Skip to main content

Kenyang Menanti Sunset di Watu Langit Jogjaa Coffee and Resto, Prambanan

watu langit jogjaa

Liburan di Jogja di akhir bulan Juli 2019 kemarin, gue mampir ke salah satu tempat makan yang baru buka sekitar bulan Mei di daerah Candi Ijo, namanya @watulangitjogjaa. 

Lokasinya nggak jauh dari Candi Ijo, di mana kita harus menanjak lagi ke atas sekitar 1 km untuk sampai ke Watu Langit Prambanan ini.

Nggak usah takut nyasar atau susah buat nemuin @watulangitjogjaa ini, karena berada di pinggir jalan dan mempunyai sebuah menara tinggi yang difungsikan sebagai gardu pandang, kita bisa berpatokan pada menara itu dari kejauhan.

watu langit jogjaa prambanan
nah kalian bisa berpatokan sama menara ini
watu langit jogjaa prambanan jogja
dari kejauhan mencolok banget menaranya
watu langit jogjaa jogja
bangunannya ala-ala rumah Joglo gitu
Makan Apa Di Sini?
Di Watu Langit Prambanan kita bisa makan berat, nyemil, atau sekadar ngopi aja. Makan beratnya adalah prasmanan, ambil sendiri, bayar, baru makan. Waktu hari sabtu sore gue ke sini, sayangnya menunya tinggal dikit, tinggal ayam, tempe, telor dadar, sama tumis kacang panjangnya aja. 

watu langit prambanan jogja
ambil sendiri kalau mau makan berat
watu langit coffee and resto prambanan jogja
ada nasi merah...
watu langit coffee and resto prambanan jogja
sayur lodeh
watu langit coffee and resto jogja
ayam kampung 
watu langit coffee and resto jogja
tumis melinjo + tumis tempe
watu langit coffee and resto prambanan
sambel mentahnya ngulek sendiri, puedesss
watu langit coffee and resto prambanan
lagi nungguin telur kremess
Buat yang lagi diet, Watu Langit Jogjaa punya menu nasi merah lho gaes! Hehe… tentunya gue pesen yang satu ini deh! Nah, gue sempet ditawarin Ibunya rawon kambing, cuma gue nggak begitu tertarik jadi nggak memesannya.

Minum Apa Di Sini?
Kalau mau minum aja juga bisa, karena Watu Langit Prambanan juga punya coffee shop mulai dari americano, cappuccino, sampai berbagai macam latte. Buat yang non-coffee juga ada, misalnya teh atau wedang-wedangan lainnya. 

watu langit coffee and resto jogjaa prambanan
ini menu makanannya dan kopi-kopian
watu langit coffee and resto jogjaa prambanan
ini yang khusus kopi, sama aja sih sebenernya ada di menu sebelumnya
Nyemil Apa Di Sini?
Nah camilannya di sini juga ada, waktu itu gue pesen pisang goreng yang cocok banget buat nemenin kalian berdua pacaran sambil nunggu sunset. Duh duh duh! 

watu langit resto jogja prambanan
satunya 2.000, enak lumayan
watu langit resto jogja prambanan
menjelang maghrib suasananya makin nyaman
watu langit resto jogja candi ijo
banyak jeep berseliweran di jalan raya. hati-hati mak!
watu langit resto jogja candi ijo
cieee pada pacaran!!
watu langit resto jogja candi ijo
menjelang maghrib, lampu-lampu mulai dinyalakan
watu langit resto jogja candi ijo
indah yaaaa.... 
Keseluruhan harga makanan dan minumannya nggak mahal, tenang aja! Apalagi dibayar dengan suguhan pemandangan yang luar biasa dari Watu Langit Prambanan ini. 

Ketika hari sudah menjelang malam, suasananya makin syahdu! Lampu-lampu kota mulai menyala dan @watulangitjogjaa sendiri pun terlihat terang dan menyenangkan!

Comments

Popular posts from this blog

Buat Yang Mau Backpackeran ke Malaysia, Ini Kartu SIM Terbaiknya!

