Skip to main content

Makan Nasi Kucing Itu Murah dan Hemat? Masa Iya, Coba Cek Lagi!

suasana angkringan jogja

Udah pada tau kan ya apa itu nasi kucing?
Kalo angkringan? 
Atau ada yang belum tau angkringan dan belum pernah makan nasi kucing? 

Iyes, angkringan sama nasi kucing ini menjadi 2 hal yang nggak bisa dilepaskan satu sama lain, kalau inget nasi kucing pasti inget angkringan, begitu juga sebaliknya. Alasan paling rasional kenapa disebut nasi kucing karena emang nasinya dibuat dengan porsi kucing (perasaan kucing gue makannya banyak deh) dan asalnya nasi kucing ini dari Kota Yogyakarta. Nasi kucing yang dijual di angkringan ini awalya diciptakan untuk menyasar kelas mahasiswa di Jogja buat makan irit, hemat, dan terjangkau, (maklum lah ya, di Jogja isinya anak rantau semua), tapi apa iya makan nasi kucing ini beneran jauh lebih murah dan hemat?

Dulu pas gue kuliah di Jogja, angkringan nasi kucing ini emang jadi favorit mahasiswa buat makan dan sampai sekarang pun begitu. Hampir di setiap sudut kota Jogja pasti bakal nemuin gerobak angkringan nasi kucing ini, mulai dari yang biasa aja di pinggir jalan sampai yang udah terkenal di sekitaran Stasiun Tugu (ini sekarang rame banget sama wisatawan). Tapi sebenernya tujuan mereka (para mahasiswa) ke angkringan ini bukan sepenuhnya untuk makan apalagi untuk makan berat, lah terus ngapain? Sebenernya mereka dateng ke angkringan lebih untuk sekedar nyari tempat buat ngobrol sama temen mereka dengan suasana yang lebih dekat dan hangat (ciee..). Nggak ada yang bisa menggantikan suasana angkringan di malam hari, duduk di bangku kayu, di depan gorengan dan sate-satean, di depan bara api menyala dan ceret air panas di sana, ditemani benderangnya cahaya lampu petromak, dan hangatnya segelas susu jahe. Duh, obrolan mana yang nggak bakalan mencair kalau suasananya kayak gini.
suasana temaram angkringan
suasana temaram yang bikin asik buat ngobrol. 
sumber: soloraya.wordpress.com
makanan di angkringan jogja
ngobrol asik di hadapan makanan, bikin nggak sadar ambil sana ambil sini
sumber: qraved.com
teko angkringan
teko air panas/teh yang khas dan biasanya ada di atas bara api, bikin anget badan juga
Tapi, sesuai yang pengen gue bahas tadi, apa iya makan nasi kucing ini lebih murah dan hemat? Kalau menurut gue jawabannya 50:50 bisa iya, bisa nggak. Lah kok? Seperti yang gue ceritain barusan, kalaupun ada mahasiswa yang mau makan berat dan kenyang di angkringan, biasanya mereka udah prepare bawa uang yang sedikit lebih banyak. Gue jelasin dulu rata-rata harga di angkringan nasi kucing yang selama ini pernah gue makan, pertama susu jahe atau minuman-minuman itu harganya 3.000-5.000an, sate-satean 2.000-3.000an, gorengan 2.000-3.000an, nah nasi kucingnya itu sendiri harganya berkisar 3.000-4.000an. 
sate-satean di angkringan
sate babat, sate kikil, telur puyuh, ceker, sampai kepala ada di sini
sate babat sate kikil angkringan
sate-satean di angkringan yang bikin lupa diri
Pertama, alesan kenapa makan di angkringan gue bisa bilang murah, jawabannya iya murah kalau kita makannya satuan aja dan sebelum pergi ke angkringan udah makan kenyang terlebih dahulu. Jadi ketika di angkringan kita hanya tinggal nyemil-nyemil lucu aja, misalnya cuma ambil gorengan satu/dua dan minum segelas teh anget, selebihnya ngobrol, nah itu bakalan murah, nggak lebih dari 10.000 ribu malah. Tapi, akan berbanding terbalik ketika lo pergi ke angkringan dalam kondisi laper atau diniatkan untuk makan malam/makan berat, kondisi yang seperti ini lah yang patut diwaspadai dan bakalan membuat makan di angkringan nasi kucing menjadi sama mahalnya dengan lo makan di restoran fast food atau tempat makan lainnya. Gini, misalkan lo ngambil satu porsi nasi kucing (yang biasanya isinya itu cuma satu gempalan tangan anak SD), sate kikil, gorengan satu, tapi lo belum makan sebelumnya, pastinya nggak mungkin cuma ambil itu aja bukan? Sembari ngobrol sama temen, obrolan mengalir, nggak sadar lo ngambil nasi lagi, sate lagi, gorengan lagi, dan lainnya. Tiba-tiba pas mau bayar, si penjual bilang totalnya adalah lebih dari 20.000 ribu atau bahkan lebih, jangan kaget ya. Hehe…
segelas susu jahe atau teh cukup menemani obrolan hangatmu bersama temen (cieeeh....)
sumber: travelingyuk.com
Itulah yang udah gue "ngertiin" dari dulu kalau memang angkringan nasi kucing ini sejatinya murah dalam "kondisi khusus". Ketika ingin pergi ke angkringan, biasanya kita mencari suasananya terlebih dahulu dan kedua barulah makanannya, percaya deh sama gue kalau suasana angkringan ini bakalan bikin orang merindu! Ahayyy... Selamat nangkring! 

Sumber gambar utama (header pict): blog.carionline.com

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…