Skip to main content

Kesurupan Sambel di Warung Sambel Mentah Dadakan Tasik, Serpong!

sambel dadak tasik serpong


Gue jarang nge-review warung tenda kaki lima. Bahkan warung ini sekarang udah jadi tempat makan penyetan favorit di Serpong. Sejak artikel ini publish, udah nggak terhitung berapa kali gue makan di Sambel Mentah Dadakan Tasik ini.

Warung tenda Sambel Mentah Dadakan Tasik ini ada di Jalan Ciater Raya, BSD, Serpong. Dari jalan raya, hanyalah sebuah warung kaki lima penyetan biasa. Tapi menjadi luar biasa pas masuk ke dalemnya, langsung disajikan sederetan menu penyetan, mulai dari ayam, ikan, ati ampela, tahu tempe, dan lainnya. Semakin menarik lagi ada banyak pete digantung dan lalapan mentah di tampah. 

sambel mentah dadak tasik serpong
nah itu tuh lalapannya di tampah, banyak banget...
Kalau dari luar, tendanya tertulis “sambel goang, sambel terasi, dan sambel tomat” dengan font besar berwarna merah. What the hell is that sambel goang?!  Ternyata, sambel goang adalah sambel mentah khas Sunda.

Gue udah pernah coba dari semua jenis sambelnya. Sambel goang dibuat pakai semacam tumbukan kayu, sambel terasi dan sambel tomat dibuat pakai 2 cobek yang berbeda. Tau kan tujuannya apa? Iya, supaya rasa sambelnya nggak tercampur satu dengan yang lainnya. Mantapnya, semua sambelnya dibuat dadakan.


Sambel mana juaranya? Pemenangnya adalah sambel goang! Buset, pedesnya nggak ketulungan bikin mulut panas, perut panas, kepala gatel, baju basah kuyup, ngomel-ngomel sendiri. Sambel setan kalah, sambel gledek kalah. Sambel goang jadi sambel terpedas yang pernah gue coba.


sambel mentah tasik serpong
ini dia sambel goangnya, jangan remehin tampilannya

Beralih ke sambel terasi, yang bisa gue bilang “kuat” banget terasinya. Gue rasa 70:30 (70% terasi, 30% cabe), jadi bikin warna sambelnya lebih kecokelatan dengan aroma terasi yang menggugah selera makan. Tingkat kepedesannya dibawah sambel goang.

Terakhir, adalah sambel tomat, yang punya level kepedesan paling biasa, karena seperti namanya sambel tomat pasti komposisinya lebih banyak tomatnya daripada si cabenya. 


sambel mentah serpong tasik
lele goyeng, tahu goyeng...
[update] Ternyata mereka punya sambel baru yaitu sambel setan, level pedesnya masih di bawah sambel goang. Sambel setan adalah sambel mentah yang terbuat cabe merah yang di uleg pakai garam, tanpa bawang putih dan campuran lainnya. Aromanya khas dan menusuk hidung banget.

Oh iya, semua sambel di sini gratis dan tambah sambel juga gratis! 
(Ajegile, cabe bukannya mahal ya?).

Woi ki, bahas sambelnya terus? Kapan bahas makanannya? Iya iya, soalnya yang jadi pusat perhatian di warung Sambel Mentah Dadakan Tasik ini emang sambelnya. Mungkin bisa makan pakai nasi, tahu, sama sambelnya aja. Sambelnya bener-bener bikin nafsu makan naik.

Makanannya nggak ada yang spesial, standar penyetan kaki lima, mulai dari ayam goreng, lele, ikan gurame, ati ampela, tahu tempe, dll.

Tambah nasi di sini dan lalapan di sini juga gratis sepuasnya. Nasinya nggak disajikan porsian, tapi ditaruh di bakul bambu. Menurut gue, nasi 1-2 porsi itu banyak banget. Sedangkan untuk lalapannya yang bikin asyik adalah kita bebas pilih dan ambil sendiri. Pilihannya lengkap mulai dari timun, selada, kol, terong lalap, sampai leunca. 

warung sambel dadak serpong
nasinya satu bakul, buanyak banget!
warung sambel mentah serpong
timunnya mengkel kan?
Kesimpulannya, Warung Sambel Mentah Dadakan Tasik bisa gue rekomendasikan bagi yang suka pedes. Hal lain yang patut diacungi jempol adalah kebersihannya dan keramahan si penjualnya. Mereka nggak segan mengucapkan kata "maaf" ketika mengantar pesanan yang salah dan lama datangnya.

Lokasinya ada di Jalan Raya Ciater yang mengarah ke bundaran menuju Ciputat, tepatnya sebelum perumahan Ciater Raya (ini koordinatnya). Selamat kepedesan!

Nasi + Ayam: Rp20.000 
Nasi + Lele: Rp18.000
Sambel Goang: GRATIS (9 dari 10)
Sambel Setan: GRATIS ( 8.5 dari 10)
Sambel Terasi: GRATIS (8 dari 10)
Sambel Tomat: GRATIS (7 dari 10)
Nambah Nasi: GRATIS
Lalapan: GRATIS

Teh Tawar: G GRATIS ratis

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…