Skip to main content

Nyonya Colors @KLIA2, Malaysia: Awalnya Meremehkan, Akhirnya Mengenyangkan

nyonya colors klia2

Sebenernya udah lama banget pengen mampir dan nyobain makanan yang ada di Nyonya Colors ini. Lokasinya berada di lantai 3 Gateway@KLIA2, persis sebelum area keberangkatan (Depature Hall) yang luas banget dan penuh dengan counter check-in dari berbagai maskapai. Kalau dilihat dari luar, Nyonya Colors ini nggak besar, bahkan cenderung nyempil dan kecil, tapi setelah masuk ke dalam dan nyobain masakannya barulah lo akan melihat besarnya kenikmatan di sana (woelaah!). Saran dari gue, ketika transit di KLIA2 dengan waktu yang cukup lama sebaiknya keluar imigrasi dulu, karena jika langsung pindah ke transit hall lo nggak bakal menemukan Nyonya Colors ini.
 
nyonya colors malaysia airport
nyempil di antara McDonald's dan Tissot Store
makan murah di nyonya colors
banyak jajanan pasar yang murah meriah
nasi lemak nyonya colors
nasi lemaknya cuma 12.000-an aja tuh
menu nyonya colors klia2
kelihatan nggak?
nyonya colors di klia2
nggak luas tapi masih termasuk nyaman
Di Nyonya Colors gue memesan Laksa Kuning yang kalau dilihat di papan gambar biasa aja dan awalnya pun gue nggak berekspektasi besar dengan makanannya, pokoknya “yang penting kenyang” saat itu. Tapi semuanya berubah ketika Laksa Kuning-nya datang dan diantar ke meja, betapa kagetnya gue melihat porsinya. Meja mungil di Nyonya Colors langsung terlihat penuh karena ukuran mangkuk yang luar biasa besar. Warna kuah kuning terang yang berpadu dengan merahnya potongan cabai dan hijaunya daun mint sebagai pemanis di atasnya yang membuat penampilan Laksa Nyonya Colors ini cantik banget. Isi dari Laksa Kuning Nyonya Colors ini terdiri dari mi bihun, potongan labu, dan potongan ayam. Porsi mi bihun-nya banyak, ditambah 4 potongan labu berbentuk dadu besar (yang pertama kali gue kira itu kentang), dan 3 potongan ayam yang juga lumayan besar. Eh iya lupa, ada satu tambahan lagi di Laksa Kuning ini yang bikin rasanya jadi lebih enak, yaitu bumbu rendang-nya. Tapi apa beneran enak ki?
 
laksa kuning nyonya colors klia2
nah ini dia Laksa Kuning yang ternyata melebihi ekspektasi
laksa nyonya colors klia2
tampilannya cantik pisan
Oke, ini diluar ekspektasi “asal perut kenyang” di awal tadi, rasa Laksa Kuning-nya Nyonya Colors KLIA2 ini beneran enak. Kuahnya padat bumbu, walaupun emang nggak pedes, tapi hangatnya kuah dan kuatnya rasa rempah memaklumi semua itu. Ada satu hal yang sangat disayangkan yaitu potongan labu yang gue pikir kentang itu lembek banget (terlalu lama kayaknya ngerebusnya), jadi membuat labunya nggak punya tekstur ketika digigit atau dikunyah, tapi it’s okey lah. 3 potongan ayamnya juga lumayan besar, dagingnya lembut dan kalau digigit nggak ngelawan, langsung lepas dari tulangnya. Untuk bihunnya nggak ada yang spesial, rasanya sebagaimana bihun pada umumnya. Tapi so far, Laksa Kuning Nyonya Colors di KLIA2 ini enak, bikin perut hangat, dan yang pasti mengenyangkan.

Laksa Kuning  : 14.30 MYR (Rp 48.600) (9.5 dari 10)
Air Mineral      : 4.15 MYR (Rp 14.000)

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…