Skip to main content

The Summit Siliwangi Hotel, Bandung: Pas Depan Traffic Light Hotelnya Nih! Macet?

the summit siliwangi hotel bandung


The Summit Siliwangi Hotel
Alamat: Jalan Seram No.5, Citarum, Bandung Wetan
Harga: Rp499.000 (harga hotel) – Rp350.000/harga Airy Rooms
Reservasi: Airyrooms.com

Lokasi dari The Summit Siliwangi Hotel menjadi pertimbangan gue kenapa memilih untuk menginap semalam di hotel ini. The Summit Siliwangi Hotel bener-bener berada di tengah kota dan masih sangat terjangkau untuk pergi ke berbagai tempat di kota. Apalagi yang baru gue tau pas pulang malem ke hotel, persis di sebelah hotel ini ada kafe kopi yang asik tempatnya, sayangnya gue pulang udah kemaleman dan capek, kalau masih agak pagi mungkin gue mampir ke kafe kopi ini.

Oke, lanjut ke pembahasan hotelnya. Gue check-in sekitar jam 3 sore dan disambut sama pelayan yang ramah. Tas-tas gue pun diantarkan sampai masuk ke dalam kamar hotel (buat lo yang bingung mau ngasih uang tip berapa, range-nya biasanya mulai 10-20 ribu, cukup). Kamar hotelnya untuk kelas bintang 3 udah termasuk besar dengan kasur twin (tipe kamar yang gue pesen). Nah, karena gue pesen kamar melalui pihak ketiga yaitu Airy Rooms, maka kelengkapan hotelnya ini disediakan oleh mereka, mulai dari air minum, snacks, sampai amenities mandi. Asiknya kalau pesen lewat Airy Rooms ini, kita juga bakalan dapet banyak jajanan di meja hotelnya, misalnya ada beng-bengbettermalkist roma, dan dua air mineral yang mereknya FarmhouseAmenities mandinya juga lengkap mulai dari sikat gigi, odol, sabun, sampo, yang kemasannya lucu banget.

the summit siliwangi hotel di bandung
hotelnya nggak berlantai tingkat tapi luas
the summit siliwangi hotel
kasurnya empuk pisan, ada tambahan bantalnya dari Airy
airy rooms the summit siliwangi hotel
enaknya kalau pesen lewat Airy adalah dapet jajanan, hahaha...
airy rooms the summit siliwangi bandung
lucu ya tube sabun sama samponya
airy rooms summit siliwangi bandung
kamar mandinya standar lah ya, yang cewek ada pengering rambutnya tuh!
Satu hal yang gue acungin jempol sama The Summit Siliwangi Hotel ini adalah colokan listriknya yang termasuk banyak, gue itung kalau nggak salah totalnya ada 5 colokan listrik dan masing-masingnya ada di posisi yang strategis. Dua masing-masing di sebelah kasur dan sisanya ada persis di depan meja besar di kamar ini. Udah lumayan lengkap sih menurut gue, sepasang slipper juga disediakan. Oh iya, gue baru tau malah ketika mau check-out kalau kamar di The Summit Siliwangi Hotel ini juga punya kulkas mini yang ngumpet di balik lemari sebelah gantungan baju.

Cuma emang gue kebetulan dapet kamar yang posisinya kurang pas, kurang dalam masalah sinyal Wi-Fi yang putus nyambung dan bahkan nggak bisa terhubung sama sekali. Kurangnya lagi jendela kamarnya persis menghadap ke tangga naik, jadinya nggak bisa dibuka apalagi buat dapetin sinar matahari. Selebihnya semua punya kualitas standar hotel yang biasa aja, mulai dari kamar mandinya sampai tingkat keempukan kasurnya yang nggak ada masalah.

Nah untuk sarapannya sendiri dimulai dari jam 6 sampai jam 10 pagi dan ada di bagian depan hotel. Modelnya prasmanan dan termasuk lumayan lengkap, mulai dari bubur ayam, pilihan nasi dan lauk pauknya, roti-rotian, buah, dan macem lainnya. Enaknya standar, nggak ada yang spesial menurut gue sih buat sarapannya.
airy rooms hotel the summit siliwangi bandung
sarapannya model prasamanan, ok lah ya

So, The Summit Siliwangi Hotel termasuk hotel yang nyaman kok buat nginep khususnya keluarga. Lokasinya itu sih yang bikin hotel ini dicari dan jangan kaget kalau parkiran hotel ini di weekend bener penuh banget. Selamat menginap!

+ Lokasi Strategis, Murah Pakai Airy
- Ada di Jalur Macet (Deket Lampu Merah)

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…