Skip to main content

Rest Area Banjaratma KM 260B, Brebes: Pabrik Gula Angker yang Kini Instagramable

Rest Area Banjaratma KM 260B


Kapan lagi pergi ke rest area harus membuat agenda dan menjadwalkan untuk mampir. Iya, ketika seorang diri mau pulang dari Semarang ke Jakarta di akhir bulan Juni kemarin, gue niat unt menyempatkan berhenti di Rest Area Banjaratma KM 260B.

Emang ada apa Ki? Rest area doang kan Ki?

Oke, iya betul, memang Rest Area Banjaratma KM 260B adalah merupakan sebuah tempat peristirahatan sebagaimana mestinya yang ada di pinggir jalan tol. Di sini ada pom bensin, toilet, restoran, tempat oleh-oleh, dan berbagai hal lainnya yang umum kita lihat di rest area. Tapi ada yang nggak biasa dan berbeda nih kalau dilihat dari kebanyakan rest area yang lain, yaitu terdapatnya bangunan besar yang menarik perhatian mata di sini.

Rest Area Banjaratma KM 260B
ini kalau dilihat dari atas (jalan tol)
Rest Area Banjaratma KM 260B
ini adalah masjid, what? iyess.. masjid
Rest Area Banjaratma KM 260B Brebes
dipugar jadi keren ya gaes..
Rest Area Banjaratma KM 260B Brebes
sudut lain Rest Area Banjaratma KM 260B Brebes
Rest Area Banjaratma KM 260B Brebes
ini denahnya.. keliatan gak?
Bangunan besar yang menarik perhatian mata itu adalah bangunan bekas pabrik gula yang kini menjadi pemandangan unik di Rest Area Banjaratma KM 260B. Pabrik Gula Banjaratma ini dahulu dibangun pada tahun 1908 dibawah operasional Belanda. Berarti usia bangunannya udah sekitar 110 tahun lamanya dan katanya bangunan ini terkenal angker karena terbengkalai belasan tahun sebelum akhirnya dibeli oleh BUMN untuk dipugar.

Tahun 1997 adalah tahun terakhir di mana Pabrik Gula Banjaratma ini beroperasi, sampai akhirnya tutup karena biaya operasional yang membengkak dan nggak sebanding dengan keuntungan dari produksinya.

Tapi sekarang, semua disulap menjadi bangunan yang sangatlah menarik di Rest Area Banjaratma KM 260B. Banyak UMKM yang membuka lapaknya di dalam bangunan bekas pabrik gula ini, mereka berjualan berbagai hal mulai dari telor asin, kerajinan tangan, sampai mi instan.

Rest Area KM 260B Brebes
udah lepas musim mudik, jadi sepi, enaaa...
Rest Area KM 260B Brebes
luuasss bangeeetsss di dalemnya...
Rest Area KM 260B Brebes
keren, bangunan aslinya masih kokoh banget
Rest Area Banjartama Brebes
masih banyak sisa-sisa mesin gula zaman dulu
Rest Area Banjartama Brebes
laper? ngantuk pengen ngupi? ada di sini
Rest Area Banjartama Brebes
ini adalah sudut atau bagian yang menurut gue paling keren di Rest Area Banjartama Brebes
Rest Area Banjartama Brebes
tapi jangan brutal ya gaes, karena ini termasuk bangunan cagar budaya
Rest Area Banjartama Brebes
ada lesehannya di sini, hehe..
Rest Area Banjartama Brebes
ini juga menjadi yang kedua paling menarik di sini
Rest Area Banjartama Brebes
banyak spot selfie...
Rest Area Banjartama Tol Cipali
lupa beli oleh-oleh? ada di sini
Rest Area Banjartama Tol Cipali
ini juga keren!
Rest Area Banjartama Tol Cipali
bahkan mereka gak nambal bagian temboknya.. nice!
Rest Area Banjartama Tol Cipali
jadi beda gitu ya....
Rest Area Banjartama Tol Cipali
ini juga...
Rest Area Banjartama Tol Cipali
parkirannya luass coiii...
Rest Area Banjartama Tol Cipali
CFC-nya jadi cakeppp..
Tentunya, dengan mempertahankan bentuk bangunan aslinya dengan corak batu bata berwarna jingga, membuat bangunan ini terlihat semakin menarik. Maka jangan heran kalau di dalam dan di sekitar area Rest Area Banjaratma KM 260B ini sangatlah instagramable.

Jadi, bagi kalian yang melewati Tol Cipali, cobalah mampir ke Rest Area Banjaratma KM 260B dan kalian akan melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Comments

  1. Pas pertama kali aku lihat fotonya, aku pikir di luar negeri. Ternyata bukan. Ini sih beneran instagrammable banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi kalau ke sini langsung mba, bakal lebih wah liatnya...

      Delete
  2. Dari dulu Pabrik Gula pasti selalu dianggap angker, entah di mana-mana hehehe tapi sepenglihatan dari foto bagus banget nggak kelihatan angker sama sekali~ keren juga sampai ada akar pohon di dalam bangunan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul, mereka bisa mempertahankan sesuatu hal yang keren menjadi tambah keren lagi ketika diremajakan...

      Delete

Post a comment

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…