Skip to main content

Taman Wisata Alam Punti Kayu, Palembang: Wisata Alam Tengah Kota Yang Hmmmm...

wisata alam punti kayu

Salah satu tempat wisata di Palembang yang lokasinya berada di pusat kota adalah Hutan Punti Kayu atau yang punya nama lain yaitu Taman Wisata Alam Punti Kayu. Lokasinya ada di Jalan Kolonel H. Barlian atau Jalan Lintas Sumatra, nggak perlu masuk-masuk ke dalem gang karena beneran di pinggir jalan raya besar dengan papan petunjuk yang jelas banget.

Taman Wisata Alam Punti Kayu ini punya konsep ke wisata alam untuk keluarga, karena di sini banyak sarana permainan outbound dan area wisata yang memang dikhususkan untuk anak-anak. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi bikin suasana Hutan Punti Kayu ini emang terasa teduh dan adem kalua di siang hari. Gelar tiker di bawa rerindangan pohon, terlaksana deh acara piknik bareng keluarga. Hutan Punti Kayu juga punya area bermain untuk anak-anak kecil, ada area berbayar yang isinya itu replika keajaiban dunia mulai dari Menara Eiffel sampai Patung Liberty. Gue nggak ngerti ada apalagi di sana, karena gue lihat dari luar aja (ngintip penasaran ada apa di dalem sana).
wisata punti kayu palembang
masuknya aja udah antri banget ini
punti kayu di palembang
asik sih sebenernya (kalo nggak weekend)
Masuk ke Taman Wisata Alam Punti Kayj ini per orangnya bakal dikenai tiket masuk sebesar 12.500 Rupiah, harga itu masih termasuk murah meriah sih. Tapi aneh bin lucunya di sini adalah parkir mobil dan motornya nggak tertata rapi. Seharusnya mobil dan motor punya area parkir tersendiri dan nggak masuk ke bagian dalem area bermain atau hutannya. Menurut sebagian wisatawan mungkin ini enak karena nggak perlu jauh berjalan kaki, tinggal parkir di bawah pohon, turun, gelar tiker. Tapi, menurut gue ini justru jadi bumerang wisatanya itu sendiri yang berkonsep alam, kenapa kendaraan masih lalu lalang di dalam hutannya yang bakal mengeluarkan polusi yang buruk bagi alam itu sendiri.
wisata alam punti kayu di palembang
tapi sayangnya kenapa mobil bisa masuk dan parkir di atas rumput
Pas ke sana pun gue kebingungan setengah mati mau parkir dimana karena nggak ada pengarahan dari petugas di sana, jadi ya pengunjung diperbolehkan sesuka hati untuk memarkirkan kendaraannya dimana pun dia mau. Gue main ke Taman Wisata Alam Punti Kayu ini sehari setelah Lebaran Idul Fitri 2017 dan itu rame banget sama wisatawan yang dating. Agak sedikit bikin males sih, karena suasananya bener-bener crowded dan semrawut. Apalagi ngantri lama banget pas di pintu masuknya dan ditambah kesemrawutan buat mencari space parkir kendaraannya. Tapi mungkin kalau bukan di hari libur besar atau weekend, Taman Wisata Alam Punti Kayu ini masih termasuk reasonable buat dikunjungi. Selamat piknik!

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…