Sebelum pergi ke Malaysia gue berpatokan dengan banyak blog yang menyarankan buat pilih SIM Card dari provider Digi, yang identik dengan warna kuning dan (katanya) jadi provider telekomunikasi paling besar di Malaysia.
Patokan harga untuk membeli kartu SIM pun berasal dari blog-blog tersebut, yang membuat gue harus menyiapkan uang 30 MYR untuk membeli SIM Card di bandara. Emang bener sih, pas turun dari pesawat dan menuju terminal kedatangan di sana ada 2 booth provider SIM Malaysia yang letaknya bersebelahan.
Satu booth berwarna kuning dari operator Digi yang saat itu ramai banget antriannya dan satu lagi booth serba merah dari operator Hotlink yang sepi nggak ada pembelinya. Gue nggak langsung memutuskan untuk membeli kartu Digi begitu aja, karena gue lihat  kartu Digi untuk kuota 3 GB dijual seharga 35 MYR, sedangkan Hotlink dengan kuota yang sama hanya 30 MYR.
Yaudah, awalnya sih gue mikir membeli harga termurah aja, tapi ternyata keuntungan yang gue dapatkan dari kartu Holtlink ini …

Bekasi – Bandung, 157 km Ditempuh Pakai Motor Sendirian. Ngapain?

Memutuskan pergi ke Bandung pakai motor bukan menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika gue bercerita kepada sejumlah teman, tidak jarang banyak yang kaget karena gue pergi seorang diri bukan konvoi. Apa iya, konvoi beratus-ratus kilometer, banyak dari kalian yang sudah pernah melakukannya. Tetapi, apa iya belum pernah pergi beratus-ratus kilometer sendirian pakai motor?
Buat gue hal ini sudah biasa karena sebelumnya juga pernah melakukannya. Gue pernah pergi rutin setiap 3-6 bulan sekali dari Kota Jogja menuju Kota Purwodadi yang jaraknya sekitar 140-150 km. Pakai motor? Oh ya, jelas. Sendiri? Iya. 

Nggak hanya itu, waktu traveling sendiri di Lombok, gue juga berkeliling sendiri pakai motor, menyusuri jalan raya dari bagian utara Pulau Lombok sampai ke ujung selatannya. Semua baik-baik saja dan terasa menyenangkan.
Semua Serba Pas dan Kebetulan Nah di hari Sabtu tanggal 2 Februari kemarin, gue memutuskan pergi ke Bandung pakai motor karena ada beberapa hal yang pas dan kebetulan. Awalnya in…

Hari Kedua Menuju PENANG: Paniiik...Paniiik...!! Takuuut....Takuuut....!! Bleneeek...Bleneeek...!!

Hari Kedua, 20 April 2017
Gue bangun sekitar jam setengah 7 pagi, gegoleran sebentar, mengumpulkan nyawa, dan mandi. Pas keluar kamar lihat dari jendela, loh kok...loh kok...? Muasiiiih gelap bangeeet langitnya (bingung), mending gelapnya langit itu ada samar-samar warna birunya, tapi ini nggak beneran masih hitam pekat seperti masih jam 2 malam. Kyaaaa…. Aneh ya, (norak lu ki! gimana mau ke Eropa). Tapi nggak biasa eh, bahkan sampai jam 7 gue habis mandi pun masih gelap dan baru ada cahaya di langit itu sekitar jam setengah 8 (what!).
Iya jam setengah 8, di mana gue ribet sendiri mau check-out dari penginapan. Lah kenapa? Iya, ternyata receptionist-nya nggak 24 jam, jadi ruangannya masih gelap dan gue “tang-ting-tung-tang-ting-tung” pakai lonceng yang ada mejanya nggak ada yang merespon sama sekali. Mikir bingung sendiri (nggak mungkin gue tunggu sampai siang) dan memutuskan menggantung kunci di pintu kamarnya aja. Naik lagi ke lantai 2, turun lagi ke lantai dasar buat keluar, tapi ter…