dengan peyek kacang, beuh! 
pecel lontong bu rochani
kalo yang ini pecel lontong pakai kuah
nasi gudangan bu rochani purwodadi grobogan
ini yang ditunggu, nasi gudangan!
Tapi, gue perhatikan kalau parutan kelapa dan cabe di gudangan-nya ini kurang merah warnanya, harusnya bisa lebih merah. Bertanya dan kata si Ibunya 

“Iya mas, cabenya lagi nggak bagus”.

Kesimpulannya, jangan lupa mampir kalau lagi lewat atau lagi main ke Grobogan, Purwodadi. Enak kok.

Pecel Nasi Tanpa Kuah: Rp5.000 (8/10) 
Pecel Lontong Kuah: Rp5.000 (7/10)
Nasi Gudangan: Rp5.000 (8/10)

Comments

  1. Syamsul Burhanudin3 August 2017 at 04:32

    Kenikmatan berdoa saat solat juga ngangenin.

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…