Skip to main content

Chinatown Bandung: Wisata Kekinian yang Bikin Greget!

chinatown bandung


Bandung nggak ada matinya kalau urusan tempat wisata, tiap tahunnya selalu ada aja yang baru, salah satunya adalah objek wisata Chinatown Bandung. Pengen ke sini karena beberapa bulan sebelumnya melihat feeds dari beberapa akun Instagram yang hasil fotonya bagus banget. Sebenernya kawasan pecinan atau kampung China di Bandung ini udah ada sejak lama, cuma sekarang dirombak sama walikotanya jadi sebuah kawasan kekinian yang asyik banget. Lokasinya ada di Jalan Kelenteng No.41, Ciroyom, Andir, Bandung, persis di belakang Mall 23 Paskal, kawasan yang lumayan padat dan rame banget.

Gue ke sini hari Sabtu sore dan mendapatkan saran dari temen kalau mau ke Chinatown Bandung pakai mobil sebaiknya parkir di dalam Mall 23 Paskal-nya. Dari dalem mall tinggal jalan kaki keluar ke arah belakang. Sekitar 5 menit jalan kaki, kita sudah sampai di lokasi Chinatown-nya.

Sampai di lokasi, ternyata Chinatown Bandung ini semacam tempat kumpulan kuliner dan toko pernak-pernik khas Tionghoa. Masuk ke dalam kita harus bayar tiket masuknya sebesar Rp20.000/orang dan dapet kue bolu imut. Niat banget pengelolanya, mantap!

chinatown kota bandung
ini gerbang masuknya ke gang pecinannya
wisata chinatown kota bandung
lampion-lampion cantik
wisata chinatown bandung
ya ampun bolu sama jari-jari gue itu sama gedenya
Masuk ke bagian dalam, di mana ekspektasi gue nggak terlalu tinggi sama Chinatown Bandung ini, karena gue pikir bakalan terlihat aritificial banget, tapi ternyata nggak eh! Replika bangunan dengan desain khas Tiongkok di Chinatown Bandung ini rapi banget. Hampir setiap sudutnya bisa jadi spot menarik buat foto-foto, instagramable. Emang banyak dari mereka yang ke sini hanya untuk sekedar hunting foto aja. Mungkin kalau weekday bakal lebih nyaman karena nggak rame. Jadi foto-foto bakal lebih tenang dan nggak terganggu oleh banyak orang yang lalu-lalang.

Area Chinatown Bandung ini nggak bisa dibilang luas, tapi sempit juga nggak. Mungkin jadi terkesan sempit karena saking banyaknya orang yang datang pas weekend. Di Chinatown banyak toko yang menjual barang-barang unik dan antik, jajanan juga ada, kaos-kaos, tas-tas, banyak lagi. 

Semua sistem pembayaran di Chinatown Bandung nggak ada transaksi tunai atau cash ya, jadi semua non-tunai dan wajib pakai flazz BCA. Kalau yang sering naik KRL, busway, tinggal isi ulang aja kartunya di loket, tapi yang belum punya di sini ada yang jual kartunya. Kalau nggak salah liat harganya 50 ribu, isi saldonya 20 ribu. Cakep sistemnya!

masuk ke chinatown
suasana kalo sore di sini asik bingit
suasana di chinatown bandung
duh yha, lampionnya cantik banget
suasana chinatown bandung
weekend rame banget tapi di sini
Gue pergi ke Chinatown Bandung ini sekitar jam 5 sore sampai jam 7 malam, jadi sempet merasakan dua suasana sekaligus, ketika terang dan gelap. Suasananya sama-sama menyenangkan dan bagus buat foto-foto, karena malem hari di sini nggak gelap, banyak cahaya dari lampu lampion gantung yang cantik di sini.

Buat yang muslim, di dalam area Chinatown Bandung ada musholla yang besar dan nyaman. Persis, di area dekea musholla, ada permainan yang mirip di pasar malam, misalnya permainan melempar gelang, basket, dan lainnya.

Di area tengah Chinatown Bandung (yang menjadi spot utamanya), sekitar jam 7 malam (malam minggu) lagi ada check sound live music yang bakalan tampil sampai jam tutup. Tapi gue nggak tau live music ini ada setiap malam atau hanya malem minggu aja.

Suasana temaram dari lampion gantung warna-warni bikin suasananya makin syahdu. Sama-sama seru pergi sama pacar atau sama temen ke Chinatown Bandung ini.

suasana di chinatown bandung
barang-barangnya antik-antik
chinatown kota bandung
makin malem, nyala lampionnya makin cakep


chinatown wisata bandung
suasananya asik banget menjelang malem
wisata chinatown bandung
nah itu di ujung lagi ada check sound buat live music kayaknya
wisata chinatown kota bandung
banyak spot instagramable


KesimpulannyaChinatown Bandung termasuk wisata baru yang lagi nge-hits. Dengan tiket masuk 20.000 Rupiah, Chinatown Bandung termasuk worth it buat dikunjungi. Kalau mau makan dan nyemil, mungkin siapkan saldo flazz BCA sekitar 50 -70 ribu buat satu orangnya. Selamat berkunjung!

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…