Skip to main content

Bakso Titoti, BSD: Kenapa Mereka Begitu Jahat?

bakso titoti BSD


Pertama kali tau Bakso Titoti di Purwodadi (kampung halaman) dan rasanya enak. Nggak hanya baksonya, sempet nyobain batagor dan siomay-nya juga. Iseng buka Zomato dan ternyata di BSD Tangerang ada cabang Bakso Titoti, wah!

Meluncur ke TKP sepulang kerja sekitar jam 7 malem ke Bakso Titoti di Jalan Raya Ciater Timur, mau ke arah Puspitek. Kalau dari stasiun, ancang-ancang belok kanan setelah Bebek Kaleyo. Bakso Titoti ini ada di kanan jalan dan biasanya rame banget sama mobil yang parkir di depannya.

Bakso Titoti di BSD juga menyedikan siomay dan batagor sama seperti cabang lainnya. Tapi gue pesan bakso dan mi ayamnya aja. Rasa baksonya bener-bener menggugah selera makan. Rasa kuah kaldunya gurih, asinnya pas. Di dalamnya ada campuran tahunya juga dan ada satu bakso besar yang isinya telur ayam utuh.

Mi ayamnya juga enak. Tekstur mi-nya lembut dan ukuran semur ayamnya termasuk gede dan nggak terlalu basah berkuah. Tekstur baksonya berurat, tapi nggak ngelawan pas dipotong pakai sendok.

bakso titoti rawabuntu
ini yang bakso biasanya
bakso titoti rawa buntu
duh kan, ini enak banget!

Bakso Titoti ini beneran enak. Tapi sangat disayangkan banyak omongan yang nggak enak tentang bakso ini. Selamat makan bakso!

Mi Ayam Bakso: Rp14.000 (9 dari 10)
Bakso Biasa: Rp14.000 (9 dari 10)

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…